Sore tadi, seusai pelajaran, seorang siswa mendatangiku. Dia menyodorkan ponsel pintarnya lalu menunjukkan sebuah sajak milik W.S Rendra, berjudul "Khotbah".
Dia sedikit bingung mengapa ada ca ca ca dan ra ra ra dalam beberapa bait. Kami lalu mendiskusikan sajak itu sembari kuceritakan pertemuanku dengan sang penyair saat dirinya dulu menerima Doctor Honoris Causa di kampus. Siswa itu tampak kecewa mengapa sang penyair keburu meninggal.
Ngomong-ngomong soal Rendra, aku jadi teringat diriku sendiri di masa lalu. Ada suatu masa ketika dinding kamarku penuh foto Rendra. Lalu tibalah masa ketika beberapa foto Rendra itu terpaksa diturunkan karena diganti foto Nicholas Saputra.
Akupun jadi ingat kau. Sependek ingatanku, kau sangat mengidolakan sastrawan besar itu. Ya sajak-sajaknya, ya drama-dramanya.
Hei, kau. Mengapa pesan yang kukirim hanya centang satu?
Aku meyakinkan diriku bahwa kau tak mungkin memblokir nomorku. Semoga kau hanya tak sempat menyentuh ponselmu. Semoga kau sedang sangat sibuk. Sibuk berbahagia.
Saturday, October 29, 2016
Friday, October 14, 2016
Pispotnya Hamsad Rangkuti
Banyak cerpen yang membekas di ingatan saya. Bahkan memengaruhi hidup saya. Tapi, dari yang banyak itu, saya tidak akan bertele-tele dengan menyebutnya satu persatu. Saya akan langsung pada sasaran tulisan ini, yaitu cerpen “Pispot” karya Hamsad Rangkuti.
Saya berkenalan dengan cerpen ini tahun 2012. Tergolong amat sangat lambat mengingat cerpen ini ditulis tiga puluh tahun sebelumnya. Waktu itu kami sedang belajar tentang realisme magis. Nah, sebelum mempelajari lebih jauh tentang realisme magis, terlebih dahulu kami harus tahu apa itu realisme. Untuk itu, pengajar saya menyodorkan cerpen “Pispot” itu untuk dianalisis.
Kami diminta menganalisis apakah cerpen ini beraliran realis atau bukan. Berdasarkan karakteristik umum realisme, saya menyimpulkan bahwa cerpen ini termasuk cerpen realis. Bagi kamu yang belum membaca cerpen ini, maafkan saya karena saya tidak akan memberikan sinopsisnya. Silakan membacanya di kumpulan cerpen Hamsad Rangkuti yang berjudul Maukah Kau Menghapus Bibirnya di Bibirku dengan Bibirmu. Diterbitkan oleh DivaPress. (Btw, kenapa harga buku terbitan DivaPress mahal-mahal sih?).
Cerpen ini, entah mengapa, menimbulkan efek “nyeri” pada diri saya. Seperti ada yang tiba-tiba sakit di ulu hati saya. Berkali-kali saya membaca cerpen ini, efek itu masih tetap terasa.
Si tokoh digambarkan sebagai orang yang benar-benar tidak punya kuasa, tidak berdaya. Pertama, dia tidak berdaya menghadapi massa yang mengeroyoknya (di pasar). Kedua, dia tidak berkuasa terhadap kekuasaan polisi yang menginterogasinya, yang memaksanya meminum obat pencahar dan mengeluarkan kotoran sampai tubuhnya lemas. Ketiga, dia tidak kuasa menghadapi dokter “yang meminta banyak”. Keempat, ia tak berdaya terhadap dirinya sendiri sehingga akhirnya memutuskan menjadi penjambret.
Saya tahu “Pispot” bukan satu-satunya cerpen yang mengangkat persoalan ketidakberdayaan kaum marginal. Tapi dengan caranya yang sederhana, Hamsad mampu memberikan efek “nyeri” itu. Mungkin efek yang seperti itu tidak dialami oleh pembaca yang lain. Mungkin saya-nya saja yang terlalu masuk ke dalam cerita itu. Atau entah karena apa. Saya tidak tahu. Saya juga merasakan efek yang sama, bahkan lebih parah, pada cerpen “Parmin” karya Jujur Prananto. Selain membaca “Pispot”, saya sarankan kamu juga membaca “Parmin”. Suatu saat saya akan membahas cerpen itu secara khusus.
***
Sama seperti yang dilakukan oleh pengajar saya waktu itu, saya menyodorkan cerpen “Pispot” pada murid-murid saya untuk materi prosa fiksi. Selain untuk keperluan praktis menjelaskan konflik, penokohan, dan lain-lainnya, sebenarnya saya punya tujuan lain mengapa membagi cerpen itu untuk mereka. Yaitu, membagi kisah itu sendiri.
Saya tidak tahu apakah efek yang saya rasakan juga mereka rasakan. Tujuan saya menyodorkan cerpen itu tentu bukan agar mereka merasakan efek “nyeri” yang sama. Mungkin mereka akan segera melupakan cerpen itu. Toh di antara mereka ada juga yang membacanya dengan ogah-ogahan. Tapi yang jelas, sedikit atau banyak, saya yakin kisah itu akan menempel di dinding ingatan mereka.
Mungkin nanti di antara mereka ada yang menjadi dokter, dan tiba-tiba mereka mengingat kisah itu, mereka jadi lebih berbelas kasih pada orang sakit yang datang kepadanya. Mungkin di antara mereka ada yang akan menjadi polisi, mereka akan menjadi lebih manusiawi dalam memperlakukan tersangka kriminal. Tapi semoga di antara mereka, dengan segala kondisinya, tidak ada yang menjadi penjambret.
Siswa-siswa yang saya ajar adalah dari—katakanlah—kelas sosial atas, sementara tokoh yang ada dalam cerpen itu dari golongan kelas sosial bawah. Setidaknya mereka jadi tahu bahwa ada berbagai alasan mengapa orang melakukan tindak kriminal. Dalam hal moralitas, cerpen “Pispot” (dan cerpen-cerpen Hamsad Rangkuti yang lain) tidak menghakimi tokoh-tokohnya, tidak memandang hitam putih kebaikan dan kejahatan, tidak memberi cap siapa yang pahlawan dan siapa yang pecundang.
Oke, selamat membaca cerpen “Pispot”, ya. Kalau kamu mau, kamu bisa menceritakan pengalaman membacamu pada saya.
Saya berkenalan dengan cerpen ini tahun 2012. Tergolong amat sangat lambat mengingat cerpen ini ditulis tiga puluh tahun sebelumnya. Waktu itu kami sedang belajar tentang realisme magis. Nah, sebelum mempelajari lebih jauh tentang realisme magis, terlebih dahulu kami harus tahu apa itu realisme. Untuk itu, pengajar saya menyodorkan cerpen “Pispot” itu untuk dianalisis.
Kami diminta menganalisis apakah cerpen ini beraliran realis atau bukan. Berdasarkan karakteristik umum realisme, saya menyimpulkan bahwa cerpen ini termasuk cerpen realis. Bagi kamu yang belum membaca cerpen ini, maafkan saya karena saya tidak akan memberikan sinopsisnya. Silakan membacanya di kumpulan cerpen Hamsad Rangkuti yang berjudul Maukah Kau Menghapus Bibirnya di Bibirku dengan Bibirmu. Diterbitkan oleh DivaPress. (Btw, kenapa harga buku terbitan DivaPress mahal-mahal sih?).
Cerpen ini, entah mengapa, menimbulkan efek “nyeri” pada diri saya. Seperti ada yang tiba-tiba sakit di ulu hati saya. Berkali-kali saya membaca cerpen ini, efek itu masih tetap terasa.
Si tokoh digambarkan sebagai orang yang benar-benar tidak punya kuasa, tidak berdaya. Pertama, dia tidak berdaya menghadapi massa yang mengeroyoknya (di pasar). Kedua, dia tidak berkuasa terhadap kekuasaan polisi yang menginterogasinya, yang memaksanya meminum obat pencahar dan mengeluarkan kotoran sampai tubuhnya lemas. Ketiga, dia tidak kuasa menghadapi dokter “yang meminta banyak”. Keempat, ia tak berdaya terhadap dirinya sendiri sehingga akhirnya memutuskan menjadi penjambret.
