Thursday, July 20, 2017

percakapan dua pohon


Aku iri pada mereka yang sampai tua bisa menjalani apa yang mereka sukai, katamu. Aku iri pada mereka yang bisa hidup bersama, meski tak sampai tua, dengan yang mereka cintai, kataku.

Hai, kamu. Meski tubuhku dan tubuhmu tak bisa lebih mendekat, aku berterima kasih pada angin yang menautkan reranting kita barang sejenak, yang memungkinkan kita untuk bercakap seperti ini.

Tapi barangkali daun-daunku akan lebih dulu menguning dan gugur. Ranting-rantingku akan jatuh satu per satu. Lalu kita tak bisa bercakap lagi.

Sampai saat itu tiba, aku akan senantiasa berdoa. Kelak kamu bisa menjalani apa yang kamu sukai bersama yang kamu cintai. Sampai tua. Sampai daun-daun tak mau tumbuh lagi di kulitmu. Hingga tiba saatnya seseorang menumbangkan tubuhmu yang lebih jangkung dariku. Semoga dengan cara yang tidak menyakitkan. Tidak pula dengan alat yang menakutkan.

Setelahnya mungkin kamu akan jadi kayu bakar di perapian sebuah rumah mungil di dekat gunung. Atau kayu dalam api unggun perkemahan anak pramuka. Lalu menjadi abu.

Aku, dalam jarak tertentu, menanti angin menerbangkanmu ke arahku.

Tuesday, July 18, 2017

pamit

Butuh menempuh ratusan kilo meter,
untuk mengungkap apa yang selama ini tersimpan di jantung
Butuh dini hari yang sepi dan dingin,
untuk mengucap maaf dan terima kasih pada ribuan detik
yang pernah terlalui bersama

Setelah sekian lama terlunta
Akhirnya semua selesai sudah
Nyeri merambat jauh di dalam dada
Aku menahan gigil dan tangis

Waktu akan membawamu pergi
Kamu memang ingin pergi, aku tahu
Tapi aku tak pernah rela kau mengabur dari pikiran
Tidak setelah sekian banyak tahun
Tapi tanganku tak mampu meraihmu

Maka, dekap
Karena ini mungkin yang terakhir.



Surabaya, 18 Juli 2017

kartu pos bergambar matahari

Salah satu scene dalam film Lucy memperlihatkan Lucy, dengan matanya yang berkaca-kaca, sedang meminta maaf dan bilang “I love you” kepada ibunya. Tindakan Lucy itu bukan tanpa alasan. Ia mendapat kekuatan tertentu sehinga bisa melihat masa lalu, termasuk ketika ia masih balita. Dan ia melihat bahwa kasih sayang ibunya kepada dirinya ketika masih balita (dan untuk selamanya) begitu besar.

Saya senang melihat bayi-bayi lucu yang seliweran di timeline. Saya senang melihat ibu-ibu muda yang terlihat begitu menyayangi dan membanggakan bayi-bayinya itu. Dikit-dikit difoto, lalu diunggah ke media sosial. Mereka begitu senang untuk hal-hal sederhana seperti melihat anaknya tersenyum, tertidur pulas, belajar berjalan, atau sekadar berhasil menghabiskan makanannya.

Saya sering berpikir, begitu jugakah ibu saya dulu? Sesayang itukah beliau pada saya? Mengingat beliau adalah jenis makhluk yang mampu membaca pikiran saya hanya dengan mendengar suara saya diujung telpon, saya yakin beliau amat menyayangi saya.

Mengapa kita tak bisa menjangkau ingatan saat masih balita? Mengapa yang memiliki ingatan itu hanya para orang tua? Andai, andai saja, kita bisa mengingat saat-saat kita disuapi bubur dan diayun dalam gendongan, atau saat tahu bagaimana orang tua kita berupaya sekreatif mungkin agar kita mau makan, apa yang akan terjadi?

Saturday, June 17, 2017

seprai bermotif cangkir kopi

Bunga, nama sebenarnya. Sekarang ia tengah berada di sebuah toko seprai. Sedari tadi ia tekun mencermati motif-motif seprai yang dipajang di sana. Setelah beberapa lama mengaduk-mengaduk keranjang dan membolak-balik katalog seprai, ia hanya bisa menghela nafas dalam-dalam. Ia meminta maaf pada pelayan toko karena tidak jadi membeli seprai. Ternyata, seprai yang ia cari tidak ada juga di toko ini.

