Terhitung sejak 24 Januari 2016, saya sudah tidak tinggal di Yogyakarta. Sedikit sedih, banyak rindunya. Tapi bukan bagian itu yang ingin saya tulis di sini. Singkat cerita, saya akhirnya hijrah ke Surabaya. Memulai lagi dari awal, kehidupan di sebuah kota yang asing. Sendirian.
Sebenarnya kota ini tidak benar-benar asing bagi saya. Setidaknya dulu waktu saya TK dan SMP, saya pernah mengunjungi kebun binatangnya. Waktu SMA saya juga beberapa kali pergi ke jalan Semarang dekat Pasar Turi untuk membeli buku-buku bekas. Sewaktu kuliah saya juga beberapa kali singgah di Surabaya.
Tapi toh ternyata tinggal itu berbeda dengan singgah.
***
Kamu jelas tahu bahwa Surabaya yang sekarang sudah melesat jauh dari gambaran Pramoedya Ananta Toer dalam Bumi Manusia atau Idrus dalam Surabaya. Tapi tak begitu jauh sih dari gambaran Hamka dalam Tuan Direktur.
Jika kamu menganggap bahwa Surabaya hari ini adalah deretan mal dan deru kendaraan yang memekakkan telinga selama 24 jam, kamu tidak salah. Jika kamu menganggap Surabaya adalah tempat orang-orang begitu keras bekerja dari Senin sampai Jumat kemudian menghabiskan akhir pekan berjubel di pusat perbelanjaan, kamu juga tidak salah. Jika kamu menganggap bahwa gambaran Surabaya tak jauh-jauh dari lirik-lirik lagu Silampukau: tanah lapang yang berganti gedung-gedung tinggi, kota yang menghisap habis impian hidup seseorang, suasana malamnya yang jahanam, kamu juga bener banget. Juga, kalau kamu menganggap bahwa jalanan Surabaya membuat seorang gadis (yang belum begitu tegen mengendarai motor) tak berani melenggang santai, kamu seratus persen bener.
Nah, jika kamu menganggap bahwa gambaran-gambaran tentang Surabaya itu membuat saya males tinggal di dalamnya, bentar, tunggu dulu. Saya bersyukur diciptakan sebagai makhluk yang mudah beradaptasi. Lagi pula, anak kecil macam saya tak akan sulit menemukan apa yang saya namai dengan surga-surga kecil. Yah, setidaknya surga versi saya.
Baik, saya akan memulainya dari tempat yang paling dekat dengan tempat saya tinggal.
Jemuran kos. Silakan tertawa. Tapi inilah surga pertama yang saya temukan. Tempat kos saya yang didominasi warna ungu muda ini memiliki halaman yang cukup luas dan ditumbuhi banyak pohon besar. Dan pohon-pohon itu meneduhi tempat jemuran yang cukup luas di lantai 2. Ada beberapa lidah buaya yang tumbuh subur di dalam pot dan lumut-lumut hijau yang menempel di dinding sehingga menjadikan tempat ini sangat cocok untuk menghabiskan sore, duduk-duduk membaca buku sambil menikmati secangkir teh tong tji.
Tempat ini juga sangat cocok untuk memandang bulan purnama sambil menelpon teman-teman. [Bulan purnama dan teman-teman saya: sama-sama jauh. Satunya cuma bisa saya pandang, satunya lagi cuma bisa saya dengar suaranya].
Angkringan dekat kos. Angkringannya jogja banget. Tehnya, jahenya, tahu bacemnya, sate-satenya. Uh! Sepulang mengajar, saya sering mampir ke sini. Betapa teh hangat dengan gula batu itu bisa membunuh penat seharian. Oh ya, penjualnya adalah mas-mas dari Jogja. Kami biasa mengobrolkan ini itu tentang Jogja, dan hal-hal lainnya. Hotel dan apartemen di Jogja makin banyak ya, mas. Duh.
Danau Unesa. Ada sebuah danau di Unesa. Cukup luas. Selain dihuni ikan-ikan, di tengah-tengah danau itu ditanam sebuah pohon dan sarang burung merpati. Melihat merpati-merpati itu bertengger di dahan-dahan pohon dan kadang terbang mengapakkan sayap-sayapnya, ada yang menghangat di hati saya. Kalau hari minggu, banyak anak kecil yang didampingi orang tuanya bermain di sekitar danau ini. Mereka biasanya memberi makan ikan-ikan. Di pinggir-pinggir danau ada bangku-bangku untuk duduk. Tempat ini benar-benar membuat saya betah berlama-lama melamun. Saya juga sering bersepeda di sekitaran danau ini.
Kursi-kursi dengan meja bundar dan payung, di kantin Unesa. Di dekat danau itu terletak sebuah kantin. Di kursi-kursinya yang ada payung besarnya itulah saya sering menulis. Melihat mahasiswa-mahasiswa yang penuh gairah itu membuat saya ingin menjadi mahasiswa lagi. Bagaimanapun, memandang mereka, memberikan asupan energi bagi saya.
Kebun Binatang Surabaya (KBS). Jika berita-berita yang kamu baca tentang kebun binatang ini adalah hal-hal yang tidak menyenangkan, mungkin kamu memang harus berkunjung langsung ke sini. Dan buktikan bahwa berita itu tidak sepenuhnya benar. Mungkin banyak yang enggan datang lagi ke sini karena ngapain? hewan-hewannya udah jarang gitu. Lha justru itu! Kamu harus sering-sering mengunjungi mereka yang masih bertahan hidup. Oke, mungkin mereka gak ada sangkut pautnya dengan hidup kamu, tapi percayalah, bertemu mereka tak akan sia-sia.
Kebun binatang ini amat luas. Penuh dengan pohon-pohon besar. Entah mengapa, saya selalu merasa aman dan nyaman jika dekat dengan pohon besar. Rasanya begitu teduh. Menurut salah satu filmnya Wong Kar Wai, pohon adalah makhluk yang paling bisa menjaga rahasia. Mungkin suatu saat akan ada pohon yang saya lubangi untuk menyimpan rahasia itu.
