Thursday, September 30, 2010

Adalah Dua Bulan yang Nanonano


Aku menyebutnya tamasya di luar angkasa. Bersama enam astronot yang luar biasa keren, jayus, gokil, dan emm rada gak jelas (^_^). Tenang saja, gak perlu khawatir, akan kuperkenalkan siapa mereka, satu per satu.
Well, selama dua bulan kami menempati desa (planet?) Margomulyo, yang ternyata cukup luas dengan 13 dusunnya. Dengan pemandangan alamnya yang elok. Dengan manusia-manusianya yang beragam. Dan kami menikmati berbagai rasa: nano-nano.
Baiklah, terlebih dulu akan kuperkenalkan kawan-kawan seperjuanganku. Kawan-kawanku yang Te Oo Pe Be Ge Te.

Pemuda berambut landak ini (piss, piss) bernama lengkap Dede Nurcahya Purwandi. Biasa dipanggil Dedek (atau Patkay, piss lagi yaaa.hehe). Mahasiswa Hukum 2007. Udah lima tahun di Jogja masih ngaku dari Jakarta. Dia adalah komarsit kami.
Koleksi lagunya seabrek. Dari yang jadul ampe yg up date. Dan punya kecintaan tersendiri terhadap lagu-lagu korea.
Kebetulan wilayah kerjanya adalah Dusun Jingin dan Jamblangan. Dia sangat menikmati lho selama bekerja di dua dusun itu. “Dukuh-dukuhnya ramah,” katanya.
Ternyata, di Margomulyo mendadak dia punya adik laki-laki yang mirip bgt ama dia, namanya Anggoro. Kayak pinang di belah dua (bukan lestari jadi dua).
Pemuda aktif ini ahli KDRT, lho. Maksudnya, ahli hukum tentang KDRT. Makanya dia bikin penyuluhan kepada ibu-ibu PKK tentang hukum KDRT, yang terbilang cukup sukses. Hmmm.
Oya, dialah yang menyebabkan kami semua kecanduan NUgreenteahoney.


Selanjutnya adalah Karrani Septy Fissanandani. Alias Cecept. Gadis periang dan sedikit tomboy ini adalah Mahasiswa Sastra Korea 2007 berdomisili di Blora. Dia bekerja di Dusun Sawahan dan Ngemplaksari. Eh, ternyata di Margomulyo si Cecept itu reinkarnasi dari bu Dukuh Kregolan lho. Hehe. Punya anak namanya Umi. Sekeluarga lahir di bulan September. Ckckck.
Negara yang paling ingin ia kunjugi tentu saja Korea. Dia juga sangat bersemangat tentang segala hal yang berkaitaan dengan perfutsalan. Kabarnya, ia adalah pemain futsal yang handall. Boleh2.
Program andalannya adalah pemutaran film tentang kemerdekaan. Gila! Waktu itu yang datang banyak banget. Mulai dari balita ampe nenek-nenek. Semalam suntuk lagi.
Di pondokan, dia yang paling sering punya banyak makanan. Dan kami suka 


Dialah Yehuda Simanjuntak. Tapi nama bekennya adalah Semar. Alias semi Marsudi. Yup! dia punya kembaran pemuda desa yang bernama Marsudi. Hehehe.
Mahasiswa Teknik Mesin 2006 asal Kalimantan. Dia berkerja di Dusun Daplokan dan Gerjen. Eh, dia punya sweet memory dengan bu dukuh Daplokan lho. cieciee.
Btw, cowok rajin dan bersemangat ini jago banget dalam hal pertukangan. Mulai dari bikin plang, papan pengumuman, sampe benerin jemuran, dia semua yang ngerjain. Kalo gak ada dia, entah apa jadinya. Mungkin sampai hari ini kami belum penarikan (lebay mode on). Dia juga ahli reparasi jam lho. Hee.
So, dalam rangka mendalami bakat pertukangannya, ia memilih program pemugaran gardu ronda. Walhasil, program tersebut berjalan dengan lancar dan sukses tanpa kendala suatu apa pun. ^_^

Gadis manis dari Tangerang ini bernama lengkap Indira Ardanareswari. Panggilannnya: Indi. Mahasiswa Sejarah 2007. Dialah satu-satu anak yang kebagian satu dusun: Sompokan.
Segala hal tentang per-Jepang-an bisa ditanyain ke dia. Dijamin bisa ngalahin ensiklopedia. Selain hoby maen game, ia juga seneng banget liat film-film hantu. Stok filmnya juga banyak bgt. Oya, dia penggila es teh. Udah pada taraf gak bisa hidup tanpa es teh. Heee.
Tak kasih tau ya, diam-diam dia tu punya keahlian dalam hal pidato. Kalo pidato dia udah kayak presiden Indonesia yang ke-5. Hehe. Makanya, pada saat acara tirakatan alias malam 17 Agustusan di kampung dia pidato tentang kemerdekaan Indonesia yang disaksikan oleh seluruh warga. Keren2.
Di pondokan, dia yang paling rajin nyuci piring.


