Ia menyukai musikalisasi puisi, kekasihnya tidak. Kekasihnya sering menggerutu karena menurutnya, musikalisasi puisi “merusak” puisi. Ia tentu saja membantah. Toh musikalisasi puisi lebih mudah disebarluaskan, diingat, dan disukai. Di mana letak perusakannya?
Hari-hari berlalu. Perdebatan itu tak pernah sengit. Ia, seperti biasanya, masih mendengarkan dan menikmati musikalisasi puisi.
Suatu malam setelah melakukan perjalanan dan masih enggan kembali ke kos, ia dan kekasihnya memutuskan mampir ke toko buku. Kekasihnya ingin membeli buku puisi pertama Sapardi Djoko Damono, “Duka-Mu Abadi”, yang dicetak ulang.
Kebetulan di depan toko buku itu ada bangku di pingir jalan. Mereka membacanya di sana. Kekasihnya mengecek ingatannya pada puisi-puisi di buku itu. Hanya beberapa yang masih lekat. Membuka-buka buku puisi itu. Ia menggerutu pada desain isinya yang dianggapnya tak bersimpati pada pohon-pohon.
Selanjutnya, ia tercenung sebelum akhirnya mengumpat-ngumpat sialan. Ia menghafal beberapa puisi Sapardi itu dari musikalisasi puisi Ari-Reda. Dan malam itu ia baru menyadari, banyak hal yang diabaikannya. Ia pun mengerti mengapa kekasihnya sering menganggap musikalisasi merusak puisi.
Ia memang hafal puisi-puisi, tetapi lebih sebagai lirik. Sama seperti lagu-lagu lainnya. Akan sangat kecil kemungkinan orang yang sudah nyaman mendengarkan musikalisasi puisi untuk mencari tahu bentuk puisi aslinya. Akibatnya, aspek-aspek topografi, penggunaan huruf kapital, pembubuhan tanda baca, pemenggalan baris, mutlak diabaikan. Padahal, semua itu adalah aspek signifikan dalam puisi. Penyair membikinnya bukan tanpa perhitungan.
Semua pemahamannya malam itu ia sampaikan pada kekasihnya. Kekasihnya tersenyum, sedikit mengejek dan seolah berkata “Kok bisa kamu nggak menyadari itu dari dulu?”
Mau tak mau pandangannya pada musikalisasi puisi pun berubah. Namun, ia tak lantas membenci musikalisasi. Tidak. Ia masih menikmatinya sampai sekarang.
Thursday, November 21, 2019
Saturday, October 19, 2019
Puisi-Puisi, Ia, dan Kekasihnya
Hari ketika ia dilanda murung lantaran datang bulan, kekasihnya mencoba menghibur dengan mengajaknya bermain tebak-tebakan puisi. Kekasihnya mengucapkan satu baris puisi, ia melanjutkan. Begitu seterusnya. Bergantian sampai baris terakhir.
Kekasihnya memulainya dengan “Cemara menderai sampai jauh”.
Tebak-tebakan itu romantis sekaligus menantang. Ia—dan kadang kekasihnya—membutuhkan beberapa detik untuk mengingat baris selanjutnya. Yang melakukan kesalahan dihukum. Meski itu hukuman yang menyenangkan, ia dan kekasihnya tak mau sengaja menyalah-nyalahkan.
Ia dan kekasihnya agak menyesal mendapati diri mereka melupakan beberapa baris puisi yang dulu mereka hafal di luar kepala. “Senja di Pelabuhan Kecil”, “Kepada Kawan”, dan yang lainnya. Bagaimana bisa mereka lupa? Tidak sebenar-benarnya lupa memang, tetapi kenyataan bahwa mereka tersendat-sendat mengucapkannya itu sudah kemunduran luar biasa.
Ia dan kekasihnya mencoba puisi-puisi yang lain, puisi-puisi Goenawan Mohamad dan Subagio Sastrowardojo, misalnya. Sama saja. “Di Beranda ini Angin Tak Kedengaran Lagi”, “Asmaradana”, “Dingin tak Tercatat”. Mereka terbata-bata.
