1. Kura-Kura Berjanggut (Azhari Aiyub)
2. Manjali dan Cakrabirawa (Ayu Utami)
3. A Guide To Health (Mahatma Gandhi)
4. Sebuah Seni Untuk Bersikap Bodo Amat (Mark Manson)
5. Kota-Kota Kecil yang Diangan dan Kujumpai (Raudal Tanung Banua)
6. Museum Masa Kecil (Avianti Armand)
7. Tempat paling Liar di Muka Bumi (Theresia Rumthe dan Willy Johannes)
8. Sapiens (Yuval Noah Harari)
9. Kenang-Kenangan Mengejutkan si Beruang Kutub (Claudio Orrego Vicana)
10. Bagaimana Aku Menulis (Gabriel Garcia Marquez)
11. Tango dan Sadimin (Ramayda Akmal)
12. Estetika Banal- Spiritualisme Kritis (Ayu Utami-Eric Prasetya)
13. Dalam Kobaran Api (Tahar Ben Jelloun)
14. 9 dari 10 Kata dalam Bahasa Indonesia Adalah Asing (Alif Danya Munsyi)
15. Kata-Kata Arab dalam Bahasa Indonesia (Syamsul Hadi)
16. Pelik-Pelik Bahasa Indonesia (J.S. Badudu)
17. Anatomi Rasa (Ayu Utami)
18. Xenoglosofilia (Ivan Lanin)
19. Bidadari yang Mengembara (A.S. Laksana)
20. Hidup Begitu Indah dan Hanya itu yang Kita Punya (Dea Anugrah)
21. Masa Lampau Bahasa Indonesia (Harimurti Kridalaksana)
22. The Silk Worm (Robert Galbraith)
23. Career of Evil (Robert Galbraith)
24. O (Eka Kurniawan)
25. Senyap yang Lebih Nyaring (Eka Kurniawan)
26. Mata Angin dan Seekor Anjing (Faruk)
27. Lelaki dan Ilusi (Mohammad Qadafi)
28. 1Q84 Jilid I (Haruki Murakami)
29. 1Q84 Jilid II (Haruki Murakami)
30. 1Q84 Jilid III (Haruki Murakami)
31. Kisah-Kisah Kebebasan (Ben Okri)
32. Matinya Burung-Burung (Ronny Agustinus [Penerjemah])
33. Berguru pada Pesohor (Muhidin M. Dahlan dan Diana A.V Sasa)
34. Srimenanti (Joko Pinurbo)
35. Hikayat Kebo (Linda Christanty)
36. Seekor Burung Kecil Biru di Naha (Linda Christanty)
37. Bakat Menggonggong (Dea Anugrah)
38. Para Raja dan Revolusi (Linda Christanty)
39. Sapi, Babi, Perang, dan Tukang Sihir (Marvin Harris)
40. Lethal White (Robert Galbraith)
41. Percakapan dengan Kafka (Gustav Janouch)
42. Vegetarian (Han Kang)
43. Sejumlah Masalah Sastra (Satyagraha Hoerip [Ed.])
44. Berbahasa Indonesia dengan Logis dan Gembira (Iqbal Aji Daryono)
45. Aku Ini Binatang Jalang (Chairil Anwar)
46. Duka-Mu Abadi (Sapardi Djoko Damono)
47. Lelucon-Lelucon Ganjil Kiamat Kesusastraan (Roberto Bolano)
48. Orang-Orang Oetimu (Felix K. Nessi)
49. Tigris, Kumpulan Sajak (Goenawan Mohamad)
50. Kawan Lama Ayahmu (Henry Lawson)
Friday, January 3, 2020
Tuesday, December 31, 2019
Tiga Puluh
Seharusnya tulisan ini saya posting tepat pada hari saya berulang tahun yang ketiga puluh, tahun ini. Entah mengapa saya merasa berkeharusan untuk menulis “sesuatu”. Sialnya, apa yang sebaiknya ditulis itu tak kunjung muncul di benak.
Saya, sejujurnya, gamang menyandang usia kepala tiga.
Pramoedya pernah bilang, usia adalah aniaya bagi perempuan. Biasanya, semakin tua fisik perempuan, ia tidak lagi menarik. Keriput dan kendor di sana-sini. Sungguh bukan persoalan itu yang membuat saya risau. Saya akan membantah apa yang dibilang Pram itu dengan ucapan Nawal el Saadawi: aku bangga dengan keriput-keriputku, setiap kerutan di wajahku mengisahkan cerita hidupku. Buat saya, itu sikap diri perempuan yang keren sekali!
