Gara-gara seorang teman menautkan link tulisan lama saya di facebook, saya jadi mbaca tulisan lama itu di blog ini. Tulisan itu tahun 2010. Ya Tuhan, waktu berlari begitu cepatnya! Membaca tulisan itu, saya senyum-senyum sendiri. Saya jadi mengingat banyak teman lama, yang tergerus arus waktu. Wah! Rasanya menyenangkan sekali. Meski pelan-pelan ada kesedihan merambat. Salah satu teman yang saya sebut di tulisan itu kini sudah meninggalkan dunia ini.
Tahun-tahun itu saya sering bikin tulisan semacam “report” kegiatan-kegiatan yang saya lakukan, diskusi-diskusi, atau acara-acara tertentu. Tulisan itu lengkap dengan tanggal dan waktu yang detail. Meski kalau dibaca sekarang tulisan-tulisan itu jadi terasa sangat alay, saya bahagia pernah menuliskannya. Saya juga kangen nulis seperti itu lagi.
Hmm, seiring berlalunya waktu, banyak detail yang kita lupakan. Saya juga menyadari bahwa ingatan benar-benar tak bisa diandalkan. Karena itulah, saya senang memiliki blog ini. Di sini saya bebas menulis apa saja. Juga bebas nulis tanpa peduli aturan ejaan. Hahaha.
Btw, beberapa teman yang pernah saya tulis di sini, entah gimana ceritanya, menemukan jalannya ke blog ini. Padahal saya tidak pernah memberi tahu teman-teman saya itu kalau saya menulis tentang mereka. Dan sepertinya, di blog ini saya akan lebih banyak menulis tentang orang-orang yang pernah singgah di hidup saya. Karena saya sudah merasakan, amat sangat menyenangkan ketika mengenang seseorang lewat tulisan, daripada sekadar lewat foto.
Libur sebentar lagi tibaaa! Saya akan banyak nulis. Yeah!!
Wednesday, May 17, 2017
Saturday, February 25, 2017
teruntukmu, perempuan jelmaan Otsu
percayalah,
perlahan kau akan melupakanku
dan kelak,
aku orang asing bagimu
Ella, apakah kau perempuan jelmaan Otsu? Jika tidak, bagaimana mungkin kau mencintaiku sedahsyat ini? Selain pada Otsu, sungguh aku tak percaya perempuan bisa mencintai sebegitu dahsyatnya. Kau tahu siapa Otsu? Ah, Ella, kau harus membaca Musashi karangan Eiji Yoshikawa. Kau akan berkenalan dengan Otsu. Aku yakin kalian akan cepat akrab.
***
Malam itu, pada pertemuan kita yang penghabisan, kau membuka kotak berwarna ungu yang kau bilang berisi rahasia-rahasia. Mengapa Ella? Mengapa kau mendedahkan rahasia-rahasia itu? Jika kotak itu tak sanggup, harusnya kau menyimpannya dalam-dalam di jantungmu sendiri. Mengapa kau tiba-tiba menyeretku? Kau ingin aku turut menanggungnya? Aku tak sanggup, Ella. Aku tak setangguh dirimu. Aku hanya lelaki gombal yang meninggalkanmu tanpa penjelasan apa-apa.
Di kehidupanku yang semekar bunga bungur di bulan Oktober, mengapa kau tiba-tiba hinggap di rerantingnya? Kau pun hinggap di jendela rumahku. Tak pergi-pergi. Ella, kau bukan burung kakak tua. Kau tak boleh seenaknya melakukan itu. Aku tahu kau amat menyukai jendela. Kau, dulu, juga suka duduk berlama-lama di café yang memiliki jendela-jendela besar, kan? Itu adalah satu-satunya tempat untuk kita membayar rindu. Dulu.
Kau mengingatkan, kita pernah saling bercakap di sebuah jendela maya. Percakapan yang tak putus-putus. Dari subuh ke subuh lagi. Tak bosan-bosan. Tapi, maaf, aku lupa apa saja yang kita percakapkan dulu itu. Kau tahu ingatanku tentang detail sungguhlah payah.
Dan kau pun bilang, seolah mengantisipasi ingatanku yang tak dapat diandalkan, bahwa di kotak berwarna ungu itu percakapan kita terdokumentasi seluruhnya. Tak ada yang terlewat. Tanggal dan jamnya pun lengkap. Kau menyimpan sekaligus mencetak percakapan kita. Ratusan halaman. Setebal skripsiku. Kau membacainya jika sedang merindukanku. Meskipun setelah membacanya kau akan semakin merindukanku. Setelahnya, kau akan menangis tersedu. Mendengar itu keluar dari mulutmu, aku seperti mendadak lumpuh.
Bagaimana bisa kau melakukan tindakan konyol itu, Ella? Bukankah kau perempuan yang tak mau kompromi dengan hal-hal sentimentil semacam itu? Kau menceritakan itu dengan mata penuh duka. Kau menyakiti dirimu sendiri, Ella. Kini kau mau menyakitiku juga.
Cukup, Ella. Aku tak mau membacanya. Melihat sebundel kertas yang sengaja kau bawa ini membuatku gemetar. Kuakui aku terharu atas apa yang kau lakukan. Itu adalah kekonyolan yang manis. Hatiku bersorak tapi hampa sekaligus.
***
Dengar, Ella. Aku sudah memiliki kehidupan yang sangat, sangat indah. Aku bertemu dengan seorang perempuan yang suka bergincu merah, warna kesukaanku. Dia memiliki selera musik yang bagus. Aku bahkan kalah dengannya dalam hal referensi musik. Dia juga punya suara yang cukup enak didengar, meski tak bagus-bagus amat. Aku senang mendengarnya bersenandung sementara aku memainkan gitar atau piano. Dia juga jenis perempuan yang hangat di tempat tidur. Sempurna!
Kau hanyalah masa lalu. Dan masa lalu harus tetap tinggal di masa lalu.
***
Tapi di sinilah aku sekarang, Ella. Menyuntuki lembar demi lembar percakapan sinting itu. Karena sering kau buka-buka, kertas itu jadi lebih tebal daripada seharusnya. Banyak bekas tangisanmu juga. Lalu aku jadi membayangkan wajahmu ketika membaca lembaran-lembaran ini. Ella, diam-diam aku ingin melihat wajahmu saat merindukanku.
Dalam lembaran-lembaran itu, ternyata banyak sekali yang kita bicarakan: mulai dari jenis-jenis cabe berikut tingkat kepedasannya, pembicaraan tentang alien dan ruang angkasa (kau sangat bersemangat membicarakan ruang angkasa sementara aku tak tau apa-apa tentang itu), tentang drama korea (bisa-bisanya kau menyukai hal-hal semacam itu), tentang rencana-rencana bolos kuliah dan menggantinya dengan pergi ke toko-toko buku bekas (ini adalah hal yang paling kusukai), kita juga membahas siapa sebenarnya Anny Arrow (dulu aku sempat menjadikannya bahan untuk tugas kuliah), eyel-eyelan tentang ‘yang nyata’ dan ‘yang maya’ (kita berada di mana, Ella?), hingga pembicaraan tentang dosen yang kamu idolakan (semoga beliau selalu sehat).