Saya tahu “Pispot” bukan satu-satunya cerpen yang mengangkat persoalan ketidakberdayaan kaum marginal. Tapi dengan caranya yang sederhana, Hamsad mampu memberikan efek “nyeri” itu. Mungkin efek yang seperti itu tidak dialami oleh pembaca yang lain. Mungkin saya-nya saja yang terlalu masuk ke dalam cerita itu. Atau entah karena apa. Saya tidak tahu. Saya juga merasakan efek yang sama, bahkan lebih parah, pada cerpen “Parmin” karya Jujur Prananto. Selain membaca “Pispot”, saya sarankan kamu juga membaca “Parmin”. Suatu saat saya akan membahas cerpen itu secara khusus.
***
Sama seperti yang dilakukan oleh pengajar saya waktu itu, saya menyodorkan cerpen “Pispot” pada murid-murid saya untuk materi prosa fiksi. Selain untuk keperluan praktis menjelaskan konflik, penokohan, dan lain-lainnya, sebenarnya saya punya tujuan lain mengapa membagi cerpen itu untuk mereka. Yaitu, membagi kisah itu sendiri.
Saya tidak tahu apakah efek yang saya rasakan juga mereka rasakan. Tujuan saya menyodorkan cerpen itu tentu bukan agar mereka merasakan efek “nyeri” yang sama. Mungkin mereka akan segera melupakan cerpen itu. Toh di antara mereka ada juga yang membacanya dengan ogah-ogahan. Tapi yang jelas, sedikit atau banyak, saya yakin kisah itu akan menempel di dinding ingatan mereka.
Mungkin nanti di antara mereka ada yang menjadi dokter, dan tiba-tiba mereka mengingat kisah itu, mereka jadi lebih berbelas kasih pada orang sakit yang datang kepadanya. Mungkin di antara mereka ada yang akan menjadi polisi, mereka akan menjadi lebih manusiawi dalam memperlakukan tersangka kriminal. Tapi semoga di antara mereka, dengan segala kondisinya, tidak ada yang menjadi penjambret.
Siswa-siswa yang saya ajar adalah dari—katakanlah—kelas sosial atas, sementara tokoh yang ada dalam cerpen itu dari golongan kelas sosial bawah. Setidaknya mereka jadi tahu bahwa ada berbagai alasan mengapa orang melakukan tindak kriminal. Dalam hal moralitas, cerpen “Pispot” (dan cerpen-cerpen Hamsad Rangkuti yang lain) tidak menghakimi tokoh-tokohnya, tidak memandang hitam putih kebaikan dan kejahatan, tidak memberi cap siapa yang pahlawan dan siapa yang pecundang.
Oke, selamat membaca cerpen “Pispot”, ya. Kalau kamu mau, kamu bisa menceritakan pengalaman membacamu pada saya.
minggu sore di dbl dan kenangan yang singgah sebentar
Minggu sore. Setelah hujan deras, langit masih menyisakan awan mendung. Jalanan basah dan banyak genangan air. Lalu lalang kendaraan menciptakan cipratan-cipratan. Saya bersama seorang teman berangkat menuju DBL. sore itu, Kami akan menyaksikan pertandingan basket antarSMP.
Gedung DBL yang gagah itu tampak dipenuhi para abg. Betapa cuaca yang membikin orang ingin berselimut itu seolah tak berpengaruh pada hasrat mereka untuk menyaksikan pertandingan. Ramai. Mereka mengenakan kaos yang menjadi lambang identitas masing-masing sekolah. Biru toska. Merah marun. Beberapa remaja putri mengenakan pakaian super minim warna warni, berdandan super manis. Betapa kontras dengan warna langit sore itu.
Ruangan itu riuh oleh yel-yel. Tak berapa lama kemudian kedua tim memasuki arena dan pertandingan pun dimulai.
Yang kemudian terjadi adalah ingatan saya yang terbang menuju belasan tahun lalu. Saat itu saya kelas 2 SMP, menempati ruang kelas 2A bersama teman-teman paling keren di seluruh dunia. Kelas 2A termasuk kelas yang beruntung. Ruang kelas kami terpisah dari ruang kelas yang lain karena kami menempati gedung baru. Selain bangunannya yang bagus, gedung itu memiliki lapangan yang sangat luas, salah satunya adalah lapangan basket. Nah, dalam hal perbasketan, kelas 2A adalah tim andalan.
Minggu sore itu, ketika saya menyaksikan anak-anak SMP mendrible bola, saya seperti menyaksikan Wahid, Fani, Majid, Aang, Nashir sedang asyik berebut bola basket saat pelajaran olahraga atau jam istirahat. Kenangan itu tiba-tiba muncul di depan saya seperti potongan-potongan adegan film. Begitu dekat, begitu nyata. Saya seperti bisa melihat bagaimana mereka berlari, menangkap dan mendrible bola, kemudian memasukkan ke dalam ring. Di barisan penonton, saya bahkan bisa melihat dengan jelas ekspresi mereka. Juga keringat yang menetes-netes di wajah mereka.
Saya senyum-senyum sendiri mengingat kenangan indah yang berseliweran itu.
Saya tidak berusaha menggali kenangan itu lebih dalam. Saya biarkan saja apa adanya. Tapi mungkin waktu itu suasananya memang sangat mendukung kenangan-kenangan itu memenuhi kepala saya lagi. Dan tak ada yang kuasa menolak kenangan yang menyeruak tiba-tiba.
Yang kemudian saya lihat adalah anak-anak di usia belasan awal yang sumringah karena bel istirahat berbunyi. Mereka langsung menuju lapangan basket depan kelas. Saya melihat mereka sudah berkumpul di lapangan dan tak menghiraukan teriknya matahari. Siang itu, saya rasa mereka tak peduli dengan aturan permaian basket yang sesungguhnya. Yang penting bagi mereka adalah mendrible dan memasukkan bola ke dalam ring. Apa yang mereka lakukan di lapangan itu tidak bisa tidak menarik perhatian anak-anak perempuan untuk menonton, sambil minum teh botol. Tapi sayangnya jam istirahat itu terasa begitu pendek untuk permainan mereka yang seru.
Peluit wasit menarik saya lagi ke alam kini. Set pertama di menangkan oleh SMP Muh 5. Kemudian para remaja putri yang berpakaian warna-warni tadi bersiap mempertontonkan keahlian mereka meliuk-liukkan tubuh.
Saya sulit mendeskripsikan perasaan saya atas kenangan yang tiba-tiba muncul itu. Ada semacam perasaan suwung karena saya sudah begitu berjarak dengan masa-masa SMP yang menyenangkan itu. Tapi ya, sudahlah ya. Ketika kepala saya dengan asyik tiduran di gumpalan-gumpalan awan, saya harus memastikan bahwa kaki saya tetap menapak di bumi. Saya tidak menginginkan umat manusia bisa menciptakan mesin waktu yang memungkinkan saya bisa kembali ke masa-masa itu. Tidak. Saya sudah cukup berbahagia mereka datang kembali, meski hanya di alam kenangan.
Pertandingan sore itu dimenangkan oleh SMP Muh 5. Di luar, langit mendung lagi. Lalu gerimis tipis.
Gedung DBL yang gagah itu tampak dipenuhi para abg. Betapa cuaca yang membikin orang ingin berselimut itu seolah tak berpengaruh pada hasrat mereka untuk menyaksikan pertandingan. Ramai. Mereka mengenakan kaos yang menjadi lambang identitas masing-masing sekolah. Biru toska. Merah marun. Beberapa remaja putri mengenakan pakaian super minim warna warni, berdandan super manis. Betapa kontras dengan warna langit sore itu.
Ruangan itu riuh oleh yel-yel. Tak berapa lama kemudian kedua tim memasuki arena dan pertandingan pun dimulai.
Yang kemudian terjadi adalah ingatan saya yang terbang menuju belasan tahun lalu. Saat itu saya kelas 2 SMP, menempati ruang kelas 2A bersama teman-teman paling keren di seluruh dunia. Kelas 2A termasuk kelas yang beruntung. Ruang kelas kami terpisah dari ruang kelas yang lain karena kami menempati gedung baru. Selain bangunannya yang bagus, gedung itu memiliki lapangan yang sangat luas, salah satunya adalah lapangan basket. Nah, dalam hal perbasketan, kelas 2A adalah tim andalan.
