Saturday, October 1, 2011

Monday, September 26, 2011

curhatan nggak penting banget

hari ini:
1. bangun-bangun kaki kram gara-gara kemarin naek turun 1.250 tangga di tawangmangu
2. keinget tulisan yang belum diedit, padahal mau bimbingan. dan akhirnya gak jadi diprint. perut ikut-ikutan kram.
3. fotokopi buku pramoedya postcolonially pesenan pak faruk
4. di kampus. berharap bertemu seseorang.
5. semoga yang no.4 selalu baik-baik saja
6. ketemu DPS dan bimbingan. minta maaf karena belum ngasih tulisan. ditanyain ini itu. termasuk "kenapa kok bisa putus?"
7. ndaftar seminar skripsi.
8. ketemu pak faruk, dan bukunya ditanyain. "maaf pak, masih di fotokopian"
9. bingung nyari judul yang pas buat skripsi di ruangannya DPS
10. ketemu temen dan merebut minumannya
11. pulang dan kebingungan mau ngerjian yang mana dulu.
12. besok janji mau ngasih tulisan ke DPS
13. batal ke toko buku
14. batal makan oseng2 mercon :((
15. tidur bentar dan tambah pusing
16. beli capcay di depan asrama. . tiba-tiba bergumam sendiri "tahun ini alah tahun terberat, dan penuh tantangan"
17. rasanya pengen nangis sepuas-puasnya tapi nggak bisa.
18. lagu unbreak my heart-nya Toni Braxton masih terus berulang-ulang di laptop...

semoga segera tenang, anis. semoga kamu segera bisa mengatasi semuanya.

Sunday, September 18, 2011

Mencari Bapa dalam Genderang Baratayudha: W.S Rendra dan Sri Murtono dalam satu panggung

Jumat, 16 September 2011. Pukul 19.00 WIB Taman Budaya Yogyakarta sudah dipenuhi ratusan orang. Beberapa orang masih duduk-duduk. Tapi kebanyakan langsung menaiki tangga dan menuju gedung pertunjukan Concert Hall setelah terlebih dahulu mengisi daftar hadir. Saya bertemu beberapa teman sekampus, dan kebanyakan adalah adik angkatan ^______^

Kira-kira setengah jam kemudian, gedung pertunjukan telah dibuka. Dan pengunjung pun berduyun-duyun mencari tempat duduk yang paling nyaman. Akhirnya saya dan seorang kawan memilih duduk di bagian tengah. Berhubung pementasan ini gratis, jadi banyaaak banget yang datang. Dan saya rasa sebagian besar adalah mahasiswa FIB UGM, lebih khususnya sastra Indonesia!

Beberapa menit kemudian muncul suara tanpa raga berbahasa jawa dan inggris yang intinya ucapan selamat datang dan larangan merokok, makan, minum, dan memotret dengan menggunakan blitz. Sementara orang di samping saya sedang asyik bermain hp. Oke, dari pada kebanyakan cincong langsung saja saya ceritakan sebenarnya pementasan apa yang bakal digelar malam ini.

Pementasan malam ini sebenarnya adalah serangkaian acara “gelar karya maestro tahun 2011” yang diselenggarakan oleh Taman Budaya Yogyakarta. Sang maestro yang dipilih pada tahun ini adalah Kusbini (yang acaranya sudah digelar pada malam sebelumnya dan saya nggak nonton), KPH Wasito Dipuro, C Hardjasoebrata, W.S Rendra, dan Sri Murtono.

Nah, untuk malam ini, W.S Rendra dan Sri Murtono yang mendapat giliran.

