“Cepik wes liwat?”
Itu adalah kalimat yang sering saya dengar, dulu, kira-kira lima belas tahun yang lalu. Waktu itu, jika Tuan dan Puan singgah di kampung saya, Tuan dan Puan akan menemui seorang perempuan yang tak lagi muda, yang jalanannya sedikit bongkok karena beban di punggungnya. Ada bakul besar berisi segala macam bumbu dapur, lauk pauk, jajanan, juga obat-obatan. Sementara itu, tanganya yang satu menenteng bungkusan besar krupuk pertolo dan tangan yang lain membawa termos es yang berisi es lilin dan nanas potong.
Kami biasa memanggilnya Mbokde Cepik. Saat itu, ia memang dikenal sebagai seorang yang cukup kaya. Di rumahnya ia memiliki kelontong yang menjual berbagai macam kebutuhan rumah tangga. Tak puas dengan hanya menjual di rumah, ia menjajakan dagangannya pada malam hari dengan berkeliling kampung.
Konon katanya, dirinya sudah berjualan keliling sejak budhe saya masih kecil. Anda bisa bertemu dengan perempuan ini selepas maghrib. Ia akan berkeliling kampung memanggil nama-nama si pemilik rumah dengan teriakan “gak butuh?”. Dan akan singgah jika ada yang menyahut teriakannya. Ia akan memanggil dengan suara lebih keras jika si pemilik rumah kebetulan punya hutang.
Setelah lima belas tahun, Ia jelas sudah terlihat jauh lebih tua dibandingkan dengan dirinya yang saya lihat dulu. Namun, saya cukup kaget mengetahui bahwa sampai hari ini ia masih menjajakan dagangannya dengan keliling kampung. Saya kagum akan kegigihan dan kekuatan tubuhnya. Di saat perempuan-perempuan sebayanya sudah banyak yang meninggal dan tak kuat berjalan jauh, dirinya masih begitu sehat.
Saya tidak tahu benar berapa jumlah semua anaknya. Yang saya tahu, dua anak perempuannya mengikuti jejaknya berdagang kebutuhan rumah tangga. Salah satunya berjualan berkeliling memakai sepeda. Ia telah berhasil mewariskan ilmu dagangnya pada anak-anaknya. Dan mereka berjualan di kampung yang sama. Betapa luar biasa!
Bagi saya, Mbokde Cepik adalah wujud nyata perempuan dalam sajak “Perempuan-Perempuan Perkasa” karya Hartoyo Andangdjaja. Ia tak mau pensiun, tak mau rubuh digilas roda zaman. Ia masih tegak berdiri meskipun pesaing-pesaingnya dari kampung lain berdatangan ke kampung kami.
Long life, Mbokde Cepik!
Sunday, August 10, 2014
Sunday, June 29, 2014
remahan roti
di lorong-lorong perpustakaan yang lampunya mulai menyala satu-satu, pada pertemuan kita yang entah ke berapa itu, tiba-tiba kau bertanya, “kalau kita bertemu lagi, nanti, kira-kira kamu jadi apa?”. dan aku hanya menjawab: entahlah.
tapi barangkali aku tahu kita akan jadi apa nantinya: kita akan memerankan masing-masing tokoh di film itu. aku akan berperan sebagai si perempuan muda yang ceria, yang suka berlama-lama di toko buku. dan menemukanmu kembali di sana. kau sedang mempromosikan buku terbarumu, yag berkisah tentang perempuan petapa. aku datang ke acara itu karena melihat namamu tertera di poster yang diterbangkan angin, yang entah bagaimana prosesnya hingga bisa sampai juga di depan pintuku.
kita beradu pandang. agak ragu dan kaku. kemudian saling bertanya kabar dan diam-diam menginginkan percakapan yang lebih panjang.
tapi barangkali aku tahu kita akan jadi apa nantinya: kita akan memerankan masing-masing tokoh di film itu. aku akan berperan sebagai si perempuan muda yang ceria, yang suka berlama-lama di toko buku. dan menemukanmu kembali di sana. kau sedang mempromosikan buku terbarumu, yag berkisah tentang perempuan petapa. aku datang ke acara itu karena melihat namamu tertera di poster yang diterbangkan angin, yang entah bagaimana prosesnya hingga bisa sampai juga di depan pintuku.
kita beradu pandang. agak ragu dan kaku. kemudian saling bertanya kabar dan diam-diam menginginkan percakapan yang lebih panjang.