Perhatikan, ada kata juga di sana. Artinya, itu bukan toko pertama yang dikunjungi Bunga. Itu adalah toko yang entah ke berapa. Bunga tak pernah menghitungnya. Sudah hampir semua toko seprai di kota itu dikunjungi Bunga. Tapi seprai yang ia inginkan tak juga ia dapatkan. Maka, setiap kali keluar toko seprai, Bunga selalu sedih. Tapi ia tidak menangis. Hanya merasakan sesak di dada.

Sudah lima tahun berlalu, tapi Bunga belum juga menemukan seprai yang dicarinya. Bunga tak pernah letih mencari seprai dambaannya itu. Jika sedang pergi ke luar kota, Bunga tidak mampir ke pusat jajanan atau oleh-oleh. Tapi dirinya sibuk menjelajahi toko seprai yang ada di kota itu. Dan selalu berakhir dengan helaan nafas panjang karena kecewa.

Memangnya apa yang diharapkan dari selembar seprai?

Buat orang lain, mungkin seprai hanyalah kain pembungkus kasur. Tapi bagi Bunga, seprai itu adalah segalanya. Seprai itulah satu-satunya benda yang bisa membungkus kenangannya.

Seprai yang dicari Bunga memang bukan seprai biasa. Ia tak sedang mencari seprai yang bermotif seperti namanya, bunga-bunga. Tidak. Ia tengah mencari seprai bermotif cangkir kopi. Selembar seprai yang menyimpan kenangan-kenangan paling manis yang pernah dimiliki Bunga.
Itu adalah seprai yang menjadi kusut karena percintaan yang penuh gairah. Meninggalkan aroma keringat bercampur parfum dan tembakau. Seprai tempat ia menghafalkan percakapan Jeanne dan Paul dalam film Last Tango in Paris bersama kekasihnya. Seprai tempat ia membaca sajak sementara sang kekasih tiduran di pangkuannya.

Ketika melakukan aktivitas-aktivitas itu, Bunga merasa seprai itu memperhatikan dirinya. Dia merasa seprai itu berbincang dengannya. Seprai itu senang Bunga ada di sana. Seprai itu juga memberitahu Bunga apa-apa yang tidak diketahuinya tentang sang kekasih, si pemilik seprai.

Lima tahun telah berlalu. Bagaimana wujud seprai itu sekarang? Apakah warnanya sudah memudar tidak karuan? Apakah pemiliknya masih menyimpannya?
Ngomong-ngomong soal si pemilik seprai, Bunga tahu persis, lantaran memiliki seprai bermotif cangkir kopi, bukan berarti si pemilik adalah orang yang suka minum kopi. Si pemilik seprai itu akan mual jika minum kopi. Si pemilik seprai lebih suka minum teh.

Suatu kali, Bunga sempat kepikiran untuk mencari seprai itu di laundry-laundry yang tersebar di kota itu. Bunga ingin bertanya pada satu per satu pegawai di laundry apakah pernah ada orang yang menaruh seprai bermoif cangkir kopi? Tapi untungnya hayalan itu hanya berakhir jadi khayalan. Bunga merasa terselamatkan dari pikirannya yang embuh.

Petualangan Bunga mencari seprai bermotif cangkir kopi seperti tak ada ujungnya. Pencarian itu juga telah membawanya berkeliling dalam dan luar negri. Apakah seprai bermotif cangkir kopi sudah tidak diproduksi lagi di buka bumi? Bunga nyaris putus asa.

Bukankah lebih mudah buat Bunga untuk menghubungi si pemilik seprai dan meminta seprai itu untuknya? Atau, Bunga sengaja memesan seprai motif cangkir kopi pada agen pembuat seprai? Daripada berkelana seperti itu? Ah, bukan Bunga namanya jika melakukan tindakan gampangan seperti itu. Lagian, si pemilik seprai sudah tak tentu di mana rimbanya.

Meski sering melakukan hal-hal konyol, Bunga tidak bodoh. Bunga paham betul, suatu saat nanti ketika ia menemukan seprai bermotif cangkir kopi, seprai itu bukanlah seprai yang sama. Itu bukan seprai yang membungkus kenangannya. Tapi..selalu ada tapi ketika Bunga hendak menghentikan pencariannya. Ada sesuatu di luar dirinya yang membuat Bunga tetap ingin menemukan seprai bermotif cangkir kopi itu. Sesuatu yang tak mampu dipahami oleh akal sehatnya sendiri.

