Saturday, November 19, 2011
unsent letter
barangkali suatu saat kita harus duduk dan bicara. di sebuah warung kopi atau ronde di pinggir jalan yang masih basah oleh hujan. atau di mana saja. tentang banyak hal yang mungkin belum tuntas. tanyakan tentang apa saja dan aku pasti akan menjawabnya. sejujur-jujurnya. biar tak ada sesak yang menyangkut di dada.
oke? dan itu akan menjadi pembicaraan terakhir kita. barangkali
atau, kita tak usah bicara. sepertinya kata dan bunyi sudah seringkali berkhianat. beri kesempatan pada nurani untuk menyelesaikannya.
photocredit: http://dherdian.wordpress.com/2010/11/15/kotak-pos/&docid=EfsyQyw2Is0sQM&imgurl
Sunday, November 13, 2011
Annajah-Syafi’iyah, Kaifa haluk?
Dan ternyata aku merindukanmu, Annajah. Ternyata aku ingin kembali padamu, Syafiiyah.
Kaifa haluk, Annajah? Tiba-tiba aku merindukanmu begini. Di antara buku-buku poskolonial, posmodern, hegemoni, dekonstruksi, cultural studies dan apapun itu, aku merindukan matan-matan imriti. Masihkah nadhoman-nadhoman itu dilagukan dengan merdu? Aku merindu menghafai i’lal, nahwu, shorof, jurumiyah, mengotak-atik mubtada’ khobar. Aku juga rindu memutar otak dalam hitungan ilmu faroid itu.
Apa kabar kitab-kitab kuning? Masihkah para santri tertidur sambil memelukmu? Apa kabar majmu’? Dziba’? aku rindu bersholawat di malam-malam yang dingin itu. Sekarang ini aku lebih sering mengulang-ulang lagunya The Beatles.
Ustadz Rifai yang sering kali kukecewakan, kini tak satu nadhomanpun bisa kuingat. Hafalan Mabadil Fiqih yang empat juz itupun sudah kulupakan. Maafkan, maafkan.
***
Syafiiyah, sekali waktu kita harus bertemu. Aku merindukan pintu gerbangmu yang berderit-derit. Hampir lima tahun meninggalkanmu dan tak sekalipun aku menjengukmu. Maafkan. Adakah kau juga rindu padaku?
Masihkah tafsir quran menghidupkan pagimu? Masihkah para santri saling membangunkan untuk qiyamul lail? Masihkah selalu mengingatkan untuk Dhuha? Masih rajinkah puasa senin kamis? Masihkah ada roan, kegiatan yang dinanti sebab kami bisa bertemu santri putra? Masihkah santri putri gemar memakai parfum meski berkali-kali disindir Mbah Yai? Masih adakah TV hitam putih itu? Ataukah sudah masuk rongsokan?
Aku merindukan ngaji ba’da ashar yang seringkali kutinggalkan dengan alasan ekstrakurikuler, les, dan lainlain. Aku merindukan hafalan hadits yang tak kunjung kuselesaikan. Aku merindukan makan keroyokan pake tangan. Dan aku merindukan panggilan “Lily” itu.
Apa kabar Ustadz Rosyad, Ustadz Ghofur? Sepertinya aku butuh mengulang Ta’lim Mutaallim. Apa kabar Bu Nyai? Ning Leil? Masihkah sehat dan gemar memasak bandeng? Semoga suatu saat kita bisa bertemu.
Aku merindukanmu, merindukanmu..
Kaifa haluk, Annajah? Tiba-tiba aku merindukanmu begini. Di antara buku-buku poskolonial, posmodern, hegemoni, dekonstruksi, cultural studies dan apapun itu, aku merindukan matan-matan imriti. Masihkah nadhoman-nadhoman itu dilagukan dengan merdu? Aku merindu menghafai i’lal, nahwu, shorof, jurumiyah, mengotak-atik mubtada’ khobar. Aku juga rindu memutar otak dalam hitungan ilmu faroid itu.