Friday, June 13, 2014
when was the last time you disappeared?
when was the last time you disappeared?
from the life in the concrete jungles call cities,
from everyday conversations that have long repetitive,
and the rest of those regular scenes?
when was the last time you really had enough time to sense any of these?
the scent of the beach
the morning dew under your bare feet
the sunset hues
the orchestration of the nature?
when was the last time you floated across the line, over those walls,
and lost your sense of time?
why not now?
-float-
from the life in the concrete jungles call cities,
from everyday conversations that have long repetitive,
and the rest of those regular scenes?
when was the last time you really had enough time to sense any of these?
the scent of the beach
the morning dew under your bare feet
the sunset hues
the orchestration of the nature?
when was the last time you floated across the line, over those walls,
and lost your sense of time?
why not now?
-float-
Sunday, April 13, 2014
hari minggu yang begitulah
harusnya, siang tadi saya pergi ke Tutup Ngisor, Magelang, atas undangan seorang kawan. dia bilang ada acara yang cukup asyik di sana. saya pun sebenarnya suda cukup kangen dengan desa itu. lama sekali tak ke sana. tapi, seperti undangan-undangan dia sebelumnya, saya tak memenuhinya. ada aja alasan yang saya buat. kali ini saya memberikan alasan kalau tulisan saya belum kelar, padahal besok saya janji bertemu pembimbing. dia memaklumi. dan saya merasa sangat payah.
ketika saya menulis ini pun, tulisan yang saya janjikan untuk pembimbing itu belum juga kelar. tapi sialnya saya malah tidak bergegas menyelesaikannya. otak rasanya sudah teramat penuh. bumpet. haha. maka, saya pun mencari pelampisan. yak! toko buku!
sebulan kemarin saya berhasil menahan diri gak ke toko buku. ada perasaan euforia ketika tadi saya masuk ke dalamnya. "haloooo akhirnya kita bertemu yaaaa". kira-kira seperti itulah. iya, ini berlebihan. niatnya saya cuma mau beli satu buku, buku terbaru Wimar Witoelar. tapi, seperti yang sudah bisa ditebak, saya tidak mungkin bisa mengabaikan buku lainnya yang minta dibeli. duh saya perempuan lemah -__-
dan, inilah akhirnya: Sweet Nothingness, buku keempat dari serial About Nothing karangan Wimar Witoelar. saya suka tulisan-tulisan Wimar yang mengajak kita melihat yang yang seolah remeh-remeh itu. ini bukunya para sidekick. haha. tidak tahan melihat ada wajah John Lennon di cover buku, tanpa pikir panjang buku ini langsung saya ambil. meskipun harganya cukup mahal. hoho. buku ini berisi surat-surat John Lennon yang dikumpulkan oleh Hunter Davies. bukunya asyik, banyak fotonya Lennon dan surat-suratnya yang ditulis tangan. pokoknya ini bakal jadi buku kesayangan. hehe. kemudian sebuah buku biografi Anies Baswedan, Melunasi Janji Kemerdekaan. saya sangat nge-fans sama orang satu ini. gagasannya, sepak terjangnya, benar-benar "membuka" mata saya. trus satu lagi buku yang ditulis oleh Rinandi Dinanta. setelah sukses menulis tentang Joko Widodo, kali ini dia menulis buku Ibu Risma Memimpin dengan Hati. tas belanjaan saya pun penuh. Tadinya mau beli kumpulan cerpen AS Laksana "Bidadari yang Mengembara", tapii...asudahlah! eh satu lagi, ada selembar kartu pos untuk dikirimkan ke Fitria Ambarwati.
ndak ngono kui perilaku konsumtif? :(
P.S. >> saya tadi menukarkan tiga buku untuk tiket nonton teater di LIP, Sebuah Usaha Menulis Surat Cinta, dalam rangka 15 tahun Puthut EA berkarya. masih ada satu tiket nganggur nih. siapa mau?