Tiga puluh tahun. Lama juga saya hidup. Dulu saya menganggap orang berusia tiga puluh itu sudah matang, untuk tidak menyebutnya tua. Ternyata, setelah saya menjalaninya sendiri, nggak juga. Sikap saya masih sering kekanak-kanakan. Masih labil dan jauh dari bijaksana.
Selama tiga puluh tahun menghirup oksigen, apa yang sudah saya lakukan? Rasanya saya belum melakukan sesuatu yang besar. Masih berapa lama lagi saya diberi kesempatan hidup? Saya tidak tahu.
Dalam rentang tiga dekade ini, banyak hal terjadi. Sebagian berlalu begitu saja, sebagian bertahan lama dalam ingatan. Ingatan-ingatan itu kadang menghangatkan, menyelamatkan pada saat-saat berada di titik rendah, tapi tak jarang juga membikin ngilu.
Saya lupa saat-saat saya masih balita, sepertinya itu kenangan yang khusus hanya bisa dimiliki orang tua saya. Keluarga kami tidak begitu sadar dokumentasi. Saya hanya ingat pernah melihat foto saya saat masih bayi: tengkurap, memakai celana pendek bermotif bintang. Entah kemana perginya foto itu sekarang. Saya tak pernah melihatnya lagi.
Ingatan saya saat TK hanya lamat-lamat. Saya ingat jawaban saya atas pertanyaan guru TK, ikan makan apa? Saya jawab duri ikan. Saya tumbuh dengan pengetahuan itu sebab jika ada kucing di rumah, kakek atau ibu saya memberi bagian duri, tak pernah dagingnya. Daging ikan terlalu berharga untuk dibagi dengan kucing.
Saat sekolah dasar, saya sering digendong bapak ke sekolah kalau hari hujan lantaran saya (dan bapak) tak mau sepatu saya kotor. Saat-saat sekolah menengah pertama saya lalui dengan kerja keras tapi rasanya waktu itu asyik-asyik saja. Musim hujan masih menjadi kekhawatiran tersendiri karena itu tandanya saya harus mendorong sepeda di jalanan yang berlumpur.
Banyak orang bilang SMA adalah masa-masa paling indah. Rasanya itu tak berlaku bagi saya. Saya merasa SMA adalah masa yang sedikit suram. Yang tergambar di ingatan saya adalah suasana sore hari yang mendung di depan ruang teater, daun-daun pohon angsana kering dan rontok. Rasa-rasanya saya pernah jatuh cinta pada orang yang jauh lebih tua dari saya, tapi saya lupa bagaimana persisnya. Itu adalah tahun-tahun ketika saya sering tidur di kelas dan malas sekali belajar. Tapi juga tahun ketika saya mulai menulis puisi, dan pernah juara.
Sebentar, kok saya jadi bikin rangkuman perjalanan hidup gini, sih? Hmmm.
Baiklah. Masa-masa itu rasanya sudah lama berlalu. Kenangan-kenangan yang semoga tetap bertahan dan menghangatkan.
Biasanya, di hari ulang tahunnya, orang akan mengucapkan terima kasih. Seberantakan apa pun hidupnya. Saya pun akan melakukan hal itu.
Saya berterima kasih sudah diberi kehidupan. Tidak mudah bertahan hidup selama tiga puluh tahun ini. Hahaha. Harus mengalami banyak luka dan cinta, menanggung berbagai risiko, juga mengambil keputusan-keputusan sulit dengan sok berani. Alhamdulillah, sejauh ini saya masih diberi keselamatan.
Saya juga berterima kasih karena dilimpahi kasih sayang dari orang-orang yang juga sangat saya sayangi. Tanpa kasih sayang mereka, entah apa jadinya saya. Agak terkesan menye-menye sih, tapi saya termasuk manusia yang percaya pada kekuatan cinta dan kasih sayang. Saya selalu takjub pada kekuatan hati manusia. Saya pernah menyangka hati saya sudah sekeras batu, mati rasa. Tapi nyatanya, hati saya masih bisa meleleh lagi (oleh hati manusia lain). Memang ada hal-hal yang menyedihkan, yang hanya dengan mengingatnya rasanya seperti mengulanginya lagi, tapi banyak juga hal yang membahagiakan.