Inilah Antonius Hadiwinata alias Ton Sam Chong. Karena wajah tionghoanya, kami biasa memanggilnya Soe Hok Gie. Heee. Dia adalah mahasiswa Teknik Nuklir 2007. Asal: Jakarta. Pemuda jujur dan baik hati ini (suka menabung lagi) bekerja di Dusun Jumeneng dan Kamal. Dia hoby banget maen game, jago segala jenis game deh. Hoby jalan-jalan juga.
Oiya, dia paling anti ama yang namanya angka 13. Angka keramat, dia bilang. Dia bisa tidur seharian di kamar kalo pas tanggal 13. Hmm. Mungkin seandainya dia jadi kepala seda Margomulyo nee, dusunnya ditambah satu lagi biar jadi empat belas. Hehe.
Selain tampangnya yang lucu mirip doraemon, dia juga punya kantong ajaib yang bisa menampung banyak makanan. Hehehehe
Tapi jangan salah, dialah yang membuat perencanaan jembatan yang menghubungkan dua dusun. Keren khan. Dijamin tu jembatan bakalan kokoh ampe tujuh turunan.


Bapak-bapak, ibu-ibu, jangan salah panggil ya, ini mas lho, bukan mbak. Hehe. Anak ini sering banget jadi korban salah panggil soalnya. Namanya Riza Pahlevi. Perokok ulung ini biasa dipangggil Levi. Tapi dia paling terkenal dengan panggilan Sulevi. ^_^. Wilayahnya kerjanya di Dusun Mriyan dan Mangsel.
Mahasiswa ilmu komunikasi 2007 ini paling jago kalo disuruh bikin desain-desainan. Jago motret juga. Karya agungnya adalah poster tentang kemerdekaan yang kontennya adalah anak-anak dusun Kregolan. Manstap. Tak salah, pemuda yang berasal dari Tangerang ini adalah idola anak-anak kecil.
Selama bulan puasa dia tu ibarat kelelawar. Siang molor. Malem lembur membasmi kejahatan (emang super hero? wkwkwk). Sampai saat ini belum ada yang bisa ngalahin rekor tidurnya. Dari pagi ampe sore!
Di pondokan, dia adalah tukang bikin teh. Teh bikinannya maknyuus.


Wah, jadi gak enak nih menceritakan diri sendiri. Baiklah, namaku Anis Mashlihatin [nama belakangku ini sering banget dibuat pelesetan ama anak-anak yg laen :<]. Mahasiswa Sastra Indonesia 2007. Asal: Tuban. Wilayah kerjaku di Dusun Kregolan dan Kasuran. Dua dusun yg sangat menyenangkan.
Oya, gara2 terobsesi dengan dunia luar angkasa, selama dua bulan lagu yang kuputar adalah “sepasang kekasih yang pertama bercinta diluar angkasa”. Itu doank. Bisa kupastikan enam orang temanku yang lucu-lucu itu udah muntah-muntah ama tuh lagu. Udah masuk ruang bawah sadar mereka juga kayaknya. Hore2.
Program yang paling kusenangi adalah ngajar TPA. Soalnya anak-anaknya asyik.
Di pondokan, aku paling sering dianiaya komarsit dalam segala hal yang berhubungan dengan pengetikan.

Banyak hal yang kami alami. Banyak peristiwa yang kami lalui. Ada asemnya, ada manisnya,
pahitnya juga ada. Nanonano. Mulai dari bikin program, rapat, begadang, nanem padi di sawah, bangun pagi yang cuma dua hari (selebihnya bangun siang banget), maen pokker (untuk yang satu ini, suatu saat aku pasti bisa mengalahkan kalian semua!), nonton film bareng, pergi ke kepala sapi, shopping di lestari, berantem, diem-dieman, masukin piring kotor di kamar, maen polisi-maling (aku pengen maen ini lagi), ngegame, bikin laporan, de el el.

Teman-temanku yang kusayangi,
Terimakasih, untuk dua bulan yang penuh warna, kalian telah melengkapi warna bianglalaku.
Maaf, telah menyiksa telinga kalian dengan lagu yang itu-itu saja.
Maaf banget, tanpa sepengetahuan kalian, lagu itu sudah kumasukkan di laptop kalian masing-masing. Hehehe.
Semoga kita bisa bertemu lagi dalam keadaan yang lebih berbahagia.


Salam,
-Ann-

Friday, June 18, 2010

Barangkali Aku Terlalu Mencintai Pram..

