Wednesday, June 10, 2026

Kangen dan Rasa Aman

 Tiba-tiba saya kangen nulis di sini. Kangen nulis jujur apa adanya. Tidak takut dengan penilaian dan penghakiman orang lain. Tidak takut apa yang saya tulis dibilang dangkal dan omong kosong. 

Setidaknya dua tahun belakangan saya jarang sekali posting tulisan ataupun foto atau sekadar unek-unek di media sosial. Persoalannya satu: saya merasa tidak aman. Rasa tidak aman ini bisa jadi hanya ada dalam pikiran saya atau bisa jadi terbentuk dari akumulasi kejadian-kejadian yang ada di media sosial. Atau mungkin juga karena saya kebanyakan nonton film-film kriminal.  

Kepribadian introvert saya yang akut merasa tidak aman kalau dilihat banyak orang. Atau kalau ada orang yang mengorek-ngorek masa lalu saya, keseharian, atau sekadar pendapat saya. Mengerikan sekali. Saya ingin tulisan saya dibaca orang lain, tapi jangan banyak orang, sedikit orang saja hahahaha. Saya tidak suka kerumunan. Saya tidak suka diskusi yang dihadiri banyak orang. Saya lebih nyaman di kelompok yang kecil saja, dan intim. Dan media sosial tidak memberi saya ruang seperti itu, meskipun yang mengikuti saya toh tidak banyak. 

Saya kangen blog ini. Saya sempat bikin akun lain di wordpress dan medium dan menulis di sana, tapi rasanya tidak seperti di blogspot ini. Mungkin karena blong ini membawa serta masa muda saya. Masa-masa yang saya rindukan (meskipun saya juga ogah kalau disuruh ngulang lagi). Masa-masa saya merasa bebas menulis apa saja. 

Dari dulu yang membaca blog ini tidak banyak. Dan karenanya, saya merasa nyaman. Saya mau nulis yang remeh-temeh ajalah. Yang curhat-curhat gitu. Yang hahahihi. Yang nggak peduli koherensi atau struktur. 

Nah, kalau kamu tersesat di blog ini, jangan bilang-bilang ke orang lain, ya. Jangan di-spill link blog ini. Simpan untuk dirimu sendiri saja, ya. hehe. 



Monday, July 29, 2024

Ucapan Terima Kasih

Saya menulis ucapan terima kasih yang cukup panjang di skripsi saya, di bagian kata pengantar. Ucapan sepanjang lima halaman itu saya tujukan kepada semua orang yang berjasa tidak hanya dalam penyusunan skripsi, tetapi juga sepanjang saya kuliah. Tentu itu tidak sesuai “aturan”. Seharusnya ucapan hanya ditujukan kepada orang-orang yang terlibat dalam penyusunan si skripsi. 


Jujur saja, menulis skripsi bukan kegiatan menyenangkan. Lebih banyak menyakitkannya malah. Itu adalah periode saya bergulat dengan kemalasan. Periode itu saya harus menahan diri membaca komik dan buku-buku yang tidak berkaitan dengan topik penelitian dengan tujuan agar lebih fokus. 


Pada masa-masa jenuh menulis itu, saya menulis ucapan terima kasih di kata pengantar. Hehe. Itu sangat menyenangkan. 


Ketika kini saya membaca lagi kata pengantar skripsi saya itu, terasa betul keluguan dan kekonyolan saya. Keluguan dan kekonyolan yang saat ini bisa saya tertawakan. Rasanya saat itu beban yang paling berat adalah skripsi. Dan betapa hidup masih tampak sederhana. 


Saya tidak menyesal menulis ucapan terima kasih yang panjang dan lugu itu. Itu adalah ucapan terima kasih yang tulus. Dan kenangan-kenangan baik di dalamnya seringkali menolong saya di masa-masa yang gelap. 


Namun, belakangan saya menyadari satu hal yang bolong dalam ucapa terima kasih itu. Itu saya sadari ketika saya menjadi penguji skripsi (yang tentu saja mengharuskan saya membaca skripsi mereka).


Apa yang tidak ada di skripsi saya tapi ada di skripsi mereka adalah ucapan terima kasih pada diri sendiri. Mungkin karena pengaruh media sosial yang belakangan begitu gencar membahas kesehatan mental, mereka punya kesadaran untuk berterima kasih kepada dirinya sendiri yang telah berjuang keras menyelesaikan skripsi. Biasanya mereka meletakkannya di bagian paling akhir (tentu mereka tidak meletakkan di bagian awal karena itu tempatnya pembimbing skripsi dan dosen pembimbing akademik). 


Ketika saya menulis ini, pembahasan tentang joki skripsi dan tugas kuliah sedang panas sekali di media sosial. Saya bertanya-tanya, kalau toh si joki mengerjakan seluruh isi skripsi, apakah bagian ucapan terima kasih di lembar skripsi itu juga dikerjakan si joki? 

Friday, July 26, 2024

Apakah kamu masih mau mendengarkanku?

Mendengar dan mendengarkan itu berbeda, bukan?

Didengar dan didengarkan juga berbeda, bukan?


Masihkah kamu mendengarkanku?

Masih maukah kamu mendengarkanku?