Kendati begitu, bohong besar kalau ada hal-hal yang tidak saya sesali dalam tiga puluh tahun saya hidup. Saya merasa melakukan banyak kekeliruan. Keputusan-keputusan yang saya ambil dengan gegabah, sering tidak memperhitungkan perasaan orang lain lebih dalam. Saya juga kadang punya pikiran-pikiran buruk pada orang lain. Saya pernah berkeinginan agar orang yang menyakiti saya mengalami hal yang lebih menyakitkan daripada yang pernah saya rasakan, dan lain sebagainya dan lain sebagainya. Saya merasa egois dan jahat. Berlarut-larut menyalahkan diri sendiri. Tapi, bagaimanapun, saya harus menerimanya sebagai sesuatu yang sudah berlalu. Sebagai bagian dari perjalanan hidup saya.
Saya harus bisa memaafkan diri saya sendiri. Ada satu kalimat yang terasa begitu hangat dari Ajahn Brahm: apa pun yang kamu lakukan, pintu hatiku akan selalu terbuka untukmu. Saya pernah mengucapkan kalimat itu untuk orang lain. Meski tak saya ucapkan secara langsung, hanya tekad kuat dalam hati. Kalau dipikir-pikir, rasanya saya keliru. Harusnya saya mengucapkan itu untuk diri saya sendiri, sebelum melakukannya untuk orang lain.
Sekarang, saya ingin bilang pada diri saya sendiri: tidak apa-apa berbuat kesalahan, tidak apa-apa mengulang kebodohan, tidak apa-apa bersedih, tidak apa-apa patah hati berkali-kali pada orang yang sama. Tidak perlu menendang kesedihan. Tidak semestinya menggenggam kebahagiaan. Wahai diri, apa pun yang kamu lakukan, seburuk apa pun kesalahan yang pernah kamu perbuat, pintu hatiku akan selalu terbuka untukmu.
Kepada orang-orang yang pernah berpapasan dalam hidup saya dan tersakiti oleh sikap saya, semoga semua dalam lindungan dan kasih sayang Tuhan, penuh ketenangan batin dan pikiran. Meski tak lagi saling menyapa, semoga semuanya baik-baik saja. Amin.
Selamat menyongsong tiga puluh tahun, Anis Mashlihatin :)
Tuesday, December 10, 2019
Antasida, Ia, dan Kekasihnya
Ia masih sangat kesal pada kekasihnya. Ia pun ngopi sendirian di kedai kopi langganannya. Sewaktu hendak pulang, ia melihat plang K24. Barangkali karena kesal itulah, ia justru selalu teringat kekasihnya. Kakinya mengarahkannya masuk ke apotek itu, membuka pintunya yang selalu berdenting jika dibuka. Lalu ia membeli sebotol antasida. Ia ingat, terakhir bertemu, kekasihnya mengeluhkan lambungnya yang perih. Dulu ia sering membeli antasida itu untuk meredakan asam lambungnya yang parah.
Ia kesal, tapi ia masih mengkhawatirkan kekasihnya.
Ketika menyadari itu, ia menangis lama sekali.
Ia kesal, tapi ia masih mengkhawatirkan kekasihnya.
Ketika menyadari itu, ia menangis lama sekali.
Tuesday, December 3, 2019
Riuh
Jika sedang diliputi amarah, lelah pikiran dan badan, saya kerap membayangkan padang rumput luas yang teduh zonder suara mesin dan manusia. Sinar matahari tidak terik, bahkan cenderung mendung dan saya bisa berbaring di rerumputan itu dengan nyaman. Saya terbaring di sana dengan kedua tangan menyangga kepala. Saya mengenakan pakaian yang longgar dan nyaman sehingga udara sejuk leluasa masuk ke pori-pori saya. Tidak ada orang lain selain saya, juga tak ada binatang yang dikategorikan buas. Saya akan berlama-lama menatap langit. Menggambar gumpalan awan sebentuk hewan-hewan lucu atau wajah-wajah orang yang saya sayangi.
Kenyataannya, suasana menenangkan semacam itu jauh sekali dari jangkauan saya. Saya harus menerima bahwa saya sedang berada di ruangan sempit nan panas dan suara mesin dan manusia bergemuruh, membuat saya ingin menangis.