Lalu mereka merenung-renung. Sejak kapan itu terjadi? Barangkali sejak mereka digerus rutinitas. Tenggelam dalam kerja. Ditambah lagi seringnya mengandalkan mesin pencari di internet. Ingatan pun semakin melemah.
Itu tak bisa dibiarkan. Mereka bertekad belajar lagi dan tak memanjakan diri pada mesin pencari. Mereka paham betul, puisi memang tak untuk dihapalkan, tapi dirasakan. Dan mungkin masih bisa dirasakan kendati baris-barisnya banyak yang terlupakan. Namun, keduanya sudah bertekad. Jika sudah demikian, tak ada yang mampu menghalangi.
Dan suatu hari ia dan kekasihnya akan memainkan tebak-tebakan itu lagi.
Kekasihnya memulainya dengan “Cemara menderai sampai jauh”.
Tebak-tebakan itu romantis sekaligus menantang. Ia—dan kadang kekasihnya—membutuhkan beberapa detik untuk mengingat baris selanjutnya. Yang melakukan kesalahan dihukum. Meski itu hukuman yang menyenangkan, ia dan kekasihnya tak mau sengaja menyalah-nyalahkan.
Ia dan kekasihnya agak menyesal mendapati diri mereka melupakan beberapa baris puisi yang dulu mereka hafal di luar kepala. “Senja di Pelabuhan Kecil”, “Kepada Kawan”, dan yang lainnya. Bagaimana bisa mereka lupa? Tidak sebenar-benarnya lupa memang, tetapi kenyataan bahwa mereka tersendat-sendat mengucapkannya itu sudah kemunduran luar biasa.
Ia dan kekasihnya mencoba puisi-puisi yang lain, puisi-puisi Goenawan Mohamad dan Subagio Sastrowardojo, misalnya. Sama saja. “Di Beranda ini Angin Tak Kedengaran Lagi”, “Asmaradana”, “Dingin tak Tercatat”. Mereka terbata-bata.
Lalu mereka merenung-renung. Sejak kapan itu terjadi? Barangkali sejak mereka digerus rutinitas. Tenggelam dalam kerja. Ditambah lagi seringnya mengandalkan mesin pencari di internet. Ingatan pun semakin melemah.
Itu tak bisa dibiarkan. Mereka bertekad belajar lagi dan tak memanjakan diri pada mesin pencari. Mereka paham betul, puisi memang tak untuk dihapalkan, tapi dirasakan. Dan mungkin masih bisa dirasakan kendati baris-barisnya banyak yang terlupakan. Namun, keduanya sudah bertekad. Jika sudah demikian, tak ada yang mampu menghalangi.
Dan suatu hari ia dan kekasihnya akan memainkan tebak-tebakan itu lagi.
Saturday, August 24, 2019
1Q84, Ia, dan Kekasihnya
1Q84 adalah tiga jilid novel karya Haruki Murakami yang dibacanya bersama kekasihnya. Sepertinya baru pertama kali ini ia punya partner membaca yang sungguh-sungguh. Ia senang dan tertantang. Novel jilid pertama didapatnya dari penerbit, bingkisan suatu perlombaan. Didorong rasa penasaran akan kelanjutan ceritanya, jilid kedua dibelinya di toko buku di Kota Baru. Lalu kekasihnya membeli jilid yang ketiga, di toko buku yang sama.
Ia dan kekasihnya membaca secara bergantian. Kadang ia duluan, kadang kekasihnya duluan. Peraturan yang mereka sepakati adalah tak boleh menyinggung isi buku ketika salah satu di antara mereka belum selesai membaca. Meski kadang kesepakatan itu sering dilanggar. Dalam hal kecepatan membaca, ia kalah telak dari kekasihnya. Kekasihnya punya daya baca yang melebihi dirinya. Jika ia mudah sekali teralihkan fokusnya, kekasihnya tidak demikian. Tapi bukan itu yang membuatnya jengkel.