Minggu sore itu, ketika saya menyaksikan anak-anak SMP mendrible bola, saya seperti menyaksikan Wahid, Fani, Majid, Aang, Nashir sedang asyik berebut bola basket saat pelajaran olahraga atau jam istirahat. Kenangan itu tiba-tiba muncul di depan saya seperti potongan-potongan adegan film. Begitu dekat, begitu nyata. Saya seperti bisa melihat bagaimana mereka berlari, menangkap dan mendrible bola, kemudian memasukkan ke dalam ring. Di barisan penonton, saya bahkan bisa melihat dengan jelas ekspresi mereka. Juga keringat yang menetes-netes di wajah mereka.
Saya senyum-senyum sendiri mengingat kenangan indah yang berseliweran itu.
Saya tidak berusaha menggali kenangan itu lebih dalam. Saya biarkan saja apa adanya. Tapi mungkin waktu itu suasananya memang sangat mendukung kenangan-kenangan itu memenuhi kepala saya lagi. Dan tak ada yang kuasa menolak kenangan yang menyeruak tiba-tiba.
Yang kemudian saya lihat adalah anak-anak di usia belasan awal yang sumringah karena bel istirahat berbunyi. Mereka langsung menuju lapangan basket depan kelas. Saya melihat mereka sudah berkumpul di lapangan dan tak menghiraukan teriknya matahari. Siang itu, saya rasa mereka tak peduli dengan aturan permaian basket yang sesungguhnya. Yang penting bagi mereka adalah mendrible dan memasukkan bola ke dalam ring. Apa yang mereka lakukan di lapangan itu tidak bisa tidak menarik perhatian anak-anak perempuan untuk menonton, sambil minum teh botol. Tapi sayangnya jam istirahat itu terasa begitu pendek untuk permainan mereka yang seru.
Peluit wasit menarik saya lagi ke alam kini. Set pertama di menangkan oleh SMP Muh 5. Kemudian para remaja putri yang berpakaian warna-warni tadi bersiap mempertontonkan keahlian mereka meliuk-liukkan tubuh.
Saya sulit mendeskripsikan perasaan saya atas kenangan yang tiba-tiba muncul itu. Ada semacam perasaan suwung karena saya sudah begitu berjarak dengan masa-masa SMP yang menyenangkan itu. Tapi ya, sudahlah ya. Ketika kepala saya dengan asyik tiduran di gumpalan-gumpalan awan, saya harus memastikan bahwa kaki saya tetap menapak di bumi. Saya tidak menginginkan umat manusia bisa menciptakan mesin waktu yang memungkinkan saya bisa kembali ke masa-masa itu. Tidak. Saya sudah cukup berbahagia mereka datang kembali, meski hanya di alam kenangan.
Pertandingan sore itu dimenangkan oleh SMP Muh 5. Di luar, langit mendung lagi. Lalu gerimis tipis.
Monday, September 26, 2016
kantong ajaib doraemon #2: Nana si sloth
Dalam Life of Pi, Yann Martel mendeskripsikan sloth sebagai berikut.
Makhluk ini sangat mengherankan. Kebiasaan utama satu-satunya adalah bermalas-malasan. Dia tidur atau beristirahat rata-rata duapuluh jam sehari. Sloth paling sibuk pada saat matahari terbenam. Sibuk di sini harap diartikan sebagai sibuk yang sesantai-santainya. Dia akan bergerak sepanjang batang pohon dalam posisi khas Sloth, bergelantungan terbalik dengan badan di atas dan kepala di bawah, pada kecepatan sekitar empatratus meter per jam, kalau sedang termotivasi, yang berarti empat ratus empat puluh kali lebih lamban daripada seekor cheetah yang termotivasi. Kalau sedang tak termotivasi, dia hanya bergerak empat sampai lima meter per jam.
Lalu bagaimana hewan ini bisa bertahan hidup? Justru dengan kelambanannya itu. Pembawaannya yang pengantuk dan segala atribut khas sloth membuat ia aman dari bahaya, lepas dari perhatian jaguar, ocelot, elang harpy, dan anakonda. Bulu-bulu di tubuh sloth merupakan tempat hidup ganggang yang berwarna cokelat pada musim kemarau dan hijau pada musim penghujan, sehingga hewan ini bisa berbaur dengan lumut dan kehijauan di sekitarnya, dan hanya tampak seperti sarang semut-semut putih atau tupai, atau sekadar seperti bagian dari sebatang pohon. (hlm. 19—21).
Nah, sekarang kamu sudah punya gambaran tentang si sloth. Makhluk yang menurut saya sangat unik dan rasanya pengen saya uyel-uyel. Saya kok senang dengan makhluk seperti sloth itu, ya. Terutama pada cara dia menjalani hidup. Lalu bagaimana jika gambaran tentang si sloth itu berwujud manusia? Saat membaca deskripsi Martel itu, yang langsung muncul di kepala saya adalah Syafrina, akrab dipanggil Nana.
Saya mengenal Nana tahun 2015. Tahun itu kami terlibat penelitian yang sama sehingga pertemuan kami cukup intens. Awal-awal bertemu Nana, saya menyangka dia adalah makhluk nocturnal. Sejenis makhluk yang selalu terjaga di malam hari dan tak punya cukup waktu untuk tidur di siang hari. Itu karena sepasang mata Nana, menurut saya, selalu terlihat mengantuk. Selain itu, Nana seperti tak mampu menopang tubuhnya supaya berdiri tegak. Cara dia berjalan seperti orang yang sedikit mabuk. Haha.
Selalu ada kemungkinan untuk salah pada setiap gambaran awal. Tak butuh waktu lama untuk saya tahu bahwa Nana sama sekali bukan makhluk nocturnal. Justru sebaliknya. Dia tak pernah terjaga di malam hari. Jika malam hari kita mengirim pesan, dan dia tak kunjung membalas, dapat dipastikan bahwa dia sudah tidur. Dia adalah jenis makhluk yang sangat mudah tidur. Dia bahkan bisa tidur duapuluh empat jam. Hampir tak pernah dalam hidupnya mengalami gangguan insomnia. Buat Nana, semua tempat adalah tepat yang nyaman untuk tidur. Sloth banget kan?
Suatu ketika, Nana pernah ke kost saya. Seingat saya, kami berdua duduk di kasur. Saya sibuk di depan laptop, begitu juga Nana. Di kasur saya ada bantal-bantal dan boneka empuk. Tapi Nana belum menjukkan tanda-tanda bahwa dia akan jatuh tertidur. Dia masih sibuk dengan laptopnya. Kami pun ngobrol sambil masih sibuk di depan laptop masing-masing. Mungkin karena merasa didongengin, Nana pun tidur sambil masih memegang laptop. Saya cuma bisa senyum. Perlu diketahui, niat awal Nana ke kost saya biar dia gak tidur terus di kamarnya.
Kelak, jika saya sedang tak bisa tidur, saya selalu bergumam, betapa enaknya menjadi Nana.
Cara Nana menjalani dan menikmati kehidupan begitu berbeda dengan saya. Dia menikmati hari-harinya dengan menonton video-video Exo (salah satu boyband Korea). Dia penggemar berat boyband itu. Dia bisa bermalas-malasan seharian sambil nonton boyband pujaannya itu. Meskipun saya sama sekali tidak tertarik—bahkan sebel—dengan boyband macam itu, saya sama sekali tidak keberatan jika dia memutar video-video itu di depan saya dan sering meminta pendapat tentang boyband itu. Saya biasanya bilang: aku gak suka cowok cantik! Dan dia ketawa-ketawa doang.
Dalam banyak hal, Nana memang begitu berbeda dengan saya, kecuali soal One Piece. Kami sama-sama penggemar berat One Piece, meskipun tokoh idola kami berbeda. Ketika saya memuja-muja Trafalgar D. Law, dia membela mati-matian Doflamingo. Begitulah.
Hmmm, saya kangen Nana. Bisa-bisanya saya merindukan makhluk seperti dia. Hahaha. Saya senang cara pandang Nana terhadap dunia. Dia begitu luweh dengan segala sesuatu. Dia jarang khawatir atau resah. Hidup terasa begitu ringan jika kamu dekat-dekat dengan Nana. Seperti si sloth, mungkin tidur dan bermalas-malasan adalah cara Nana menghadapi dunia.