Nah, siapa pun kalian yang menemukan seprai bermotif cangkir kopi, tolong kasih tahu Bunga, ya. Dia pasti senang dan sangat berterima kasih.

Wednesday, May 17, 2017

seiring berlalunya waktu

Gara-gara seorang teman menautkan link tulisan lama saya di facebook, saya jadi mbaca tulisan lama itu di blog ini. Tulisan itu tahun 2010. Ya Tuhan, waktu berlari begitu cepatnya! Membaca tulisan itu, saya senyum-senyum sendiri. Saya jadi mengingat banyak teman lama, yang tergerus arus waktu. Wah! Rasanya menyenangkan sekali. Meski pelan-pelan ada kesedihan merambat. Salah satu teman yang saya sebut di tulisan itu kini sudah meninggalkan dunia ini.

Tahun-tahun itu saya sering bikin tulisan semacam “report” kegiatan-kegiatan yang saya lakukan, diskusi-diskusi, atau acara-acara tertentu. Tulisan itu lengkap dengan tanggal dan waktu yang detail. Meski kalau dibaca sekarang tulisan-tulisan itu jadi terasa sangat alay, saya bahagia pernah menuliskannya. Saya juga kangen nulis seperti itu lagi.

Hmm, seiring berlalunya waktu, banyak detail yang kita lupakan. Saya juga menyadari bahwa ingatan benar-benar tak bisa diandalkan. Karena itulah, saya senang memiliki blog ini. Di sini saya bebas menulis apa saja. Juga bebas nulis tanpa peduli aturan ejaan. Hahaha.

Btw, beberapa teman yang pernah saya tulis di sini, entah gimana ceritanya, menemukan jalannya ke blog ini. Padahal saya tidak pernah memberi tahu teman-teman saya itu kalau saya menulis tentang mereka. Dan sepertinya, di blog ini saya akan lebih banyak menulis tentang orang-orang yang pernah singgah di hidup saya. Karena saya sudah merasakan, amat sangat menyenangkan ketika mengenang seseorang lewat tulisan, daripada sekadar lewat foto.

Libur sebentar lagi tibaaa! Saya akan banyak nulis. Yeah!!

Saturday, February 25, 2017

teruntukmu, perempuan jelmaan Otsu

percayalah,
perlahan kau akan melupakanku
dan kelak,
aku orang asing bagimu


Ella, apakah kau perempuan jelmaan Otsu? Jika tidak, bagaimana mungkin kau mencintaiku sedahsyat ini? Selain pada Otsu, sungguh aku tak percaya perempuan bisa mencintai sebegitu dahsyatnya. Kau tahu siapa Otsu? Ah, Ella, kau harus membaca Musashi karangan Eiji Yoshikawa. Kau akan berkenalan dengan Otsu. Aku yakin kalian akan cepat akrab.

***

Malam itu, pada pertemuan kita yang penghabisan, kau membuka kotak berwarna ungu yang kau bilang berisi rahasia-rahasia. Mengapa Ella? Mengapa kau mendedahkan rahasia-rahasia itu? Jika kotak itu tak sanggup, harusnya kau menyimpannya dalam-dalam di jantungmu sendiri. Mengapa kau tiba-tiba menyeretku? Kau ingin aku turut menanggungnya? Aku tak sanggup, Ella. Aku tak setangguh dirimu. Aku hanya lelaki gombal yang meninggalkanmu tanpa penjelasan apa-apa.

Di kehidupanku yang semekar bunga bungur di bulan Oktober, mengapa kau tiba-tiba hinggap di rerantingnya? Kau pun hinggap di jendela rumahku. Tak pergi-pergi. Ella, kau bukan burung kakak tua. Kau tak boleh seenaknya melakukan itu. Aku tahu kau amat menyukai jendela. Kau, dulu, juga suka duduk berlama-lama di café yang memiliki jendela-jendela besar, kan? Itu adalah satu-satunya tempat untuk kita membayar rindu. Dulu.

Kau mengingatkan, kita pernah saling bercakap di sebuah jendela maya. Percakapan yang tak putus-putus. Dari subuh ke subuh lagi. Tak bosan-bosan. Tapi, maaf, aku lupa apa saja yang kita percakapkan dulu itu. Kau tahu ingatanku tentang detail sungguhlah payah.