Ya, barangkali aku terlalu mencintai Pram. Pramoedya Ananta Toer. Tak perlu kusebutkan siapa dia. Aku hendak berbaik sangka bahwa semua orang telah mengenalnya.

Awal pertemuanku dengannya adalah Bumi Manusia. Menghabiskan malam bersamanya sungguh menggairahkan. Aku pun terlibat cinta pada pandangan pertama. Cinta yang membuatku memburu segalanya tentang dia. Mulai dari membaca sambil berdiri di Gramedia. Berjam-jam. Berhari-hari. Tentu saja diawali dengan membredel bungkus plastiknya. Aku kembali dan kembali lagi.

Yang pertama kumiliki adalah Gadis Pantai. Kemudian Jejak Langkah. Lalu Rumah Kaca. Arus Balik. Pramoedya Ananta Toer dari Dekat Sekali. Pramoeya Ananta Toer dalam Kata dan Sketsa. Perawan Remaja dalam Cengkraman Militer. Kemudian Jalan Raya Pos Jalan Daendles, Bukan Pasar Malam, Larasati, Cerita Calon Arang, Sekali Peristiwa di Banten Selatan, Panggil Aku Kartini Saja, Midah Si manis Bergigi Emas, Bumi Manusia, Arok Dedes, dan Realisme Sosialis dan Sastra Indonesia. Yang kubeli sekaligus, dari uang beasiswa. Buku terakhir yang kubeli, tepatnya ku fotocopy, adalah Nyanyi Sunyi Seorang Bisu 1&2.

Hmm.. Aku bukan shopaholic. Dan ini bukan pengakuan seorang gadis yang gila belanja buku.

Barangkali aku terlanjur mencintai Pram. Hingga semua yang mengetuk pintu hatiku selalu kubandingkan dengannya. Dan, belum ada yang bisa mengalahkannya. Belum ada yang bisa membuatku tidak bisa berhenti membaca, selain dia. Kecintaanku ku realisasikan untuk tugas-tugas kuliah. Aku menulis beberapa tentang dia. Hasilnya: cukup memuaskan (^_^)

Dan ketika membaca aku sering bergumam “andai saja yang menulis adalah Pram, pasti beda, pasti lebih asyik, dan sejumlah pasti-pasti yang lain.

Kekesalanku memuncak ketika membaca sebuah buku (yang konon rencananya adalah sebuah tetralogi) yang, maaf, kunilai sangat membosankan! Buku yang terpaksa kubaca sampai selesai karena tugas kuliah. Untung saja buku kedua tak selebay buku pertama. Dan tentu saja aku tak akan menyebutkan judulnya. Aku tak ingin penerbitnya menangis dan mendatangiku karena bukunya tak laku. Oh, No! Aku tak sejahat itu, bukan?

Barangkali aku hanya menyangka telah mencintai Pram. Ah, mungkin saja!

Sunday, June 13, 2010

PERCAKAPAN SEDERHANA

Saat ini kau benar-benar ingin mengeluarkan semua isi hatimu. Setelah sekian lama kau simpan dan ingin kau keluarkan. Tapi, kau belum menemukan kotak yang sesuai, bukan?

Kau ingin mengeluarkan semua unek-unekmu pada orang yang sama sekali belum kau kenal. Pada orang yang kau jumpai di sebuah stasiun kereta.
Dan, oh Tuhan, orang itu benar-benar ada. Dan akhirnya kalian naik kereta yang sama, pada sebuah sore yang sederhana. Kau duduk di dekat jendela, bersebelahan dengannya. Dan kalian pun ngobrol layaknya kawan lama. Entah mengapa kau merasa sangat nyaman dengannya. Hmm.

Mungkin terdengar sangat egois. Orang yang belum kau kenal kau jejali dengan seonggok kekesalanmu. Tentang seseorang yang tiba-tiba meninggalkanmu. Tentang buku-bukumu yang hilang. Dan tentang hujan yang tak kunjung datang.

Hmm. Kau menikmatinya. Okey, kau menikamatinya. Tak peduli dia tak suka. Kau hanya ingin didengarkan, bukan? Setelah itu kau akan membiarkan dia pergi. Kau tidak ingin bertemu dengannya lagi. Cukup sore itu saja. Dan kau merasa lega.

Di stasiun berikutnya kau berharap akan menemukan orang yang berbeda. Dan kau akan mulai bercerita.