Taman Bungkul. Sebenarnya saya tidak terlalu menyukai tanaman yang ditata sedemikian rupa. Saya lebih menyukai taman yang berantakan, yang tanamannya tumbuh sesukanya. Oleh karena itu, taman yang banyak rumput liarnya menurut saya lebih menyenangkan. Tapi, sebagai ruang alternatif, taman bungkul ini cukup nyaman untuk duduk-duduk sambil membaca buku kesayangan.
Saya akan membuat tulisan tersendiri tentang taman bungkul ini. Nanti.
Perpustakaan BI. Tempat ini adalah bekas museum Mpu Tantular. Berhubung museumnya dipindah ke Sidoarjo, tempat ini dijadikan sebagai perpustakaan. Bukunya tidak begitu lengkap, tapi tempatnya cukup asyik. Ada semacam warung kopinya di bagian lobi.
Jalan Ahmad Yani. Siang hari, jalanan ini memang sungguh beringas kayak arena balapan. Mobil motor bergerak begitu gegas. Sebenernya mereka pada mau kemana sih? Tapi kalau malam, sehabis hujan, jalanan ini menampakkan sisi lainnya. Oke, masih tetap beringas sih, tapi paling tidak ada indah-indahnya. Lampu-lampu kendaraan yang dipantulkan sisa-sisa hujan itu, bagi saya, sungguh indah.
Oke, sekian dulu ya. Perjalanan saya di kota ini belum jauh. Baru sekitar Surabaya bagian selatan. Oh ya, ada sebuah perpustakaan menyenangkan di Surabaya. Namanya perpustakaan C20. Tapi saya belum sempat ke sana. Semoga dalam waktu dekat bisa ke sana.
*Hmm..ternyata ada banyak cara Tuhan menghadirkan surga. Atau mungkin saya yang mulai (belajar) mencintai kota ini?
**Jangan khawatirkan saya, Pak. Saya baik-baik saja. Sudah jarang minum antasida.
Tuesday, August 2, 2016
Wednesday, July 27, 2016
Celine dan Jesse
untuk Sandi, Windi, dan Candra yang menikah di bulan Juli
Celine memang seorang gadis muda yang terlalu mudah untuk dicintai. Dia cantik, berwawasan luas, suka membaca buku, asyik diajak ngobrol apa saja. Adalah Jesse, seorang pemuda beruntung yang berhasil mengajak ngobrol gadis muda itu beberapa saat di sebuah kereta. Mereka membicarakan berbagai macam hal: tentang orang Amerika yang tak bisa berkomunikasi selain menggunakan bahasa Inggris, tentang usaha Jesse belajar bahasa Prancis, ide tentang acara televisi, ambisi dan khayalan masa kecil, kematian, dan lain sebagainya.
Sayangnya, obrolan menyenangkan itu harus terhenti karena kereta sudah sampai di tempat tujuan Jesse: Wina, Austria. Tapi, Jesse yang terlalu sadar akan pesona Celine, tak mau melewatkan kesempatan untuk bisa ngobrol lebih lama. Dengan sedikit usaha, pemuda itu berhasil menjerat si gadis untuk menemaninya berkeliling menjelajahi Wina.
Itulah bagian awal film Before Sunrise. Sepanjang film, mereka terlihat seperti dua orang yang begitu cocok. Mereka mengelilingi Wina sambil mengobrolkan cinta, perang, kebebasan, orang tua, teknologi. Mereka mengunjungi makam, gereja, klub, café, juga melihat Sungai Danube dari ketinggian. Mereka bertemu perempuan gibsi, aktor drama, penyair jalanan. Ya, Celine dan Jesse berusia 20-an awal, muda dan penuh gairah kehidupan. Bunga cinta bermekaran di dada keduanya.
Sembilan tahun berlalu tanpa komunikasi apapun dan tiba-tiba mereka bertemu lagi di Paris dalam usia 30-an, dalam Before Sunset. Di usianya yang 30-an itu Celine masih tetap menakjubkan. Wawasannya semakin luas dan dia masih seorang perempuan yang asyik diajak ngobrol sambil menyusuri jalan-jalan di Paris. Mereka mengobrolkan permasalahan-permasalahan dunia, relasi antarmanusia, pertemuan dan perpisahan, pernikahan, sambil menekan kerinduan masing-masing. Jesse, yang telah menjadi penulis sukses, lagi-lagi terpikat oleh pesona Celine.
Obrolan mereka begitu lancar seperti aliran Sungai Sainne tempat perahu mereka berlayar, meskipun ada sakit di hati Jesse akibat gagalnya pertemuan yang mereka rencanakan sembilan tahun yang lalu. Diam-diam Celine juga merasakan patah hati yang sama. Lalu di tengah obrolan itu, mereka mengungkapkan kekecewaan masing-masing. Ya, mereka telah mengalami banyak hal, percobaan cinta dan sakit hati dari kekasih.
Nah, sekarang mari melihat mereka dalam Before Midnight, saat keduanya berusia 40-an, hidup bersama dan punya anak. Pada usia 40-an itu, baik Celine maupun Jesse sudah menampakkan tanda-tanda penuaan. Secara fisik, keduanya tak lagi menarik. Tubuh Celine telah disinggahi lemak di sana sini. Tampang Jesse tak sesegar saat di Before Sunrise. Kerutan di mana-mana. Ia tampak berantakan dan lelah.