Dalam proses pembacaan ketiga jilid novel itu, ia dan kekasihnya sering berdiskusi atau berdebat: mengapa satu tokoh melakukan ini dan bukan itu, mengapa sudut pandangnya sering tidak konsisten, dan lain-lain. Kekasihnya adalah lawan debat yang mumpuni. Itu membuatnya bergairah. Tak hanya itu, kekasihnya punya daya jangkau yang jauh pada logika cerita. Kekasihnya, misalnya, bisa menebak suatu peristiwa kunci yang ada dalam jilid tiga padahal mereka baru membaca jilid pertama. Hampir semua tebakan kekasihnya pada tokoh dan alur, tak meleset.
Itulah yang membuatnya jengkel. Ia belum punya jangkauan sejauh itu. Selama ini ia baru menyadari, ia hanya sebagai penikmat cerita dan sedikit mengkritik jika diperlukan. Ia memang pengingat yang baik pada detail dan punya kecermatan pada logika cerita, tapi ia harus mengakui, jangkauannya masih belum jauh. Sepertinya, dalam hal membaca, ia memang harus belajar banyak dari kekasihnya. Ia harus naik level, kuantitas dan kualitas.
Novel itu memang bukan novel Murakami pertama yang ia dan kekasihnya baca. Namun, Ia dan kekasihnya terkesan pada beberapa tokoh dalam novel itu. Juga terkesan pada cara bercerita Murakami yang sederhana tapi memikat. Ada kalimat-kalimat dalam novel yang sampai sekarang masih mendengung di benak keduanya.
Karena itu, ia dan kekasihnya akan melanjutkan membaca novel-novel Haruki Murakami yang lain. Sip.
Ia dan kekasihnya membaca secara bergantian. Kadang ia duluan, kadang kekasihnya duluan. Peraturan yang mereka sepakati adalah tak boleh menyinggung isi buku ketika salah satu di antara mereka belum selesai membaca. Meski kadang kesepakatan itu sering dilanggar. Dalam hal kecepatan membaca, ia kalah telak dari kekasihnya. Kekasihnya punya daya baca yang melebihi dirinya. Jika ia mudah sekali teralihkan fokusnya, kekasihnya tidak demikian. Tapi bukan itu yang membuatnya jengkel.
Dalam proses pembacaan ketiga jilid novel itu, ia dan kekasihnya sering berdiskusi atau berdebat: mengapa satu tokoh melakukan ini dan bukan itu, mengapa sudut pandangnya sering tidak konsisten, dan lain-lain. Kekasihnya adalah lawan debat yang mumpuni. Itu membuatnya bergairah. Tak hanya itu, kekasihnya punya daya jangkau yang jauh pada logika cerita. Kekasihnya, misalnya, bisa menebak suatu peristiwa kunci yang ada dalam jilid tiga padahal mereka baru membaca jilid pertama. Hampir semua tebakan kekasihnya pada tokoh dan alur, tak meleset.
Itulah yang membuatnya jengkel. Ia belum punya jangkauan sejauh itu. Selama ini ia baru menyadari, ia hanya sebagai penikmat cerita dan sedikit mengkritik jika diperlukan. Ia memang pengingat yang baik pada detail dan punya kecermatan pada logika cerita, tapi ia harus mengakui, jangkauannya masih belum jauh. Sepertinya, dalam hal membaca, ia memang harus belajar banyak dari kekasihnya. Ia harus naik level, kuantitas dan kualitas.
Novel itu memang bukan novel Murakami pertama yang ia dan kekasihnya baca. Namun, Ia dan kekasihnya terkesan pada beberapa tokoh dalam novel itu. Juga terkesan pada cara bercerita Murakami yang sederhana tapi memikat. Ada kalimat-kalimat dalam novel yang sampai sekarang masih mendengung di benak keduanya.
Karena itu, ia dan kekasihnya akan melanjutkan membaca novel-novel Haruki Murakami yang lain. Sip.