Diriku seolah melesat mundur belasan tahun. Kembali menjadi seorang remaja duapuluhan awal yang tak banyak ambisi. Yang menghabiskan sebagian besar waktu luang dengan menonton video-video di youtube dan melamun memandangi langit-langit kamar dengan tangan terlipat di bawah kepala. Betapa masa-masa yang menyenangkan.
Aku merasakan kembali gejolak itu. Debar itu. Tapi, saat aku melihat diriku yang sekarang, aku menyadari saat-saat itu telah berlalu dan begitu berjarak. Segala terasa begitu menjauh. Hilang dan tak pernah kembali lagi.
Aku jadi begitu takjub pada usahamu untuk mencoba mengabadikan percakapan kita dalam lembaran-lembaran kertas ini. Kau bilang, sebundel kertas itu hanya satu rahasia. Yang lain masih tersimpan dengan baik. Cukup. Aku memilih menutup mata, Ella. Aku tak sanggup melihat kebodohanku yang lebih banyak lagi.
***
Lantas, apa yang harus kulakukan sekarang? Haruskah aku terus menerus merutuki kebodohanku di masa lalu? Tidak. Tidak! Kau, Ella, memang perempuan jelmaan Otsu. Celakanya aku adalah jelmaan si brengsek Matahachi. Sementara kau selalu merindukanku, aku tak pernah sekalipun memikirkanmu. Segala aktivitas dan kesibukanku mengaburkan keberadaanmu di benakku. Ingatan tentang percakapan di jendela-jendela maya itu juga tak pernah mampir di pikiranku. Aku seperti amnesia. Maafkan aku, Ella.
Ella, kini, tak ada lagi jendela di antara kita. Tak boleh ada lagi. Sebagaimana syair sebuah lagu yang sering kudengar tapi aku lupa siapa yang melantunkannya: antara hatimu hatiku, terbentang dinding yang tinggi, tak satu jua jendela di sana. Di pikiranku hanya ada perempuanku dengan gincu merahnya dan senyumnya yang selalu merekah. Ia telah mengisi hari-hariku yang kosong di kota yang begitu riuh ini. Jika dulu aku begitu bodoh telah melupakan dan meninggalkanmu, kini aku tak mau mengulang kebodohan dengan menyakitinya.
Ella, telah kulepas engkau. Maka, lepaskanlah aku.
***
Di dunia paralel sana, di sebuah jendela yang itu itu juga, seorang perempuan masih terduduk tenang menunggu balasan sapaan “hai”. Sementara itu, si lelaki yang ditunggu sedang ketiduran setelah lelah menonton video-video di youtube. Syalalalala~
perlahan kau akan melupakanku
dan kelak,
aku orang asing bagimu
Ella, apakah kau perempuan jelmaan Otsu? Jika tidak, bagaimana mungkin kau mencintaiku sedahsyat ini? Selain pada Otsu, sungguh aku tak percaya perempuan bisa mencintai sebegitu dahsyatnya. Kau tahu siapa Otsu? Ah, Ella, kau harus membaca Musashi karangan Eiji Yoshikawa. Kau akan berkenalan dengan Otsu. Aku yakin kalian akan cepat akrab.
***
Malam itu, pada pertemuan kita yang penghabisan, kau membuka kotak berwarna ungu yang kau bilang berisi rahasia-rahasia. Mengapa Ella? Mengapa kau mendedahkan rahasia-rahasia itu? Jika kotak itu tak sanggup, harusnya kau menyimpannya dalam-dalam di jantungmu sendiri. Mengapa kau tiba-tiba menyeretku? Kau ingin aku turut menanggungnya? Aku tak sanggup, Ella. Aku tak setangguh dirimu. Aku hanya lelaki gombal yang meninggalkanmu tanpa penjelasan apa-apa.
Di kehidupanku yang semekar bunga bungur di bulan Oktober, mengapa kau tiba-tiba hinggap di rerantingnya? Kau pun hinggap di jendela rumahku. Tak pergi-pergi. Ella, kau bukan burung kakak tua. Kau tak boleh seenaknya melakukan itu. Aku tahu kau amat menyukai jendela. Kau, dulu, juga suka duduk berlama-lama di café yang memiliki jendela-jendela besar, kan? Itu adalah satu-satunya tempat untuk kita membayar rindu. Dulu.
Kau mengingatkan, kita pernah saling bercakap di sebuah jendela maya. Percakapan yang tak putus-putus. Dari subuh ke subuh lagi. Tak bosan-bosan. Tapi, maaf, aku lupa apa saja yang kita percakapkan dulu itu. Kau tahu ingatanku tentang detail sungguhlah payah.
Dan kau pun bilang, seolah mengantisipasi ingatanku yang tak dapat diandalkan, bahwa di kotak berwarna ungu itu percakapan kita terdokumentasi seluruhnya. Tak ada yang terlewat. Tanggal dan jamnya pun lengkap. Kau menyimpan sekaligus mencetak percakapan kita. Ratusan halaman. Setebal skripsiku. Kau membacainya jika sedang merindukanku. Meskipun setelah membacanya kau akan semakin merindukanku. Setelahnya, kau akan menangis tersedu. Mendengar itu keluar dari mulutmu, aku seperti mendadak lumpuh.
Bagaimana bisa kau melakukan tindakan konyol itu, Ella? Bukankah kau perempuan yang tak mau kompromi dengan hal-hal sentimentil semacam itu? Kau menceritakan itu dengan mata penuh duka. Kau menyakiti dirimu sendiri, Ella. Kini kau mau menyakitiku juga.
Cukup, Ella. Aku tak mau membacanya. Melihat sebundel kertas yang sengaja kau bawa ini membuatku gemetar. Kuakui aku terharu atas apa yang kau lakukan. Itu adalah kekonyolan yang manis. Hatiku bersorak tapi hampa sekaligus.
***
Dengar, Ella. Aku sudah memiliki kehidupan yang sangat, sangat indah. Aku bertemu dengan seorang perempuan yang suka bergincu merah, warna kesukaanku. Dia memiliki selera musik yang bagus. Aku bahkan kalah dengannya dalam hal referensi musik. Dia juga punya suara yang cukup enak didengar, meski tak bagus-bagus amat. Aku senang mendengarnya bersenandung sementara aku memainkan gitar atau piano. Dia juga jenis perempuan yang hangat di tempat tidur. Sempurna!
Kau hanyalah masa lalu. Dan masa lalu harus tetap tinggal di masa lalu.
***
Tapi di sinilah aku sekarang, Ella. Menyuntuki lembar demi lembar percakapan sinting itu. Karena sering kau buka-buka, kertas itu jadi lebih tebal daripada seharusnya. Banyak bekas tangisanmu juga. Lalu aku jadi membayangkan wajahmu ketika membaca lembaran-lembaran ini. Ella, diam-diam aku ingin melihat wajahmu saat merindukanku.
Dalam lembaran-lembaran itu, ternyata banyak sekali yang kita bicarakan: mulai dari jenis-jenis cabe berikut tingkat kepedasannya, pembicaraan tentang alien dan ruang angkasa (kau sangat bersemangat membicarakan ruang angkasa sementara aku tak tau apa-apa tentang itu), tentang drama korea (bisa-bisanya kau menyukai hal-hal semacam itu), tentang rencana-rencana bolos kuliah dan menggantinya dengan pergi ke toko-toko buku bekas (ini adalah hal yang paling kusukai), kita juga membahas siapa sebenarnya Anny Arrow (dulu aku sempat menjadikannya bahan untuk tugas kuliah), eyel-eyelan tentang ‘yang nyata’ dan ‘yang maya’ (kita berada di mana, Ella?), hingga pembicaraan tentang dosen yang kamu idolakan (semoga beliau selalu sehat).