Adegan pembuka Before Midnight adalah perdebatan antara Celine dan Jesse di mobil, sepulang mereka mengantarkan anak Jesse ke bandara untuk kembali pada ibu kandungnya (ya, sebelum hidup bersama Celine, Jesse sebelumnya telah menikah, punya anak, dan bercerai). Adegan ini hampir sama seperti saat mereka pertama kali bertemu. Waktu itu ada seorang laki-laki dan perempuan, sepertinya sepasang suami istri, bertengkar di dalam kereta. Karena mereka berbicara dalam bahasa Jerman, baik Celine maupun Jesse tak tahu apa yang mereka pertengkarkan. Siapa sangka, bertahun-tahun kemudian mereka juga mengalami hal yang sama.
Celine bukanlah orang yang menganggap berkonflik sebagai hal yang buruk. Akan tetapi, setelah hidup bersama dengan Jesse dalam waktu yang relatif lama, mereka semakin sering berdebat dengan nada suara yang kian meninggi. Pertengkaran hebat pun tak dapat dihindari. Apa-apa yang selama ini terpendam, termuntahkan juga. Mereka mengutuk satu sama lain seperti musuh. Dan ya, seperti bom waktu, akhirnya kata-kata itu meluncur juga dari mulut salah satu di antara mereka sambil membanting pintu dengan keras: mungkin aku tak lagi mencintaimu.
Dalam puncak kemarahan yang demikian, apa yang mereka dilakukan? Tengah malam itu mereka harus memutuskan, apakah kebersamaan mereka akan terbenam selamanya, ataukah esok masih bisa terbit dan bersinar lagi.
Jesse duduk dan mengamati sekeliling ruangan. Ada secangkir teh yang telah menjadi dingin, pintu yang tertutup, sebotol anggur yang dituang dalam gelas bertangkai dan belum sempat disentuh, juga ranjang tempat mereka gagal bercinta. Sementara itu Celine duduk di sekitaran pantai. Di sana banyak pasangan yang mengobrol satu sama lain, tapi Celine sendirian.
Lalu terlihat Jesse mendekati Celine yang masih diliputi amarah. Jesse berupaya membawa Celine pada saat-saat pertama kali mereka bertemu, saat mereka saling jatuh cinta. Saat itu, Jesse tahu benar bahwa seseorang seperti Celine takkan takluk pada rayuan secerdas apapun. Tapi Jesse tetap berkukuh dengan usahanya. Ia bertahan dengan kekesalan Celine.
Dan mereka berdamai.
Saya yakin, jika Jesse tak memiliki pengalaman dalam perceraian, Celine tak punya sejarah masa lalu disakiti, mereka berdua tak akan mampu untuk berdamai seperti tengah malam itu. Saya juga meyakini bahwa, perdamaian itu bukan karena mereka tak ada pilihan lain selain bersama karena sudah punya anak. Lebih dari apapun, kenangan tak terhitung jumlahnya yang mereka bagi bersama-samalah yang memungkinkan mereka untuk berbaikan seperti yang mereka lakukan.
Oh ya, obrolan antara Celine dan Jesse selalu terjadi ketika mereka sedang bergerak, entah berjalan entah di dalam mobil. Menurut saya, ini menyimbolkan dunia dan kehidupan yang terus bergerak. Selain itu, Obrolan yang mengalir seperti aliran Sungai Danube dan Sainne itu dapat terjadi ketika di antara keduanya tak ada campur tangan ponsel, baik di Before suset maupun Before Sunrise. Sekalinya ada campur tangan ponsel (dalam Before Midnight), mereka tak lagi bisa ngobrol asyik. Yang terjadi justru pertengkaran hebat. Nah lo!
Ada yang bilang, kita bisa memilih dengan siapa kita menikah, tapi kita tak bisa memilih dengan siapa kita jatuh cinta. Semoga, kalian bertiga, teman-teman yang kusayangi, semakin lama kalian menikah kalian akan semakin jatuh cinta. Segenap doa :)
Celine memang seorang gadis muda yang terlalu mudah untuk dicintai. Dia cantik, berwawasan luas, suka membaca buku, asyik diajak ngobrol apa saja. Adalah Jesse, seorang pemuda beruntung yang berhasil mengajak ngobrol gadis muda itu beberapa saat di sebuah kereta. Mereka membicarakan berbagai macam hal: tentang orang Amerika yang tak bisa berkomunikasi selain menggunakan bahasa Inggris, tentang usaha Jesse belajar bahasa Prancis, ide tentang acara televisi, ambisi dan khayalan masa kecil, kematian, dan lain sebagainya.
Sayangnya, obrolan menyenangkan itu harus terhenti karena kereta sudah sampai di tempat tujuan Jesse: Wina, Austria. Tapi, Jesse yang terlalu sadar akan pesona Celine, tak mau melewatkan kesempatan untuk bisa ngobrol lebih lama. Dengan sedikit usaha, pemuda itu berhasil menjerat si gadis untuk menemaninya berkeliling menjelajahi Wina.
Itulah bagian awal film Before Sunrise. Sepanjang film, mereka terlihat seperti dua orang yang begitu cocok. Mereka mengelilingi Wina sambil mengobrolkan cinta, perang, kebebasan, orang tua, teknologi. Mereka mengunjungi makam, gereja, klub, café, juga melihat Sungai Danube dari ketinggian. Mereka bertemu perempuan gibsi, aktor drama, penyair jalanan. Ya, Celine dan Jesse berusia 20-an awal, muda dan penuh gairah kehidupan. Bunga cinta bermekaran di dada keduanya.
Sembilan tahun berlalu tanpa komunikasi apapun dan tiba-tiba mereka bertemu lagi di Paris dalam usia 30-an, dalam Before Sunset. Di usianya yang 30-an itu Celine masih tetap menakjubkan. Wawasannya semakin luas dan dia masih seorang perempuan yang asyik diajak ngobrol sambil menyusuri jalan-jalan di Paris. Mereka mengobrolkan permasalahan-permasalahan dunia, relasi antarmanusia, pertemuan dan perpisahan, pernikahan, sambil menekan kerinduan masing-masing. Jesse, yang telah menjadi penulis sukses, lagi-lagi terpikat oleh pesona Celine.