Sunday, May 19, 2019
Momen Puitik
Kejadian ini sudah bertahun-tahun lalu, sebenarnya. Tapi beberapa peristiwa atau kejadian sepertinya punya cara sendiri untuk bertahan lama di ingatan. Mungkin karena kejadian ini tak hanya berkesan buat saya, tapi juga bermakna dalam.
Hari itu jelas weekend. Karena hanya pada weekendlah kami bisa pergi bersama-sama. Kami pergi ke Magelang untuk silaturahmi ke rumah teman yang habis lahiran. Kami naik motor rame-rame. Perjalanan lancar jaya. Tapi tak disangka-sangka hujan pun turun. Cukup deras. Padahal gak mendung sama sekali. Kami pun memutuskan untuk berteduh. Kalau gak salah itu di bangunan kosong dan terbengkalai. Jumlah kami waktu itu cukup banyak sehingga kami pun rada berisik.
Nah, di sana ternyata sudah ada seorang penjual eskrim keliling yang juga berteduh. Sambil nunggu hujan reda, kami pun beramai-ramai beli eskrim itu. Hujan dan nyemil eskrim bukanlah kombinasi yang buruk. Saya masih ingat, kami menghabiskan eskrim itu sambil foto-foto. Tak berapa lama, hujan pun reda. Kami melanjutkan perjalanan.
Namun, tak ada seratus meter hari tempat kami berteduh tadi, tak ada bekas-bekas turunnya hujan. Jalanan kering kerontang. Padahal hujan di sana tadi cukup deras. Oke, hujan lokal memang biasa saja. Saya sering mengalaminya. Tapi hari itu saya tersenyum dan ada yang menghangat di hati saya.
Kenapa? Tentu saya jadi teringat penjual eskrim yang berteduh tadi. Hujan yang buat kami—katakanlah—halangan, buat penjual eskrim adalah berkah.
Kami berteduh dan membeli dagangannya. Rasa-rasanya hujan itu sengaja diturunkan hanya agar kami membeli dagangannya. Puitik sekali.
Sejak saat itu, saya meminimalisasi prasangka buruk terhadap segala yang mungkin saya pikir sebagai halangan. Orang-orang bijak sering bilang, segala sesuatu yang terjadi pasti memiliki alasan. Itu klise memang. Tapi, seberapa sering hal-hal klise justru menampar kita?
Hari itu jelas weekend. Karena hanya pada weekendlah kami bisa pergi bersama-sama. Kami pergi ke Magelang untuk silaturahmi ke rumah teman yang habis lahiran. Kami naik motor rame-rame. Perjalanan lancar jaya. Tapi tak disangka-sangka hujan pun turun. Cukup deras. Padahal gak mendung sama sekali. Kami pun memutuskan untuk berteduh. Kalau gak salah itu di bangunan kosong dan terbengkalai. Jumlah kami waktu itu cukup banyak sehingga kami pun rada berisik.
Nah, di sana ternyata sudah ada seorang penjual eskrim keliling yang juga berteduh. Sambil nunggu hujan reda, kami pun beramai-ramai beli eskrim itu. Hujan dan nyemil eskrim bukanlah kombinasi yang buruk. Saya masih ingat, kami menghabiskan eskrim itu sambil foto-foto. Tak berapa lama, hujan pun reda. Kami melanjutkan perjalanan.
Namun, tak ada seratus meter hari tempat kami berteduh tadi, tak ada bekas-bekas turunnya hujan. Jalanan kering kerontang. Padahal hujan di sana tadi cukup deras. Oke, hujan lokal memang biasa saja. Saya sering mengalaminya. Tapi hari itu saya tersenyum dan ada yang menghangat di hati saya.
Kenapa? Tentu saya jadi teringat penjual eskrim yang berteduh tadi. Hujan yang buat kami—katakanlah—halangan, buat penjual eskrim adalah berkah.
Kami berteduh dan membeli dagangannya. Rasa-rasanya hujan itu sengaja diturunkan hanya agar kami membeli dagangannya. Puitik sekali.