Manusia memang misterius, ya. Mereka memiliki cara unik masing-masing untuk membuat orang lain rindu. Uh!
Makhluk ini sangat mengherankan. Kebiasaan utama satu-satunya adalah bermalas-malasan. Dia tidur atau beristirahat rata-rata duapuluh jam sehari. Sloth paling sibuk pada saat matahari terbenam. Sibuk di sini harap diartikan sebagai sibuk yang sesantai-santainya. Dia akan bergerak sepanjang batang pohon dalam posisi khas Sloth, bergelantungan terbalik dengan badan di atas dan kepala di bawah, pada kecepatan sekitar empatratus meter per jam, kalau sedang termotivasi, yang berarti empat ratus empat puluh kali lebih lamban daripada seekor cheetah yang termotivasi. Kalau sedang tak termotivasi, dia hanya bergerak empat sampai lima meter per jam.
Lalu bagaimana hewan ini bisa bertahan hidup? Justru dengan kelambanannya itu. Pembawaannya yang pengantuk dan segala atribut khas sloth membuat ia aman dari bahaya, lepas dari perhatian jaguar, ocelot, elang harpy, dan anakonda. Bulu-bulu di tubuh sloth merupakan tempat hidup ganggang yang berwarna cokelat pada musim kemarau dan hijau pada musim penghujan, sehingga hewan ini bisa berbaur dengan lumut dan kehijauan di sekitarnya, dan hanya tampak seperti sarang semut-semut putih atau tupai, atau sekadar seperti bagian dari sebatang pohon. (hlm. 19—21).
Nah, sekarang kamu sudah punya gambaran tentang si sloth. Makhluk yang menurut saya sangat unik dan rasanya pengen saya uyel-uyel. Saya kok senang dengan makhluk seperti sloth itu, ya. Terutama pada cara dia menjalani hidup. Lalu bagaimana jika gambaran tentang si sloth itu berwujud manusia? Saat membaca deskripsi Martel itu, yang langsung muncul di kepala saya adalah Syafrina, akrab dipanggil Nana.
Saya mengenal Nana tahun 2015. Tahun itu kami terlibat penelitian yang sama sehingga pertemuan kami cukup intens. Awal-awal bertemu Nana, saya menyangka dia adalah makhluk nocturnal. Sejenis makhluk yang selalu terjaga di malam hari dan tak punya cukup waktu untuk tidur di siang hari. Itu karena sepasang mata Nana, menurut saya, selalu terlihat mengantuk. Selain itu, Nana seperti tak mampu menopang tubuhnya supaya berdiri tegak. Cara dia berjalan seperti orang yang sedikit mabuk. Haha.
Selalu ada kemungkinan untuk salah pada setiap gambaran awal. Tak butuh waktu lama untuk saya tahu bahwa Nana sama sekali bukan makhluk nocturnal. Justru sebaliknya. Dia tak pernah terjaga di malam hari. Jika malam hari kita mengirim pesan, dan dia tak kunjung membalas, dapat dipastikan bahwa dia sudah tidur. Dia adalah jenis makhluk yang sangat mudah tidur. Dia bahkan bisa tidur duapuluh empat jam. Hampir tak pernah dalam hidupnya mengalami gangguan insomnia. Buat Nana, semua tempat adalah tepat yang nyaman untuk tidur. Sloth banget kan?
Suatu ketika, Nana pernah ke kost saya. Seingat saya, kami berdua duduk di kasur. Saya sibuk di depan laptop, begitu juga Nana. Di kasur saya ada bantal-bantal dan boneka empuk. Tapi Nana belum menjukkan tanda-tanda bahwa dia akan jatuh tertidur. Dia masih sibuk dengan laptopnya. Kami pun ngobrol sambil masih sibuk di depan laptop masing-masing. Mungkin karena merasa didongengin, Nana pun tidur sambil masih memegang laptop. Saya cuma bisa senyum. Perlu diketahui, niat awal Nana ke kost saya biar dia gak tidur terus di kamarnya.
Kelak, jika saya sedang tak bisa tidur, saya selalu bergumam, betapa enaknya menjadi Nana.
Cara Nana menjalani dan menikmati kehidupan begitu berbeda dengan saya. Dia menikmati hari-harinya dengan menonton video-video Exo (salah satu boyband Korea). Dia penggemar berat boyband itu. Dia bisa bermalas-malasan seharian sambil nonton boyband pujaannya itu. Meskipun saya sama sekali tidak tertarik—bahkan sebel—dengan boyband macam itu, saya sama sekali tidak keberatan jika dia memutar video-video itu di depan saya dan sering meminta pendapat tentang boyband itu. Saya biasanya bilang: aku gak suka cowok cantik! Dan dia ketawa-ketawa doang.
Dalam banyak hal, Nana memang begitu berbeda dengan saya, kecuali soal One Piece. Kami sama-sama penggemar berat One Piece, meskipun tokoh idola kami berbeda. Ketika saya memuja-muja Trafalgar D. Law, dia membela mati-matian Doflamingo. Begitulah.
Hmmm, saya kangen Nana. Bisa-bisanya saya merindukan makhluk seperti dia. Hahaha. Saya senang cara pandang Nana terhadap dunia. Dia begitu luweh dengan segala sesuatu. Dia jarang khawatir atau resah. Hidup terasa begitu ringan jika kamu dekat-dekat dengan Nana. Seperti si sloth, mungkin tidur dan bermalas-malasan adalah cara Nana menghadapi dunia.
Manusia memang misterius, ya. Mereka memiliki cara unik masing-masing untuk membuat orang lain rindu. Uh!
hey, Jude! mari bernananana~
Saya bersyukur bahwa sampai detik ini saya masih diberi hidup dan kekuatan menjalani kehidupan.
Saya berbahagia karena bisa bangun siang dan punya waktu luang untuk membaca buku-buku dan menonton film-film bagus. Kendati harus menghemat agar bisa membeli buku-buku kesayangan dan mengisi tabungan naik haji, saya memastikan bahwa saya makan dengan sehat dan bergizi. Saya mandi dua kali sehari, kalau gak males. Saya khawatir kulit saya jadi tipis kalau keseringan mandi.
Saya berbahagia karena makin banyak angkringan di sekitar kos saya. Saya berbahagia karena mulai mengenal orang-orang di sekitar kos. Saya bahagia karena tempat saya mengajar berlangganan koran dan mengizinkan saya mengklipingnya. Saya berbahagia setiap hari bisa melihat para remaja belasan tahun yang tertawa ngakak, yang ngantuk di kelas, yang makan dengan semangat, yang konyol, yang caper, yang kasmaran, yang mencari identitas, yang tak sabar menunggu bel istirahat dan pulang. Rasanya benar-benar menyenangkan. Mereka membuat saya kembali remaja. Haha.
Saya berbahagia karena ternyata ada murid saya, kelas sembilan smp, yang referensi filmnya lebih banyak dari pada saya. Dan dia dengan senang hati meng-copy film koleksinya ke dalam hardisk saya. Saya juga berbahagia karena ada murid saya yang mulai membaca buku-buku Pramoedya Ananta Toer. Itu berarti “virus” yang saya sebarkan selama ini gak sia-sia amat. Dia termasuk anak yang langka mengingat dia anak kelas duabelas IPA yang biasanya selalu berkutat dengan rumus-rumus dan sedang persiapan ujian nasional dan sbmptn. Dia gadis yang manis dan pintar.
Saya berbahagia karena akhir-akhir ini saya bisa lebih banyak menghabiskan waktu di kamar. Kamar saya luas dan menyenangkan. Berantakan tapi bersih. Entah, saya punya kecenderungan “sesak nafas” di tempat-tempat yang tertata rapi. Saya masih sering begadang untuk menyelesaikan buku bacaan atau melamun. Saya lebih suka membaca di malam hari, rasanya lebih merasuk. Mendengarkan musik juga lebih enak waktu malam. Entah kenapa.
Saya berbahagia karena masih bisa menjaga ritual menulis di buku harian. Saya memastikan bahwa saya menulis dengan rapi agar suatu saat nanti, jika saya diizinkan hidup sampai tua, saya masih bisa membacanya dengan baik dan nyaman. Saya menunggu momen-momen itu. Bagaimana reaksi saya saat itu membaca diri saya saat ini, ya? Demi bisa membaca dengan nyaman itu pula, saya selalu berusaha menjaga kesehatan mata saya. Saya rajin minum jus wortel dan menangis. Iya, penting kalian ketahui, menangis itu sangat baik untuk kesehatan mata.
Terima kasih, Tuhan, untuk kehidupan yang Kau berikan. Aku yakin Engkau membaca ini. Aku juga yakin Engkau yang menggerakkanku menyusun kata-kata ini.
Oke, semoga hari-hari kalian menyenangkan. Kalaupun tidak menyenangkan, harus dibuat menyenangkan! Meskipun saya gak pernah muncul di mimpi-mimpi kalian, yakinlah bahwa saya tak pernah selesai mendoakan keselamatan dan kebahagiaan kalian
Saya berbahagia karena bisa bangun siang dan punya waktu luang untuk membaca buku-buku dan menonton film-film bagus. Kendati harus menghemat agar bisa membeli buku-buku kesayangan dan mengisi tabungan naik haji, saya memastikan bahwa saya makan dengan sehat dan bergizi. Saya mandi dua kali sehari, kalau gak males. Saya khawatir kulit saya jadi tipis kalau keseringan mandi.
Saya berbahagia karena makin banyak angkringan di sekitar kos saya. Saya berbahagia karena mulai mengenal orang-orang di sekitar kos. Saya bahagia karena tempat saya mengajar berlangganan koran dan mengizinkan saya mengklipingnya. Saya berbahagia setiap hari bisa melihat para remaja belasan tahun yang tertawa ngakak, yang ngantuk di kelas, yang makan dengan semangat, yang konyol, yang caper, yang kasmaran, yang mencari identitas, yang tak sabar menunggu bel istirahat dan pulang. Rasanya benar-benar menyenangkan. Mereka membuat saya kembali remaja. Haha.
Saya berbahagia karena ternyata ada murid saya, kelas sembilan smp, yang referensi filmnya lebih banyak dari pada saya. Dan dia dengan senang hati meng-copy film koleksinya ke dalam hardisk saya. Saya juga berbahagia karena ada murid saya yang mulai membaca buku-buku Pramoedya Ananta Toer. Itu berarti “virus” yang saya sebarkan selama ini gak sia-sia amat. Dia termasuk anak yang langka mengingat dia anak kelas duabelas IPA yang biasanya selalu berkutat dengan rumus-rumus dan sedang persiapan ujian nasional dan sbmptn. Dia gadis yang manis dan pintar.
Saya berbahagia karena akhir-akhir ini saya bisa lebih banyak menghabiskan waktu di kamar. Kamar saya luas dan menyenangkan. Berantakan tapi bersih. Entah, saya punya kecenderungan “sesak nafas” di tempat-tempat yang tertata rapi. Saya masih sering begadang untuk menyelesaikan buku bacaan atau melamun. Saya lebih suka membaca di malam hari, rasanya lebih merasuk. Mendengarkan musik juga lebih enak waktu malam. Entah kenapa.
Saya berbahagia karena masih bisa menjaga ritual menulis di buku harian. Saya memastikan bahwa saya menulis dengan rapi agar suatu saat nanti, jika saya diizinkan hidup sampai tua, saya masih bisa membacanya dengan baik dan nyaman. Saya menunggu momen-momen itu. Bagaimana reaksi saya saat itu membaca diri saya saat ini, ya? Demi bisa membaca dengan nyaman itu pula, saya selalu berusaha menjaga kesehatan mata saya. Saya rajin minum jus wortel dan menangis. Iya, penting kalian ketahui, menangis itu sangat baik untuk kesehatan mata.
Terima kasih, Tuhan, untuk kehidupan yang Kau berikan. Aku yakin Engkau membaca ini. Aku juga yakin Engkau yang menggerakkanku menyusun kata-kata ini.
Oke, semoga hari-hari kalian menyenangkan. Kalaupun tidak menyenangkan, harus dibuat menyenangkan! Meskipun saya gak pernah muncul di mimpi-mimpi kalian, yakinlah bahwa saya tak pernah selesai mendoakan keselamatan dan kebahagiaan kalian
Monday, August 8, 2016
pisang, susu, dan realisme magis
Ada hadits nabi yang kira-kira bunyinya seperti ini: janganlah kamu mencintai sesuatu dengan berlebih-lebihan karena mungkin suatu saat akan menjadi musuhmu. Hadits itu terejawantah pada makhluk bernama cabe.
Saya pernah mencintai cabe dengan berlebihan sih, tapi kami tak pernah bermusuhan. Saya hanya dipisahkan secara paksa dengannya. Tidak boleh mengonsumsi dalam jangka waktu sampek embuh kapan karena bisa berakibat buruk pada lambung saya. Berhubung saya bergolongan darah B yang keren, secara alamiah saya (sering) dengan sengaja melanggar apa-apa yang dilarang. Potongan cabe rawit tidak pernah absen dari mie instan yang saya masak. Sambel bawang juga masih jadi teman favorit nasi. Kendati setelahnya lambung jadi perih. Tapi kalau dulu level saya cabe 20, sekarang turun jadi cabe 5 aja.
Hadits itu masih ada lanjutannya: dan janganlah kamu membenci sesuatu secara berlebihan karena bisa jadi itu akan menjadi sesuatu yang kamu sukai. Seperti yang sudah dititahkan, suatu waktu dalam hidup ini, saya harus bersinggungan dengan hadits itu yang mewujud dalam seonggok pisang. Padahal sejak kecil saya tidak menyukai buah mblenyek itu. Dalam olahan apapun.
Apa yang menyebabkan saya harus bersahabat dengan pisang? Adalah ini: asam lambung. Kalau asam lambung saya sedang kambuh parah, lidah saya sampai terasa sangat pahit. Sakitnya minta ampun. Satu-satunya solusi adalah saya harus minum antasida. Di semua tas saya, selalu tersedia antasida, baik yang sirup maupun yang kapsul. Ibu kos saya yang baik hati pernah memberi saya obat untuk lambung yang oke banget. Sayang obat itu sekarang sudah habis dan tidak tersedia di apotek di sini.
Karena saya juga tidak ingin terus-menerus ketergantungan dengan obat, saya mencoba tanya sana sini, menelusuri sendiri, apa-apa yang bisa meredam asam lambung. Dan semua jawaban mengarah pada pisang! Mengingat bahwa lambung adalah amanat Tuhan yang harus dijaga, mau tidak mau, saya mulai makan pisang. Saya rasa-rasakan, ada perubahan yang baik pada lambung saya. Jadinya saya sering sekali makan pisang. Pertama-tama karena kebutuhan. Lama-lama ketagihan. Begitulah nasib yang sudah digariskan.
Jika pisang adalah sahabat bagi si asam lambung, selain cabe dia punya musuh lain, yaitu susu. Itu tidak masalah bagi saya karena saya tidak terlalu menyukai susu, kecuali yang rasa coklat dan rasa melon. Masalah baru muncul ketika indomilk mengeluarkan produk baru yang keren banget: susu rasa pisang! Enak bangeet. Waktu pertama kali melihat produk itu di deretan rak indomaret, saya tercekat. Sungguh. Bagi saya itu adalah penemuan luar biasa tahun 2016. Bahkan ultramilk (yang punya produk andalan susu rasa moca-nya) tidak mengeluarkan kolaborasi genius itu.
Lantas apa yang harus saya lakukan? Sebagai manusia yang harus adil sejak dalam pikiran, saya gak bisa mengabaikan keberadaan susu rasa pisang yang lezat itu. Tapi saya juga gak bisa pura-pura gak tahu bahwa produk itu bisa berakibat negatif pada lambung saya. Akhirnya, saya memutuskan untuk tetap mengonsumsinya karena saya konsumtif. Haha. Kan kalau asam lambung saya kambuh, saya bisa makan pisang aja tanpa susu :p
Oke, apakah kamu sudah bertanya-tanya tentang relasi antara pisang dan realisme magis seperti yang tertera dalam judul tulisan ini? Yakinlah bahwa relasi itu ada.
Begini, susu dan pisang, dua komponen yang bagi lambung saya berekasi berlawanan itu, ternyata bersekongkol membentuk minuman yang lezat. Persekongkolan mereka mengingatkan saya pada aliran sastra realisme magis. Seperti halnya yang asam menyatu dengan yang basa, dalam realisme magis yang real dan yang magis hadir bersama, menyatu, merayakan percampuran, tidak bertengkar mana di antara keduanya yang harus berjalan di depan*.
Mungkin bukan sebuah kebetulan bahwa pisang punya relasi khusus dengan realisme magis. Gabo, panggilan akrab Gabriel Garcia Marquez, yang dianggap sebagai tokoh utama dari aliran sastra realisme magis (meskipun tidak semua karyanya bisa dikategorikan dalam aliran realisme magis), kerap memunculkan perusahaan pisang dalam novel-novelnya.
Jika kamu sudah membaca One Hundred Years of Solitude (yang diterjemahkan menjadi Seratus Tahun Kesunyian) kamu pasti langsung klik di mana perusahaan pisang itu berada. Perusahaan pisang tidak hanya disebut dalam novel itu. Di novelnya yang lain, Memories of My Melancholy Whores, Gabo juga menyebut-nyebut perusahaan pisang. Apalagi di Living to Tell the Tale (novel otobiografis) Gabo banyak sekali menceritakan perusahaan pisang dalam hubungannya dengan sejarah keluarganya.
Nah, karena saya terlebih dahulu mengenal Gabo baru kemudian bersahabat dengan pisang, setiap kali makan pisang dan susu rasa pisang, saya merasa seolah berada di alam realisme magis.
Nyambung gak?
Saya rasa bukan kebetulan juga produk susu rasa pisang itu diluncurkan pada 2016. Tahun ini adalah tahun transisi bagi saya. Tahun pemiuhan batas-batas. Antara yang idealis dan yang realistis hadir bersama, melebur, tanpa bertengkar mana yang harus menang. Keterhubungan yang ajaib kan?
*dalam ingatan pada sajak “Berjalan ke Barat” karya Sapardi Djoko Damono. Aku dan bayang-bayang tidak bertengkar tentang siapa di antara kami yang harus berjalan di depan.
**Tadinya saya meniatkan tulisan ini tentang cabe dan pisang saja, tapi ternyata pisang bergerak liar hingga menemukan susu dan realisme magis. Apa boleh buat.
Saya pernah mencintai cabe dengan berlebihan sih, tapi kami tak pernah bermusuhan. Saya hanya dipisahkan secara paksa dengannya. Tidak boleh mengonsumsi dalam jangka waktu sampek embuh kapan karena bisa berakibat buruk pada lambung saya. Berhubung saya bergolongan darah B yang keren, secara alamiah saya (sering) dengan sengaja melanggar apa-apa yang dilarang. Potongan cabe rawit tidak pernah absen dari mie instan yang saya masak. Sambel bawang juga masih jadi teman favorit nasi. Kendati setelahnya lambung jadi perih. Tapi kalau dulu level saya cabe 20, sekarang turun jadi cabe 5 aja.
Hadits itu masih ada lanjutannya: dan janganlah kamu membenci sesuatu secara berlebihan karena bisa jadi itu akan menjadi sesuatu yang kamu sukai. Seperti yang sudah dititahkan, suatu waktu dalam hidup ini, saya harus bersinggungan dengan hadits itu yang mewujud dalam seonggok pisang. Padahal sejak kecil saya tidak menyukai buah mblenyek itu. Dalam olahan apapun.
Apa yang menyebabkan saya harus bersahabat dengan pisang? Adalah ini: asam lambung. Kalau asam lambung saya sedang kambuh parah, lidah saya sampai terasa sangat pahit. Sakitnya minta ampun. Satu-satunya solusi adalah saya harus minum antasida. Di semua tas saya, selalu tersedia antasida, baik yang sirup maupun yang kapsul. Ibu kos saya yang baik hati pernah memberi saya obat untuk lambung yang oke banget. Sayang obat itu sekarang sudah habis dan tidak tersedia di apotek di sini.
Karena saya juga tidak ingin terus-menerus ketergantungan dengan obat, saya mencoba tanya sana sini, menelusuri sendiri, apa-apa yang bisa meredam asam lambung. Dan semua jawaban mengarah pada pisang! Mengingat bahwa lambung adalah amanat Tuhan yang harus dijaga, mau tidak mau, saya mulai makan pisang. Saya rasa-rasakan, ada perubahan yang baik pada lambung saya. Jadinya saya sering sekali makan pisang. Pertama-tama karena kebutuhan. Lama-lama ketagihan. Begitulah nasib yang sudah digariskan.
Jika pisang adalah sahabat bagi si asam lambung, selain cabe dia punya musuh lain, yaitu susu. Itu tidak masalah bagi saya karena saya tidak terlalu menyukai susu, kecuali yang rasa coklat dan rasa melon. Masalah baru muncul ketika indomilk mengeluarkan produk baru yang keren banget: susu rasa pisang! Enak bangeet. Waktu pertama kali melihat produk itu di deretan rak indomaret, saya tercekat. Sungguh. Bagi saya itu adalah penemuan luar biasa tahun 2016. Bahkan ultramilk (yang punya produk andalan susu rasa moca-nya) tidak mengeluarkan kolaborasi genius itu.
Lantas apa yang harus saya lakukan? Sebagai manusia yang harus adil sejak dalam pikiran, saya gak bisa mengabaikan keberadaan susu rasa pisang yang lezat itu. Tapi saya juga gak bisa pura-pura gak tahu bahwa produk itu bisa berakibat negatif pada lambung saya. Akhirnya, saya memutuskan untuk tetap mengonsumsinya karena saya konsumtif. Haha. Kan kalau asam lambung saya kambuh, saya bisa makan pisang aja tanpa susu :p
Oke, apakah kamu sudah bertanya-tanya tentang relasi antara pisang dan realisme magis seperti yang tertera dalam judul tulisan ini? Yakinlah bahwa relasi itu ada.
Begini, susu dan pisang, dua komponen yang bagi lambung saya berekasi berlawanan itu, ternyata bersekongkol membentuk minuman yang lezat. Persekongkolan mereka mengingatkan saya pada aliran sastra realisme magis. Seperti halnya yang asam menyatu dengan yang basa, dalam realisme magis yang real dan yang magis hadir bersama, menyatu, merayakan percampuran, tidak bertengkar mana di antara keduanya yang harus berjalan di depan*.
Mungkin bukan sebuah kebetulan bahwa pisang punya relasi khusus dengan realisme magis. Gabo, panggilan akrab Gabriel Garcia Marquez, yang dianggap sebagai tokoh utama dari aliran sastra realisme magis (meskipun tidak semua karyanya bisa dikategorikan dalam aliran realisme magis), kerap memunculkan perusahaan pisang dalam novel-novelnya.
Jika kamu sudah membaca One Hundred Years of Solitude (yang diterjemahkan menjadi Seratus Tahun Kesunyian) kamu pasti langsung klik di mana perusahaan pisang itu berada. Perusahaan pisang tidak hanya disebut dalam novel itu. Di novelnya yang lain, Memories of My Melancholy Whores, Gabo juga menyebut-nyebut perusahaan pisang. Apalagi di Living to Tell the Tale (novel otobiografis) Gabo banyak sekali menceritakan perusahaan pisang dalam hubungannya dengan sejarah keluarganya.
Nah, karena saya terlebih dahulu mengenal Gabo baru kemudian bersahabat dengan pisang, setiap kali makan pisang dan susu rasa pisang, saya merasa seolah berada di alam realisme magis.
Nyambung gak?
Saya rasa bukan kebetulan juga produk susu rasa pisang itu diluncurkan pada 2016. Tahun ini adalah tahun transisi bagi saya. Tahun pemiuhan batas-batas. Antara yang idealis dan yang realistis hadir bersama, melebur, tanpa bertengkar mana yang harus menang. Keterhubungan yang ajaib kan?
*dalam ingatan pada sajak “Berjalan ke Barat” karya Sapardi Djoko Damono. Aku dan bayang-bayang tidak bertengkar tentang siapa di antara kami yang harus berjalan di depan.
**Tadinya saya meniatkan tulisan ini tentang cabe dan pisang saja, tapi ternyata pisang bergerak liar hingga menemukan susu dan realisme magis. Apa boleh buat.
Tuesday, August 2, 2016
mereka bilang saya selow
Terhitung sejak 24 Januari 2016, saya sudah tidak tinggal di Yogyakarta. Sedikit sedih, banyak rindunya. Tapi bukan bagian itu yang ingin saya tulis di sini. Singkat cerita, saya akhirnya hijrah ke Surabaya. Memulai lagi dari awal, kehidupan di sebuah kota yang asing. Sendirian.
Sebenarnya kota ini tidak benar-benar asing bagi saya. Setidaknya dulu waktu saya TK dan SMP, saya pernah mengunjungi kebun binatangnya. Waktu SMA saya juga beberapa kali pergi ke jalan Semarang dekat Pasar Turi untuk membeli buku-buku bekas. Sewaktu kuliah saya juga beberapa kali singgah di Surabaya.
Tapi toh ternyata tinggal itu berbeda dengan singgah.
***
Kamu jelas tahu bahwa Surabaya yang sekarang sudah melesat jauh dari gambaran Pramoedya Ananta Toer dalam Bumi Manusia atau Idrus dalam Surabaya. Tapi tak begitu jauh sih dari gambaran Hamka dalam Tuan Direktur.
Jika kamu menganggap bahwa Surabaya hari ini adalah deretan mal dan deru kendaraan yang memekakkan telinga selama 24 jam, kamu tidak salah. Jika kamu menganggap Surabaya adalah tempat orang-orang begitu keras bekerja dari Senin sampai Jumat kemudian menghabiskan akhir pekan berjubel di pusat perbelanjaan, kamu juga tidak salah. Jika kamu menganggap bahwa gambaran Surabaya tak jauh-jauh dari lirik-lirik lagu Silampukau: tanah lapang yang berganti gedung-gedung tinggi, kota yang menghisap habis impian hidup seseorang, suasana malamnya yang jahanam, kamu juga bener banget. Juga, kalau kamu menganggap bahwa jalanan Surabaya membuat seorang gadis (yang belum begitu tegen mengendarai motor) tak berani melenggang santai, kamu seratus persen bener.
Nah, jika kamu menganggap bahwa gambaran-gambaran tentang Surabaya itu membuat saya males tinggal di dalamnya, bentar, tunggu dulu. Saya bersyukur diciptakan sebagai makhluk yang mudah beradaptasi. Lagi pula, anak kecil macam saya tak akan sulit menemukan apa yang saya namai dengan surga-surga kecil. Yah, setidaknya surga versi saya.
Baik, saya akan memulainya dari tempat yang paling dekat dengan tempat saya tinggal.
Jemuran kos. Silakan tertawa. Tapi inilah surga pertama yang saya temukan. Tempat kos saya yang didominasi warna ungu muda ini memiliki halaman yang cukup luas dan ditumbuhi banyak pohon besar. Dan pohon-pohon itu meneduhi tempat jemuran yang cukup luas di lantai 2. Ada beberapa lidah buaya yang tumbuh subur di dalam pot dan lumut-lumut hijau yang menempel di dinding sehingga menjadikan tempat ini sangat cocok untuk menghabiskan sore, duduk-duduk membaca buku sambil menikmati secangkir teh tong tji.
Tempat ini juga sangat cocok untuk memandang bulan purnama sambil menelpon teman-teman. [Bulan purnama dan teman-teman saya: sama-sama jauh. Satunya cuma bisa saya pandang, satunya lagi cuma bisa saya dengar suaranya].
Angkringan dekat kos. Angkringannya jogja banget. Tehnya, jahenya, tahu bacemnya, sate-satenya. Uh! Sepulang mengajar, saya sering mampir ke sini. Betapa teh hangat dengan gula batu itu bisa membunuh penat seharian. Oh ya, penjualnya adalah mas-mas dari Jogja. Kami biasa mengobrolkan ini itu tentang Jogja, dan hal-hal lainnya. Hotel dan apartemen di Jogja makin banyak ya, mas. Duh.
Danau Unesa. Ada sebuah danau di Unesa. Cukup luas. Selain dihuni ikan-ikan, di tengah-tengah danau itu ditanam sebuah pohon dan sarang burung merpati. Melihat merpati-merpati itu bertengger di dahan-dahan pohon dan kadang terbang mengapakkan sayap-sayapnya, ada yang menghangat di hati saya. Kalau hari minggu, banyak anak kecil yang didampingi orang tuanya bermain di sekitar danau ini. Mereka biasanya memberi makan ikan-ikan. Di pinggir-pinggir danau ada bangku-bangku untuk duduk. Tempat ini benar-benar membuat saya betah berlama-lama melamun. Saya juga sering bersepeda di sekitaran danau ini.
Kursi-kursi dengan meja bundar dan payung, di kantin Unesa. Di dekat danau itu terletak sebuah kantin. Di kursi-kursinya yang ada payung besarnya itulah saya sering menulis. Melihat mahasiswa-mahasiswa yang penuh gairah itu membuat saya ingin menjadi mahasiswa lagi. Bagaimanapun, memandang mereka, memberikan asupan energi bagi saya.
Kebun Binatang Surabaya (KBS). Jika berita-berita yang kamu baca tentang kebun binatang ini adalah hal-hal yang tidak menyenangkan, mungkin kamu memang harus berkunjung langsung ke sini. Dan buktikan bahwa berita itu tidak sepenuhnya benar. Mungkin banyak yang enggan datang lagi ke sini karena ngapain? hewan-hewannya udah jarang gitu. Lha justru itu! Kamu harus sering-sering mengunjungi mereka yang masih bertahan hidup. Oke, mungkin mereka gak ada sangkut pautnya dengan hidup kamu, tapi percayalah, bertemu mereka tak akan sia-sia.
Kebun binatang ini amat luas. Penuh dengan pohon-pohon besar. Entah mengapa, saya selalu merasa aman dan nyaman jika dekat dengan pohon besar. Rasanya begitu teduh. Menurut salah satu filmnya Wong Kar Wai, pohon adalah makhluk yang paling bisa menjaga rahasia. Mungkin suatu saat akan ada pohon yang saya lubangi untuk menyimpan rahasia itu.
Taman Bungkul. Sebenarnya saya tidak terlalu menyukai tanaman yang ditata sedemikian rupa. Saya lebih menyukai taman yang berantakan, yang tanamannya tumbuh sesukanya. Oleh karena itu, taman yang banyak rumput liarnya menurut saya lebih menyenangkan. Tapi, sebagai ruang alternatif, taman bungkul ini cukup nyaman untuk duduk-duduk sambil membaca buku kesayangan.
Saya akan membuat tulisan tersendiri tentang taman bungkul ini. Nanti.
Perpustakaan BI. Tempat ini adalah bekas museum Mpu Tantular. Berhubung museumnya dipindah ke Sidoarjo, tempat ini dijadikan sebagai perpustakaan. Bukunya tidak begitu lengkap, tapi tempatnya cukup asyik. Ada semacam warung kopinya di bagian lobi.
Jalan Ahmad Yani. Siang hari, jalanan ini memang sungguh beringas kayak arena balapan. Mobil motor bergerak begitu gegas. Sebenernya mereka pada mau kemana sih? Tapi kalau malam, sehabis hujan, jalanan ini menampakkan sisi lainnya. Oke, masih tetap beringas sih, tapi paling tidak ada indah-indahnya. Lampu-lampu kendaraan yang dipantulkan sisa-sisa hujan itu, bagi saya, sungguh indah.
Oke, sekian dulu ya. Perjalanan saya di kota ini belum jauh. Baru sekitar Surabaya bagian selatan. Oh ya, ada sebuah perpustakaan menyenangkan di Surabaya. Namanya perpustakaan C20. Tapi saya belum sempat ke sana. Semoga dalam waktu dekat bisa ke sana.
*Hmm..ternyata ada banyak cara Tuhan menghadirkan surga. Atau mungkin saya yang mulai (belajar) mencintai kota ini?
**Jangan khawatirkan saya, Pak. Saya baik-baik saja. Sudah jarang minum antasida.
Sebenarnya kota ini tidak benar-benar asing bagi saya. Setidaknya dulu waktu saya TK dan SMP, saya pernah mengunjungi kebun binatangnya. Waktu SMA saya juga beberapa kali pergi ke jalan Semarang dekat Pasar Turi untuk membeli buku-buku bekas. Sewaktu kuliah saya juga beberapa kali singgah di Surabaya.