Diriku seolah melesat mundur belasan tahun. Kembali menjadi seorang remaja duapuluhan awal yang tak banyak ambisi. Yang menghabiskan sebagian besar waktu luang dengan menonton video-video di youtube dan melamun memandangi langit-langit kamar dengan tangan terlipat di bawah kepala. Betapa masa-masa yang menyenangkan.
Aku merasakan kembali gejolak itu. Debar itu. Tapi, saat aku melihat diriku yang sekarang, aku menyadari saat-saat itu telah berlalu dan begitu berjarak. Segala terasa begitu menjauh. Hilang dan tak pernah kembali lagi.
Aku jadi begitu takjub pada usahamu untuk mencoba mengabadikan percakapan kita dalam lembaran-lembaran kertas ini. Kau bilang, sebundel kertas itu hanya satu rahasia. Yang lain masih tersimpan dengan baik. Cukup. Aku memilih menutup mata, Ella. Aku tak sanggup melihat kebodohanku yang lebih banyak lagi.
***
Lantas, apa yang harus kulakukan sekarang? Haruskah aku terus menerus merutuki kebodohanku di masa lalu? Tidak. Tidak! Kau, Ella, memang perempuan jelmaan Otsu. Celakanya aku adalah jelmaan si brengsek Matahachi. Sementara kau selalu merindukanku, aku tak pernah sekalipun memikirkanmu. Segala aktivitas dan kesibukanku mengaburkan keberadaanmu di benakku. Ingatan tentang percakapan di jendela-jendela maya itu juga tak pernah mampir di pikiranku. Aku seperti amnesia. Maafkan aku, Ella.
Ella, kini, tak ada lagi jendela di antara kita. Tak boleh ada lagi. Sebagaimana syair sebuah lagu yang sering kudengar tapi aku lupa siapa yang melantunkannya: antara hatimu hatiku, terbentang dinding yang tinggi, tak satu jua jendela di sana. Di pikiranku hanya ada perempuanku dengan gincu merahnya dan senyumnya yang selalu merekah. Ia telah mengisi hari-hariku yang kosong di kota yang begitu riuh ini. Jika dulu aku begitu bodoh telah melupakan dan meninggalkanmu, kini aku tak mau mengulang kebodohan dengan menyakitinya.
Ella, telah kulepas engkau. Maka, lepaskanlah aku.
***
Di dunia paralel sana, di sebuah jendela yang itu itu juga, seorang perempuan masih terduduk tenang menunggu balasan sapaan “hai”. Sementara itu, si lelaki yang ditunggu sedang ketiduran setelah lelah menonton video-video di youtube. Syalalalala~
Sunday, February 19, 2017
Petualangan Sanji, Zeff, dan Parmin
Suatu hari, kapal Sanji diamuk badai. Karena tubuhnya tak mampu menahan badai yang dahsyat, Sanji pun terlempar ke laut. Untungnya, Sanji berhasil diselamatkan bajak laut Zeff. Sambil membawa Sanji, Zeff berenang sekuat tenaga. Mereka pun berhasil mencapai sebuah pulau kecil.
Selama berhari-hari, mereka bertahan hidup di pulau itu. Mereka menunggu dengan sabar sambil berdoa semoga ada kapal yang melintas. Selama berhari-hari itu pula mereka kelaparan. Makanan yang sempat ditemukan Zeff tidak banyak. Dan makanan itu hanya untuk Sanji. Zeff tidak mengambil makanan itu sedikit pun. Zeff selalu bilang, tubuhnya lebih kuat dibandingkan tubuh Sanji. Padahal Sanji tahu, Zeff juga kelaparan.
Sanji pun sedih. Di lubuk hatinya, ia berjanji akan membalas budi baik Zeff. Ia juga sangat menyesal karena di kapalnya dulu dia sering membuang-buang makanan. Sejak saat itu, Sanji berjanji tidak akan pernah menyia-nyiakan makanan.
Suatu sore, ketika mereka berdua sudah putus asa, mata Sanji menerawang jauh ke laut. Tiba-tiba ia melihat ada sebuah perahu kecil di kejauhan. Dengan sisa-sisa tenanganya, Sanji berteriak-teriak minta tolong. Perahu kecil itu milik Parmin. Mendengar ada yang berteriak, Parmin pun mendekat ke pulau itu. Ia menolong Sanji dan Zeff yang sudah tampak sangat lemah. Parmin memberikan makanan dan minumannya untuk Sanji dan Zeff. Parmin tidak tega melihat tubuh mereka yang sangat kurus.
Keesokan paginya, perahu kecil Parmin berhasil mendarat di pantai. Zeff dan Sanji sangat berterima kasih atas pertolongan Parmin. Mereka berdua berharap suatu hari nanti bisa membalas budi baik Parmin.
Sanji dan Zeff tidak ingin ada orang lain yang kelaparan di tengah laut, seperti yang pernah mereka alami. Mereka lalu mendirikan sebuah restoran di tengah lautan. Restoran itu diberi nama Baratie. Dengan bantuan Zeff, Sanji bekerja keras untuk menjadi koki yang hebat. Beberapa kali Sanji gagal membuat masakan. Tapi ia tak pernah menyerah. Ia tak ingin mengecewakan Zeff yang telah menyelamatkan hidupnya.
Setelah banyak belajar, Sanji sangat lihai membuat berbagai macam makanan dan minuman lezat. Ada soto ayam, sate kambing, nasi rawon, rujak cingur, bakmi, lotek, mi ayam, tahu campur, es cendol, es teler, es krim, dan masih banyak lagi. Semua orang sangat senang menyantap makanan yang dimasak Sanji.
Zeff berkata kepada Sanji, “Sanji, tugas seorang koki adalah memberi makanan kepada siapa pun yang kelaparan. Tidak peduli itu orang baik atau jahat. Tidak peduli orang itu kawan atau lawan.”
“Baik, Zeff. Aku akan memegang janji itu seumur hidupku,” jawab Sanji dengan penuh semangat. Dengan cara itulah ia membalas budi baik Zeff.
Meskipun sudah berlalu cukup lama, Sanji juga tak melupakan budi baik Parmin. Wajah Parmin selalu ada dalam ingatan Sanji. Semoga aku segera bisa bertemu dengan orang yang menolongku itu, gumam Sanji dalam hati.
Harapan Sanji terkabul. Pada suatu siang, ketika mencari bahan makanan, Sanji berpapasan dengan seseorang yang terasa begitu akrab. Aih! Sanji yakin bahwa orang itu adalah Parmin. Sanji pun berteriak memanggil. Tapi sayang, kali ini Parmin tidak mendengar teriakan Sanji. Sepertinya Parmin sedang terburu-buru. Sanji pun mengikuti Parmin dari belakang.
Setelah melewati jalan yang sempit dan berkelok-kelok, Parmin berhenti di sebuah rumah. Sanji pun ikut berhenti. Belum sempat Sanji memanggil Parmin, anak-anak Parmin yang masih kecil-kecil sudah terlebih dahulu menyambut bapak mereka. Sanji memutuskan untuk mengamati dari kejauhan. Anak-anak itu berteriak-teriak senang karena melihat Parmin membawa bungkusan.