Sejak saat itu, saya meminimalisasi prasangka buruk terhadap segala yang mungkin saya pikir sebagai halangan. Orang-orang bijak sering bilang, segala sesuatu yang terjadi pasti memiliki alasan. Itu klise memang. Tapi, seberapa sering hal-hal klise justru menampar kita?
Sunday, May 5, 2019
Meleleh
Beberapa teman dekat sering bilang kalau saya itu orangnya tatag menghadapi banyak hal, tangguh menghadapi berbagai persoalan dan patah hati. Jarang sekali menangis di depan orang. Mungkin itu tidak salah, tapi tidak utuh. Yang tidak mereka tahu (dan gak harus tahu juga sih) adalah sebenarnya saya mudah sekali mewek kalau….melihat hewan-hewan. Iya, hewan-hewan yang lucu maupun yang buluk. Melihat dengan mata kepala sendiri maupun dari video-video di media sosial. Entah ya, pada hewan-hewan itu seperti ada jiwa yang begitu murni, mata yang meminta dielus-elus.
Mungkin terdengar naif, tapi saya tidak percaya ada hewan yang jahat, meskipun saya pasti akan lari ketakutan kalau melihat ular tak berbisa sekalipun (kata Yuval Noah Harari sih itu karena dari nenek moyang kita pun udah takut kalau ngelihat ular. Genetis gitu jadinya). Seringnya, manusia yang jahat pada hewan-hewan. Itulah sebabnya, jika saya melihat kebaikan manusia pada hewan, mata saya langsung meleleh. Apalagi manusia-manusia yang mendedikasikan hidupnya untuk melindungi hewan-hewan langka. Bersahabat dan berbagi hidup dengan mereka. Pernah gak sih merasakan kebaikan orang lain sampai membuatmu begitu terharu? Nah, kurang lebih begitulah rasanya. Hangat di hati juga di mata.
Hmm..tapi saya bukan vegetarian juga. Artinya, saya masih makan daging hewan. Dalam kepercayaan agama saya, hewan-hewan yang disembelih atas nama Allah akan masuk surga. Mereka senang hidupnya berguna untuk manusia. Semoga itu benar. Sebab saya belum bisa meninggalkan sate klathak atau rawon atau ayam geprek dan makanan enak lainnya. Parang Jati, tokoh yang saya kagumi, tidak memakan daging hewan yang disembelih. Ia hanya makan daging hewan yang diburu. Tapi saya agak lupa apa alasannya.
Fyi, film yang membuat saya nangis kejer adalah Hachiko. Tentang persahabatan manusia dan seekor anjing. Lalu si manusia itu meninggal, si anjing dengan setia menunggu kedatangan sahabatnya. Meskipun tak pernah datang lagi. Saya masih mengingat rasa sedih ketika saya menangisi si hachiko. Tatapan matanya. Gerak tubuhnya. Kalau gak salah, saya nonton film itu dua kali. Sama-sama nangis kejer. Saya belum punya keberanian lagi untuk menonton ketiga kalinya.
Semoga semua hewan-hewan di dunia ini berbahagia :’)
Mungkin terdengar naif, tapi saya tidak percaya ada hewan yang jahat, meskipun saya pasti akan lari ketakutan kalau melihat ular tak berbisa sekalipun (kata Yuval Noah Harari sih itu karena dari nenek moyang kita pun udah takut kalau ngelihat ular. Genetis gitu jadinya). Seringnya, manusia yang jahat pada hewan-hewan. Itulah sebabnya, jika saya melihat kebaikan manusia pada hewan, mata saya langsung meleleh. Apalagi manusia-manusia yang mendedikasikan hidupnya untuk melindungi hewan-hewan langka. Bersahabat dan berbagi hidup dengan mereka. Pernah gak sih merasakan kebaikan orang lain sampai membuatmu begitu terharu? Nah, kurang lebih begitulah rasanya. Hangat di hati juga di mata.