Apa kabar kitab-kitab kuning? Masihkah para santri tertidur sambil memelukmu? Apa kabar majmu’? Dziba’? aku rindu bersholawat di malam-malam yang dingin itu. Sekarang ini aku lebih sering mengulang-ulang lagunya The Beatles.
Ustadz Rifai yang sering kali kukecewakan, kini tak satu nadhomanpun bisa kuingat. Hafalan Mabadil Fiqih yang empat juz itupun sudah kulupakan. Maafkan, maafkan.
***
Syafiiyah, sekali waktu kita harus bertemu. Aku merindukan pintu gerbangmu yang berderit-derit. Hampir lima tahun meninggalkanmu dan tak sekalipun aku menjengukmu. Maafkan. Adakah kau juga rindu padaku?
Masihkah tafsir quran menghidupkan pagimu? Masihkah para santri saling membangunkan untuk qiyamul lail? Masihkah selalu mengingatkan untuk Dhuha? Masih rajinkah puasa senin kamis? Masihkah ada roan, kegiatan yang dinanti sebab kami bisa bertemu santri putra? Masihkah santri putri gemar memakai parfum meski berkali-kali disindir Mbah Yai? Masih adakah TV hitam putih itu? Ataukah sudah masuk rongsokan?
Aku merindukan ngaji ba’da ashar yang seringkali kutinggalkan dengan alasan ekstrakurikuler, les, dan lainlain. Aku merindukan hafalan hadits yang tak kunjung kuselesaikan. Aku merindukan makan keroyokan pake tangan. Dan aku merindukan panggilan “Lily” itu.
Apa kabar Ustadz Rosyad, Ustadz Ghofur? Sepertinya aku butuh mengulang Ta’lim Mutaallim. Apa kabar Bu Nyai? Ning Leil? Masihkah sehat dan gemar memasak bandeng? Semoga suatu saat kita bisa bertemu.
Aku merindukanmu, merindukanmu..
Friday, October 7, 2011
lambungku, oh..
saya akui saya adalah orang yang sangat bandel. tapi berkali-kali menghadapi sakit yang sama seperti ini sudah masuk dalam kategori keterlaluan. menjaga diri sendiri saja tidak bisa. ya, hari ini lambung saya benar-benar ngamuk luar biasa. pagi-pagi sudah mual, ulu hati rasanya sakit banget, dan muntah-muntah (rasanya sangat pahit). muntah adalah alarm bagi tubuh saya, yang menandakan saya benar-benar sakit.
sebenarnya saya tahu mengapa saya bisa seperti ini. dua malam ini saya begadang dan memeras otak. mengejar deadline proposal seminar yang..ah, mengingat ini saya jadi sebel banget lagi. sedikit istirahat. minum kopi dan makan telat. lengkap sudah! saya adalah tipe orang yang kalau masih ada tanggungan pekerjaan gak bakalan bisa tenang. mata merem tapi pikiran gelisah. ya jadinya seperti ini, suka memaksakan diri. dan sakit sendiri. rasain.
saat seperti ini, mylanta yang biasanya jadi teman setia, sama sekali tidak bisa membantu. dan sepertinya saya benar-benar harus ke dokter.
sepertinya, untuk sejenak saya juga harus rela berjauh-jauhan dengan sambel, osengosseng mercon, dan makanan pedas lainnya. minum kopi juga harus berenti dulu :(
semoga lekas sembuh, anis. bentukmu jelek banget kalo lagi sakit.
maaf pembaca, kalau akhir-akhir ini postingan saya isinya curhatan doang.gak suka gak usah dibaca!
sebenarnya saya tahu mengapa saya bisa seperti ini. dua malam ini saya begadang dan memeras otak. mengejar deadline proposal seminar yang..ah, mengingat ini saya jadi sebel banget lagi. sedikit istirahat. minum kopi dan makan telat. lengkap sudah! saya adalah tipe orang yang kalau masih ada tanggungan pekerjaan gak bakalan bisa tenang. mata merem tapi pikiran gelisah. ya jadinya seperti ini, suka memaksakan diri. dan sakit sendiri. rasain.
saat seperti ini, mylanta yang biasanya jadi teman setia, sama sekali tidak bisa membantu. dan sepertinya saya benar-benar harus ke dokter.
sepertinya, untuk sejenak saya juga harus rela berjauh-jauhan dengan sambel, osengosseng mercon, dan makanan pedas lainnya. minum kopi juga harus berenti dulu :(
semoga lekas sembuh, anis. bentukmu jelek banget kalo lagi sakit.
maaf pembaca, kalau akhir-akhir ini postingan saya isinya curhatan doang.