Obrolan mereka begitu lancar seperti aliran Sungai Sainne tempat perahu mereka berlayar, meskipun ada sakit di hati Jesse akibat gagalnya pertemuan yang mereka rencanakan sembilan tahun yang lalu. Diam-diam Celine juga merasakan patah hati yang sama. Lalu di tengah obrolan itu, mereka mengungkapkan kekecewaan masing-masing. Ya, mereka telah mengalami banyak hal, percobaan cinta dan sakit hati dari kekasih.
Nah, sekarang mari melihat mereka dalam Before Midnight, saat keduanya berusia 40-an, hidup bersama dan punya anak. Pada usia 40-an itu, baik Celine maupun Jesse sudah menampakkan tanda-tanda penuaan. Secara fisik, keduanya tak lagi menarik. Tubuh Celine telah disinggahi lemak di sana sini. Tampang Jesse tak sesegar saat di Before Sunrise. Kerutan di mana-mana. Ia tampak berantakan dan lelah.
Adegan pembuka Before Midnight adalah perdebatan antara Celine dan Jesse di mobil, sepulang mereka mengantarkan anak Jesse ke bandara untuk kembali pada ibu kandungnya (ya, sebelum hidup bersama Celine, Jesse sebelumnya telah menikah, punya anak, dan bercerai). Adegan ini hampir sama seperti saat mereka pertama kali bertemu. Waktu itu ada seorang laki-laki dan perempuan, sepertinya sepasang suami istri, bertengkar di dalam kereta. Karena mereka berbicara dalam bahasa Jerman, baik Celine maupun Jesse tak tahu apa yang mereka pertengkarkan. Siapa sangka, bertahun-tahun kemudian mereka juga mengalami hal yang sama.
Celine bukanlah orang yang menganggap berkonflik sebagai hal yang buruk. Akan tetapi, setelah hidup bersama dengan Jesse dalam waktu yang relatif lama, mereka semakin sering berdebat dengan nada suara yang kian meninggi. Pertengkaran hebat pun tak dapat dihindari. Apa-apa yang selama ini terpendam, termuntahkan juga. Mereka mengutuk satu sama lain seperti musuh. Dan ya, seperti bom waktu, akhirnya kata-kata itu meluncur juga dari mulut salah satu di antara mereka sambil membanting pintu dengan keras: mungkin aku tak lagi mencintaimu.
Dalam puncak kemarahan yang demikian, apa yang mereka dilakukan? Tengah malam itu mereka harus memutuskan, apakah kebersamaan mereka akan terbenam selamanya, ataukah esok masih bisa terbit dan bersinar lagi.
Jesse duduk dan mengamati sekeliling ruangan. Ada secangkir teh yang telah menjadi dingin, pintu yang tertutup, sebotol anggur yang dituang dalam gelas bertangkai dan belum sempat disentuh, juga ranjang tempat mereka gagal bercinta. Sementara itu Celine duduk di sekitaran pantai. Di sana banyak pasangan yang mengobrol satu sama lain, tapi Celine sendirian.
Lalu terlihat Jesse mendekati Celine yang masih diliputi amarah. Jesse berupaya membawa Celine pada saat-saat pertama kali mereka bertemu, saat mereka saling jatuh cinta. Saat itu, Jesse tahu benar bahwa seseorang seperti Celine takkan takluk pada rayuan secerdas apapun. Tapi Jesse tetap berkukuh dengan usahanya. Ia bertahan dengan kekesalan Celine.
Dan mereka berdamai.
Saya yakin, jika Jesse tak memiliki pengalaman dalam perceraian, Celine tak punya sejarah masa lalu disakiti, mereka berdua tak akan mampu untuk berdamai seperti tengah malam itu. Saya juga meyakini bahwa, perdamaian itu bukan karena mereka tak ada pilihan lain selain bersama karena sudah punya anak. Lebih dari apapun, kenangan tak terhitung jumlahnya yang mereka bagi bersama-samalah yang memungkinkan mereka untuk berbaikan seperti yang mereka lakukan.
Oh ya, obrolan antara Celine dan Jesse selalu terjadi ketika mereka sedang bergerak, entah berjalan entah di dalam mobil. Menurut saya, ini menyimbolkan dunia dan kehidupan yang terus bergerak. Selain itu, Obrolan yang mengalir seperti aliran Sungai Danube dan Sainne itu dapat terjadi ketika di antara keduanya tak ada campur tangan ponsel, baik di Before suset maupun Before Sunrise. Sekalinya ada campur tangan ponsel (dalam Before Midnight), mereka tak lagi bisa ngobrol asyik. Yang terjadi justru pertengkaran hebat. Nah lo!
Ada yang bilang, kita bisa memilih dengan siapa kita menikah, tapi kita tak bisa memilih dengan siapa kita jatuh cinta. Semoga, kalian bertiga, teman-teman yang kusayangi, semakin lama kalian menikah kalian akan semakin jatuh cinta. Segenap doa :)
Thursday, June 2, 2016
kartu pos bergambar perahu cadik
Saya benar-benar merindukan teman-teman saya. Merindukan orang-orang yang pernah saya temui di Jogja. Semuanya. Rindu yang tak hanya sesekali, tapi selalu. Andai tangan saya bisa memanjang seperti tangan Monkey D. Luffy, rasanya saya ingin merengkuh mereka semua dalam satu pelukan hangat.
Hmm, sepertinya saya sedang melankolis. Mungkin pengaruh hormon menstruasi. Mungkin juga pengaruh mendung yang menggantung sore ini.
Ada seorang teman yang bilang bahwa dirinya merindukan seseorang sampai rasanya ingin mati. Saya bilang itu mungkin pengaruh drama korea menye-menye yang sering ditontonnya. Saya merasa sangat jahat pernah bilang seperti itu. Meski tak sampai ingin mati, sepertinya saya bisa merasakan apa yang dikatakan teman saya dulu. Saya benar-benar merindukan teman-teman saya. Mungkin mereka tak merindukan saya. Tak mengapa. Tak masalah.