Ketiga anak yang bernama Athos, Porthos, dan Aramis itu semakin kegirangan setelah tahu isi bungkusan itu adalah es krim.
“Waah..asyiiikk..Bapak bawa es kliiiim,” teriak Aramis yang belum fasih mengucapkan r.
Meskipun es krim dalam bungkusan plastik itu sudah sepenuhnya mencair, kegembiraan mereka sama sekali tidak berkurang.
“Porthos, ayo cepat kita ambil gelas!” Athos mengajak adiknya.
Sebelum menikmati es krimnya, mereka tidak lupa berdoa dan berterima kasih kepada bapaknya. Mereka sangat bahagia meskipun es krimnya sudah habis dalam sekali teguk.
Di kejauhan, Sanji melihat mereka sambil menitikkan air mata. Ia ingat di restorannya ada banyak sekali es krim dengan berbagai macam rasa dan warna. Anak-anak yang menggemaskan itu pasti senang jika bisa menikmati es krim yang belum mencair, pikir Sanji.
Sanji pun bergegas pulang ke restorannya. Ia membuat es krim yang lezat dengan berbagai macam rasa. Ia menggunakan resep khusus agar es krim tidak mudah mencair dan tahan dalam beberapa bulan.
Keesokan harinya, Sanji dan Zeff datang ke rumah Parmin. Parmin sangat terkejut dengan kedatangan mereka berdua. Ia tidak menyangka bahwa mereka bisa bertemu lagi.
Sanji membawa es krim buatannya sebagai oleh-oleh. Ada rasa strawberi, coklat, greentea, vanilla. Wah, banyak sekali! Athos, Porthos, dan Aramis bukan main gembiranya. Mereka tidak sabar untuk menikmati es krim itu. Sanji pun senang es krim buatannya membuat anak-anak itu bahagia.
Setelah bersama-sama menyantap es krim, Sanji menceritakan pengalamannya menjadi koki. Athos, Porthos, dan Aramis mendengarkan dengan antusias. Mata mereka bersinar-sinar. Mereka pun membulatkan tekad, mereka akan menjadi koki yang hebat seperti Sanji dan Zeff.[]
**Sanji dan Zeff adalah tokoh-tokoh dalam manga One Piece (Eiichiro Oda), sedangkan Parmin adalah tokoh dalam cerpen “Parmin” (Jujur Prananto). Kisah dalam dongeng ini sebagian besar bersumber dari manga dan cerpen itu, tentu dengan perubahan seperlunya. Dalam cerita aslinya, tokoh-tokoh itu sedang bersedih. Saya hanya ingin mempertemukan mereka dalam satu cerita bahagia :)
Selama berhari-hari, mereka bertahan hidup di pulau itu. Mereka menunggu dengan sabar sambil berdoa semoga ada kapal yang melintas. Selama berhari-hari itu pula mereka kelaparan. Makanan yang sempat ditemukan Zeff tidak banyak. Dan makanan itu hanya untuk Sanji. Zeff tidak mengambil makanan itu sedikit pun. Zeff selalu bilang, tubuhnya lebih kuat dibandingkan tubuh Sanji. Padahal Sanji tahu, Zeff juga kelaparan.
Sanji pun sedih. Di lubuk hatinya, ia berjanji akan membalas budi baik Zeff. Ia juga sangat menyesal karena di kapalnya dulu dia sering membuang-buang makanan. Sejak saat itu, Sanji berjanji tidak akan pernah menyia-nyiakan makanan.
Suatu sore, ketika mereka berdua sudah putus asa, mata Sanji menerawang jauh ke laut. Tiba-tiba ia melihat ada sebuah perahu kecil di kejauhan. Dengan sisa-sisa tenanganya, Sanji berteriak-teriak minta tolong. Perahu kecil itu milik Parmin. Mendengar ada yang berteriak, Parmin pun mendekat ke pulau itu. Ia menolong Sanji dan Zeff yang sudah tampak sangat lemah. Parmin memberikan makanan dan minumannya untuk Sanji dan Zeff. Parmin tidak tega melihat tubuh mereka yang sangat kurus.
Keesokan paginya, perahu kecil Parmin berhasil mendarat di pantai. Zeff dan Sanji sangat berterima kasih atas pertolongan Parmin. Mereka berdua berharap suatu hari nanti bisa membalas budi baik Parmin.
Sanji dan Zeff tidak ingin ada orang lain yang kelaparan di tengah laut, seperti yang pernah mereka alami. Mereka lalu mendirikan sebuah restoran di tengah lautan. Restoran itu diberi nama Baratie. Dengan bantuan Zeff, Sanji bekerja keras untuk menjadi koki yang hebat. Beberapa kali Sanji gagal membuat masakan. Tapi ia tak pernah menyerah. Ia tak ingin mengecewakan Zeff yang telah menyelamatkan hidupnya.
Setelah banyak belajar, Sanji sangat lihai membuat berbagai macam makanan dan minuman lezat. Ada soto ayam, sate kambing, nasi rawon, rujak cingur, bakmi, lotek, mi ayam, tahu campur, es cendol, es teler, es krim, dan masih banyak lagi. Semua orang sangat senang menyantap makanan yang dimasak Sanji.
Zeff berkata kepada Sanji, “Sanji, tugas seorang koki adalah memberi makanan kepada siapa pun yang kelaparan. Tidak peduli itu orang baik atau jahat. Tidak peduli orang itu kawan atau lawan.”
“Baik, Zeff. Aku akan memegang janji itu seumur hidupku,” jawab Sanji dengan penuh semangat. Dengan cara itulah ia membalas budi baik Zeff.
Meskipun sudah berlalu cukup lama, Sanji juga tak melupakan budi baik Parmin. Wajah Parmin selalu ada dalam ingatan Sanji. Semoga aku segera bisa bertemu dengan orang yang menolongku itu, gumam Sanji dalam hati.
Harapan Sanji terkabul. Pada suatu siang, ketika mencari bahan makanan, Sanji berpapasan dengan seseorang yang terasa begitu akrab. Aih! Sanji yakin bahwa orang itu adalah Parmin. Sanji pun berteriak memanggil. Tapi sayang, kali ini Parmin tidak mendengar teriakan Sanji. Sepertinya Parmin sedang terburu-buru. Sanji pun mengikuti Parmin dari belakang.
Setelah melewati jalan yang sempit dan berkelok-kelok, Parmin berhenti di sebuah rumah. Sanji pun ikut berhenti. Belum sempat Sanji memanggil Parmin, anak-anak Parmin yang masih kecil-kecil sudah terlebih dahulu menyambut bapak mereka. Sanji memutuskan untuk mengamati dari kejauhan. Anak-anak itu berteriak-teriak senang karena melihat Parmin membawa bungkusan.
Ketiga anak yang bernama Athos, Porthos, dan Aramis itu semakin kegirangan setelah tahu isi bungkusan itu adalah es krim.
“Waah..asyiiikk..Bapak bawa es kliiiim,” teriak Aramis yang belum fasih mengucapkan r.
Meskipun es krim dalam bungkusan plastik itu sudah sepenuhnya mencair, kegembiraan mereka sama sekali tidak berkurang.
“Porthos, ayo cepat kita ambil gelas!” Athos mengajak adiknya.