Ruangan dengan udara yang panas itu masih bisa saya toleransi, tapi tidak dengan keriuhan, keberisikan. Jika sedang lelah, rasa-rasanya indra pendengar saya lebih peka berkali-kali lipat. Rasanya semua gemuruh menyerbu telinga saya.
Saya paling sebal dengan orang-orang yang memutar video dari ponselnya keras-keras ketika berada di warung makan. Saya benci setengah mati dengan sekumpulan cewek (iya, spesifik cewek!) yang nyerocos dengan suara cempreng dan sama sekali tak peduli kalau kecemprengannya mengganggu indra pendengar orang lain. Jika menemui yang seperti itu, saya pasti buru-buru pergi.
Suatu kali, ketika saya dan pacar sedang nongkrong di warkop, kursi di sebelah kami diduduki seorang perempuan yang menelpon dengan suara keras sekali. Pacar saya paham betul, mood saya akan ambyar jika terus-terusan terpapar suara itu. Dengan sigap ia pun mengeluarkan ponsel, memutar musik, dan menyematkan earphone, lalu menyodorkannya kepada saya. Hati saya lumer. Bukan karena earphone yang nyantol di telinga saya, tapi karena tingkahnya yang uwuwu itu. Hehehe.
Saya tidak terlalu suka menyumpal telinga dengan earphone, sebenarnya. Tapi belakangan earphone sering nyantol di telinga saya. Saya memutar lagu-lagu yang slow. Lalu, tanpa sengaja telinga saya tertambat pada sebuah lagu yang tidak hanya nyaman di telinga, tapi juga liriknya sungguh aduhai. Rasanya saya tersedot ke suatu momen sunyi dan lagu itu dinyanyikan hanya untuk saya seorang.
The Sound of Silence, judul lagu itu. Musiknya sederhana. Diciptakan dan dinyanyikan Simon and Garfunkel. Sudah ditulis sekira 50-an (atau 60-an) tahun yang lalu, tapi rasanya masih sangat relevan untuk kondisi saat ini. Saya pertama kali mendengar nama Simon and Garfunkel dari pacar saya sewaktu saya memberitahunya tentang Kings of Convenience. Tapi waktu itu saya tak langsung mencari lagu-lagu mereka.
Lagu itu berputar-putar sepanjang hari di telinga saya. Mendengarkan lagu itu, rasanya saya dibawa pada suasana di padang rumput yang saya gambarkan di awal tulisan ini. Sebuah protes, tapi elegan dan teduh.
Hello darkness, my old friend.
I’ve come to talk with you again.
~
Saya tahu, saya tidak boleh bergantung pada earphone atau pada lagu-lagu. Saya harus berdamai dengan segala keriuhan. Karena ketenangan letaknya bukan di suatu tempat di luar diri, tapi dalam diri. Kejengkelan dan mood saya yang anjlok ketika mendengar suara-suara keras (dan cempreng) itu bukti bahwa saya belum bisa berdamai. Batin saya masih kemrungsung. Saya tahu. Saya akan berlatih pelan-pelan.
Thursday, November 28, 2019
Cormoran Strike
Saya sudah membaca keempat seri buku-buku tebal karangan Robert Galbraith alis J.K Rowling. Keempat buku itu saya pinjam dari teman saya. Buku pertama saya pinjam dari Nilam sewaktu saya masih di Surabaya, ketiga buku yang lain saya pinjam dari Mas Napek yang saya tidak menyangka ternyata dia punya lengkap.
Gabraith mencipta cerita detektif yang digerakkan oleh satu sosok sentral, Cormoran Strike. Sejak buku pertama, sosok ini sudah menarik perhatian saya.
Strike pincang. Kakinya diamputasi karena ledakan bom sewaktu dia masih bergabung dengan militer. Ia mengakhiri kisah cintanya yang sengit setelah menjalin hubungan asmara selama 16 tahun dengan kekasihnya yang aristokrat: Charlotte. Belakangan, mantan tunangannya itu menikah dengan sesama aristrokat dan tengah hamil anak kembar. Setelahnya, ia menjalin hubungan dengan beberapa perempuan, meski tak lama. Belum ada yang sanggup mengaduk-aduk perasaannya seperti yang pernah dilakukan Charlotte.