Wednesday, March 31, 2010

Travel& Adventure Photo-Etnofoto: Tentang Don Hasman yang Mencintai Dewi Saraswati

27 Maret 2010: Wow! amat sangat beruntung karena saya mendapat sms dari mas Alvein bahwa besok jam 9 pagi di Pusat Studi Asia Pasifik UGM ada diskusi bareng Don Hasman (Oom Don) tentang Travel & Adventure photo, Etnofoto. Awalnya, saya memang sempat ragu untuk datang, takut gak mudeng. Saya kan gak tahu seluk beluk dunia fotografi. Tapi bodo amat! Saya tidak mau menyia-nyiakan kesempatan. Saya akan datang ^_^

28 Maret 2010
Kira2 pukul 09.45. Salah satu ruangan di Pusat Studi Asia Pasifik sudah penuh oleh pengunjung. Ternyata diskusi sudah dimulai beberapa menit yang lalu. Hmm, saya telat. Tapi tak apalah. Saya pun buru2 mencari kursi yang masih kosong. Di bagian depan telah duduk Oom Don yang pagi itu memakai kaos motif belang2 biru.

Sebagai permulaan, Oom Don berbicara tentang etnofoto. Ternyata dalam menekuni etnofotografi, dibutuhkan sebuah pendekatan khusus. Oom Don, yang menghabiskan 35 tahun untuk mempelajari suku Baduy, bahkan perlu delapan tahun lamanya untuk melakukan pendekatan kepada suku itu. Juga perlu pengorbanan habis-habisan, soalnya menyangkut wilayah pribadi seseorang atau kelompok. Diakui Oom Don, ini memang sulit. Kesulitannya menempati urutan kedua setelah memotret dibawah air dan satwa di alamnya. Kalau memotret di bawah air,seorang fotografer harus lebih hebat dari penyelam, karena selain nyelam ya harus motret juga..

Pukul 10.00. Oom Don berniat memperlihatkan gambar-gambarnya. Kemudian LCD yg tadinya miring dibenarkan letaknya. Operator dan Oom Don pun mencari data2. Ini, itu,eh..bukan2..ya, ya ini… Ternyata foto yang ingin diperlihatkan tidak bisa dibuka. Si Oom minta maaf. Tapi kemudian beralih ke travel foto ketika Oom Don ziarah ke Santiago, Spanyol.

Beberapa saat kemudian screen pun menampakkan gambar. Oom Don menjelaskan satu persatu. Gambar yang pertama kali muncul adalah seseorang yg membawa ransel dipunggungnya. Yang sedang memulai perjalanan. Perjalanan harus dilakukan paling lambat jam setengah tujuh pagi. Karena petugas akan mempersiapkan peziarah yang lain juga. Gambar yg diperlihatkan kebanyakan di hutan dan jalan setapak. Tidak perlu khawatir bakalan kesasar, soalnya sudah diberi tanda.

Gila! Ternyata dalam peziarahan tersebut Oom Don hanya memerlukan 35 hari untuk melakukan perjalanan 1000 km. Tapi, kata OOm Don, persiapannya 10 tahun. Oom Don menambahkan, seseorang yang akan melakukan perjalanan sebaiknya melakukan riset dulu. “Jadi kalau kemana-mana yang terbaik adalah risetnya, agar Anda tahu apa yang akan Anda hadapi. Paling tidak separuhnya kita sudah tahu. Yang belum kita tahu, anggap saja bonus” tambah Oom Don dengan tawanya. Tambahnya lagi, seorang fotografer juga dituntut untuk selalu aktif, kreatif, dan berbeda. Dan mengacu pada sesuatu yang baru dan baik, bahkan kalau bisa yang terbaik.

Kemudian gambar yang tampak di screen adalah sepatu yg bagian alasnya sudah mulai terkelupas. “Wah, kalau di Indonesia ini masih bisa disol,hehehe” kelakar Oom Don. Ternyata sepatu juga memegang peranan penting dalam perjalanan seseorang. Kalau kaki lecet ketika dalam perjalanan, urusannya bisa panjang. Bisa masuk rumah sakit juga dan menghabiskan biaya 30an juta. Lecet itu terjadi akibat gesekan. Orang Jepang, setelah perang dunia II, kakinya diplaster untuk menghindari gesekan, kata si Oom. Oom Don juga memperlihatkan gambar kaki yang diplaster.

Dalam ziarah Santiago, ada juga peziarah yang bersepeda, tapi yang diutamakan adalah peziarah yang jalan kaki. Peziarah bersepeda ibarat kata peziarah kelas dua. Dalam satu tahun bisa mencapa 125-150 ribu peziarah. Omm Don bilang, tahun ini adalah tahun suci karena tgl 25 Juli jatuh pada hari minggu. Bisa ribuan orang yang datang.
Dalam perjalanan, para peziarah bisa mengambil makanan sesukanya yang disediakan oleh penduduk. Buah-buahan yang ditanam juga boleh diambil sesukanya. Air juga ada dimana-mana. Kalau kehabisan uang juga boleh mengambil secukupnya di kotak uang. Mau menyumbang juga silakan. “ Dan disana,” kata Oom Don,” orang-orangnya baik, tidak ada perbedaan ras dan agama.”