Tidak lama setelah suara tanpa raga tadi, lampu kemudian dipadamkan. Sebelum pementasan dimulai, para penonton diperkenalkan terlebih dahulu siapa itu W.S Rendra dan Sri Murtono. Sebuah video muncul dan terdengar suara Rendra membaca salah satu sajaknya, yang kalau nggak salah judulnya “Hai, Ma!”. Dan kalau gak salah lagi, beginilah sepenggal sajak itu: Ma/Bukan maut yang menggetarkan hatiku/Tetapi hidup yang tidak hidup/Karena kehilangan daya dan fitrahnya/. Kemudian yang diwawancarai sebagai orang terdekat Rendra adalah mantan istrinya, Sitoresmi Prabuningrat, dan sahabatnya, Prof. Bakdi Soemanto.

Pementasan untuk mengenang W.S Rendra ini berjudul “Mencari Bapa” yang diambil dari salah satu sajak panjang Rendra dengan judul yang sama. Sajak ini berisikan pencarian seorang lelaki bernama Suto yang tak beribu dan dibuang oleh ayahnya. Dalam perjalanan hidupnya, Suto mencari seorang Bapa yang sesungguhnya. Begitulah kira-kira.

Pementasan yang dibawakan oleh Seni Teku ini disutradai oleh Ibed Surgana Yuga. Pemain-pemainnya antara lain: Andika Ananda, Riski P. Sari, Tita Dian Wulansari, A. Satrio Pringgodani, Dinu Imansyah, Isa Al-Awwam, Silvano Rodrigues, Kurtubi Rush, Kuncoro Sejati, Eni Wahyuni (yang ini kakak angkatan lho, dan baru saya sadari ketika mendengar suaranya).

Tidak banyak property di atas panggung. Hanya ada beberapa lampu yang entah terbuat dari apa dan digantung di langit-langit. Kemudian muncul dua orang penari dengan kostum berwarna merah dan seorang lagi berdiri pas di tengah dengan rambut yang terurai kedepan. Mereka kemudian menampilkan beberapa gerakan yang super oke, lincah, dan energik.

Suto kecil muncul, berperilaku seperti anak kecil yang bermain-main. Kemudian digantikan oleh Suto dewasa yang berdiri di atas punggung dua orang penari/pemain. Secara keseluruhan, yang membuat saya takjub dari pementasan ini adalah pemain-pemainnya yang begitu menguasai tubuh. Salto jungkir balik yang rawan keseleo itu dilakukan dengan cihuy. Apalagi adegan Suto dewasa dengan seorang wanita (yang dalam sajak adalah seorang lonte), itu sungguh adegan dengan gerakan yang sangat ciamik. Selain itu, kualitas vokalnya juga nggak kalah keren. Sajak Rendra yang panjang itu disuarakan dengan lantang. Dalam beberapa dialog, penonton berhasil dibuat hening.

Kira-kira pukul 20.40 WIB pementasan untuk mengenang Rendra tersebut usai sudah, dan diakhiri dengan tepuk tangan penonton. Lampu menyala. Tapi penonton belum ada yang beranjak. Yup! masih ada satu lagi.

Pementasan kedua adalah Genderang Baratayudha yang berasal dari naskah karya Sri Murtono dengan judul yang sama. Pementasan oleh Teater Beta ini disutradarai oleh Rano Sumarno. Sayangnya, saya nggak tahu siapa saja nama pemain-pemainnya. Sama seperti W.S Rendra, penonton juga terlebih dahulu diperkenalkan siapa itu Sri Murtono. Sri Murtono adalah dramawan Jogja sekaligus pendiri ASDRAFI (Akademi Seni Drama dan Film).

Sebelum pementasan dimulai, ada MC yang membacakan semacam ringkasan cerita. Kemudian setelah layar dibuka, penonton disuguhi lima orang pemain super ganteng (sebenarnya yang bikin ganteng adalah kostumnya. hehe). Lima orang pemain itu tidak lain adalah pihak pandawa lengkap dengan senjatanya masing-masing. Sumpah..kostumnya sangat keren sekali. Penonton pun sontak bertepuk tangan ketika ada pemain yang salto jungkir balik dengan indahnya.