Sunday, December 3, 2023

Jatuh Cinta Seperti di Film-Film

 Halo! Apa kabar? Semoga kamu baik, ya. 

Kamu sudah nonton Jatuh Cinta Seperti di Film-Film?

Aku sudah. Dua kali di bioskop. 

Setelah nonton film ini, aku ngebayangin bisa ngobrol-ngobrol sama kamu. Ngobrolin film ini. 

Kalau kamu belum nonton, gih nonton dulu. Keburu hilang dari bioskop. 

Kalau udah nonton tapi nggak mau ngobrol juga nggak papa kok. 

Aku masih mau nonton film ini lagi kalau nanti udah muncul di platform streaming. 

:') 

Monday, January 18, 2021

Senin, Kunyit Asem, dan Ubi Cilembu

 Saya sedang di meja kerja saya, ditemani secangkir kunyit asem hangat dan ubi cilembu kukus. Awal-awal pandemi saya rajin minum jamu, bikin sendiri. Belakangan agak jarang karena malas bikinnya. Mau beli online malas sampah-sampah botolnya. 

Biasanya, pagi-pagi saya minum kopi bikinan suami, tapi karena kopi lagi habis dan saya butuh asupan minuman hangat, jadilah bikin kunyit asem saja. Kunyit, asem, sereh, dan gula jawa saya rebus sampai mendidih. Lalu disaring. Saya bikin agak banyak sekalian nyetok, diminum dingin enak juga soalnya. 

Ubi cilembu kukus tadinya sebagian mau saya bikin bola-bola kopong yang enak itu, tapi ini sudah tinggal beberapa potong. Haha. Saya dan suami doyan banget si ubi ini. 

Oke, semoga kerjaan hari ini beres! 

Oya, saya sudah mandi setelah kemarin nggak mandi. Hehe. 

Thursday, January 14, 2021

Dimsum Ala-ala

 

Ceritanya kemarin saya agak sukses bikin dimsum. Ini percobaan kedua. Beberapa bulan lalu saya sempat bikin, tapi rasanya gak sip. Kulitnya agak keras dan entah mengapa rasanya agak pahit. Mungkin karena kulitnya bukan khusus untuk yang dikukus atau direbus, tapi buat yang digoreng.

Beberapa minggu lalu, saya nemu tuh kulit yang khusus buat direbus. Langsung masuk keranjang deh. Tapi saya tak kunjung bikin dimsum juga. Masih agak kebayang kegagalan dimsum pertama. Tapi sayang juga kalau si kulit tak segera diberdayakan, khawatir kadaluarsa juga sih. Nah, kebetulan kemarin agak malas masak, tapi kelaparan. Yasudah, bikin dimsum aja, mumpung ada stok ayam di kulkas. Btw, saya jarang banget nyetok ayam, lebih sering ikan.

Ayam saya potong-potong (dagingnya saja, hilangkan kulit) lalu saya blend bareng dua siung bawang putih. (Hasilnya lebih bagus giling sendiri gini ternyata dari pada beli yang udah gilingan). Masih di blendernya (pakai blender daging, bukan blender bumbu atau buah), saya masukin tapioka, telur ayam kampung (karena saya alergi telur yang biasa), saus tiram, minyak wijen, sejumput garam, sedikit lada bubuk, daun bawang cincang, dan seperdelapan labu siam yang sudah diparut halus. Labu siam ini berfungsi mengempukkan adonan, tapi jangan kebanyakan biar rasanya gak dominan. Aduk sampai rata. Untuk bahan-bahannya, saya gak pakai takaran, cukup pakai perasaan aja. Udah terlatih. Hehe.

(Oya, ini blender yang versi pisau mengulirnya bisa dicopot. Saya ngaduk adonan di situ biar gak banyak tempat kotor aja)

Nah, setelah adonan tercampur dengan baik, baru saya taruh di kulit si dimsum. Ini bagian yang paling nyebelin. Saya gak bisa rapi. Hasilnya meleot-meleot gak jelas. Agar terlihat agak indah, atasnya saya beri parutan wortel dikit. Setelah selesai, kukus.

Kira-kira tiga puluh menit kemudian, dimsum sudah siap disantap.


Dan gak ada sepuluh menit, sudah tandas tak bersisa hahaha. Komentar suami: enak banget!

Berhubung adonannya masih agak banyak dan kulitnya habis (saya nyesel kenapa cuma beli sebungkus), saya tambahin tapioka, sedikit terigu, dan garam. Saya bentuk bulet-bulet, lalu direbus. Jadilah bakso ayam ala-ala. Ludes juga dalam sekejap. Enak dan lapar 😁

 

Thursday, January 7, 2021

Ruang yang Lain

 

Sejak tadi pikiran saya berkelana ke perpustakaan UGM. Saat ini saya ingin sekali berada di sana. Seharian di sana. Pulang malam saat sudah mulai sepi dan lampu-lapu taman menyala kuning. Saya sedang banyak pekerjaan dan bosan dengan meja kerja saya

Kangen dan Rasa Aman

 Tiba-tiba saya kangen nulis di sini. Kangen nulis jujur apa adanya. Tidak takut dengan penilaian dan penghakiman orang lain. Tidak takut ap...