Saturday, October 1, 2011
Monday, September 26, 2011
curhatan nggak penting banget
hari ini:
1. bangun-bangun kaki kram gara-gara kemarin naek turun 1.250 tangga di tawangmangu
2. keinget tulisan yang belum diedit, padahal mau bimbingan. dan akhirnya gak jadi diprint. perut ikut-ikutan kram.
3. fotokopi buku pramoedya postcolonially pesenan pak faruk
4. di kampus. berharap bertemu seseorang.
5. semoga yang no.4 selalu baik-baik saja
6. ketemu DPS dan bimbingan. minta maaf karena belum ngasih tulisan. ditanyain ini itu. termasuk"kenapa kok bisa putus?"
7. ndaftar seminar skripsi.
8. ketemu pak faruk, dan bukunya ditanyain. "maaf pak, masih di fotokopian"
9. bingung nyari judul yang pas buat skripsi di ruangannya DPS
10. ketemu temen dan merebut minumannya
11. pulang dan kebingungan mau ngerjian yang mana dulu.
12. besok janji mau ngasih tulisan ke DPS
13. batal ke toko buku
14. batal makan oseng2 mercon :((
15. tidur bentar dan tambah pusing
16. beli capcay di depan asrama. . tiba-tiba bergumam sendiri"tahun ini alah tahun terberat, dan penuh tantangan"
17. rasanya pengennangis sepuas-puasnya tapi nggak bisa.
18. lagu unbreak my heart-nya Toni Braxton masih terus berulang-ulang di laptop...
semoga segera tenang, anis. semoga kamu segera bisa mengatasi semuanya.
1. bangun-bangun kaki kram gara-gara kemarin naek turun 1.250 tangga di tawangmangu
2. keinget tulisan yang belum diedit, padahal mau bimbingan. dan akhirnya gak jadi diprint. perut ikut-ikutan kram.
3. fotokopi buku pramoedya postcolonially pesenan pak faruk
4. di kampus. berharap bertemu seseorang.
5. semoga yang no.4 selalu baik-baik saja
6. ketemu DPS dan bimbingan. minta maaf karena belum ngasih tulisan. ditanyain ini itu. termasuk
7. ndaftar seminar skripsi.
8. ketemu pak faruk, dan bukunya ditanyain. "maaf pak, masih di fotokopian"
9. bingung nyari judul yang pas buat skripsi di ruangannya DPS
10. ketemu temen dan merebut minumannya
11. pulang dan kebingungan mau ngerjian yang mana dulu.
12. besok janji mau ngasih tulisan ke DPS
13. batal ke toko buku
14. batal makan oseng2 mercon :((
15. tidur bentar dan tambah pusing
16. beli capcay di depan asrama. . tiba-tiba bergumam sendiri
17. rasanya pengen
18. lagu unbreak my heart-nya Toni Braxton masih terus berulang-ulang di laptop...
semoga segera tenang, anis. semoga kamu segera bisa mengatasi semuanya.