P.S. lagi >> saya pagi tadi ngidam sayur asem, trus tiba2 temen sebelah kos sms kalo masak sayur asem lengkap dengan ikan asin dan sambel terasi. saya di suruh dateng. ini kebetulan?
ketika saya menulis ini pun, tulisan yang saya janjikan untuk pembimbing itu belum juga kelar. tapi sialnya saya malah tidak bergegas menyelesaikannya. otak rasanya sudah teramat penuh. bumpet. haha. maka, saya pun mencari pelampisan. yak! toko buku!
sebulan kemarin saya berhasil menahan diri gak ke toko buku. ada perasaan euforia ketika tadi saya masuk ke dalamnya. "haloooo akhirnya kita bertemu yaaaa". kira-kira seperti itulah. iya, ini berlebihan. niatnya saya cuma mau beli satu buku, buku terbaru Wimar Witoelar. tapi, seperti yang sudah bisa ditebak, saya tidak mungkin bisa mengabaikan buku lainnya yang minta dibeli. duh saya perempuan lemah -__-
dan, inilah akhirnya: Sweet Nothingness, buku keempat dari serial About Nothing karangan Wimar Witoelar. saya suka tulisan-tulisan Wimar yang mengajak kita melihat yang yang seolah remeh-remeh itu. ini bukunya para sidekick. haha. tidak tahan melihat ada wajah John Lennon di cover buku, tanpa pikir panjang buku ini langsung saya ambil. meskipun harganya cukup mahal. hoho. buku ini berisi surat-surat John Lennon yang dikumpulkan oleh Hunter Davies. bukunya asyik, banyak fotonya Lennon dan surat-suratnya yang ditulis tangan. pokoknya ini bakal jadi buku kesayangan. hehe. kemudian sebuah buku biografi Anies Baswedan, Melunasi Janji Kemerdekaan. saya sangat nge-fans sama orang satu ini. gagasannya, sepak terjangnya, benar-benar "membuka" mata saya. trus satu lagi buku yang ditulis oleh Rinandi Dinanta. setelah sukses menulis tentang Joko Widodo, kali ini dia menulis buku Ibu Risma Memimpin dengan Hati. tas belanjaan saya pun penuh. Tadinya mau beli kumpulan cerpen AS Laksana "Bidadari yang Mengembara", tapii...asudahlah! eh satu lagi, ada selembar kartu pos untuk dikirimkan ke Fitria Ambarwati.
ndak ngono kui perilaku konsumtif? :(
P.S. >> saya tadi menukarkan tiga buku untuk tiket nonton teater di LIP, Sebuah Usaha Menulis Surat Cinta, dalam rangka 15 tahun Puthut EA berkarya. masih ada satu tiket nganggur nih. siapa mau?
P.S. lagi >> saya pagi tadi ngidam sayur asem, trus tiba2 temen sebelah kos sms kalo masak sayur asem lengkap dengan ikan asin dan sambel terasi. saya di suruh dateng. ini kebetulan?
Sunday, March 9, 2014
terima kasih, Guru :)
sebagaimana saya percaya bahwa buku itu jodoh, saya juga mempercayai bahwa guru juga demikian. guru akan datang ketika murid siap, begitu kata pepatah. tunggu tulisan saya tentang salah satu guru saya ini, Ajahn Brahm :)
Friday, January 10, 2014
cerita sebelum tidur untuk anak-anakku kelak
Setiap kali membaca buku, saya sering membayangkan kalau buku-buku yang saya baca ini kelak akan dibaca juga oleh anak-anak saya. Atau, buku-buku itu adalah bekal saya untuk mendongengi anak saya sebelum tidur. Saya jadi ingat salah satu cerpen Seno Gumira Ajidarma, judulnya “Dongeng Sebelum Tidur”. Cerpen itu menceritakan tentang seorang wanita, seorang ibu, yang sangat sibuk. Namun, sesibuk apapun wanita itu, dia selalu menyempatkan diri untuk menceritakan sebuah dongeng sebelum tidur untuk anaknya. Sampai suatu hari, setelah lima tahun bercerita, wanita itu betul-betul kehabisan cerita. Ia tak bisa menceritakan hal yang sama karena anaknya hafal dan otaknya merekam dengan detail cerita-cerita yang pernah disampaikan ibunya.