Kemudian tampak pula gambar-gambar gereja katedral yang megah dengan para pastornya yang memakai gaun merah tua. Secara bergiliiran muncul pula gambar taman kota, kapel, jembatan, jalan raya, bunga liar, pemakaman, peternak, dan rumah-rumah di pedesaan yang banyak bunganya. Juga ada beberapa gambar tentang suasana makan yg penuh keakraban, suasana malam, dan senja yg TOP bangett. Ternyata fotonya gak habis2. Masih banyak banget. Screen menampakkan gambar pemandangan di pantai Depok yang lebih indah dari aslinya.Hehe. Ada juga gambar prewedding dan beberapa foto Baduy. Campur-campurlah.

Kira2 pukul 10.50 Oom Don selesai memperlihatkan gambar2nya. Dan disamput riuh tepuk tangan tamu-tamu yang hadir. Kemudian MC (mas Jajang, salah satu dosen Arkeologi UGM) menawarkan kepada para tamu untuk diadakan diskusi atau mau lihat gambar-gambar lagi. Akhirnya, disepakati untuk diskusi dulu.

Pertanyaan pertama dari mas Dedi Hartono, yang sangat tertarik dengan gambar2 Baduy. “Oom, gimana sih teknik pendekatan ke penduduk lokal? Trus, kamera yang digunakan apa ya?”

Oom Don pun dengan bersemangat menjawab bahwa pendekatan tiap orang itu memiliki gaya dan cara tersendiri. “Anda sedang memasuki wilayah pribadi seseorang atau kelompok, Anda harus berusaha meyakinkan tujuan Anda,” lanjut si Oom. Menurut Oom Don, setidaknya ada dua hal yang harus dilakukan, pertama, memberikan pengertian kepada penduduk, apa tujuan dan maksud kita. Kita juga harus memberikan kesan tidak membahayakan penduduk, agar mereka merasa aman. Kalau “pintu” sudah terbuka, bersikaplah baik, sedikit royal juga boleh. Misalnya memberikan cendera mata, oleh-oleh.

Nah, untuk itu, kita perlu mempelajari dulu suatu kelompok yang ingin kita kunjungi. Untuk membuktikan bahwa kita baik, berbuat baiklah terhadap semua kalangan, termasuk anak-anak. Kalau bisa mendekati anak-anak, biasanya orang tuanya pun bisa menerima kita. Hal kedua adalah berusaha untuk tidak melanggar adat istiadat yang ada. Kalau kita memberikan sesuatu kepada satu orang, maka yang lainnnya juga harus dapat, tidak boleh dibedakan.

Oom Don lebih fokus pada Baduy dalam. Kata Oom, laki-laki yang memakai ikat kepala putih 99% bisa dipercaya. Dan Oom Don butuh 8 tahun untuk pendekatan. Sekarang ini Oom Don setiap saat dipersilakan masuk , tapi pada upacara tertentu Oon Don dilarang untuk datang. Kemudian Oom Don menceritakan “ramalannya” yang valid tentang hujan dan menanam padi kepada penduduk Baduy. Sejak saat itu, Oom Don dipercaya. Kalau untuk masuk ke gereja katedral, cari dulu siapa yang paling berkuasa. Cari alasan bahwa kita ingin memperkenalkan. Tapi yang harus diingat adalah kita tidak boleh mengganggu jalannya acara di gereja itu. Tentang kamera yang dipakai, Oom Don menyebutkan salah satu merk, tapi juga menggunakan semua jenis kamera.

Pertanyaan kedua dari mas Romi. “Oom, dalam menentukan lokasi, apa sih yang menjadi pertimbangan? Kemudian apa motivasi Oom Don melakukan perjalanan?”

Oom Don, yang saat itu energinya masih full banget, bilang kalau fotografer dan penjelajah itu harus mengabdi pada ilmu pengetahuan. Oom Don memilih lokasi karena ingin mengetahui sesuatu yang baru. Kata si Oom, kalau bisa kita adalah orang pertama, bahkan yang menemukan daerah itu. Itulah yang membuat Oom memilih tempat yang jarang dikunjungi orang. Dan yang terpenting nih, menghasilkan foto yang baik.
Kalau tentang motivasi, Oom Don sedikit bercerita tentang masa lalunya. Oom Don (anak ke 7 dari 8 bersaudara) pernah bertanya pada kakaknya tentang kebiasaannya yag suka kelayapan, padahal saudara-saudaranya tidak ada yang seperti Oom Don. Nah, barangkali kebiasaannya itu diwarisi dari nenek ayahnya. Oom Don pun bilang kalau Indonesia ini masih luas, maka nikmatilah Indonesia.