Tokoh wanita dalam pementasan ini ada dua, yaitu Kirana dan Sinta. Gila! vocal kedua wanita ini sungguh sangat mantap. Keduanya adalah kekasih dari pihak pandawa. Singkat cerita, drama yang ditulis oleh Sri Murtono pada tahun 1956 ini mengisahkan perang baratayudha. Penonton di samping saya sepertinya tidak begitu mudeng dengan jalan ceritanya. Ia beberapa kali bertanya ini itu (padahal sebenarnya saya juga nggak begitu mudeng). Nah, saya yang sukanya sok tahu akhirnya mendobos ria. Hehe.

Tentu saja dalam pementasan ini ada adegan-adegan romantisnya, atau lebih tepatnya galau. Yaitu ketika Sinta berbincang dengan Yudistira (kalau nggak salah). Apalagi ketika Yudistira membunuh Sinta lantaran Sinta telah membunuh salah satu personil pandawa. Jeritan Yudistira dan Kirana yang juga ditinggal oleh kekasihnya sungguh menyayat. Nggrantes banget. Intinya, Genderang Baratayudha telah membuat banyak orang kehilangan orang yang dicintainya.

Beberapa detik kemudian, kira-kira pukul 22.00 WIB tepuk tangan membahana, tanda pementasan telah usai. Ratusan penonton pun beranjak dari kursinya masing-masing. Kalau boleh jujur, saya sangat puas dengan kedua pementasan ini. Dengan durasi waktu yang tidak begitu lama, pementasan ini berhasil memberikan sajian yang menakjubkan. Tak sekadar hiburan. Enjoy!

Tuesday, September 13, 2011

Tuhan, bisakah patah hati ini ditunda?

Tuhanku yang super oke, aku minta maaf. lagi-lagi aku mengeluh. bisakah patah hati ini ditunda? rasanya sangat sakit. aku ingin menangis, tapi tidak bisa. sesak. please, Tuhan, seperti perempuan-perempuan yang lain, aku ingin bisa menangis. sepuas-puasnya. sekeras-kerasnya. dari pada aku membentur-benturkan kepala. atau tak usah Kau buat hatiku patah, remukkan saja. biar Kau juga tak susah-susah membikin air mata. *Tuhan kok diperintah toh Nis..Nis.. dedicated to Mustika Sari C.N

Tuesday, August 16, 2011

antara saya dan pascakolonialisme

sampai hari ini saya tidak tahu mengapa saya bisa cinta mati sama kajian pascakolonialisme yang sebenarnya sangat membingungkan itu. kalau mau dirunut, asal muasal saya mengambil kuliah itu pada semester enam adalah, jujur, karena dosennya yang amat sangat ganteng sekali. disamping kuliah sebelumnya (yaitu orientalisme yang juga diampu oleh dosen yang sungguh sangat keren dan membuat saya terpikat. hehe) yang juga memunculkan guncangan mental tersendiri buat saya.

nah, dua dosen yang super oke itulah yang kemudian membuat saya mau tidak mau harus BELAJAR, sebuah aktivitas yang amat jarang saya lakukan. itu semata-mata karena saya tidak ingin terlihat tolol saat di kelas. saya pun membaca apa saja yang disarankan oleh sang dosen. alhasil, saya sedikiiiit tau tentang pascakolonialisme. dan, ehem, saya sedikiiiiiit berhasil menarik perhatian si dosen saat diskusi-diskusi kecil di kelas. hahaha. mahasiswa snewen!

lambat laun, saya pun berusaha mencerna konsep-konsep pascakolonialisme satu per satu. dalam proses pencernaan itu sering kali saya merasa mual dan ingin muntah-muntah! tapi saya berusaha menikmati. ini masih dilatarbelakangi oleh kegantengan si dosen. tapi, fanatisme saya yang berlebihan terhadap si dosen itu akhirnya menimbulkan sikap yang ambivalen (dalam konsep pascakolonialisme, yang dimaksud dengan ambivalen adalah sikap mendua). di satu sisi saya sangat suka dengan si dosen, yang membuat saya ingin selalu “dekat” dengannya, tapi di sisi lain saya membencinya karena beliau berhasil membuat saya menyukainya (ini perasaan suka dalam konteks keilmuan lho). saya merasa terjajah. halah..