Semoga, di luar sana, mereka semua sedang berbahagia.
Hmm, sepertinya saya sedang melankolis. Mungkin pengaruh hormon menstruasi. Mungkin juga pengaruh mendung yang menggantung sore ini.
Ada seorang teman yang bilang bahwa dirinya merindukan seseorang sampai rasanya ingin mati. Saya bilang itu mungkin pengaruh drama korea menye-menye yang sering ditontonnya. Saya merasa sangat jahat pernah bilang seperti itu. Meski tak sampai ingin mati, sepertinya saya bisa merasakan apa yang dikatakan teman saya dulu. Saya benar-benar merindukan teman-teman saya. Mungkin mereka tak merindukan saya. Tak mengapa. Tak masalah.
Semoga, di luar sana, mereka semua sedang berbahagia.
Monday, May 16, 2016
kantong ajaib doraemon #1: dari fotografi sampai kacang hijau
Saya masih mengingat dengan jelas siang itu. Di lorong lantai satu gedung Poerbatjaraka, dia berkemeja kotak-kotak dengan tas selempang hijau, sedang duduk menunggu sambil membawa lembaran kertas. Saya menuju sisi lain, juga duduk menunggu. Hingga akhirnya dia duduk di sebelah saya karena orang yang kami tunggu adalah orang yang sama: Prof. Dr. Faruk. Kami hendak meminta tanda tangan beliau untuk keperluan KRS.
Waktu itu, Prof Faruk sedang ada rapat di salah satu ruangan. Dalam suasana menunggu itu, kami berkenalan dan mengobrol. Dia menanyakan penelitian saya. Kebetulan waktu itu saya membawa satu bendel kertas yang berisi beberapa bab tesis. Singkat cerita, kami kemudian tergabung dalam penelitian dengan objek formal yang sama dan mengerjakannya di ruangan yang sama pula.
Semenjak saat itu, keberuntungan seperti mengikuti saya. Kursinya berada di samping saya sehingga dia adalah orang pertama yang saya ajak diskusi ketika ada persoalan. Mulai dari persoalan penelitian hingga persoalan laptop yang tiba-tiba error. Karena dia dulu sekolah di SMK jurusan perkomputeran, persoalan komputer bisa ditanganinya dengan mudah. Saya juga belajar banyak darinya tentang beberapa program dan aplikasi.
Keberuntungan saya tak hanya sampai di situ. Sebagai seorang yang menggilai Arswendo, dia mencekoki saya karya-karya penulis keren itu, membuat saya mengenal Bong dan Keka. Dan saya menyesal mengapa dari dulu tak membaca karya-karya Arswendo, tentu saja selain Canting.
Dia adalah seorang fotografer handal. Saya doakan semoga dia segera berhasil membuat pameran tunggal. Dari dialah saya jadi mengenal Sebastiano Salgado dengan karyanya yang monumental itu: Genesis. Juga fotografer-fotografer dunia yang lain. Dia juga teman bertualang yang menyenangkan. Kegemarannya menjelajahi tempat-tempat asing pernah membuatnya mencicipi death experience. Kegemarannya yang lain adalah mengoleksi barang-barang kuno (kalau tak boleh disebut rongsokan). Itulah sebabnya klitikan adalah tempat favoritnya. Saat di Australia pun, yang dicarinya adalah tempat semacam klitikan.
Saya benar-benar beruntung punya teman yang baik seperti dia. Dia memberi saya banyak hal, tapi saya tak pernah memberinya apa-apa. Di situlah saya sering merasa sedih. Oh ya, di antara sekian banyak hal yang diberikan kepada saya, saya paling senang ketika dia memberitahu cara cepat memasak kacang hijau di magic-com. Hahaha.
Fyi, namanya Arif Furqan. Cari aja instagramnya kalo mau tau (sebagian) karya-karya fotonya.
Waktu itu, Prof Faruk sedang ada rapat di salah satu ruangan. Dalam suasana menunggu itu, kami berkenalan dan mengobrol. Dia menanyakan penelitian saya. Kebetulan waktu itu saya membawa satu bendel kertas yang berisi beberapa bab tesis. Singkat cerita, kami kemudian tergabung dalam penelitian dengan objek formal yang sama dan mengerjakannya di ruangan yang sama pula.
Semenjak saat itu, keberuntungan seperti mengikuti saya. Kursinya berada di samping saya sehingga dia adalah orang pertama yang saya ajak diskusi ketika ada persoalan. Mulai dari persoalan penelitian hingga persoalan laptop yang tiba-tiba error. Karena dia dulu sekolah di SMK jurusan perkomputeran, persoalan komputer bisa ditanganinya dengan mudah. Saya juga belajar banyak darinya tentang beberapa program dan aplikasi.
Keberuntungan saya tak hanya sampai di situ. Sebagai seorang yang menggilai Arswendo, dia mencekoki saya karya-karya penulis keren itu, membuat saya mengenal Bong dan Keka. Dan saya menyesal mengapa dari dulu tak membaca karya-karya Arswendo, tentu saja selain Canting.
Dia adalah seorang fotografer handal. Saya doakan semoga dia segera berhasil membuat pameran tunggal. Dari dialah saya jadi mengenal Sebastiano Salgado dengan karyanya yang monumental itu: Genesis. Juga fotografer-fotografer dunia yang lain. Dia juga teman bertualang yang menyenangkan. Kegemarannya menjelajahi tempat-tempat asing pernah membuatnya mencicipi death experience. Kegemarannya yang lain adalah mengoleksi barang-barang kuno (kalau tak boleh disebut rongsokan). Itulah sebabnya klitikan adalah tempat favoritnya. Saat di Australia pun, yang dicarinya adalah tempat semacam klitikan.