Strike ditawari berbagai pekerjaan kantoran oleh teman-temannya. Sejenis pekerjaan kantoran yang masih berkaitan dengan dunia militer. Ia menolak. Ia memilih mendirikan biro detektifnya sendiri dari nol. Benar-benar dari nol.
Seperti diakui Robin, partnernya di bironya, Strike mandiri dan tabah, sanggup menyerap trauma dan maju terus meski timpang, siap menghadapi apa pun yang dilontarkan kehidupan ke arahnya tanpa berjengit, tanpa membuang muka. Menolak menyerah pada kesulitan apa pun yang menghadangnya dan siap menanggung risiko.
Strike tak bisa mengabaikan dorongan dirinya untuk memecahkan kasus-kasus di lapangan. Ambisinya sangat besar. Perfeksionis. Tak bisa dibikin penasaran. Tak bisa tenang jika ada kasus yang belum sanggup dituntaskan, meski itu tak begitu penting. Dan memang ia sangat jenius.
Sosok Strikelah yang membuat saya bertahan merampungkan cerita itu sampai halaman terakhir. Belakangan saya menyadari, yang membikin saya tertarik bukan teka-teki kriminalnya, melainkan bagaimana proses Strike memecahkan masalah itu.
Gabraith mencipta cerita detektif yang digerakkan oleh satu sosok sentral, Cormoran Strike. Sejak buku pertama, sosok ini sudah menarik perhatian saya.
Strike pincang. Kakinya diamputasi karena ledakan bom sewaktu dia masih bergabung dengan militer. Ia mengakhiri kisah cintanya yang sengit setelah menjalin hubungan asmara selama 16 tahun dengan kekasihnya yang aristokrat: Charlotte. Belakangan, mantan tunangannya itu menikah dengan sesama aristrokat dan tengah hamil anak kembar. Setelahnya, ia menjalin hubungan dengan beberapa perempuan, meski tak lama. Belum ada yang sanggup mengaduk-aduk perasaannya seperti yang pernah dilakukan Charlotte.
Strike ditawari berbagai pekerjaan kantoran oleh teman-temannya. Sejenis pekerjaan kantoran yang masih berkaitan dengan dunia militer. Ia menolak. Ia memilih mendirikan biro detektifnya sendiri dari nol. Benar-benar dari nol.
Seperti diakui Robin, partnernya di bironya, Strike mandiri dan tabah, sanggup menyerap trauma dan maju terus meski timpang, siap menghadapi apa pun yang dilontarkan kehidupan ke arahnya tanpa berjengit, tanpa membuang muka. Menolak menyerah pada kesulitan apa pun yang menghadangnya dan siap menanggung risiko.
Strike tak bisa mengabaikan dorongan dirinya untuk memecahkan kasus-kasus di lapangan. Ambisinya sangat besar. Perfeksionis. Tak bisa dibikin penasaran. Tak bisa tenang jika ada kasus yang belum sanggup dituntaskan, meski itu tak begitu penting. Dan memang ia sangat jenius.
Sosok Strikelah yang membuat saya bertahan merampungkan cerita itu sampai halaman terakhir. Belakangan saya menyadari, yang membikin saya tertarik bukan teka-teki kriminalnya, melainkan bagaimana proses Strike memecahkan masalah itu.
Thursday, November 21, 2019
Musikalisasi Puisi, Ia, dan Kekasihnya
Ia menyukai musikalisasi puisi, kekasihnya tidak. Kekasihnya sering menggerutu karena menurutnya, musikalisasi puisi “merusak” puisi. Ia tentu saja membantah. Toh musikalisasi puisi lebih mudah disebarluaskan, diingat, dan disukai. Di mana letak perusakannya?
Hari-hari berlalu. Perdebatan itu tak pernah sengit. Ia, seperti biasanya, masih mendengarkan dan menikmati musikalisasi puisi.
Suatu malam setelah melakukan perjalanan dan masih enggan kembali ke kos, ia dan kekasihnya memutuskan mampir ke toko buku. Kekasihnya ingin membeli buku puisi pertama Sapardi Djoko Damono, “Duka-Mu Abadi”, yang dicetak ulang.
Kebetulan di depan toko buku itu ada bangku di pingir jalan. Mereka membacanya di sana. Kekasihnya mengecek ingatannya pada puisi-puisi di buku itu. Hanya beberapa yang masih lekat. Membuka-buka buku puisi itu. Ia menggerutu pada desain isinya yang dianggapnya tak bersimpati pada pohon-pohon.
Selanjutnya, ia tercenung sebelum akhirnya mengumpat-ngumpat sialan. Ia menghafal beberapa puisi Sapardi itu dari musikalisasi puisi Ari-Reda. Dan malam itu ia baru menyadari, banyak hal yang diabaikannya. Ia pun mengerti mengapa kekasihnya sering menganggap musikalisasi merusak puisi.
Ia memang hafal puisi-puisi, tetapi lebih sebagai lirik. Sama seperti lagu-lagu lainnya. Akan sangat kecil kemungkinan orang yang sudah nyaman mendengarkan musikalisasi puisi untuk mencari tahu bentuk puisi aslinya. Akibatnya, aspek-aspek topografi, penggunaan huruf kapital, pembubuhan tanda baca, pemenggalan baris, mutlak diabaikan. Padahal, semua itu adalah aspek signifikan dalam puisi. Penyair membikinnya bukan tanpa perhitungan.
Semua pemahamannya malam itu ia sampaikan pada kekasihnya. Kekasihnya tersenyum, sedikit mengejek dan seolah berkata “Kok bisa kamu nggak menyadari itu dari dulu?”
Mau tak mau pandangannya pada musikalisasi puisi pun berubah. Namun, ia tak lantas membenci musikalisasi. Tidak. Ia masih menikmatinya sampai sekarang.
Hari-hari berlalu. Perdebatan itu tak pernah sengit. Ia, seperti biasanya, masih mendengarkan dan menikmati musikalisasi puisi.
Suatu malam setelah melakukan perjalanan dan masih enggan kembali ke kos, ia dan kekasihnya memutuskan mampir ke toko buku. Kekasihnya ingin membeli buku puisi pertama Sapardi Djoko Damono, “Duka-Mu Abadi”, yang dicetak ulang.
Kebetulan di depan toko buku itu ada bangku di pingir jalan. Mereka membacanya di sana. Kekasihnya mengecek ingatannya pada puisi-puisi di buku itu. Hanya beberapa yang masih lekat. Membuka-buka buku puisi itu. Ia menggerutu pada desain isinya yang dianggapnya tak bersimpati pada pohon-pohon.
Selanjutnya, ia tercenung sebelum akhirnya mengumpat-ngumpat sialan. Ia menghafal beberapa puisi Sapardi itu dari musikalisasi puisi Ari-Reda. Dan malam itu ia baru menyadari, banyak hal yang diabaikannya. Ia pun mengerti mengapa kekasihnya sering menganggap musikalisasi merusak puisi.
Ia memang hafal puisi-puisi, tetapi lebih sebagai lirik. Sama seperti lagu-lagu lainnya. Akan sangat kecil kemungkinan orang yang sudah nyaman mendengarkan musikalisasi puisi untuk mencari tahu bentuk puisi aslinya. Akibatnya, aspek-aspek topografi, penggunaan huruf kapital, pembubuhan tanda baca, pemenggalan baris, mutlak diabaikan. Padahal, semua itu adalah aspek signifikan dalam puisi. Penyair membikinnya bukan tanpa perhitungan.
Semua pemahamannya malam itu ia sampaikan pada kekasihnya. Kekasihnya tersenyum, sedikit mengejek dan seolah berkata “Kok bisa kamu nggak menyadari itu dari dulu?”
Mau tak mau pandangannya pada musikalisasi puisi pun berubah. Namun, ia tak lantas membenci musikalisasi. Tidak. Ia masih menikmatinya sampai sekarang.
Saturday, October 19, 2019
Puisi-Puisi, Ia, dan Kekasihnya
Hari ketika ia dilanda murung lantaran datang bulan, kekasihnya mencoba menghibur dengan mengajaknya bermain tebak-tebakan puisi. Kekasihnya mengucapkan satu baris puisi, ia melanjutkan. Begitu seterusnya. Bergantian sampai baris terakhir.
Kekasihnya memulainya dengan “Cemara menderai sampai jauh”.
Tebak-tebakan itu romantis sekaligus menantang. Ia—dan kadang kekasihnya—membutuhkan beberapa detik untuk mengingat baris selanjutnya. Yang melakukan kesalahan dihukum. Meski itu hukuman yang menyenangkan, ia dan kekasihnya tak mau sengaja menyalah-nyalahkan.