perasaan ambivalen itu sebenarnya dipicu oleh adanya sifat saya yang selalu merasa inferior. banyak hal dan persoalan yang sebenarnya ingin saya diskusikan dengan sang dosen, tapi saya takut kalau saya dibilang sok-sokan. perasaan inferior itu dibarengi dengan perilaku aneh saya yang selalu deg-degan saat berbicara dengan sang dosen. akhirnya saya hanya memendam kegelisahan-kegelisahan yang ada di kepala. 

semester tujuh saya mengambil skripsi. dan saya memustuskan untuk menggunakan pascakolonialisme sebagai alat teori. waktu itu saya belum tahu objek material yang akan saya gunakan dalam penelitian itu apa. akhirnya, pembimbing saya memberikan solusi. oh ya, pembimbing skripsi saya adalah si dosen orientalisme. alangkah bahagianya. apalagi saya diminta untuk menemani beliau mengajar kuliah orientalisme angkatan 2008. cihuyy.

masalahnya adalah, objek yang akan saya gunakan adalah buku-buku yang membahas teori pascakolonialisme. jadinya saya harus membahas dan mengkritisi buku itu. modaro kowe nis..

membayangkan bahwa begitu banyak yang harus saya baca dan saya tulis dalam skripsi saya itu, saya udah down duluan. tapi karena dari sononya saya itu suka sok-sokan, saya pun merasa tertantang. dan akhirnya menyetujui usul yang diberikan si dosen. tidak peduli apa yang akan terjadi nanti..

sampai detik ini saya masih berkutat dengan persoalan-persoalan pascakolonialisme yang semakin hari semakin membuat saya bingung. membuat rambut saya rontok. membuat mata saya berkantung. dan berat badan saya menurun. itu baru gangguan fisik. gangguan mental masih lebih banyak. hwehehehe.

terjadi hubungan yang kompleks antara saya dan pascakolonialisme. kadang saya merasa tidak mampu menyelaminya. dan ini sering membuat saya sedih. kadang saya merasa sangat ingin menaklukkannya. dan ini membuat saya bersemangat. saya banyak belajar. sekaligus banyak berkorban. tapi kadang saya merasa sikap saya ini terlalu berlebihan di antara teman-teman lain yang juga mengerjakan skripsi pascakolonialisme. perlu saya ceritakan juga kalau semester delapan, waktu angkatan 2008 mengambil mata kuliah pascakolonialisme, saya adalah mahasiswa yang tidak tahu malu menyusup di dalamnya (dan ngrecoki) selama satu semester penuh :p

hingga akhirnya, saya memutuskan untuk menjadi AHLI PASCAKOLONIALISME INDONESIA. saya mau lebur di dalamnya. hahahahahahahahahahahahahahahahahaha (mencibir. menertawakan diri sendiri. bagian dari ketidakpedean saya)

barangkali kalau ada kesempatan, saya akan menulis tentang konsep-konsep pascakolonialisme sajalah…dari pada curhat gak jelas kayak beginian. enjoy!

Monday, August 15, 2011

tumben-tumbenan, saya bicara soal cinta

kenapa tumben? karena kata salah seorang dosen saya, saya itu orangnya nggak bisa bersikap romantis. nggak pantes pacaran dan ngomongin cinta-cintaan. boro-boro ngomongin cinta, naksir cowok aja sukanya yang udah tua-tua dan sudah berkeluarga. hahaha.

sebenarnya saya juga tidak tahu mengapa tiba-tiba pengen nulis tentang cinta. entah karena beberapa orang di sekitar saya sedang jatuh cinta atau sayanya yang sedang galau soal cinta, saya juga nggak tahu. ini bukan cinta kepada tuhan. bukan juga pada binatang dan tumbuhan. bukan pada orang tua. bukan. ini cinta jenis yang “itu” lho. cinta yang katanya melibatkan emosi yang nggak biasa. cinta yang bisa bikin makhluk bernama manusia jadi senewen. katanya sih..