Hmm..tapi saya bukan vegetarian juga. Artinya, saya masih makan daging hewan. Dalam kepercayaan agama saya, hewan-hewan yang disembelih atas nama Allah akan masuk surga. Mereka senang hidupnya berguna untuk manusia. Semoga itu benar. Sebab saya belum bisa meninggalkan sate klathak atau rawon atau ayam geprek dan makanan enak lainnya. Parang Jati, tokoh yang saya kagumi, tidak memakan daging hewan yang disembelih. Ia hanya makan daging hewan yang diburu. Tapi saya agak lupa apa alasannya.
Fyi, film yang membuat saya nangis kejer adalah Hachiko. Tentang persahabatan manusia dan seekor anjing. Lalu si manusia itu meninggal, si anjing dengan setia menunggu kedatangan sahabatnya. Meskipun tak pernah datang lagi. Saya masih mengingat rasa sedih ketika saya menangisi si hachiko. Tatapan matanya. Gerak tubuhnya. Kalau gak salah, saya nonton film itu dua kali. Sama-sama nangis kejer. Saya belum punya keberanian lagi untuk menonton ketiga kalinya.
Semoga semua hewan-hewan di dunia ini berbahagia :’)
Friday, May 3, 2019
Ayam Geprek
Ini sumpah gak penting. Tapi gak papa lah.
Jadi gini, tadi saya pengen makan siang ayam geprek di kantin kampus (bonbin). Nah, saya gak langsung menuruti keinginan saya karena saya harus ke kantor pos dulu buat ngirim-ngirim buku.
Lalu, selepas dari kantor pos, saya mampir ke ruang mahasiswa. Mau nyelesein beberapa pekerjaan. Baru setelah itu makan ayam geprek. Bertemulah saya dengan teman lama.Karena kebaikan hati dan ketampanannya dan kecerdasannya, dia jadi idola cewek-cewek seangkatan, termasuk saya dong. Yaudahlah kami basa-basi tanya kabar dan kegiatan masing-masing. Trus dia bilang mau beranjak duluan dari ruang mahasiswa itu.
Beberapa menit kemudian dia datang lagi dong. Naruh ayam geprek kemasan di meja saya sambil bilang, “ini buat makan sore”. Saya berterima kasih sambil terbengong-bengong. Kok bisa ya? Kan tadi saya gak mbahas sedikit pun tentang makanan, apalagi ayam geprek.Emang rezeki penggemar sholihah wkwkwkwkwk :p
Gak penting ya? Iya. Tapi bodo ah. Saya sudah terlalu banyak kehilangan momen-momen sederhana nan bermakna yang nggak saya tulis. Minimal, saya menuliskan kebaikan orang lain. Dia memang baik ke semua orang. Dan semoga akan selalu baik selama-lamanyaaaaaaa
Dan semoga dia gak baca ini Ya Allaah~
Jadi gini, tadi saya pengen makan siang ayam geprek di kantin kampus (bonbin). Nah, saya gak langsung menuruti keinginan saya karena saya harus ke kantor pos dulu buat ngirim-ngirim buku.
Lalu, selepas dari kantor pos, saya mampir ke ruang mahasiswa. Mau nyelesein beberapa pekerjaan. Baru setelah itu makan ayam geprek. Bertemulah saya dengan teman lama.
Beberapa menit kemudian dia datang lagi dong. Naruh ayam geprek kemasan di meja saya sambil bilang, “ini buat makan sore”. Saya berterima kasih sambil terbengong-bengong. Kok bisa ya? Kan tadi saya gak mbahas sedikit pun tentang makanan, apalagi ayam geprek.
Gak penting ya? Iya. Tapi bodo ah. Saya sudah terlalu banyak kehilangan momen-momen sederhana nan bermakna yang nggak saya tulis. Minimal, saya menuliskan kebaikan orang lain. Dia memang baik ke semua orang. Dan semoga akan selalu baik selama-lamanyaaaaaaa
Dan semoga dia gak baca ini Ya Allaah~
Tuesday, April 30, 2019
27 Steps of May: Berjihad Melawan Trauma*
May, aku menyapamu kemarin sore. Ngelangut dan sakitnya masih kurasakan sampai hari ini. Kemarin itu, di deretan kursi paling belakang, aku sesenggukan. Orang-orang di sebelahku rasanya tidak seketerlaluan aku.