Sebelum menikmati es krimnya, mereka tidak lupa berdoa dan berterima kasih kepada bapaknya. Mereka sangat bahagia meskipun es krimnya sudah habis dalam sekali teguk.
Di kejauhan, Sanji melihat mereka sambil menitikkan air mata. Ia ingat di restorannya ada banyak sekali es krim dengan berbagai macam rasa dan warna. Anak-anak yang menggemaskan itu pasti senang jika bisa menikmati es krim yang belum mencair, pikir Sanji.
Sanji pun bergegas pulang ke restorannya. Ia membuat es krim yang lezat dengan berbagai macam rasa. Ia menggunakan resep khusus agar es krim tidak mudah mencair dan tahan dalam beberapa bulan.
Keesokan harinya, Sanji dan Zeff datang ke rumah Parmin. Parmin sangat terkejut dengan kedatangan mereka berdua. Ia tidak menyangka bahwa mereka bisa bertemu lagi.
Sanji membawa es krim buatannya sebagai oleh-oleh. Ada rasa strawberi, coklat, greentea, vanilla. Wah, banyak sekali! Athos, Porthos, dan Aramis bukan main gembiranya. Mereka tidak sabar untuk menikmati es krim itu. Sanji pun senang es krim buatannya membuat anak-anak itu bahagia.
Setelah bersama-sama menyantap es krim, Sanji menceritakan pengalamannya menjadi koki. Athos, Porthos, dan Aramis mendengarkan dengan antusias. Mata mereka bersinar-sinar. Mereka pun membulatkan tekad, mereka akan menjadi koki yang hebat seperti Sanji dan Zeff.[]
**Sanji dan Zeff adalah tokoh-tokoh dalam manga One Piece (Eiichiro Oda), sedangkan Parmin adalah tokoh dalam cerpen “Parmin” (Jujur Prananto). Kisah dalam dongeng ini sebagian besar bersumber dari manga dan cerpen itu, tentu dengan perubahan seperlunya. Dalam cerita aslinya, tokoh-tokoh itu sedang bersedih. Saya hanya ingin mempertemukan mereka dalam satu cerita bahagia :)
Wednesday, January 11, 2017
membaca ulang
Tahun 2016 saya banyak membaca ulang buku-buku lama. Disebabkan oleh pindahan dari Jogja ke rumah, saya mengepak buku-buku dalam kardus-kardus coklat. Dalam proses pengepakan dan pembongkaran (setelah sampai di rumah) itulah saya menjamah lagi buku-buku lama. Sambil mengelus-elus buku-buku itu dan membersihkan debu-debu yang menempel, saya mengingat-ingat dalam kondisi apa saya membelinya, kapan, dan di mana. Melo banget, ya?
Selain itu, yang membuat saya memutuskan untuk membaca ulang adalah saya menyadari bahwa kemampuan otak saya dalam mengingat detail tidak begitu bagus. Oleh sebab itulah, saya memutuskan untuk membaca ulang beberapa buku dan membiasakan diri melakukannya di tahun-tahun mendatang.
Dalam aktivitas membaca ulang itu, waktu yang saya butuhkan jauh lebih lama dibandingkan saat saya membaca pertama kali. Dan memang saya usahakan lebih khusuk. Akibatnya, ada makna yang bertambah mengikuti horizon harapan saya. Ada interpretasi yang dikoreksi. Detail-detail yang dulu terlewatkan, bermunculan ke permukaan. Dan terasa ada yang lebih mengendap.
Bagi saya pribadi, benar-benar memahami isi buku, meskipun jumlahnya sedikit, jauh lebih penting daripada membaca banyak buku tapi hanya mengawang-awang di luar batok kepala lalu hilang begitu saja.
Oh ya, aktivitas membaca ulang sebenarnya tidak hanya berlaku pada buku. Saya sering menonton berulang-ulang film yang sama. Saya bolak-balik membaca buku harian saya. Bahkan, pada suatu masa ketika yahoo! Messenger sedang berjaya, chatting-an saya dengan seseorang saya simpan di hardisk, saya cetak percakapan yang mencapai ratusan halaman itu, dan sering saya baca ulang.
Pada yang terakhir itu, kamu boleh menganggapnya gak penting banget, tapi berefleksi dan memaknai, buat saya sungguh penting.
Selain itu, yang membuat saya memutuskan untuk membaca ulang adalah saya menyadari bahwa kemampuan otak saya dalam mengingat detail tidak begitu bagus. Oleh sebab itulah, saya memutuskan untuk membaca ulang beberapa buku dan membiasakan diri melakukannya di tahun-tahun mendatang.
Dalam aktivitas membaca ulang itu, waktu yang saya butuhkan jauh lebih lama dibandingkan saat saya membaca pertama kali. Dan memang saya usahakan lebih khusuk. Akibatnya, ada makna yang bertambah mengikuti horizon harapan saya. Ada interpretasi yang dikoreksi. Detail-detail yang dulu terlewatkan, bermunculan ke permukaan. Dan terasa ada yang lebih mengendap.
Bagi saya pribadi, benar-benar memahami isi buku, meskipun jumlahnya sedikit, jauh lebih penting daripada membaca banyak buku tapi hanya mengawang-awang di luar batok kepala lalu hilang begitu saja.
Oh ya, aktivitas membaca ulang sebenarnya tidak hanya berlaku pada buku. Saya sering menonton berulang-ulang film yang sama. Saya bolak-balik membaca buku harian saya. Bahkan, pada suatu masa ketika yahoo! Messenger sedang berjaya, chatting-an saya dengan seseorang saya simpan di hardisk, saya cetak percakapan yang mencapai ratusan halaman itu, dan sering saya baca ulang.
Pada yang terakhir itu, kamu boleh menganggapnya gak penting banget, tapi berefleksi dan memaknai, buat saya sungguh penting.