Dan kau pun bilang, seolah mengantisipasi ingatanku yang tak dapat diandalkan, bahwa di kotak berwarna ungu itu percakapan kita terdokumentasi seluruhnya. Tak ada yang terlewat. Tanggal dan jamnya pun lengkap. Kau menyimpan sekaligus mencetak percakapan kita. Ratusan halaman. Setebal skripsiku. Kau membacainya jika sedang merindukanku. Meskipun setelah membacanya kau akan semakin merindukanku. Setelahnya, kau akan menangis tersedu. Mendengar itu keluar dari mulutmu, aku seperti mendadak lumpuh.

Bagaimana bisa kau melakukan tindakan konyol itu, Ella? Bukankah kau perempuan yang tak mau kompromi dengan hal-hal sentimentil semacam itu? Kau menceritakan itu dengan mata penuh duka. Kau menyakiti dirimu sendiri, Ella. Kini kau mau menyakitiku juga.

Cukup, Ella. Aku tak mau membacanya. Melihat sebundel kertas yang sengaja kau bawa ini membuatku gemetar. Kuakui aku terharu atas apa yang kau lakukan. Itu adalah kekonyolan yang manis. Hatiku bersorak tapi hampa sekaligus.

***

Dengar, Ella. Aku sudah memiliki kehidupan yang sangat, sangat indah. Aku bertemu dengan seorang perempuan yang suka bergincu merah, warna kesukaanku. Dia memiliki selera musik yang bagus. Aku bahkan kalah dengannya dalam hal referensi musik. Dia juga punya suara yang cukup enak didengar, meski tak bagus-bagus amat. Aku senang mendengarnya bersenandung sementara aku memainkan gitar atau piano. Dia juga jenis perempuan yang hangat di tempat tidur. Sempurna!

Kau hanyalah masa lalu. Dan masa lalu harus tetap tinggal di masa lalu.

***

Tapi di sinilah aku sekarang, Ella. Menyuntuki lembar demi lembar percakapan sinting itu. Karena sering kau buka-buka, kertas itu jadi lebih tebal daripada seharusnya. Banyak bekas tangisanmu juga. Lalu aku jadi membayangkan wajahmu ketika membaca lembaran-lembaran ini. Ella, diam-diam aku ingin melihat wajahmu saat merindukanku.

Dalam lembaran-lembaran itu, ternyata banyak sekali yang kita bicarakan: mulai dari jenis-jenis cabe berikut tingkat kepedasannya, pembicaraan tentang alien dan ruang angkasa (kau sangat bersemangat membicarakan ruang angkasa sementara aku tak tau apa-apa tentang itu), tentang drama korea (bisa-bisanya kau menyukai hal-hal semacam itu), tentang rencana-rencana bolos kuliah dan menggantinya dengan pergi ke toko-toko buku bekas (ini adalah hal yang paling kusukai), kita juga membahas siapa sebenarnya Anny Arrow (dulu aku sempat menjadikannya bahan untuk tugas kuliah), eyel-eyelan tentang ‘yang nyata’ dan ‘yang maya’ (kita berada di mana, Ella?), hingga pembicaraan tentang dosen yang kamu idolakan (semoga beliau selalu sehat).

Diriku seolah melesat mundur belasan tahun. Kembali menjadi seorang remaja duapuluhan awal yang tak banyak ambisi. Yang menghabiskan sebagian besar waktu luang dengan menonton video-video di youtube dan melamun memandangi langit-langit kamar dengan tangan terlipat di bawah kepala. Betapa masa-masa yang menyenangkan.

Aku merasakan kembali gejolak itu. Debar itu. Tapi, saat aku melihat diriku yang sekarang, aku menyadari saat-saat itu telah berlalu dan begitu berjarak. Segala terasa begitu menjauh. Hilang dan tak pernah kembali lagi.

Aku jadi begitu takjub pada usahamu untuk mencoba mengabadikan percakapan kita dalam lembaran-lembaran kertas ini. Kau bilang, sebundel kertas itu hanya satu rahasia. Yang lain masih tersimpan dengan baik. Cukup. Aku memilih menutup mata, Ella. Aku tak sanggup melihat kebodohanku yang lebih banyak lagi.

