Saturday, June 27, 2026

Idola Masa Muda

Dua puluh tahun lalu saya mengidolakannya. Saat ini saya semakin mengidolakannya. 

Saat saya dalam masa-masa gelap, entah kenapa tiba-tiba yang terpikir oleh saya adalah dia. Jujur saya beberapa lama saya mengabaikannya. Ingat sih, tapi nggak ingat banget. Biasa saja. Tapi masa-masa gelap itu menuntun saya sekali lagi ke arahnya. 

Dia semakin matang dan bijaksana sebagai manusia. Dia membukakan pintu-pintu di kepala saya yang selama ini tertutup. Memperjelas pandangan saya yang berkabut. Dia menawarkan perspektif baru dalam memandang segala sesuatu sehingga tidak hitam putih. Bukankah tidak ada yang benar-benar buruk atau baik? Saya belajar untuk meluaskan sudut pandang dan memperlebar jarak pandang, kadang juga mendekatkan jarak pandang jika itu diperlukan. Cara ini menurut saya penting agar bisa menghindarkan diri dari fatatisme buta, tidak hanya untuk memandang peristiwa atau orang lain, tetapi juga dalam memandang diri sendiri. 

Saya bersyukur karena saat muda saya mengidolakan orang yang tepat. 



Friday, June 12, 2026

Dan Embuskanlah Api ke Dalam Jiwaku

Kapan kamu menyadari bahwa kamu mencintai apa yang kamu kerjakan? 

Kalau saya, semalam. 

Pukul sebelas malam ketika saya sudah berselimut dan scrolling video-video lucu, ada notifikasi promotor saya mengirim artikel melalui chat WA. Tidak hanya satu, tapi delapan artikel sekaligus. 

Awalnya saya berniat membalas chat itu besok pagi saja. Toh saya tahu beliau mengirim chat itu pada jam itu kemungkinan besar karena baru bangun dan sedang segar-segarnya. Saya pun meletakkan hp dan mengubahnya ke airplane mode. 

Seperti yang bisa diduga, saya gelisah. Saya langsung bangun dan membuka laptop. Saya membuka chat WA lewat laptop. Saya mengucapkan terima kasih dulu kepada beliau. Lalu saya buka satu artikel. 

Mata saya langsung menyala. Ini nih yang saya butuhkan. Ngantuk saya hilang total dan otak rasanya langsung menyala. Saya tidak merasa jengkel sama sekali karena merasa "diganggu" tengah malam dan harus bangun dari kasur. Saya senang sekali. Saya tahu saya mulai mencintai penelitian saya. Tidak sekadar harus menyelesaikannya, tapi juga ingin dan senang melakukannya. 

Lebih dari sekadar bahan penting dari artikel itu, saya juga menyadari sesuatu yang lain. Yang membuat saya menyala adalah saya merasa sangat didukung oleh beliau, bahkan ketika saya amat pesimistis. Saya  terharu betul. Kelak kalau saya membimbing mahasiswa, saya akan melakukan dukungan itu juga. 

Kedelapan artike tadi membuat saya begitu penasaran. Tapi tubuh 35+ ini sudah tidak kuat lagi diajak begadang wkwkwkwk. Kalau begadang, besoknya pasti kliyengan dan otak sama sekali tidak bisa fokus. Kaki rasanya tidak napak tanah. Jadi, saya tetap memutuskan tidur, tapi kali ini tidur yang tidak sabar untuk bangun keesokan harinya. 

:*


Wednesday, June 10, 2026

Kangen dan Rasa Aman

 Tiba-tiba saya kangen nulis di sini. Kangen nulis jujur apa adanya. Tidak takut dengan penilaian dan penghakiman orang lain. Tidak takut apa yang saya tulis dibilang dangkal dan omong kosong. 

Setidaknya dua tahun belakangan saya jarang sekali posting tulisan ataupun foto atau sekadar unek-unek di media sosial. Persoalannya satu: saya merasa tidak aman. Rasa tidak aman ini bisa jadi hanya ada dalam pikiran saya atau bisa jadi terbentuk dari akumulasi kejadian-kejadian yang ada di media sosial. Atau mungkin juga karena saya kebanyakan nonton film-film kriminal.  

Kepribadian introvert saya yang akut merasa tidak aman kalau dilihat banyak orang. Atau kalau ada orang yang mengorek-ngorek masa lalu saya, keseharian, atau sekadar pendapat saya. Mengerikan sekali. Saya ingin tulisan saya dibaca orang lain, tapi jangan banyak orang, sedikit orang saja hahahaha. Saya tidak suka kerumunan. Saya tidak suka diskusi yang dihadiri banyak orang. Saya lebih nyaman di kelompok yang kecil saja, dan intim. Dan media sosial tidak memberi saya ruang seperti itu, meskipun yang mengikuti saya toh tidak banyak. 

Saya kangen blog ini. Saya sempat bikin akun lain di wordpress dan medium dan menulis di sana, tapi rasanya tidak seperti di blogspot ini. Mungkin karena blong ini membawa serta masa muda saya. Masa-masa yang saya rindukan (meskipun saya juga ogah kalau disuruh ngulang lagi). Masa-masa saya merasa bebas menulis apa saja. 

Dari dulu yang membaca blog ini tidak banyak. Dan karenanya, saya merasa nyaman. Saya mau nulis yang remeh-temeh ajalah. Yang curhat-curhat gitu. Yang hahahihi. Yang nggak peduli koherensi atau struktur. 

Nah, kalau kamu tersesat di blog ini, jangan bilang-bilang ke orang lain, ya. Jangan di-spill link blog ini. Simpan untuk dirimu sendiri saja, ya. hehe. 



Monday, July 29, 2024

Ucapan Terima Kasih

Saya menulis ucapan terima kasih yang cukup panjang di skripsi saya, di bagian kata pengantar. Ucapan sepanjang lima halaman itu saya tujukan kepada semua orang yang berjasa tidak hanya dalam penyusunan skripsi, tetapi juga sepanjang saya kuliah. Tentu itu tidak sesuai “aturan”. Seharusnya ucapan hanya ditujukan kepada orang-orang yang terlibat dalam penyusunan si skripsi. 


Jujur saja, menulis skripsi bukan kegiatan menyenangkan. Lebih banyak menyakitkannya malah. Itu adalah periode saya bergulat dengan kemalasan. Periode itu saya harus menahan diri membaca komik dan buku-buku yang tidak berkaitan dengan topik penelitian dengan tujuan agar lebih fokus. 


Pada masa-masa jenuh menulis itu, saya menulis ucapan terima kasih di kata pengantar. Hehe. Itu sangat menyenangkan. 


Ketika kini saya membaca lagi kata pengantar skripsi saya itu, terasa betul keluguan dan kekonyolan saya. Keluguan dan kekonyolan yang saat ini bisa saya tertawakan. Rasanya saat itu beban yang paling berat adalah skripsi. Dan betapa hidup masih tampak sederhana. 


Saya tidak menyesal menulis ucapan terima kasih yang panjang dan lugu itu. Itu adalah ucapan terima kasih yang tulus. Dan kenangan-kenangan baik di dalamnya seringkali menolong saya di masa-masa yang gelap. 


Namun, belakangan saya menyadari satu hal yang bolong dalam ucapa terima kasih itu. Itu saya sadari ketika saya menjadi penguji skripsi (yang tentu saja mengharuskan saya membaca skripsi mereka).


Apa yang tidak ada di skripsi saya tapi ada di skripsi mereka adalah ucapan terima kasih pada diri sendiri. Mungkin karena pengaruh media sosial yang belakangan begitu gencar membahas kesehatan mental, mereka punya kesadaran untuk berterima kasih kepada dirinya sendiri yang telah berjuang keras menyelesaikan skripsi. Biasanya mereka meletakkannya di bagian paling akhir (tentu mereka tidak meletakkan di bagian awal karena itu tempatnya pembimbing skripsi dan dosen pembimbing akademik). 


Ketika saya menulis ini, pembahasan tentang joki skripsi dan tugas kuliah sedang panas sekali di media sosial. Saya bertanya-tanya, kalau toh si joki mengerjakan seluruh isi skripsi, apakah bagian ucapan terima kasih di lembar skripsi itu juga dikerjakan si joki? 

Friday, July 26, 2024

Apakah kamu masih mau mendengarkanku?

Mendengar dan mendengarkan itu berbeda, bukan?

Didengar dan didengarkan juga berbeda, bukan?


Masihkah kamu mendengarkanku?

Masih maukah kamu mendengarkanku?

Sunday, December 3, 2023

Jatuh Cinta Seperti di Film-Film

 Halo! Apa kabar? Semoga kamu baik, ya. 

Kamu sudah nonton Jatuh Cinta Seperti di Film-Film?

Aku sudah. Dua kali di bioskop. 

Setelah nonton film ini, aku ngebayangin bisa ngobrol-ngobrol sama kamu. Ngobrolin film ini. 

Kalau kamu belum nonton, gih nonton dulu. Keburu hilang dari bioskop. 

Kalau udah nonton tapi nggak mau ngobrol juga nggak papa kok. 

Aku masih mau nonton film ini lagi kalau nanti udah muncul di platform streaming. 

:') 

Monday, January 18, 2021

Senin, Kunyit Asem, dan Ubi Cilembu

 Saya sedang di meja kerja saya, ditemani secangkir kunyit asem hangat dan ubi cilembu kukus. Awal-awal pandemi saya rajin minum jamu, bikin sendiri. Belakangan agak jarang karena malas bikinnya. Mau beli online malas sampah-sampah botolnya. 

Biasanya, pagi-pagi saya minum kopi bikinan suami, tapi karena kopi lagi habis dan saya butuh asupan minuman hangat, jadilah bikin kunyit asem saja. Kunyit, asem, sereh, dan gula jawa saya rebus sampai mendidih. Lalu disaring. Saya bikin agak banyak sekalian nyetok, diminum dingin enak juga soalnya. 

Ubi cilembu kukus tadinya sebagian mau saya bikin bola-bola kopong yang enak itu, tapi ini sudah tinggal beberapa potong. Haha. Saya dan suami doyan banget si ubi ini. 

Oke, semoga kerjaan hari ini beres! 

Oya, saya sudah mandi setelah kemarin nggak mandi. Hehe. 

Idola Masa Muda

Dua puluh tahun lalu saya mengidolakannya. Saat ini saya semakin mengidolakannya.  Saat saya dalam masa-masa gelap, entah kenapa tiba-tiba y...