Selanjutnya, pertanyaan pun datang dari 3 orang sekaligus, mbak Ides, mbak Chusnul, dan mas Danu. Mbak Ides (yang suatu waktu pernah berkunjung ke Manggara, NTT) bertanya bagaimana cara menetralkan emosi pada lokasi yang masih baru agar tidak menyinggung perasaan penduduk, Mbak Chusnul tanya tentang biaya perjalanan, dan mas Danu bertanya tentang objek yg akan di foto.

Ketiga pertanyaan itu pun dibabat habis oleh Oom Don. Ternyata Oom Don pun udah pernah ke Manggara, malah udah bikin KTP disana. Kalau datang dalam sebuah lokasi yang baru, jangan punya bayang2 akan menyinggung perasaan penduduk. Yakinkan bahwa kita ingin memperkenalkan. Terlebih dahulu kita juga harus akrab. Tunjukkan bahwa kita itu baik dan bermanfaat. Cari cara agar kita senang dan mereka pun senang. Bantu2 juga pekerjaan mereka.

Pertanyaan mbak Chusnul dijawab dengan antusias. “Ayo, Chusnul, apa tahun depan kamu siap jalan2 mulai dari Perancis? Kita bisa bekerjasama dgn berbagai pihak” tanya Oom Don. “Insyaallah Oom” jawab si mbak dengan semangat pula. Kata Oom Don nih, kalau mau cari biaya, kalau cewek bisa cari pacar yang kaya. Hahaha. Boleh dicoba nih…

Buat mas Danu, jika merencanakan pergi ke suatu tempat, kita sudah harus membawa konsep atau rencana kerja. Library Research. Tanya pada orang2 yang lebih tahu sehingga kita sudah bisa mempersiapkan. Motret jangan pernah untung-untungan. Masalah angle, pencahayaan juga harus diperhatikan. Ambil dari pencahayaan yang orang takut untuk mengambilnya. Fotogafi itu, kata Oom Don, adalah mengambil gambar sebagaimana mata melihat. Jadi harus faktual, tidak boleh mengatur. Dan yang menjadi kriteria gambar kita berhasil adalah jika orang yang melihat tergugah perasaannya.

Kemudian MC pun membuka satu pertanyaan lagi. Tak menyia-nyiakan kesempatan, pertanyaan pun diajukan oleh mas Tulus. Ia bertanya apa motivasi Om Don menggarap Baduy selam 35 tahun. Apa keuntungan Baduy yang Oom Don eksploitasi?

Oom Don pun mengucapkan terimakasih atas pertanyaan itu. Dijawab oleh Oom bahwa tujuan utama adalah baik dan mempunyai daya guna, bermanfaat. “Saya melakukan ini karena kesel, karena gak ada yang nulis benar. Saya bisa tunjukkan itu beberapa kesalahannya, itu karena mereka tidak sabar” lanjut OOm Don. Menurut Om Don, menulis Baduy ini sangat2 sulit. Selama 22 tahun aja Om Don baru tahu posisi sebenarnya dimana mereka sembahyang. Kadang kita dibodohin, karena mereka itu cerdas. Oom Don pun menegaskan, yg dilakukannya adalah untuk ilmu pengetahuan. Ia rela mengorbankan separuh hidupnya untuk itu. Dan Oom Don tidak mendapatkan duit, justru mengeluarkan duit. Kita tidak boleh mengeksploitasi, kita harus member juga. Kita harus bersyukur kita bisa berhubungan dengan mereka. Karena banyak orang yang ingin jadi pahlawan kesiangan, kata si Oom.

Pukul 12.15 sesi diskusi pun diakhiri. Kemudian Oom don memperlihatkan Baduy Travel Photography. Dan tampaklah gambar2 Baduy dalam dan luar. Lengkap. Rumahnya, pakaiannya, kegiatannya, pertaniannya, juga dapurnya. Laki-laki Baduy dalam dan luar bisa dibedakan dari ikat kepalanya. Laki2 Baduy dalam berikat kepala putih. Oom Don pun berbicara tentang sejarah Baduy. Bahwa Baduy itu tidak mungkin pelarian dai Pajajaran karena tidak membawa peralatan. 5-6 generasi, Baduy baru bisa membuat tembikar satu macam. Baduy pun jika dilihat dari tradisi arsiteknya, mereka melaksanakan upacara di punden berundak. Tentang pertanian Baduy, yang sangat menakjubkan adalah berasnya yang tahan sampai 300 tahun! Barangkali karena menggunakan alas 13 macam daun.