Tuesday, January 10, 2017
buku yang kubaca 2016
1. Nyanyi Sunyi Seorang Bisu 2 (Pramoedya Ananta Toer) Baca Ulang
2. Menanam Padi di Langit (Puthut EA)
3. Rabu Rasa Sabtu (Arswendo Atmowiloto)
4. Filosofi Kopi (Dewi Lestari) Baca Ulang
5. Madre (Dewi Lestari) Baca Ulang
6. Tokoh-Tokoh Cerita Pendek Dunia (Korrie Layun Rampan)
7. Pramoedya Ananta Toer Luruh dalam Ideologi (Savitri Scherer)
8. Lengkingan Viola Desingan Peluru (Ramayda Akmal) Baca Ulang
9. Deru Napas di Balik Layar
10. Voices from the other world (Naguib Mahfouz)
11. Last Tango in Paris (Robert Alley)
12. Sebuah Pertanyaan untuk Cinta (Seno Gumira Ajidarma) Baca Ulang
13. Celeng Satu Celeng Semua (Triyanto Triwikromo)
14. Life of Pi (Yann Martel)
15. O (Eka Kurniawan)
16. Corat-Coret di Toilet (Eka Kurniawan)
17. Belajar Mencintai Kambing (Mahfud Ikhwan)
18. Melihat Api Bekerja (Aan Mansyur)
19. Arsitektur Yang Lain (Avianti Armand) Baca Ulang
20. Mencari Setangkai Daun Surga (Anton Kurnia)
21. Negara Kelima (E.S Ito) Baca Ulang
22. The Story Book of Just Alvin 2
23. Hatta: Jejak Yang Melampaui Zaman
24. Surga Sungsang (Triyanto Triwikromo)
25. Lapar (Knut Hamsun)
26. Innocent Erendira & Other Stories (Gabriel Garcia Marquez)
27. Memories of My Melancholy Whores (Gabriel Garcia Marquez)
28. Bumi Manusia (Pramoedya Ananta Toer) Baca Ulang
29. Anak Semua Bangsa (Pramoedya Ananta Toer) Baca Ulang
30. Cerita dari Jakarta (Pramoedya Ananta Toer) Baca Ulang
31. Cadas Tanios (Aamin Malouf)
32. Living to Tell the Tale (Gabriel Garcia Marquez)
33. Pangeran Cilik (Antoine de Saint-Exupery)
34. Buku Tentang Ruang (Avianti Armand)
35. Sekali Peristiwa di Banten Selatan (Pramoedya Ananta Toer)
36. Dunia Klai dan Kisah Sehari-Hari (Puthut EA)
37. Orang-Orang Bloomington (Budi Darma)
38. Milea, Suara dari Dilan (Pidi Baiq)
39. Si Cacing dan Kotoran Kesayangannya (Ajahn Brahm) Baca Ulang
40. Dengarlah Nyanyian Angin (Haruki Murakami)
41. Princess, Bajak Laut, dan Alien (Clara Ng, Icha Rahmanti)
42. Mereka Yang Dilumpuhkan (Pramoedya Ananta Toer)
43. Daerah Salju (Yasunari Kawabata)
44. Inferno (Dan Brown)
45. Maukah Kau Menghapus Bekas Bibirnya di Bibirku dengan Bibirmu? (Hamsad Rangkuti)
46. The Da Vinci Code (Dan Brown)
47. The Girl on The Fridge (Etgar Keret)
48. Suddenly A Knock On The Door (Etgar Keret)
49. The Seven Good Years (Etgar Keret)
50. Sadar Penuh Hadir Utuh (Adjie Silarus)
51. Happy Breathing to You (Adjie Silarus)
52. Rectoverso (Dewi Lestari) Baca ulang
Yang belum selesai dibaca:
1. Dari Penjara ke Penjara (Tan Malaka)
2. The Sound and The Fury (William Faulkner)
3. Sutan Sjahrir: Demokrat Sejati, Pejuang kemanusiaan (Rosihan Anwar)
2. Menanam Padi di Langit (Puthut EA)
3. Rabu Rasa Sabtu (Arswendo Atmowiloto)
4. Filosofi Kopi (Dewi Lestari) Baca Ulang
5. Madre (Dewi Lestari) Baca Ulang
6. Tokoh-Tokoh Cerita Pendek Dunia (Korrie Layun Rampan)
7. Pramoedya Ananta Toer Luruh dalam Ideologi (Savitri Scherer)
8. Lengkingan Viola Desingan Peluru (Ramayda Akmal) Baca Ulang
9. Deru Napas di Balik Layar
10. Voices from the other world (Naguib Mahfouz)
11. Last Tango in Paris (Robert Alley)
12. Sebuah Pertanyaan untuk Cinta (Seno Gumira Ajidarma) Baca Ulang
13. Celeng Satu Celeng Semua (Triyanto Triwikromo)
14. Life of Pi (Yann Martel)
15. O (Eka Kurniawan)
16. Corat-Coret di Toilet (Eka Kurniawan)
17. Belajar Mencintai Kambing (Mahfud Ikhwan)
18. Melihat Api Bekerja (Aan Mansyur)
19. Arsitektur Yang Lain (Avianti Armand) Baca Ulang
20. Mencari Setangkai Daun Surga (Anton Kurnia)
21. Negara Kelima (E.S Ito) Baca Ulang
22. The Story Book of Just Alvin 2
23. Hatta: Jejak Yang Melampaui Zaman
24. Surga Sungsang (Triyanto Triwikromo)
25. Lapar (Knut Hamsun)
26. Innocent Erendira & Other Stories (Gabriel Garcia Marquez)
27. Memories of My Melancholy Whores (Gabriel Garcia Marquez)
28. Bumi Manusia (Pramoedya Ananta Toer) Baca Ulang
29. Anak Semua Bangsa (Pramoedya Ananta Toer) Baca Ulang
30. Cerita dari Jakarta (Pramoedya Ananta Toer) Baca Ulang
31. Cadas Tanios (Aamin Malouf)
32. Living to Tell the Tale (Gabriel Garcia Marquez)
33. Pangeran Cilik (Antoine de Saint-Exupery)
34. Buku Tentang Ruang (Avianti Armand)
35. Sekali Peristiwa di Banten Selatan (Pramoedya Ananta Toer)
36. Dunia Klai dan Kisah Sehari-Hari (Puthut EA)
37. Orang-Orang Bloomington (Budi Darma)
38. Milea, Suara dari Dilan (Pidi Baiq)
39. Si Cacing dan Kotoran Kesayangannya (Ajahn Brahm) Baca Ulang
40. Dengarlah Nyanyian Angin (Haruki Murakami)
41. Princess, Bajak Laut, dan Alien (Clara Ng, Icha Rahmanti)
42. Mereka Yang Dilumpuhkan (Pramoedya Ananta Toer)
43. Daerah Salju (Yasunari Kawabata)
44. Inferno (Dan Brown)
45. Maukah Kau Menghapus Bekas Bibirnya di Bibirku dengan Bibirmu? (Hamsad Rangkuti)
46. The Da Vinci Code (Dan Brown)
47. The Girl on The Fridge (Etgar Keret)
48. Suddenly A Knock On The Door (Etgar Keret)
49. The Seven Good Years (Etgar Keret)
50. Sadar Penuh Hadir Utuh (Adjie Silarus)
51. Happy Breathing to You (Adjie Silarus)
52. Rectoverso (Dewi Lestari) Baca ulang
Yang belum selesai dibaca:
1. Dari Penjara ke Penjara (Tan Malaka)
2. The Sound and The Fury (William Faulkner)
3. Sutan Sjahrir: Demokrat Sejati, Pejuang kemanusiaan (Rosihan Anwar)
Monday, October 31, 2016
Oleh-oleh dari Graha Pena Jawa Pos: Diskusi Orang-Orang Bloomington bersama Budi Darma
Sebenarnya, diskusi buku Orang-Orang Bloomington dengan Pak Budi Darma ini sudah agak lama. Bulan Agustus lalu. Diskusi ini dilaksanakan di Ruang Semanggi gedung Graha Pena Jawa Pos pada Sabtu siang yang baik. Ruang diskusi, dengan deretan kursi merahnya, tertata dengan rapi dan terasa kesejukan yang bersumber dari AC. Saya mengambil posisi duduk di deretan paling depan sebelah kiri dengan tujuan khusus: supaya bisa melihat Pak Budi Darma lebih dekat. Maklum, itu pertama kalinya saya bertemu beliau. Dan, Ya Tuhan, ternyata beliau adalah orang yang sangat tenang dan teduh, seperti para petapa.
Saya menyusun catatan ini dari catatan sebelumnya yang saya tulis di buku. Saya memang berencana mengetiknya dan mempostingnya di blog ini. Tapi seperti yang kalian tahu, saya adalah pemalas kelas wahid. Jadilah catatan itu ngendon terlalu lama. Namun, karena diskusinya sangat berkesan buat saya, hari ini saya memaksa diri gak tidur lagi setelah subuhan lalu mengetik ini untuk dibagi ke kalian. Adakah di antara kalian yang sudah membaca Orang-Orang Bloomington atau mengidolakan Pak Budi Darma?
***
Orang-Orang Bloomington pertama kali terbit pada tahun 1980. Cerita-cerita di dalamnya ditulis pada akhir tahun 70-an ketika Pak Budi Darma menyelesaikan studi Amerika Serikat. Sebelum membahas kumpulan cerpennya, terlebih dahulu Pak Budi Darma bercerita tentang latar historis di Inggris pada abad ke-17. Cerita tersebut berkaitan erat dengan orang-orang Bloomington.
Pada abad ke-17, di Inggris, terdapat gerakan besar puritanisme. Orang-orang Kristen puritan merasa diri mereka adalah orang-orang Kristen tulen yang bisa berhubungan langsung dengan Tuhan. Dengan demikian, orang lain selain Kristen puritan, adalah kafir. Mereka melakukan tindakan ekstrem terhadap orang-orang Kristen di luar pahamnya. Akibatnya, terjadi bals dendam yang berujung pada perang saudara. Orang-orang Kristen puritan diperangi oleh kristen lainnya sehingga mereka terdesak keluar dari Inggris.
Terdapat tiga kapal yang melakukan pelayaran. Salah satu di antara ketiga kapal itu ada yang sampai di tanah baru, yang diberi nama New England yang kini berkembang menjadi Massachusets. Di tanah baru ini, mereka memerangi suku Indian hingga muncul rencana membunuh suku Indian tersebut dengan jalan menyebarkan penyakit cacar.
Kemudian datang gelombang pendatang berikutnya yang mencintai perdamaian. Mereka mencari kota yang lain hingga menemukan sebuah tanah dengan bunga-bunga yang bermekaran (blooming flowers), yang kemudian disebut dengan Blooming Town. Negara bagiannya disebut Indiana karena mereka bisa berdamai dengan suku Indian. Mereka tidak suka menyakiti dan tidak suka diganggu.
Latar belakang historis itu menjadi bibit sikap orang-orang Bloomington yang sangat menjaga privasi. Sampai tahun 70-an, orang-orang bloomington asli masih ada. Mereka takmau mengganggu dan takmau diganggu. Semua orang menjaga privasi dengan ketat. Akibatnya, timbul alienasi. Mereka hidup bersama tapi taksaling mengenal karena terlalu mengagungkan privasi. Kehidupan orang-orang Bloomington itu memang berjalan sangat tenang tanpa ada yang mengusik.
Untuk menggambarkan betapa tenangnya kota itu, Pak Budi Darma memberikan contoh seorang lelaki tua yang mengendarai mobilnya hanya untuk membeli satu barang di nimimarket. Kemudian lelaki tua itu pulang. Ia lalu pergi lagi untuk membeli satu barang yang lain di tempat yang sama. Tak ada kemacetan. (Di Surabaya sini boroboro bisa hidup kayak gitu? Gak jadi daging gosong di jalan aja udah alhamdulillah). Namun, ketenangan yang terlalu justru sering menimbulkan persoalan. Jika dulu konflik fisik, sekarang konflik batin.
Itulah Bloomington pada tahun 70-an. Tahun ketika cerita-cerita dalam Orang-Orang Bloomington ditulis. Ketujuh cerita yang ada di kumpulan cerpen itu keberadaannya sangat erat. Jika kamu sudah membaca kumpulan cerpen itu, kamu akan paham mengapa Ny. MacMillan, Ny. Nolan, dan Ny. Casper bersikap tak acuh pada orang-orang di sekitarnya, mengapa Ny. Elberhart suka curigaan. Kamu juga akan memaklumi mengapa ada tokoh “saya” yang sungguh kepo dan usil itu. (Oke, kamu yang belum mbaca buku ini, silakan penasaran lalu cari bukunya dan bacalah. Saya gak suka ngasih sinopsis).
Lantas, bagaimana kondisi Bloomington setelah tahun 70-an? Sesudah tahun 70-an, di Bloomington terdapat perusahaan penebangan. Dalam setiap tahun selalu ada perubahan di kota itu. Konflik keluarga menjadikan penambahan jumlah rumah sehingga dalam waktu singkat, kota Bloomington sudah cukup padat.
Selain Pak Budi Darma, ada pembicara lain, seorang dosen dari Unesa: Pak Shoim Anwar. Menurutnya, tidak terdapat jarak kebahasaan dalam cerpen-cerpen Budi Darma. Saya sepakat. Meskipun cerpen-cerpen itu ditulis 36 tahun silam, masih tetap renyah dibaca hari ini. Tak terperangkap dalam satu ruang dan waktu. Berbeda misalnya ketika kita membaca karya-karya Marah Rusli atau Armijn Pane.
Analisis yang dilakukan Pak Shoim ala akademisi banget. Menurutnya, tokoh saya adalah tokoh yang selalu mengalami kegagalan. Kegagalan itu dihitung satu per satu. Dan ternyata, tiap cerita, kegagalan tokoh mencapai puluhan. (Pak Budi Darma ternyata penulis kejam, ya). Konflik terjadi akibat perbenturan antara dunia soliter dan dunia solider. Orang yang super kepo berjumpa dengan orang yang gak pengen dikepoin.
***
Oke, itulah hasil diskusi Orang-orang Bloomington. Saya sudah capek ngetik. Haha.
Saya menyusun catatan ini dari catatan sebelumnya yang saya tulis di buku. Saya memang berencana mengetiknya dan mempostingnya di blog ini. Tapi seperti yang kalian tahu, saya adalah pemalas kelas wahid. Jadilah catatan itu ngendon terlalu lama. Namun, karena diskusinya sangat berkesan buat saya, hari ini saya memaksa diri gak tidur lagi setelah subuhan lalu mengetik ini untuk dibagi ke kalian. Adakah di antara kalian yang sudah membaca Orang-Orang Bloomington atau mengidolakan Pak Budi Darma?
***
Orang-Orang Bloomington pertama kali terbit pada tahun 1980. Cerita-cerita di dalamnya ditulis pada akhir tahun 70-an ketika Pak Budi Darma menyelesaikan studi Amerika Serikat. Sebelum membahas kumpulan cerpennya, terlebih dahulu Pak Budi Darma bercerita tentang latar historis di Inggris pada abad ke-17. Cerita tersebut berkaitan erat dengan orang-orang Bloomington.
Pada abad ke-17, di Inggris, terdapat gerakan besar puritanisme. Orang-orang Kristen puritan merasa diri mereka adalah orang-orang Kristen tulen yang bisa berhubungan langsung dengan Tuhan. Dengan demikian, orang lain selain Kristen puritan, adalah kafir. Mereka melakukan tindakan ekstrem terhadap orang-orang Kristen di luar pahamnya. Akibatnya, terjadi bals dendam yang berujung pada perang saudara. Orang-orang Kristen puritan diperangi oleh kristen lainnya sehingga mereka terdesak keluar dari Inggris.