Ia dan kekasihnya agak menyesal mendapati diri mereka melupakan beberapa baris puisi yang dulu mereka hafal di luar kepala. “Senja di Pelabuhan Kecil”, “Kepada Kawan”, dan yang lainnya. Bagaimana bisa mereka lupa? Tidak sebenar-benarnya lupa memang, tetapi kenyataan bahwa mereka tersendat-sendat mengucapkannya itu sudah kemunduran luar biasa.
Ia dan kekasihnya mencoba puisi-puisi yang lain, puisi-puisi Goenawan Mohamad dan Subagio Sastrowardojo, misalnya. Sama saja. “Di Beranda ini Angin Tak Kedengaran Lagi”, “Asmaradana”, “Dingin tak Tercatat”. Mereka terbata-bata.
Lalu mereka merenung-renung. Sejak kapan itu terjadi? Barangkali sejak mereka digerus rutinitas. Tenggelam dalam kerja. Ditambah lagi seringnya mengandalkan mesin pencari di internet. Ingatan pun semakin melemah.
Itu tak bisa dibiarkan. Mereka bertekad belajar lagi dan tak memanjakan diri pada mesin pencari. Mereka paham betul, puisi memang tak untuk dihapalkan, tapi dirasakan. Dan mungkin masih bisa dirasakan kendati baris-barisnya banyak yang terlupakan. Namun, keduanya sudah bertekad. Jika sudah demikian, tak ada yang mampu menghalangi.
Dan suatu hari ia dan kekasihnya akan memainkan tebak-tebakan itu lagi.
Kekasihnya memulainya dengan “Cemara menderai sampai jauh”.
Tebak-tebakan itu romantis sekaligus menantang. Ia—dan kadang kekasihnya—membutuhkan beberapa detik untuk mengingat baris selanjutnya. Yang melakukan kesalahan dihukum. Meski itu hukuman yang menyenangkan, ia dan kekasihnya tak mau sengaja menyalah-nyalahkan.
Ia dan kekasihnya agak menyesal mendapati diri mereka melupakan beberapa baris puisi yang dulu mereka hafal di luar kepala. “Senja di Pelabuhan Kecil”, “Kepada Kawan”, dan yang lainnya. Bagaimana bisa mereka lupa? Tidak sebenar-benarnya lupa memang, tetapi kenyataan bahwa mereka tersendat-sendat mengucapkannya itu sudah kemunduran luar biasa.
Ia dan kekasihnya mencoba puisi-puisi yang lain, puisi-puisi Goenawan Mohamad dan Subagio Sastrowardojo, misalnya. Sama saja. “Di Beranda ini Angin Tak Kedengaran Lagi”, “Asmaradana”, “Dingin tak Tercatat”. Mereka terbata-bata.
Lalu mereka merenung-renung. Sejak kapan itu terjadi? Barangkali sejak mereka digerus rutinitas. Tenggelam dalam kerja. Ditambah lagi seringnya mengandalkan mesin pencari di internet. Ingatan pun semakin melemah.
Itu tak bisa dibiarkan. Mereka bertekad belajar lagi dan tak memanjakan diri pada mesin pencari. Mereka paham betul, puisi memang tak untuk dihapalkan, tapi dirasakan. Dan mungkin masih bisa dirasakan kendati baris-barisnya banyak yang terlupakan. Namun, keduanya sudah bertekad. Jika sudah demikian, tak ada yang mampu menghalangi.
Dan suatu hari ia dan kekasihnya akan memainkan tebak-tebakan itu lagi.
Subscribe to:
Posts (Atom)
Aktor Bermata Ngantuk Itu
Dia aktor Korea. Dulu saya menyebutnya sebagai aktor bermata ngantuk. Tapi saya tidak membuat saya sepenasaran itu untuk mencarinya di goog...
-
: sebuah penjelajahan awal Kajian Homi K. Bhabha selain banyak dipengaruhi oleh teoretisi pascastrukturalis seperti Jacques Derrida, Miche...
-
Judul : Bilangan Fu Penulis : Ayu Utami Penerbit : Kepustakaan Populer Gramedia Tahun terbit : 2018 (Cet. 2) Parang Jati, K...
-
Saya sedang duduk-duduk di bonbin menghabiskan sore sambil nyedot es coffeemix. Di depan saya duduk seorang mahasiswi yang kalau dilihat dar...