Orang Baduy memiliki 20 aksara, tetapi angka tidak punya. Orang Baduy dalam, pintu rumahnya selalu menghadap utara atau selatan. Rumah paling Timur adalah yg memegang jabatan tertinggi. Jangan salah, orang Baduy juga bisa mengendalikan api lho! Wah,,jangan2 avatar.hehehe. kemudian Oom don pun memperlihatkan gambar tekstil Baduy dalam, yaitu tekstil Rotan. Yang ternyata proses pembuatannya memerlukan waktu yang sangat panjang, hampir setengah tahun untuk satu kain.

Tidak terasa empat jam telah berlalu. Tepat pukul 13.00 WIB Oom Don pun menyudahi diskusi. Kemudian dilajutkan MC yang merangkum hasil diskusi dan memberikan kenang-kenangan kepada Oom Don. Dan dibelakang, ternyata masih ada orang2 yang “memburu” Oom Don untuk diwawancarai.

Diskusi kali ini memang benar2 dahsyat. Penghormatan setinggi-tingginya untuk Oom Don yang telah membagikan ilmunya, untuk Oom Don yang mencintai ilmu pengetahuan, kejujuran, dan tak pernah mengharap imbalan.

Salam,
-Ann-

Sunday, March 21, 2010

sajak-sajak Walt Withman terjemahan Taufiq Ismail

Seorang Anak Berkata Apa itu Rerumputan?
Seorang anak berkata Apa itu Rerumputan? Seraya membawa daku
segenggam penuh dalam tangannya,
Bagaimana cara aku menjawabnya? Pengetahuanku tentang rerumputan
agaknya tak lebih ketimbang dia.
Mungkin rerumputan adalah bendera dalam perbendaharaanku, ditenun
dari bahan harapan berwarna kehijau-hijauan.
Atau mungkin rerumputan itu saputangan Tuhan.
Sebuah hadiah wangi aromanya untuk kenangan sengaja dibuatkan,
Dengan nama pemiliknya tercantum di salah satu sudutnya, sehingga
kita bisa melihatnya lalu berkata Punya Siapa?
Atau mungkin rerumputan itu huruf hieroglif yang seragam.
Dan maknanya, bertunas tumbuh serupa baik di kawasan lapang
maupun di kawasan kurang lapang,
Bertumbuh di antara orang kulit hitam maupun diantara orang kulit putih,
Kanuck, Tuckahoe, Congressman, Cuff, keberi mereka yang serupa,
kuterima yang serupa
Sekarang malahan rerumputan nampak bagai rambut kuburan yang
terurai panjang belum sempat dirapikan.
…..

Ibu dan Bayi
Kulihat bayi terlelap mengisap susu ibunya,
Ibu dan bayi yang sama tertidurnya – ssst,
lama dan lama aku mempelajari mereka
1865

Pelajaran Sufi dari Farsi

Seorang sufi berjanggut abu-abu di akhir pelajarannya
Pada suatu pagi yang segar di udara terbuka
Di lereng sebuah kebun mawar demikian indahnya
Dinaungi pepohonan tua dengan jaringan dahan dan cabangnya
Kepada ulama muda dan santrinya ia berkata

“Anak-anakkku, akhirnya, sebagai penutup kata
Allah adalah segalanya, immanen di setiap bentuk kehidupan apa jua
Sebutlah ini-itu sebanyak-banyaknya – Allah, Allah, Allah ada di sana

“Sejauh-jauh orang dalam kesesatan, sebab musabab disembunyikan
Adakah terdengar suara di dasar lautan gelisah seluruh jagat raya?
Adakah kau tangkap keresahan? Makhluk dalam dorongan dan loncatan
Yang tak pernah tenang, tak kunjung hilang?
Tak tampak namun ada dia, bersembunyi dalam benih kehidupan?
“Dia mengendap sebagai tenaga di inti zarrah
(Seringkali tak sadar, kadang-kadang menjatuhkan)
Namun kembali ke sumber kesucian walau jarak di kejauhan
Serupa untuk semua, tiada kekecualian.”
1891

Ketika Aku Mendengar Ahli Ilmu Bintang yang Terpelajar
Ketika aku mendengar ahli ilmu bintang yang terpelajar
Ketika sejumlah bukti dan angka di depanku dalam kolom berjajar
Ketika ditunjukkan kepadaku peta dan diagram, menambah, membagi, dan
mengukur semua

ketika seraya duduk kudengar ahli ilmu bintang itu member ceramah
disambut tepukan tangan meriah di ruang kuliah
betapa segera entah bagaimana aku jadi letih dan jemu
akhirnya bangkit dan meluncurlah daku ke luar sendiri
di udara malam lembab dan mistis, dan sekali-sekali
menengadah memandang gemintang sepenuh sunyi
1865