saya menyaksikan: ada orang yang menghabiskan waktunya untuk memandangi foto gadis pujaan sambil bekerja keras membuat seribu puisi. ada orang diam-diam mencintai dan memilih untuk memandang gadis pujaan dari jauh. ada orang yang mati-matian meyakinkan dirinya bahwa dia mencintai kekasihnya. ada pula yang sedang berniat meninggalkan sang kekasih tapi merasa berdosa lantaran sang kekasih terlalu baik. ada orang yang berjuang keras mempertahankan hubungan karena tidak disetujui orang tua. ada orang yang mencintai orang yang sudah berkeluarga dan rela dijadikan simpanan. ada orang yang telah lama menderita karena berpura-pura mencintai kekasihnya, dan ia tetap memilih untuk menderita dari pada meninggalkannya. dan lain-lain. dan lain-lain..

begitu banyak cerita. sangat banyak. dan semuanya punya alasan masing-masing. dan semuanya terjadi di sekitar saya. nah, saya termasuk yang mana?

saya juga tidak tahu. atau lebih tepatnya, saya tidak mau orang lain tahu. Hehe. tapi yang jelas saya percaya kok kalau orang melakukan sesuatu itu ada alasannya. kenapa ia berbuat ini atau itu. kenapa ia lebih memilih si A dari pada si B. kenapa si ini tiba-tiba bisa sama si itu. semua ada alasannya. apakah dengan demikian hubungan cinta harus ada alasan? eh, cinta itu apa sih?

lagi-lagi saya tidak tahu. dan terbuktilah bahwa saya tidak pandai bicara soal cinta. tapi, tunggu dulu, apakah karena nggak bisa bicara soal cinta lantas saya gak punya cinta? belum tentu. gini-gini saya pernah kok merasakan yang namanya jatuh cinta. di mana suasana tiba-tiba berubah jadi slow motion kayak di film-film. di mana jantung rasanya mau copot meskipun cuma ngliat sekelebatan mata. dan pada akhirnya saya benar-benar jatuh (cinta). halah...gak logis? berlebihan??

banyak yang bilang cinta itu nggak logis. tapi menurut saya, satu-satunya hal di dunia ini yang paling logis adalah cinta. Weeeeee..

tapi saya jadi bingung melanjutkan tulisan ini. jadinya kok nggak karu-karuan gini ya. Kemana-mana, nggak jelas. Sungguh saya memang tidak ditakdirkan untuk bicara soal cinta. Hahaha. Mbuh lah.

Monday, July 11, 2011

alam tanya

Kepada Subul Chaqi

Sering kita bertanya mengapa hidup harus berlanjut
Tidak berhenti saja pada satu masa yang paling indah
Atau terpahit sekalipun
Kenapa hidup kita terjebak pada kenangan, dan harapan

Apakah hidup hanya serangkaian hukuman
Seperti kisah Sisypus dan batunya
Dan dengan terpaksa kita mengakhirinya sampai tuntas
Dengan terpaksa pula kita membuat benteng-benteng ketegaran
Meskipun tahu dengan sadar bahwa itu sia-sia

Benarkah hidup hanya menunda kekalahan
Kita hanya menunggu giliran
Dan dalam menunggu itu kita menciptakan hayalan-hayalan
Sekadar mengurangi ketakutan dan ketidakmengertian akan segala

Sayangnya, hidup bukan ombak bulan Desember, katamu.
Yang datang tiba-tiba
Sayangnya lagi, perahu kita terpaksa harus melaju dalam detik keresahan
Yang sudah terencana.

Aktor Bermata Ngantuk Itu

 Dia aktor Korea. Dulu saya menyebutnya sebagai aktor bermata ngantuk. Tapi saya tidak membuat saya sepenasaran itu untuk mencarinya di goog...