***

Lantas, apa yang harus kulakukan sekarang? Haruskah aku terus menerus merutuki kebodohanku di masa lalu? Tidak. Tidak! Kau, Ella, memang perempuan jelmaan Otsu. Celakanya aku adalah jelmaan si brengsek Matahachi. Sementara kau selalu merindukanku, aku tak pernah sekalipun memikirkanmu. Segala aktivitas dan kesibukanku mengaburkan keberadaanmu di benakku. Ingatan tentang percakapan di jendela-jendela maya itu juga tak pernah mampir di pikiranku. Aku seperti amnesia. Maafkan aku, Ella.

Ella, kini, tak ada lagi jendela di antara kita. Tak boleh ada lagi. Sebagaimana syair sebuah lagu yang sering kudengar tapi aku lupa siapa yang melantunkannya: antara hatimu hatiku, terbentang dinding yang tinggi, tak satu jua jendela di sana. Di pikiranku hanya ada perempuanku dengan gincu merahnya dan senyumnya yang selalu merekah. Ia telah mengisi hari-hariku yang kosong di kota yang begitu riuh ini. Jika dulu aku begitu bodoh telah melupakan dan meninggalkanmu, kini aku tak mau mengulang kebodohan dengan menyakitinya.

Ella, telah kulepas engkau. Maka, lepaskanlah aku.

***

Di dunia paralel sana, di sebuah jendela yang itu itu juga, seorang perempuan masih terduduk tenang menunggu balasan sapaan “hai”. Sementara itu, si lelaki yang ditunggu sedang ketiduran setelah lelah menonton video-video di youtube. Syalalalala~

Sunday, February 19, 2017

Petualangan Sanji, Zeff, dan Parmin

Suatu hari, kapal Sanji diamuk badai. Karena tubuhnya tak mampu menahan badai yang dahsyat, Sanji pun terlempar ke laut. Untungnya, Sanji berhasil diselamatkan bajak laut Zeff. Sambil membawa Sanji, Zeff berenang sekuat tenaga. Mereka pun berhasil mencapai sebuah pulau kecil.

Selama berhari-hari, mereka bertahan hidup di pulau itu. Mereka menunggu dengan sabar sambil berdoa semoga ada kapal yang melintas. Selama berhari-hari itu pula mereka kelaparan. Makanan yang sempat ditemukan Zeff tidak banyak. Dan makanan itu hanya untuk Sanji. Zeff tidak mengambil makanan itu sedikit pun. Zeff selalu bilang, tubuhnya lebih kuat dibandingkan tubuh Sanji. Padahal Sanji tahu, Zeff juga kelaparan.

Sanji pun sedih. Di lubuk hatinya, ia berjanji akan membalas budi baik Zeff. Ia juga sangat menyesal karena di kapalnya dulu dia sering membuang-buang makanan. Sejak saat itu, Sanji berjanji tidak akan pernah menyia-nyiakan makanan.

Suatu sore, ketika mereka berdua sudah putus asa, mata Sanji menerawang jauh ke laut. Tiba-tiba ia melihat ada sebuah perahu kecil di kejauhan. Dengan sisa-sisa tenanganya, Sanji berteriak-teriak minta tolong. Perahu kecil itu milik Parmin. Mendengar ada yang berteriak, Parmin pun mendekat ke pulau itu. Ia menolong Sanji dan Zeff yang sudah tampak sangat lemah. Parmin memberikan makanan dan minumannya untuk Sanji dan Zeff. Parmin tidak tega melihat tubuh mereka yang sangat kurus.

Keesokan paginya, perahu kecil Parmin berhasil mendarat di pantai. Zeff dan Sanji sangat berterima kasih atas pertolongan Parmin. Mereka berdua berharap suatu hari nanti bisa membalas budi baik Parmin.

Sanji dan Zeff tidak ingin ada orang lain yang kelaparan di tengah laut, seperti yang pernah mereka alami. Mereka lalu mendirikan sebuah restoran di tengah lautan. Restoran itu diberi nama Baratie. Dengan bantuan Zeff, Sanji bekerja keras untuk menjadi koki yang hebat. Beberapa kali Sanji gagal membuat masakan. Tapi ia tak pernah menyerah. Ia tak ingin mengecewakan Zeff yang telah menyelamatkan hidupnya.

Setelah banyak belajar, Sanji sangat lihai membuat berbagai macam makanan dan minuman lezat. Ada soto ayam, sate kambing, nasi rawon, rujak cingur, bakmi, lotek, mi ayam, tahu campur, es cendol, es teler, es krim, dan masih banyak lagi. Semua orang sangat senang menyantap makanan yang dimasak Sanji.

Zeff berkata kepada Sanji, “Sanji, tugas seorang koki adalah memberi makanan kepada siapa pun yang kelaparan. Tidak peduli itu orang baik atau jahat. Tidak peduli orang itu kawan atau lawan.”

“Baik, Zeff. Aku akan memegang janji itu seumur hidupku,” jawab Sanji dengan penuh semangat. Dengan cara itulah ia membalas budi baik Zeff.

Meskipun sudah berlalu cukup lama, Sanji juga tak melupakan budi baik Parmin. Wajah Parmin selalu ada dalam ingatan Sanji. Semoga aku segera bisa bertemu dengan orang yang menolongku itu, gumam Sanji dalam hati.

Harapan Sanji terkabul. Pada suatu siang, ketika mencari bahan makanan, Sanji berpapasan dengan seseorang yang terasa begitu akrab. Aih! Sanji yakin bahwa orang itu adalah Parmin. Sanji pun berteriak memanggil. Tapi sayang, kali ini Parmin tidak mendengar teriakan Sanji. Sepertinya Parmin sedang terburu-buru. Sanji pun mengikuti Parmin dari belakang.

Setelah melewati jalan yang sempit dan berkelok-kelok, Parmin berhenti di sebuah rumah. Sanji pun ikut berhenti. Belum sempat Sanji memanggil Parmin, anak-anak Parmin yang masih kecil-kecil sudah terlebih dahulu menyambut bapak mereka. Sanji memutuskan untuk mengamati dari kejauhan. Anak-anak itu berteriak-teriak senang karena melihat Parmin membawa bungkusan.

Ketiga anak yang bernama Athos, Porthos, dan Aramis itu semakin kegirangan setelah tahu isi bungkusan itu adalah es krim.

“Waah..asyiiikk..Bapak bawa es kliiiim,” teriak Aramis yang belum fasih mengucapkan r.

Meskipun es krim dalam bungkusan plastik itu sudah sepenuhnya mencair, kegembiraan mereka sama sekali tidak berkurang.

“Porthos, ayo cepat kita ambil gelas!” Athos mengajak adiknya.

Sebelum menikmati es krimnya, mereka tidak lupa berdoa dan berterima kasih kepada bapaknya. Mereka sangat bahagia meskipun es krimnya sudah habis dalam sekali teguk.

Di kejauhan, Sanji melihat mereka sambil menitikkan air mata. Ia ingat di restorannya ada banyak sekali es krim dengan berbagai macam rasa dan warna. Anak-anak yang menggemaskan itu pasti senang jika bisa menikmati es krim yang belum mencair, pikir Sanji.

Sanji pun bergegas pulang ke restorannya. Ia membuat es krim yang lezat dengan berbagai macam rasa. Ia menggunakan resep khusus agar es krim tidak mudah mencair dan tahan dalam beberapa bulan.

Keesokan harinya, Sanji dan Zeff datang ke rumah Parmin. Parmin sangat terkejut dengan kedatangan mereka berdua. Ia tidak menyangka bahwa mereka bisa bertemu lagi.

Sanji membawa es krim buatannya sebagai oleh-oleh. Ada rasa strawberi, coklat, greentea, vanilla. Wah, banyak sekali! Athos, Porthos, dan Aramis bukan main gembiranya. Mereka tidak sabar untuk menikmati es krim itu. Sanji pun senang es krim buatannya membuat anak-anak itu bahagia.

Setelah bersama-sama menyantap es krim, Sanji menceritakan pengalamannya menjadi koki. Athos, Porthos, dan Aramis mendengarkan dengan antusias. Mata mereka bersinar-sinar. Mereka pun membulatkan tekad, mereka akan menjadi koki yang hebat seperti Sanji dan Zeff.[]


**Sanji dan Zeff adalah tokoh-tokoh dalam manga One Piece (Eiichiro Oda), sedangkan Parmin adalah tokoh dalam cerpen “Parmin” (Jujur Prananto). Kisah dalam dongeng ini sebagian besar bersumber dari manga dan cerpen itu, tentu dengan perubahan seperlunya. Dalam cerita aslinya, tokoh-tokoh itu sedang bersedih. Saya hanya ingin mempertemukan mereka dalam satu cerita bahagia :)