Tuesday, March 16, 2010

Weekend: Sasindo Out Bond di Pondok Bambu Parangtritis



Berawal dari kerinduan sejumlah anak Sasindo untuk kumpul2, tercetuslah sebuah ide untuk bikin out bond yg akan diikuti anak sasindo dari semua angkatan. Setelah melalui beberapa perundingan mengenai waktu dan tempat yg akan digunakan out bond, akhirnya Pondok Bambu Parangtritis menjadi pilihan. Selain harganya lumayan murah, tempatnya pun TOP bgt dech.. Bagi teman2 yg kebetulan gak bisa ikut, silakan membaca ceritanya…

13 Maret 2010.
Pukul 11.00 WIB. Tengah ada beberapa armada Sasindo yang sedang duduk2 menunggu di pelataran Gedung Margono. Ada yang sibuk dengan hp, ada juga yg sedang memetik gitar. Si Rivqi yg bertugas sebagai sie transportasi pun sibuk memastikan kedatangan bus. Sebenarnya,terjadi sedikit perubahan rencana. Awalnya, kendaraan yg akan digunakan adalah motor, tapi setelah melalui perundingan lagi, diputuskan semua orang akan naik bus. Sembari menunggu bus yg belum datang-datang juga, kesempatan pun digunakan untuk ngobrol2…

Kira2 pukul satu siang, sebuah bus berwarna kuning akhirnya datang juga. Kami pun berbondong-bondong naik dan mencari tempat yang nyaman. Huff..panaass. Tapi udara yg gerah ternyata tidak mampu mematahkan semangat armada-armada sasindo. Sebelum berangkat, kami pun berdoa terlebih dahulu agar selamat sampai tujuan. “Pak sopir, hati2, ya. Jangan ngebut2.” Kemudian bus pun ramai dengan genjrengan gitar dan alunan lagu dari suara2 yg rada fals. Hehehe. Dari lagu dangdut, campur sari, sampe lagu india, semuanya dinyanyiin. Sebenarnya agak disayangkan karena tidak semua armada sasindo ikut dalam acara ini. Kalau semuanya ikut, wuih, pasti bakalan lebih seru…

Bus pun melaju dengan tenangnya, sesekali berhenti karena ada lampu merah (ya iyalah..). Di perempatan daerah Bantul (yg namanya saya lupa), bus pun berhenti karena menghampiri salah satu teman kami.

Kira2 pukul 14.30 kami sampai di lokasi. Gila! Tempatnya kereen bgt. Ada beberapa pondokan yg berdinding bambu diselingi pohon2 kelapa yg berjajar anggun. Rumput yg hijau semakin menambah elok pemandangan. Di samping pondokan ada sawah dan sebuah parit yang airnya bening bgt. Dua ratusan meter dari pondokan adalah pantai Parangtritis. Singkatnya, tempatnya ok’s bgt… Dan ternyata lokasi ini cukup dekat dengan rumah mas Zudi (sasindo angkatan 2006).

Kemudian kami menempati pondokan masing-masing (yg sebelumnya sudah disewa). Dua pondokan untuk cewek, dan satu pondokan untuk cowok. Kebetulan saya menempati pondokan yg bernama “kepodang”, teman cewek yg lain menempati pondokan yg bernama “pipit”. Pondokan yg satunya lagi saya lupa namanya. Pondokannya juga nyaman lho, pas bgt buat bulan madu (^_^).

Setelah sejenak beristirahat dan meletakkan barang2, acara pertama pun dimulai, yaitu pembagian kelompok. Ada 3 kelompok. Masing2 kelompok diharuskan membuat yel-yel dan pementasan sederhana untuk acara malam. Dengan kesepakatan pementasannya gak boleh puisi, drama, atau prosa (emangnya kuliah teori sastra? hehe).

Kira2 pukul 16.00 kami pun berkumpul untuk siap2 bergi ke pantai. Asyiiiiiiikk. Udah gak sabar nee pengen basah2an di pantai. Refreshing dari rutinitas yg penat. Dengan beberapa menit berjalan menyusuri sawah, kami pun sampai di pantai yg indah nian. Hmm, ternyata suasana pantai cukup ramai. Tanpa berpikir panjang kami pun mulai beraksi. Ada yg nyebur ke air. Ada berguling2 di pasir. Dan yg gak boleh ketinggalan adalah photo2…

Waduh, mata saya tiba2 melirik pada sesuatu yg berwarna hijau berbentuk bulat. Dan kayaknya sueger banget. Yup! apalagi kalo bukan kelapa muda. Sebelum ngiler, saya beberapa teman2 (Ayi, Nay, Mustika, Asti) pun menghampiri si ibu penjual kelapa muda yg sudah lama ditongkrongin ama Dino, Ari, Icha, dan Rahmi. