Kapan kamu menyadari bahwa kamu mencintai apa yang kamu kerjakan?
Kalau saya, semalam.
Pukul sebelas malam ketika saya sudah berselimut dan scrolling video-video lucu, ada notifikasi promotor saya mengirim artikel melalui chat WA. Tidak hanya satu, tapi delapan artikel sekaligus.
Awalnya saya berniat membalas chat itu besok pagi saja. Toh saya tahu beliau mengirim chat itu pada jam itu kemungkinan besar karena baru bangun dan sedang segar-segarnya. Saya pun meletakkan hp dan mengubahnya ke airplane mode.
Seperti yang bisa diduga, saya gelisah. Saya langsung bangun dan membuka laptop. Saya membuka chat WA lewat laptop. Saya mengucapkan terima kasih dulu kepada beliau. Lalu saya buka satu artikel.
Mata saya langsung menyala. Ini nih yang saya butuhkan. Ngantuk saya hilang total dan otak rasanya langsung menyala. Saya tidak merasa jengkel sama sekali karena merasa "diganggu" tengah malam dan harus bangun dari kasur. Saya senang sekali. Saya tahu saya mulai mencintai penelitian saya. Tidak sekadar harus menyelesaikannya, tapi juga ingin dan senang melakukannya.
Lebih dari sekadar bahan penting dari artikel itu, saya juga menyadari sesuatu yang lain. Yang membuat saya menyala adalah saya merasa sangat didukung oleh beliau, bahkan ketika saya amat pesimistis. Saya terharu betul. Kelak kalau saya membimbing mahasiswa, saya akan melakukan dukungan itu juga.
Kedelapan artike tadi membuat saya begitu penasaran. Tapi tubuh 35+ ini sudah tidak kuat lagi diajak begadang wkwkwkwk. Kalau begadang, besoknya pasti kliyengan dan otak sama sekali tidak bisa fokus. Kaki rasanya tidak napak tanah. Jadi, saya tetap memutuskan tidur, tapi kali ini tidur yang tidak sabar untuk bangun keesokan harinya.
:*