Tapi toh ternyata tinggal itu berbeda dengan singgah.
***
Kamu jelas tahu bahwa Surabaya yang sekarang sudah melesat jauh dari gambaran Pramoedya Ananta Toer dalam Bumi Manusia atau Idrus dalam Surabaya. Tapi tak begitu jauh sih dari gambaran Hamka dalam Tuan Direktur.
Jika kamu menganggap bahwa Surabaya hari ini adalah deretan mal dan deru kendaraan yang memekakkan telinga selama 24 jam, kamu tidak salah. Jika kamu menganggap Surabaya adalah tempat orang-orang begitu keras bekerja dari Senin sampai Jumat kemudian menghabiskan akhir pekan berjubel di pusat perbelanjaan, kamu juga tidak salah. Jika kamu menganggap bahwa gambaran Surabaya tak jauh-jauh dari lirik-lirik lagu Silampukau: tanah lapang yang berganti gedung-gedung tinggi, kota yang menghisap habis impian hidup seseorang, suasana malamnya yang jahanam, kamu juga bener banget. Juga, kalau kamu menganggap bahwa jalanan Surabaya membuat seorang gadis (yang belum begitu tegen mengendarai motor) tak berani melenggang santai, kamu seratus persen bener.
Nah, jika kamu menganggap bahwa gambaran-gambaran tentang Surabaya itu membuat saya males tinggal di dalamnya, bentar, tunggu dulu. Saya bersyukur diciptakan sebagai makhluk yang mudah beradaptasi. Lagi pula, anak kecil macam saya tak akan sulit menemukan apa yang saya namai dengan surga-surga kecil. Yah, setidaknya surga versi saya.
Baik, saya akan memulainya dari tempat yang paling dekat dengan tempat saya tinggal.
Jemuran kos. Silakan tertawa. Tapi inilah surga pertama yang saya temukan. Tempat kos saya yang didominasi warna ungu muda ini memiliki halaman yang cukup luas dan ditumbuhi banyak pohon besar. Dan pohon-pohon itu meneduhi tempat jemuran yang cukup luas di lantai 2. Ada beberapa lidah buaya yang tumbuh subur di dalam pot dan lumut-lumut hijau yang menempel di dinding sehingga menjadikan tempat ini sangat cocok untuk menghabiskan sore, duduk-duduk membaca buku sambil menikmati secangkir teh tong tji.
Tempat ini juga sangat cocok untuk memandang bulan purnama sambil menelpon teman-teman. [Bulan purnama dan teman-teman saya: sama-sama jauh. Satunya cuma bisa saya pandang, satunya lagi cuma bisa saya dengar suaranya].
Angkringan dekat kos. Angkringannya jogja banget. Tehnya, jahenya, tahu bacemnya, sate-satenya. Uh! Sepulang mengajar, saya sering mampir ke sini. Betapa teh hangat dengan gula batu itu bisa membunuh penat seharian. Oh ya, penjualnya adalah mas-mas dari Jogja. Kami biasa mengobrolkan ini itu tentang Jogja, dan hal-hal lainnya. Hotel dan apartemen di Jogja makin banyak ya, mas. Duh.
Danau Unesa. Ada sebuah danau di Unesa. Cukup luas. Selain dihuni ikan-ikan, di tengah-tengah danau itu ditanam sebuah pohon dan sarang burung merpati. Melihat merpati-merpati itu bertengger di dahan-dahan pohon dan kadang terbang mengapakkan sayap-sayapnya, ada yang menghangat di hati saya. Kalau hari minggu, banyak anak kecil yang didampingi orang tuanya bermain di sekitar danau ini. Mereka biasanya memberi makan ikan-ikan. Di pinggir-pinggir danau ada bangku-bangku untuk duduk. Tempat ini benar-benar membuat saya betah berlama-lama melamun. Saya juga sering bersepeda di sekitaran danau ini.
Kursi-kursi dengan meja bundar dan payung, di kantin Unesa. Di dekat danau itu terletak sebuah kantin. Di kursi-kursinya yang ada payung besarnya itulah saya sering menulis. Melihat mahasiswa-mahasiswa yang penuh gairah itu membuat saya ingin menjadi mahasiswa lagi. Bagaimanapun, memandang mereka, memberikan asupan energi bagi saya.
Kebun Binatang Surabaya (KBS). Jika berita-berita yang kamu baca tentang kebun binatang ini adalah hal-hal yang tidak menyenangkan, mungkin kamu memang harus berkunjung langsung ke sini. Dan buktikan bahwa berita itu tidak sepenuhnya benar. Mungkin banyak yang enggan datang lagi ke sini karena ngapain? hewan-hewannya udah jarang gitu. Lha justru itu! Kamu harus sering-sering mengunjungi mereka yang masih bertahan hidup. Oke, mungkin mereka gak ada sangkut pautnya dengan hidup kamu, tapi percayalah, bertemu mereka tak akan sia-sia.
Kebun binatang ini amat luas. Penuh dengan pohon-pohon besar. Entah mengapa, saya selalu merasa aman dan nyaman jika dekat dengan pohon besar. Rasanya begitu teduh. Menurut salah satu filmnya Wong Kar Wai, pohon adalah makhluk yang paling bisa menjaga rahasia. Mungkin suatu saat akan ada pohon yang saya lubangi untuk menyimpan rahasia itu.
Taman Bungkul. Sebenarnya saya tidak terlalu menyukai tanaman yang ditata sedemikian rupa. Saya lebih menyukai taman yang berantakan, yang tanamannya tumbuh sesukanya. Oleh karena itu, taman yang banyak rumput liarnya menurut saya lebih menyenangkan. Tapi, sebagai ruang alternatif, taman bungkul ini cukup nyaman untuk duduk-duduk sambil membaca buku kesayangan.
Saya akan membuat tulisan tersendiri tentang taman bungkul ini. Nanti.
Perpustakaan BI. Tempat ini adalah bekas museum Mpu Tantular. Berhubung museumnya dipindah ke Sidoarjo, tempat ini dijadikan sebagai perpustakaan. Bukunya tidak begitu lengkap, tapi tempatnya cukup asyik. Ada semacam warung kopinya di bagian lobi.
Jalan Ahmad Yani. Siang hari, jalanan ini memang sungguh beringas kayak arena balapan. Mobil motor bergerak begitu gegas. Sebenernya mereka pada mau kemana sih? Tapi kalau malam, sehabis hujan, jalanan ini menampakkan sisi lainnya. Oke, masih tetap beringas sih, tapi paling tidak ada indah-indahnya. Lampu-lampu kendaraan yang dipantulkan sisa-sisa hujan itu, bagi saya, sungguh indah.
Oke, sekian dulu ya. Perjalanan saya di kota ini belum jauh. Baru sekitar Surabaya bagian selatan. Oh ya, ada sebuah perpustakaan menyenangkan di Surabaya. Namanya perpustakaan C20. Tapi saya belum sempat ke sana. Semoga dalam waktu dekat bisa ke sana.
*Hmm..ternyata ada banyak cara Tuhan menghadirkan surga. Atau mungkin saya yang mulai (belajar) mencintai kota ini?
**Jangan khawatirkan saya, Pak. Saya baik-baik saja. Sudah jarang minum antasida.
Subscribe to:
Posts (Atom)
Aktor Bermata Ngantuk Itu
Dia aktor Korea. Dulu saya menyebutnya sebagai aktor bermata ngantuk. Tapi saya tidak membuat saya sepenasaran itu untuk mencarinya di goog...
-
: sebuah penjelajahan awal Kajian Homi K. Bhabha selain banyak dipengaruhi oleh teoretisi pascastrukturalis seperti Jacques Derrida, Miche...
-
Judul : Bilangan Fu Penulis : Ayu Utami Penerbit : Kepustakaan Populer Gramedia Tahun terbit : 2018 (Cet. 2) Parang Jati, K...
-
Saya sedang duduk-duduk di bonbin menghabiskan sore sambil nyedot es coffeemix. Di depan saya duduk seorang mahasiswi yang kalau dilihat dar...