Aku mungkin tidak mengalami apa yang menimpamu, May. Tapi tak sulit bagiku untuk turut merasakan hal-hal traumatik itu. Sakit itu. Kau akan menolak apa pun, warna juga nuansa, yang mengingatkanmu pada kejadiaan itu. Kau akan menolak manusia untuk terlibat dalam zona nyaman yang semakin kau persempit. Kau akan berlindung dalam diam. Memutus komunikasi sama sekali. Karena bercerita adalah siksaan sekali lagi. Kau, mungkin, akan menyalahkan dirimu sendiri dan rasanya ingin mati saja. Orang-orang yang menyayangimu akan menyalahkan dirinya sendiri juga, karena tak mampu melindungimu.
May, konon katanya, melawan rasa sakit hanya akan menyakiti batin. Yang bisa kita lakukan adalah menerima rasa sakit itu. Aku bukan ingin sok menasihati, May. Tentang rasa sakit itu kaulah yang paling tahu. Aku mungkin tak bisa setabah dan sekuat kau. Aku ingin mendekapmu. Mendekap rasa sakit yang kau simpan sendiri bertahun-tahun.
May, yang sedang berjihad melawan trauma, seluka dan sesakit apa pun, jangan berhenti percaya pada kebaikan hati manusia. Maafkan dirimu. Beri ampun pada masa lalu.
*Frasa “berjihad melawan trauma” diambil dari baris puisi Joko Pinurbo, “Kita adalah cinta yang berjihad melawan trauma”.
Aku mungkin tidak mengalami apa yang menimpamu, May. Tapi tak sulit bagiku untuk turut merasakan hal-hal traumatik itu. Sakit itu. Kau akan menolak apa pun, warna juga nuansa, yang mengingatkanmu pada kejadiaan itu. Kau akan menolak manusia untuk terlibat dalam zona nyaman yang semakin kau persempit. Kau akan berlindung dalam diam. Memutus komunikasi sama sekali. Karena bercerita adalah siksaan sekali lagi. Kau, mungkin, akan menyalahkan dirimu sendiri dan rasanya ingin mati saja. Orang-orang yang menyayangimu akan menyalahkan dirinya sendiri juga, karena tak mampu melindungimu.
May, konon katanya, melawan rasa sakit hanya akan menyakiti batin. Yang bisa kita lakukan adalah menerima rasa sakit itu. Aku bukan ingin sok menasihati, May. Tentang rasa sakit itu kaulah yang paling tahu. Aku mungkin tak bisa setabah dan sekuat kau. Aku ingin mendekapmu. Mendekap rasa sakit yang kau simpan sendiri bertahun-tahun.
May, yang sedang berjihad melawan trauma, seluka dan sesakit apa pun, jangan berhenti percaya pada kebaikan hati manusia. Maafkan dirimu. Beri ampun pada masa lalu.
*Frasa “berjihad melawan trauma” diambil dari baris puisi Joko Pinurbo, “Kita adalah cinta yang berjihad melawan trauma”.
Subscribe to:
Posts (Atom)
Aktor Bermata Ngantuk Itu
Dia aktor Korea. Dulu saya menyebutnya sebagai aktor bermata ngantuk. Tapi saya tidak membuat saya sepenasaran itu untuk mencarinya di goog...
-
: sebuah penjelajahan awal Kajian Homi K. Bhabha selain banyak dipengaruhi oleh teoretisi pascastrukturalis seperti Jacques Derrida, Miche...
-
Judul : Bilangan Fu Penulis : Ayu Utami Penerbit : Kepustakaan Populer Gramedia Tahun terbit : 2018 (Cet. 2) Parang Jati, K...
-
Saya sedang duduk-duduk di bonbin menghabiskan sore sambil nyedot es coffeemix. Di depan saya duduk seorang mahasiswi yang kalau dilihat dar...