Barangkali, saya kelak akan membuat jadwal. Karena dalam satu minggu ada tujuh malam, saya akan membagi cerita menjadi tujuh kelompok. Hari Senin saya akan menceritakan tokoh-tokoh penggerak bangsa ini. Kepadanya saya akan bercerita tentang Bung Karno, Bung Hatta, Syahrir, Tan Malaka, Soe Hok Gie, Kartini, Tirto Adhi Soerjo, Gus Dur, Pramoedya Ananta Toer. Tidak lupa saya juga akan menceritakan Nelson Mandela, Dalai Lama, Bunda Teresa. Menjadi apapun anak saya kelak, ia tetap harus tahu dan mengenal orang-orang yang memilih jalan terjal dan menanggung segala risikonya itu. Agar tidak menjemukan dan terlalu berat, saya akan menggantinya dengan cerita fabel yang saya beri nama tokoh-tokoh itu. Misalnya, seekor singa bernama Tan Malaka…
Selasa, saya akan bercerita tentang berbagai legenda Nusantara dan hikayat. Tentang Hang Tuah, Si Kabayan, dan Raja-Raja Pasai. Karena ini legenda, saya membayangkan anak saya akan lebih cepat tidur. Agar dia tak jemu, saya akan menceritakan bagaimana bangsa ini tak pernah lelah melawan penjajahan dalam bentuk apapun. Rabu, saatnya berkisah tentang wayang. Sebagai pengenalan, saya akan menceritakan tentang Rahwana, Rama, Sinta, Pandawa Lima, Drupadi, Gatot Kaca, dan lain-lain dengan menunjukkan gambar-gambarnya. Buku-buku tentang wayang hanya beberapa yang saya baca, tapi saya rasa cukup.
Kamis, giliran kisah Rosul dan para sahabatnya, juga kisah para nabi. Bacaan saya tidak terlalu banyak tentang topik ini, hanya ingatan-ingatan yang mulai kabur dan angka-angka tahun yang mudah saya lupakan. Menjadi PR bagi saya untuk membaca ulang dan membaca lebih banyak. Jumat, saya barangkali akan menceritakan tokoh-tokoh dari dunia musik dan olahraga. Perbendaharaan saya tidak terlalu banyak tentang ini. Paling-paing saya akan menceritakan tentang John Lennon dan The Beatles, Deep Purple, Michael Jackson. Biarlah bagian ini menjadi tugas ayahnya. Hahaha.
Sabtu, saya akan menceritakan kisah-kisah petualangan. Tentu saya akan menceritakan petualangan kepala suku Apache Winnetou dan sahabatnya Old Shatterhand, juga tentang Tom Sawyer, Musashi, Three Musketeers, Gulliver, Robinson Crusoe, Pendekar Tanpa Nama, juga McCandless. Minggu saya akan menceritakan para intelektual islam. Mulai dari Ibnu Sina, Ibnu Batutah, Ibnu Khaldun, Syeh Abdul Qodir Jailani, dll. Nah, untuk ini saya perlu membaca ensiklopedia islam. Rekaman di otak saya masih terlalu sedikit tentang mereka-mereka ini.
Tentu, bercerita kepada anak tetap harus ada hubungan personal. Entah pada hari apa, saya akan menceritakan tentang sejarah orang-orang biasa, yang pernah saya baca dari feature-feature Sindhunata. Dia pun akan mendapatkan cerita tentang masa lalu ibunya, ayahnya, neneknya, buyutnya, juga guru-guru dan teman-teman ibu dan ayahnya.