Sunday, September 18, 2011
Mencari Bapa dalam Genderang Baratayudha: W.S Rendra dan Sri Murtono dalam satu panggung
Jumat, 16 September 2011. Pukul 19.00 WIB Taman Budaya Yogyakarta sudah dipenuhi ratusan orang. Beberapa orang masih duduk-duduk. Tapi kebanyakan langsung menaiki tangga dan menuju gedung pertunjukan Concert Hall setelah terlebih dahulu mengisi daftar hadir. Saya bertemu beberapa teman sekampus, dan kebanyakan adalah adik angkatan ^______^
Kira-kira setengah jam kemudian, gedung pertunjukan telah dibuka. Dan pengunjung pun berduyun-duyun mencari tempat duduk yang paling nyaman. Akhirnya saya dan seorang kawan memilih duduk di bagian tengah. Berhubung pementasan ini gratis, jadi banyaaak banget yang datang. Dan saya rasa sebagian besar adalah mahasiswa FIB UGM, lebih khususnya sastra Indonesia!
Beberapa menit kemudian muncul suara tanpa raga berbahasa jawa dan inggris yang intinya ucapan selamat datang dan larangan merokok, makan, minum, dan memotret dengan menggunakan blitz. Sementara orang di samping saya sedang asyik bermain hp. Oke, dari pada kebanyakan cincong langsung saja saya ceritakan sebenarnya pementasan apa yang bakal digelar malam ini.
Pementasan malam ini sebenarnya adalah serangkaian acara “gelar karya maestro tahun 2011” yang diselenggarakan oleh Taman Budaya Yogyakarta. Sang maestro yang dipilih pada tahun ini adalah Kusbini (yang acaranya sudah digelar pada malam sebelumnya dan saya nggak nonton), KPH Wasito Dipuro, C Hardjasoebrata, W.S Rendra, dan Sri Murtono.
Nah, untuk malam ini, W.S Rendra dan Sri Murtono yang mendapat giliran.
Tidak lama setelah suara tanpa raga tadi, lampu kemudian dipadamkan. Sebelum pementasan dimulai, para penonton diperkenalkan terlebih dahulu siapa itu W.S Rendra dan Sri Murtono. Sebuah video muncul dan terdengar suara Rendra membaca salah satu sajaknya, yang kalau nggak salah judulnya “Hai, Ma!”. Dan kalau gak salah lagi, beginilah sepenggal sajak itu: Ma/Bukan maut yang menggetarkan hatiku/Tetapi hidup yang tidak hidup/Karena kehilangan daya dan fitrahnya/. Kemudian yang diwawancarai sebagai orang terdekat Rendra adalah mantan istrinya, Sitoresmi Prabuningrat, dan sahabatnya, Prof. Bakdi Soemanto.
Pementasan untuk mengenang W.S Rendra ini berjudul “Mencari Bapa” yang diambil dari salah satu sajak panjang Rendra dengan judul yang sama. Sajak ini berisikan pencarian seorang lelaki bernama Suto yang tak beribu dan dibuang oleh ayahnya. Dalam perjalanan hidupnya, Suto mencari seorang Bapa yang sesungguhnya. Begitulah kira-kira.
Pementasan yang dibawakan oleh Seni Teku ini disutradai oleh Ibed Surgana Yuga. Pemain-pemainnya antara lain: Andika Ananda, Riski P. Sari, Tita Dian Wulansari, A. Satrio Pringgodani, Dinu Imansyah, Isa Al-Awwam, Silvano Rodrigues, Kurtubi Rush, Kuncoro Sejati, Eni Wahyuni (yang ini kakak angkatan lho, dan baru saya sadari ketika mendengar suaranya).
Tidak banyak property di atas panggung. Hanya ada beberapa lampu yang entah terbuat dari apa dan digantung di langit-langit. Kemudian muncul dua orang penari dengan kostum berwarna merah dan seorang lagi berdiri pas di tengah dengan rambut yang terurai kedepan. Mereka kemudian menampilkan beberapa gerakan yang super oke, lincah, dan energik.
Suto kecil muncul, berperilaku seperti anak kecil yang bermain-main. Kemudian digantikan oleh Suto dewasa yang berdiri di atas punggung dua orang penari/pemain. Secara keseluruhan, yang membuat saya takjub dari pementasan ini adalah pemain-pemainnya yang begitu menguasai tubuh. Salto jungkir balik yang rawan keseleo itu dilakukan dengan cihuy. Apalagi adegan Suto dewasa dengan seorang wanita (yang dalam sajak adalah seorang lonte), itu sungguh adegan dengan gerakan yang sangat ciamik. Selain itu, kualitas vokalnya juga nggak kalah keren. Sajak Rendra yang panjang itu disuarakan dengan lantang. Dalam beberapa dialog, penonton berhasil dibuat hening.
Kira-kira pukul 20.40 WIB pementasan untuk mengenang Rendra tersebut usai sudah, dan diakhiri dengan tepuk tangan penonton. Lampu menyala. Tapi penonton belum ada yang beranjak. Yup! masih ada satu lagi.
Pementasan kedua adalah Genderang Baratayudha yang berasal dari naskah karya Sri Murtono dengan judul yang sama. Pementasan oleh Teater Beta ini disutradarai oleh Rano Sumarno. Sayangnya, saya nggak tahu siapa saja nama pemain-pemainnya. Sama seperti W.S Rendra, penonton juga terlebih dahulu diperkenalkan siapa itu Sri Murtono. Sri Murtono adalah dramawan Jogja sekaligus pendiri ASDRAFI (Akademi Seni Drama dan Film).
Sebelum pementasan dimulai, ada MC yang membacakan semacam ringkasan cerita. Kemudian setelah layar dibuka, penonton disuguhi lima orang pemain super ganteng (sebenarnya yang bikin ganteng adalah kostumnya. hehe). Lima orang pemain itu tidak lain adalah pihak pandawa lengkap dengan senjatanya masing-masing. Sumpah..kostumnya sangat keren sekali. Penonton pun sontak bertepuk tangan ketika ada pemain yang salto jungkir balik dengan indahnya.
Tokoh wanita dalam pementasan ini ada dua, yaitu Kirana dan Sinta. Gila! vocal kedua wanita ini sungguh sangat mantap. Keduanya adalah kekasih dari pihak pandawa. Singkat cerita, drama yang ditulis oleh Sri Murtono pada tahun 1956 ini mengisahkan perang baratayudha. Penonton di samping saya sepertinya tidak begitu mudeng dengan jalan ceritanya. Ia beberapa kali bertanya ini itu (padahal sebenarnya saya juga nggak begitu mudeng). Nah, saya yang sukanya sok tahu akhirnya mendobos ria. Hehe.
Tentu saja dalam pementasan ini ada adegan-adegan romantisnya, atau lebih tepatnya galau. Yaitu ketika Sinta berbincang dengan Yudistira (kalau nggak salah). Apalagi ketika Yudistira membunuh Sinta lantaran Sinta telah membunuh salah satu personil pandawa. Jeritan Yudistira dan Kirana yang juga ditinggal oleh kekasihnya sungguh menyayat. Nggrantes banget. Intinya, Genderang Baratayudha telah membuat banyak orang kehilangan orang yang dicintainya.
Beberapa detik kemudian, kira-kira pukul 22.00 WIB tepuk tangan membahana, tanda pementasan telah usai. Ratusan penonton pun beranjak dari kursinya masing-masing. Kalau boleh jujur, saya sangat puas dengan kedua pementasan ini. Dengan durasi waktu yang tidak begitu lama, pementasan ini berhasil memberikan sajian yang menakjubkan. Tak sekadar hiburan. Enjoy!
Kira-kira setengah jam kemudian, gedung pertunjukan telah dibuka. Dan pengunjung pun berduyun-duyun mencari tempat duduk yang paling nyaman. Akhirnya saya dan seorang kawan memilih duduk di bagian tengah. Berhubung pementasan ini gratis, jadi banyaaak banget yang datang. Dan saya rasa sebagian besar adalah mahasiswa FIB UGM, lebih khususnya sastra Indonesia!
Beberapa menit kemudian muncul suara tanpa raga berbahasa jawa dan inggris yang intinya ucapan selamat datang dan larangan merokok, makan, minum, dan memotret dengan menggunakan blitz. Sementara orang di samping saya sedang asyik bermain hp. Oke, dari pada kebanyakan cincong langsung saja saya ceritakan sebenarnya pementasan apa yang bakal digelar malam ini.
Pementasan malam ini sebenarnya adalah serangkaian acara “gelar karya maestro tahun 2011” yang diselenggarakan oleh Taman Budaya Yogyakarta. Sang maestro yang dipilih pada tahun ini adalah Kusbini (yang acaranya sudah digelar pada malam sebelumnya dan saya nggak nonton), KPH Wasito Dipuro, C Hardjasoebrata, W.S Rendra, dan Sri Murtono.
Nah, untuk malam ini, W.S Rendra dan Sri Murtono yang mendapat giliran.
Tidak lama setelah suara tanpa raga tadi, lampu kemudian dipadamkan. Sebelum pementasan dimulai, para penonton diperkenalkan terlebih dahulu siapa itu W.S Rendra dan Sri Murtono. Sebuah video muncul dan terdengar suara Rendra membaca salah satu sajaknya, yang kalau nggak salah judulnya “Hai, Ma!”. Dan kalau gak salah lagi, beginilah sepenggal sajak itu: Ma/Bukan maut yang menggetarkan hatiku/Tetapi hidup yang tidak hidup/Karena kehilangan daya dan fitrahnya/. Kemudian yang diwawancarai sebagai orang terdekat Rendra adalah mantan istrinya, Sitoresmi Prabuningrat, dan sahabatnya, Prof. Bakdi Soemanto.
Pementasan untuk mengenang W.S Rendra ini berjudul “Mencari Bapa” yang diambil dari salah satu sajak panjang Rendra dengan judul yang sama. Sajak ini berisikan pencarian seorang lelaki bernama Suto yang tak beribu dan dibuang oleh ayahnya. Dalam perjalanan hidupnya, Suto mencari seorang Bapa yang sesungguhnya. Begitulah kira-kira.
Pementasan yang dibawakan oleh Seni Teku ini disutradai oleh Ibed Surgana Yuga. Pemain-pemainnya antara lain: Andika Ananda, Riski P. Sari, Tita Dian Wulansari, A. Satrio Pringgodani, Dinu Imansyah, Isa Al-Awwam, Silvano Rodrigues, Kurtubi Rush, Kuncoro Sejati, Eni Wahyuni (yang ini kakak angkatan lho, dan baru saya sadari ketika mendengar suaranya).
Tidak banyak property di atas panggung. Hanya ada beberapa lampu yang entah terbuat dari apa dan digantung di langit-langit. Kemudian muncul dua orang penari dengan kostum berwarna merah dan seorang lagi berdiri pas di tengah dengan rambut yang terurai kedepan. Mereka kemudian menampilkan beberapa gerakan yang super oke, lincah, dan energik.
Suto kecil muncul, berperilaku seperti anak kecil yang bermain-main. Kemudian digantikan oleh Suto dewasa yang berdiri di atas punggung dua orang penari/pemain. Secara keseluruhan, yang membuat saya takjub dari pementasan ini adalah pemain-pemainnya yang begitu menguasai tubuh. Salto jungkir balik yang rawan keseleo itu dilakukan dengan cihuy. Apalagi adegan Suto dewasa dengan seorang wanita (yang dalam sajak adalah seorang lonte), itu sungguh adegan dengan gerakan yang sangat ciamik. Selain itu, kualitas vokalnya juga nggak kalah keren. Sajak Rendra yang panjang itu disuarakan dengan lantang. Dalam beberapa dialog, penonton berhasil dibuat hening.
Kira-kira pukul 20.40 WIB pementasan untuk mengenang Rendra tersebut usai sudah, dan diakhiri dengan tepuk tangan penonton. Lampu menyala. Tapi penonton belum ada yang beranjak. Yup! masih ada satu lagi.