Terdapat tiga kapal yang melakukan pelayaran. Salah satu di antara ketiga kapal itu ada yang sampai di tanah baru, yang diberi nama New England yang kini berkembang menjadi Massachusets. Di tanah baru ini, mereka memerangi suku Indian hingga muncul rencana membunuh suku Indian tersebut dengan jalan menyebarkan penyakit cacar.
Kemudian datang gelombang pendatang berikutnya yang mencintai perdamaian. Mereka mencari kota yang lain hingga menemukan sebuah tanah dengan bunga-bunga yang bermekaran (blooming flowers), yang kemudian disebut dengan Blooming Town. Negara bagiannya disebut Indiana karena mereka bisa berdamai dengan suku Indian. Mereka tidak suka menyakiti dan tidak suka diganggu.
Latar belakang historis itu menjadi bibit sikap orang-orang Bloomington yang sangat menjaga privasi. Sampai tahun 70-an, orang-orang bloomington asli masih ada. Mereka takmau mengganggu dan takmau diganggu. Semua orang menjaga privasi dengan ketat. Akibatnya, timbul alienasi. Mereka hidup bersama tapi taksaling mengenal karena terlalu mengagungkan privasi. Kehidupan orang-orang Bloomington itu memang berjalan sangat tenang tanpa ada yang mengusik.
Untuk menggambarkan betapa tenangnya kota itu, Pak Budi Darma memberikan contoh seorang lelaki tua yang mengendarai mobilnya hanya untuk membeli satu barang di nimimarket. Kemudian lelaki tua itu pulang. Ia lalu pergi lagi untuk membeli satu barang yang lain di tempat yang sama. Tak ada kemacetan. (Di Surabaya sini boroboro bisa hidup kayak gitu? Gak jadi daging gosong di jalan aja udah alhamdulillah). Namun, ketenangan yang terlalu justru sering menimbulkan persoalan. Jika dulu konflik fisik, sekarang konflik batin.
Itulah Bloomington pada tahun 70-an. Tahun ketika cerita-cerita dalam Orang-Orang Bloomington ditulis. Ketujuh cerita yang ada di kumpulan cerpen itu keberadaannya sangat erat. Jika kamu sudah membaca kumpulan cerpen itu, kamu akan paham mengapa Ny. MacMillan, Ny. Nolan, dan Ny. Casper bersikap tak acuh pada orang-orang di sekitarnya, mengapa Ny. Elberhart suka curigaan. Kamu juga akan memaklumi mengapa ada tokoh “saya” yang sungguh kepo dan usil itu. (Oke, kamu yang belum mbaca buku ini, silakan penasaran lalu cari bukunya dan bacalah. Saya gak suka ngasih sinopsis).
Lantas, bagaimana kondisi Bloomington setelah tahun 70-an? Sesudah tahun 70-an, di Bloomington terdapat perusahaan penebangan. Dalam setiap tahun selalu ada perubahan di kota itu. Konflik keluarga menjadikan penambahan jumlah rumah sehingga dalam waktu singkat, kota Bloomington sudah cukup padat.
Selain Pak Budi Darma, ada pembicara lain, seorang dosen dari Unesa: Pak Shoim Anwar. Menurutnya, tidak terdapat jarak kebahasaan dalam cerpen-cerpen Budi Darma. Saya sepakat. Meskipun cerpen-cerpen itu ditulis 36 tahun silam, masih tetap renyah dibaca hari ini. Tak terperangkap dalam satu ruang dan waktu. Berbeda misalnya ketika kita membaca karya-karya Marah Rusli atau Armijn Pane.
Analisis yang dilakukan Pak Shoim ala akademisi banget. Menurutnya, tokoh saya adalah tokoh yang selalu mengalami kegagalan. Kegagalan itu dihitung satu per satu. Dan ternyata, tiap cerita, kegagalan tokoh mencapai puluhan. (Pak Budi Darma ternyata penulis kejam, ya). Konflik terjadi akibat perbenturan antara dunia soliter dan dunia solider. Orang yang super kepo berjumpa dengan orang yang gak pengen dikepoin.
***
Oke, itulah hasil diskusi Orang-orang Bloomington. Saya sudah capek ngetik. Haha.
Saturday, October 29, 2016
surat yang tak terkirim #2
Sore tadi, seusai pelajaran, seorang siswa mendatangiku. Dia menyodorkan ponsel pintarnya lalu menunjukkan sebuah sajak milik W.S Rendra, berjudul "Khotbah".
Dia sedikit bingung mengapa ada ca ca ca dan ra ra ra dalam beberapa bait. Kami lalu mendiskusikan sajak itu sembari kuceritakan pertemuanku dengan sang penyair saat dirinya dulu menerima Doctor Honoris Causa di kampus. Siswa itu tampak kecewa mengapa sang penyair keburu meninggal.
Ngomong-ngomong soal Rendra, aku jadi teringat diriku sendiri di masa lalu. Ada suatu masa ketika dinding kamarku penuh foto Rendra. Lalu tibalah masa ketika beberapa foto Rendra itu terpaksa diturunkan karena diganti foto Nicholas Saputra.
Akupun jadi ingat kau. Sependek ingatanku, kau sangat mengidolakan sastrawan besar itu. Ya sajak-sajaknya, ya drama-dramanya.
Hei, kau. Mengapa pesan yang kukirim hanya centang satu?
Aku meyakinkan diriku bahwa kau tak mungkin memblokir nomorku. Semoga kau hanya tak sempat menyentuh ponselmu. Semoga kau sedang sangat sibuk. Sibuk berbahagia.
Dia sedikit bingung mengapa ada ca ca ca dan ra ra ra dalam beberapa bait. Kami lalu mendiskusikan sajak itu sembari kuceritakan pertemuanku dengan sang penyair saat dirinya dulu menerima Doctor Honoris Causa di kampus. Siswa itu tampak kecewa mengapa sang penyair keburu meninggal.
Ngomong-ngomong soal Rendra, aku jadi teringat diriku sendiri di masa lalu. Ada suatu masa ketika dinding kamarku penuh foto Rendra. Lalu tibalah masa ketika beberapa foto Rendra itu terpaksa diturunkan karena diganti foto Nicholas Saputra.
Akupun jadi ingat kau. Sependek ingatanku, kau sangat mengidolakan sastrawan besar itu. Ya sajak-sajaknya, ya drama-dramanya.
Hei, kau. Mengapa pesan yang kukirim hanya centang satu?
Aku meyakinkan diriku bahwa kau tak mungkin memblokir nomorku. Semoga kau hanya tak sempat menyentuh ponselmu. Semoga kau sedang sangat sibuk. Sibuk berbahagia.
Subscribe to:
Posts (Atom)
Aktor Bermata Ngantuk Itu
Dia aktor Korea. Dulu saya menyebutnya sebagai aktor bermata ngantuk. Tapi saya tidak membuat saya sepenasaran itu untuk mencarinya di goog...
-
: sebuah penjelajahan awal Kajian Homi K. Bhabha selain banyak dipengaruhi oleh teoretisi pascastrukturalis seperti Jacques Derrida, Miche...
-
Judul : Bilangan Fu Penulis : Ayu Utami Penerbit : Kepustakaan Populer Gramedia Tahun terbit : 2018 (Cet. 2) Parang Jati, K...
-
Saya sedang duduk-duduk di bonbin menghabiskan sore sambil nyedot es coffeemix. Di depan saya duduk seorang mahasiswi yang kalau dilihat dar...