Tenang saja, Nak, ibu tak akan kehabisan cerita. Untuk itu, hari ini ibumu sedang mempersiapkan cerita-cerita itu untukmu. Tidak semuanya cerita yang menyenangkan, ada beberapa yang getir. Karena, Nak, jauh-jauh hari kau harus tahu, hidup tak selamanya menyenangkan. Ibu tidak ingin kau menganggap ibu pembohong karena menceritakan hal-hal yang melulu manis. Tapi percayalah, ibu akan berusaha menceritakan yang tidak manis itu dengan baik. Jika toh ternyata suatu saat ibu sudah tidak bisa bercerita, dan jika usiamu sudah semakin dewasa, kau boleh membaca catatan harian ibu. Kau senang, bukan? :)
Barangkali, saya kelak akan membuat jadwal. Karena dalam satu minggu ada tujuh malam, saya akan membagi cerita menjadi tujuh kelompok. Hari Senin saya akan menceritakan tokoh-tokoh penggerak bangsa ini. Kepadanya saya akan bercerita tentang Bung Karno, Bung Hatta, Syahrir, Tan Malaka, Soe Hok Gie, Kartini, Tirto Adhi Soerjo, Gus Dur, Pramoedya Ananta Toer. Tidak lupa saya juga akan menceritakan Nelson Mandela, Dalai Lama, Bunda Teresa. Menjadi apapun anak saya kelak, ia tetap harus tahu dan mengenal orang-orang yang memilih jalan terjal dan menanggung segala risikonya itu. Agar tidak menjemukan dan terlalu berat, saya akan menggantinya dengan cerita fabel yang saya beri nama tokoh-tokoh itu. Misalnya, seekor singa bernama Tan Malaka…
Selasa, saya akan bercerita tentang berbagai legenda Nusantara dan hikayat. Tentang Hang Tuah, Si Kabayan, dan Raja-Raja Pasai. Karena ini legenda, saya membayangkan anak saya akan lebih cepat tidur. Agar dia tak jemu, saya akan menceritakan bagaimana bangsa ini tak pernah lelah melawan penjajahan dalam bentuk apapun. Rabu, saatnya berkisah tentang wayang. Sebagai pengenalan, saya akan menceritakan tentang Rahwana, Rama, Sinta, Pandawa Lima, Drupadi, Gatot Kaca, dan lain-lain dengan menunjukkan gambar-gambarnya. Buku-buku tentang wayang hanya beberapa yang saya baca, tapi saya rasa cukup.
Kamis, giliran kisah Rosul dan para sahabatnya, juga kisah para nabi. Bacaan saya tidak terlalu banyak tentang topik ini, hanya ingatan-ingatan yang mulai kabur dan angka-angka tahun yang mudah saya lupakan. Menjadi PR bagi saya untuk membaca ulang dan membaca lebih banyak. Jumat, saya barangkali akan menceritakan tokoh-tokoh dari dunia musik dan olahraga. Perbendaharaan saya tidak terlalu banyak tentang ini. Paling-paing saya akan menceritakan tentang John Lennon dan The Beatles, Deep Purple, Michael Jackson. Biarlah bagian ini menjadi tugas ayahnya. Hahaha.
Sabtu, saya akan menceritakan kisah-kisah petualangan. Tentu saya akan menceritakan petualangan kepala suku Apache Winnetou dan sahabatnya Old Shatterhand, juga tentang Tom Sawyer, Musashi, Three Musketeers, Gulliver, Robinson Crusoe, Pendekar Tanpa Nama, juga McCandless. Minggu saya akan menceritakan para intelektual islam. Mulai dari Ibnu Sina, Ibnu Batutah, Ibnu Khaldun, Syeh Abdul Qodir Jailani, dll. Nah, untuk ini saya perlu membaca ensiklopedia islam. Rekaman di otak saya masih terlalu sedikit tentang mereka-mereka ini.
Tentu, bercerita kepada anak tetap harus ada hubungan personal. Entah pada hari apa, saya akan menceritakan tentang sejarah orang-orang biasa, yang pernah saya baca dari feature-feature Sindhunata. Dia pun akan mendapatkan cerita tentang masa lalu ibunya, ayahnya, neneknya, buyutnya, juga guru-guru dan teman-teman ibu dan ayahnya.
Tenang saja, Nak, ibu tak akan kehabisan cerita. Untuk itu, hari ini ibumu sedang mempersiapkan cerita-cerita itu untukmu. Tidak semuanya cerita yang menyenangkan, ada beberapa yang getir. Karena, Nak, jauh-jauh hari kau harus tahu, hidup tak selamanya menyenangkan. Ibu tidak ingin kau menganggap ibu pembohong karena menceritakan hal-hal yang melulu manis. Tapi percayalah, ibu akan berusaha menceritakan yang tidak manis itu dengan baik. Jika toh ternyata suatu saat ibu sudah tidak bisa bercerita, dan jika usiamu sudah semakin dewasa, kau boleh membaca catatan harian ibu. Kau senang, bukan? :)
Saturday, December 7, 2013
dua puluh empat tahun
tujuh desember dua ribu tiga belas, usia saya genap dua puluh empat tahun. dan rasanya biasa saja.