Saya benar-benar beruntung punya teman yang baik seperti dia. Dia memberi saya banyak hal, tapi saya tak pernah memberinya apa-apa. Di situlah saya sering merasa sedih. Oh ya, di antara sekian banyak hal yang diberikan kepada saya, saya paling senang ketika dia memberitahu cara cepat memasak kacang hijau di magic-com. Hahaha.
Fyi, namanya Arif Furqan. Cari aja instagramnya kalo mau tau (sebagian) karya-karya fotonya.
Monday, April 25, 2016
di kedai yang lampunya terang, pada malam yang tak panjang
untuk Jogja yang kusayangi
Sepanjang ingatanku, tak pernah aku mendapati pandangan mata seperti malam ini. Pandangan mata yang aku sendiri tak sanggup menantangnya.
Beberapa saat lamanya kami hanya saling diam. Aku membolak-balik daftar menu. Dia bertanya, minuman apa yang sering kupesan di kedai ini. Aku menunjuk salah satu jenis minuman. Dia pun memesan itu. Aku memilih minuman dan makanan yang belum pernah kupesan.
Kemudian kesenyapan yang panjang. Lagi. Aku memalingkan muka. Masih belum sanggup menantang pandangan matanya. Di sebelah kami, ada seorang anak muda, sendirian, sedang sibuk dengan laptop dan tumpukan kertas. Headset terpasang di telinganya. Segelas jus dan sepiring kentang goreng juga ada di mejanya. Barangkali ia sedang mengerjakan tugas kuliah.
Dia yang di sampingku masih terus menatap. Hingga akhirnya…
Kenapa begitu mendadak? dengan nada yang terlalu rumit untuk dideskripsikan.
Maaf, ya. Jawabku kemudian.
Aku tahu aku harus mengakhiri suasana yang mendadak sentimentil ini. Aku lalu mengingatkannya kembali pada hal-hal gila yang pernah kami lakukan. Dulu sekali. Dia tersenyum. Aku sedikit lega.
Kamu memang gila!
Hahaha..
Minuman dan makanan yang kami pesan datang. Anak muda tadi beranjak dari duduknya. Mengemasi barang-barangnya. Pergi. Aku yakin sekali dia tadi mendengarkan obrolan kami.
Yang kemudian keluar dari mulutnya adalah hal-hal yang selama ini tak pernah kusangka. Beberapa hal yang diungkapkannya membuatku tercekat. Dia tahu riwayatku. Tanpa aku harus memberitahunya. Tanpa ada celah untukku membantahnya.
Aku paham kenapa dia memilih malam ini untuk mengungkap itu semua. Tak akan ada kesempatan lagi seperti malam ini. Kupertegas: tak akan ada lagi. Malam-malam panjang sepekan sekali selama lebih dari delapan tahun harus berakhir malam ini.
Aku masih beruntung bisa bertemu dengannya. Sejak sore hujan turun deras sekali dan baru reda beberapa saat yang lalu. Tapi, jikapun hujan tak reda, malam ini aku harus bertemu dengannya. Jadi, kesempatan ini harus kugunakan sebaik-baiknya. Akan kukatakan apa yang selama ini hanya tersimpan di benak.
Terima kasih, ya.
Akhirnya aku mengucapkannya. Aku tidak tahu kata lain selain terima kasih. Aku tidak tahu apa jadinya aku jika tak dipertemukan dengannya. Aku juga ragu perjalananku ada maknanya jika tak bertemu dengannya. Maka, terima kasih adalah satu-satunya kata yang sanggup kuberikan padanya. Aku jelas tak sanggup memberikan seperti apa yang sudah diberikannya padaku.
Dia tersenyum. Aku pun.
Beberapa saat lamanya kami tenggelam dalam pikiran masing-masing. Dalam pikiranku berkecamuk serangkaian kemungkinan, harapan, juga kecemasan. Aku tak tahu apa yang ada dalam pikirannya.
Lalu dia menanyakan sesuatu yang kujawab hanya dengan helaan nafas panjang. Dan pandangan mata itu terbit lagi. Deg!
Waktu berlari begitu cepat. Secepat detak jantungku. Tiba-tiba saja sudah lewat tengah malam. Satu-satunya mukjizat yang kuinginkan saat ini adalah kemampuan menghentikan waktu. Malam ini saja. Tolong!
Dia memberi isyarat agar kami segera beranjak. Aku bilang, sebentar. Aku ingin memenuhi ingatanku dengan warna bola matanya (ya, akhirnya aku berani menatapnya), alisnya yang bagus, tulisan-tulisan di kaosnya, potongan rambutnya, jumlah puntung rokok di asbak, makanan dan minuman yang belum tandas, meja berkaki pendek, juga lampu-lampu. Aku ingin menghirup dalam-dalam campuran parfum, asap rokok, dan bau tanah sisa hujan ini hingga paru-paruku penuh. Lalu membungkus dan menaruhnya di 2046 ciptaan sutradara genius Wong Kar Wai.
Dia masih di sampingku, tapi rasanya aku sudah sangat merindukannya. Sialan! Aku dikepung perasaan-perasaan sentimentil semacam ini.
Di luar, aku bisa melihat angin menggoyangkan daun-daun mangga. Kami pun beranjak meninggalkan kedai yang lampunya terang ini.
Tuban-Surabaya, Februari-April 2016
Sepanjang ingatanku, tak pernah aku mendapati pandangan mata seperti malam ini. Pandangan mata yang aku sendiri tak sanggup menantangnya.
Beberapa saat lamanya kami hanya saling diam. Aku membolak-balik daftar menu. Dia bertanya, minuman apa yang sering kupesan di kedai ini. Aku menunjuk salah satu jenis minuman. Dia pun memesan itu. Aku memilih minuman dan makanan yang belum pernah kupesan.