Pementasan kedua adalah Genderang Baratayudha yang berasal dari naskah karya Sri Murtono dengan judul yang sama. Pementasan oleh Teater Beta ini disutradarai oleh Rano Sumarno. Sayangnya, saya nggak tahu siapa saja nama pemain-pemainnya. Sama seperti W.S Rendra, penonton juga terlebih dahulu diperkenalkan siapa itu Sri Murtono. Sri Murtono adalah dramawan Jogja sekaligus pendiri ASDRAFI (Akademi Seni Drama dan Film).
Sebelum pementasan dimulai, ada MC yang membacakan semacam ringkasan cerita. Kemudian setelah layar dibuka, penonton disuguhi lima orang pemain super ganteng (sebenarnya yang bikin ganteng adalah kostumnya. hehe). Lima orang pemain itu tidak lain adalah pihak pandawa lengkap dengan senjatanya masing-masing. Sumpah..kostumnya sangat keren sekali. Penonton pun sontak bertepuk tangan ketika ada pemain yang salto jungkir balik dengan indahnya.
Tokoh wanita dalam pementasan ini ada dua, yaitu Kirana dan Sinta. Gila! vocal kedua wanita ini sungguh sangat mantap. Keduanya adalah kekasih dari pihak pandawa. Singkat cerita, drama yang ditulis oleh Sri Murtono pada tahun 1956 ini mengisahkan perang baratayudha. Penonton di samping saya sepertinya tidak begitu mudeng dengan jalan ceritanya. Ia beberapa kali bertanya ini itu (padahal sebenarnya saya juga nggak begitu mudeng). Nah, saya yang sukanya sok tahu akhirnya mendobos ria. Hehe.
Tentu saja dalam pementasan ini ada adegan-adegan romantisnya, atau lebih tepatnya galau. Yaitu ketika Sinta berbincang dengan Yudistira (kalau nggak salah). Apalagi ketika Yudistira membunuh Sinta lantaran Sinta telah membunuh salah satu personil pandawa. Jeritan Yudistira dan Kirana yang juga ditinggal oleh kekasihnya sungguh menyayat. Nggrantes banget. Intinya, Genderang Baratayudha telah membuat banyak orang kehilangan orang yang dicintainya.
Beberapa detik kemudian, kira-kira pukul 22.00 WIB tepuk tangan membahana, tanda pementasan telah usai. Ratusan penonton pun beranjak dari kursinya masing-masing. Kalau boleh jujur, saya sangat puas dengan kedua pementasan ini. Dengan durasi waktu yang tidak begitu lama, pementasan ini berhasil memberikan sajian yang menakjubkan. Tak sekadar hiburan. Enjoy!
Tuesday, September 13, 2011
Tuhan, bisakah patah hati ini ditunda?
Tuhanku yang super oke, aku minta maaf. lagi-lagi aku mengeluh.
bisakah patah hati ini ditunda?
rasanya sangat sakit. aku ingin menangis, tapi tidak bisa. sesak.
please, Tuhan, seperti perempuan-perempuan yang lain, aku ingin bisa menangis. sepuas-puasnya. sekeras-kerasnya.
dari pada aku membentur-benturkan kepala.
atau
tak usah Kau buat hatiku patah, remukkan saja. biar Kau juga tak susah-susah membikin air mata.
*Tuhan kok diperintah toh Nis..Nis..
dedicated to Mustika Sari C.N
Subscribe to:
Posts (Atom)
Aktor Bermata Ngantuk Itu
Dia aktor Korea. Dulu saya menyebutnya sebagai aktor bermata ngantuk. Tapi saya tidak membuat saya sepenasaran itu untuk mencarinya di goog...
-
: sebuah penjelajahan awal Kajian Homi K. Bhabha selain banyak dipengaruhi oleh teoretisi pascastrukturalis seperti Jacques Derrida, Miche...
-
Judul : Bilangan Fu Penulis : Ayu Utami Penerbit : Kepustakaan Populer Gramedia Tahun terbit : 2018 (Cet. 2) Parang Jati, K...
-
Saya sedang duduk-duduk di bonbin menghabiskan sore sambil nyedot es coffeemix. Di depan saya duduk seorang mahasiswi yang kalau dilihat dar...