saya mengawali hari ini dengan mendownload data yang harus saya edit, buku tentang kretek pada masa kolonial. kemudian menonton film Last Tango in Paris. mulai ngedit. tidur sebentar. baru kemudian mandi, sudah terdengar adzan dhuhur. beberapa sms masuk mengucapkan selamat dan memanjatkan doa-doa. perut keroncongan minta diisi: sarapan yang tak pernah tepat waktu. lalu ke toko buku. membeli tiga buku, satu komik, dua kartu pos, dan satu VCD. mampir sebentar ke perpustakaan. baru kemudian beli ice cream dan bahan makanan. dan hp berdering, ibu menelpon mengucapkan selamat ulang tahun. beliau berpesan, "dewasalah dalam berpikir dan bertindak".
saya tidak tahu apa nasib waktu. saya tidak mungkin bisa meminta masa lalu paling manis itu kembali lagi, betapapun saya sangat menginginkannya. yang sudah pergi biarlah pergi. hari-hari ke depan saya tidak ingin membuat rencana yang muluk-muluk. saya hanya tidak ingin kemrungsung dan arogan dalam menanggapi setiap persoalan. tidak ingin marah-marah. semoga hari-hari ke depan saya bisa lebih banyak membaca dan menulis. lebih rajin membuat catatan harian. lebih peduli dengan lingkungan sekitar. lebih sering berkomunikasi dengan keluarga. lebih sering meluangkan waktu untuk ngopi dan berkumpul dengan teman-teman. lebih sering bercakap-cakap dengan Tuhan. lebih sering merapikan kamar dan membersihkan kamar mandi. dan menyelesaikan tesis! haha.. semoga ini bukan "keinginan" yang berlebihan.
:')
*eh, akhir-akhir ini saya sering bertanya-tanya: mengapa orang-orang terlalu takut menjadi tua?
saya mengawali hari ini dengan mendownload data yang harus saya edit, buku tentang kretek pada masa kolonial. kemudian menonton film Last Tango in Paris. mulai ngedit. tidur sebentar. baru kemudian mandi, sudah terdengar adzan dhuhur. beberapa sms masuk mengucapkan selamat dan memanjatkan doa-doa. perut keroncongan minta diisi: sarapan yang tak pernah tepat waktu. lalu ke toko buku. membeli tiga buku, satu komik, dua kartu pos, dan satu VCD. mampir sebentar ke perpustakaan. baru kemudian beli ice cream dan bahan makanan. dan hp berdering, ibu menelpon mengucapkan selamat ulang tahun. beliau berpesan, "dewasalah dalam berpikir dan bertindak".
saya tidak tahu apa nasib waktu. saya tidak mungkin bisa meminta masa lalu paling manis itu kembali lagi, betapapun saya sangat menginginkannya. yang sudah pergi biarlah pergi. hari-hari ke depan saya tidak ingin membuat rencana yang muluk-muluk. saya hanya tidak ingin kemrungsung dan arogan dalam menanggapi setiap persoalan. tidak ingin marah-marah. semoga hari-hari ke depan saya bisa lebih banyak membaca dan menulis. lebih rajin membuat catatan harian. lebih peduli dengan lingkungan sekitar. lebih sering berkomunikasi dengan keluarga. lebih sering meluangkan waktu untuk ngopi dan berkumpul dengan teman-teman. lebih sering bercakap-cakap dengan Tuhan. lebih sering merapikan kamar dan membersihkan kamar mandi. dan menyelesaikan tesis! haha.. semoga ini bukan "keinginan" yang berlebihan.
:')
*eh, akhir-akhir ini saya sering bertanya-tanya: mengapa orang-orang terlalu takut menjadi tua?
Subscribe to:
Posts (Atom)
Aktor Bermata Ngantuk Itu
Dia aktor Korea. Dulu saya menyebutnya sebagai aktor bermata ngantuk. Tapi saya tidak membuat saya sepenasaran itu untuk mencarinya di goog...
-
: sebuah penjelajahan awal Kajian Homi K. Bhabha selain banyak dipengaruhi oleh teoretisi pascastrukturalis seperti Jacques Derrida, Miche...
-
Judul : Bilangan Fu Penulis : Ayu Utami Penerbit : Kepustakaan Populer Gramedia Tahun terbit : 2018 (Cet. 2) Parang Jati, K...
-
Saya sedang duduk-duduk di bonbin menghabiskan sore sambil nyedot es coffeemix. Di depan saya duduk seorang mahasiswi yang kalau dilihat dar...