Kemudian kesenyapan yang panjang. Lagi. Aku memalingkan muka. Masih belum sanggup menantang pandangan matanya. Di sebelah kami, ada seorang anak muda, sendirian, sedang sibuk dengan laptop dan tumpukan kertas. Headset terpasang di telinganya. Segelas jus dan sepiring kentang goreng juga ada di mejanya. Barangkali ia sedang mengerjakan tugas kuliah.
Dia yang di sampingku masih terus menatap. Hingga akhirnya…
Kenapa begitu mendadak? dengan nada yang terlalu rumit untuk dideskripsikan.
Maaf, ya. Jawabku kemudian.
Aku tahu aku harus mengakhiri suasana yang mendadak sentimentil ini. Aku lalu mengingatkannya kembali pada hal-hal gila yang pernah kami lakukan. Dulu sekali. Dia tersenyum. Aku sedikit lega.
Kamu memang gila!
Hahaha..
Minuman dan makanan yang kami pesan datang. Anak muda tadi beranjak dari duduknya. Mengemasi barang-barangnya. Pergi. Aku yakin sekali dia tadi mendengarkan obrolan kami.
Yang kemudian keluar dari mulutnya adalah hal-hal yang selama ini tak pernah kusangka. Beberapa hal yang diungkapkannya membuatku tercekat. Dia tahu riwayatku. Tanpa aku harus memberitahunya. Tanpa ada celah untukku membantahnya.
Aku paham kenapa dia memilih malam ini untuk mengungkap itu semua. Tak akan ada kesempatan lagi seperti malam ini. Kupertegas: tak akan ada lagi. Malam-malam panjang sepekan sekali selama lebih dari delapan tahun harus berakhir malam ini.
Aku masih beruntung bisa bertemu dengannya. Sejak sore hujan turun deras sekali dan baru reda beberapa saat yang lalu. Tapi, jikapun hujan tak reda, malam ini aku harus bertemu dengannya. Jadi, kesempatan ini harus kugunakan sebaik-baiknya. Akan kukatakan apa yang selama ini hanya tersimpan di benak.
Terima kasih, ya.
Akhirnya aku mengucapkannya. Aku tidak tahu kata lain selain terima kasih. Aku tidak tahu apa jadinya aku jika tak dipertemukan dengannya. Aku juga ragu perjalananku ada maknanya jika tak bertemu dengannya. Maka, terima kasih adalah satu-satunya kata yang sanggup kuberikan padanya. Aku jelas tak sanggup memberikan seperti apa yang sudah diberikannya padaku.
Dia tersenyum. Aku pun.
Beberapa saat lamanya kami tenggelam dalam pikiran masing-masing. Dalam pikiranku berkecamuk serangkaian kemungkinan, harapan, juga kecemasan. Aku tak tahu apa yang ada dalam pikirannya.
Lalu dia menanyakan sesuatu yang kujawab hanya dengan helaan nafas panjang. Dan pandangan mata itu terbit lagi. Deg!
Waktu berlari begitu cepat. Secepat detak jantungku. Tiba-tiba saja sudah lewat tengah malam. Satu-satunya mukjizat yang kuinginkan saat ini adalah kemampuan menghentikan waktu. Malam ini saja. Tolong!
Dia memberi isyarat agar kami segera beranjak. Aku bilang, sebentar. Aku ingin memenuhi ingatanku dengan warna bola matanya (ya, akhirnya aku berani menatapnya), alisnya yang bagus, tulisan-tulisan di kaosnya, potongan rambutnya, jumlah puntung rokok di asbak, makanan dan minuman yang belum tandas, meja berkaki pendek, juga lampu-lampu. Aku ingin menghirup dalam-dalam campuran parfum, asap rokok, dan bau tanah sisa hujan ini hingga paru-paruku penuh. Lalu membungkus dan menaruhnya di 2046 ciptaan sutradara genius Wong Kar Wai.
Dia masih di sampingku, tapi rasanya aku sudah sangat merindukannya. Sialan! Aku dikepung perasaan-perasaan sentimentil semacam ini.
Di luar, aku bisa melihat angin menggoyangkan daun-daun mangga. Kami pun beranjak meninggalkan kedai yang lampunya terang ini.
Tuban-Surabaya, Februari-April 2016
Wednesday, April 20, 2016
senin sore di kepalamu yang ditopang tangan kanan
pada satu Senin di meja kerjamu yang penuh
tumpukan kertas, beberapa alat tulis, kalender duduk, foto, dan setangkai bunga plastik,
tak ada yang lebih kau damba tinimbang tubuhmu
tenggelam dalam busa sabun yang melimpah dan beraroma jeruk juga
aroma shampo yang mengingatkanmu pada kekasih
yang jauh
kalut dan amarah berterbangan dan menclok
di langit-langit kamar mandimu
menempel tak terlalu kuat dan dalam hitungan menit bermetamorfosis
jadi kupu-kupu yang tampak lucu
setelahnya, perlahan kau rebahkan
kantuk pada kasur dengan seprai bermotif daun teh
membawamu melayang-layang sebentar di sebuah perkebunan yang berkabut
hmmm,
di meja kecil itu, lagulagu sendu—yang menyala 24 jam—membantumu mengatupkan pelupuk.
Surabaya, April 2016
tumpukan kertas, beberapa alat tulis, kalender duduk, foto, dan setangkai bunga plastik,
tak ada yang lebih kau damba tinimbang tubuhmu
tenggelam dalam busa sabun yang melimpah dan beraroma jeruk juga
aroma shampo yang mengingatkanmu pada kekasih
yang jauh
kalut dan amarah berterbangan dan menclok
di langit-langit kamar mandimu
menempel tak terlalu kuat dan dalam hitungan menit bermetamorfosis
jadi kupu-kupu yang tampak lucu
setelahnya, perlahan kau rebahkan
kantuk pada kasur dengan seprai bermotif daun teh
membawamu melayang-layang sebentar di sebuah perkebunan yang berkabut
hmmm,
di meja kecil itu, lagulagu sendu—yang menyala 24 jam—membantumu mengatupkan pelupuk.
Surabaya, April 2016
Wednesday, March 2, 2016
hujan deras dan jubah ajaib
Di sini, hampir setiap hari hujan turun. Sangat deras. Seringkali diiringi angin dan petir. Jika demikian, aku buru-buru menuju jendela. Menyaksikan sepotong peristiwa itu dari sana. Aku melihat bambu-bambu yang doyong dan meliuk-liuk diterpa angin. Juga pohon-pohon pisang yang daun-daunnya koyak. Pohon trembesi yang kokoh hanya melambaikan ranting-rantingnya. Sementara rumput-rumput dan bunga liar hanya bisa menerima dengan tabah serbuan pasukan air itu.
Tak jauh dari bambu-bambu, beberapa orang duduk berteduh di sebuah pondokan yang atapnya terbuat dari asbes (aku tak tahu persis ada apa di dalam pondokan itu). Mereka termangu-mangu menyaksikan gabahnya yang ditutupi terpal karena tak keburu mengangkatnya. Betapa susah mengeringkan gabah di musim penghujan seperti ini. Aku mengira, meski ditutupi terpal, gabah itu lebih basah dari sebelum dijemur tadi pagi.
Hujan di sini memang sering datang tanpa diantarkan mendung. Beberapa kali hujan datang saat sedang terik-teriknya. Deras sekali. Lalu berhenti tiba-tiba. Dan tak ada pelangi setelahnya.
Ketika hujan sedikit reda—sementara para penunggu gabah entah kemana—burung-burung kecil, burung merpati, dan ayam-ayam berbondong-bondong menuju tempat penjemuran gabah itu. Mereka berpesta. Makan sekenyang-kenyangnya. Bagian diriku yang berjubah gaib seperti milik Harry Potter kubiarkan mendekati kawanan burung itu. Berada di tengah-tengah mereka. Melambaikan tangan pada diriku yang lain, yang ada di balik jendela.
Aku suka melihat burung-burung kecil itu terbang serentak, seperti ada yang mengomando. Lalu berbaris berjejeran di atap pondokan. Aku juga suka memerhatikan gerak leher dan kepala burung merpati yang mematuki gabah. Lalu setelah kenyang mereka terbang ke sarangnya yang tak jauh dari pondokan. Kepak sayapnya begitu menggetarkan. Sementara itu, ayam-ayam seperti tak pernah kenyang.
Jika sedang hujan dan tak ada gabah yang dijemur, beberapa anak laki-laki sering main bola atau bersepeda di sana. Pemandangan yang lebih sering kulihat di film-film itu kini bisa kusaksikan di depan mataku. Ada gejolak aneh setiap kali melihat mereka. Ada dorongan yang sangat kuat untuk bergabung dengan mereka. Dan aku tak kuasa menepis godaan itu. Teriakan-teriakan, ciptaran-cipratan air. Aku melebur bersama mereka. Aku yang berjubah ajaib.
Tak jauh dari bambu-bambu, beberapa orang duduk berteduh di sebuah pondokan yang atapnya terbuat dari asbes (aku tak tahu persis ada apa di dalam pondokan itu). Mereka termangu-mangu menyaksikan gabahnya yang ditutupi terpal karena tak keburu mengangkatnya. Betapa susah mengeringkan gabah di musim penghujan seperti ini. Aku mengira, meski ditutupi terpal, gabah itu lebih basah dari sebelum dijemur tadi pagi.
Hujan di sini memang sering datang tanpa diantarkan mendung. Beberapa kali hujan datang saat sedang terik-teriknya. Deras sekali. Lalu berhenti tiba-tiba. Dan tak ada pelangi setelahnya.
Ketika hujan sedikit reda—sementara para penunggu gabah entah kemana—burung-burung kecil, burung merpati, dan ayam-ayam berbondong-bondong menuju tempat penjemuran gabah itu. Mereka berpesta. Makan sekenyang-kenyangnya. Bagian diriku yang berjubah gaib seperti milik Harry Potter kubiarkan mendekati kawanan burung itu. Berada di tengah-tengah mereka. Melambaikan tangan pada diriku yang lain, yang ada di balik jendela.
Aku suka melihat burung-burung kecil itu terbang serentak, seperti ada yang mengomando. Lalu berbaris berjejeran di atap pondokan. Aku juga suka memerhatikan gerak leher dan kepala burung merpati yang mematuki gabah. Lalu setelah kenyang mereka terbang ke sarangnya yang tak jauh dari pondokan. Kepak sayapnya begitu menggetarkan. Sementara itu, ayam-ayam seperti tak pernah kenyang.
Jika sedang hujan dan tak ada gabah yang dijemur, beberapa anak laki-laki sering main bola atau bersepeda di sana. Pemandangan yang lebih sering kulihat di film-film itu kini bisa kusaksikan di depan mataku. Ada gejolak aneh setiap kali melihat mereka. Ada dorongan yang sangat kuat untuk bergabung dengan mereka. Dan aku tak kuasa menepis godaan itu. Teriakan-teriakan, ciptaran-cipratan air. Aku melebur bersama mereka. Aku yang berjubah ajaib.
Subscribe to:
Posts (Atom)
Aktor Bermata Ngantuk Itu
Dia aktor Korea. Dulu saya menyebutnya sebagai aktor bermata ngantuk. Tapi saya tidak membuat saya sepenasaran itu untuk mencarinya di goog...
-
: sebuah penjelajahan awal Kajian Homi K. Bhabha selain banyak dipengaruhi oleh teoretisi pascastrukturalis seperti Jacques Derrida, Miche...
-
Judul : Bilangan Fu Penulis : Ayu Utami Penerbit : Kepustakaan Populer Gramedia Tahun terbit : 2018 (Cet. 2) Parang Jati, K...
-
barangkali suatu saat kita harus duduk dan bicara. di sebuah warung kopi atau ronde di pinggir jalan yang masih basah oleh hujan. atau di ...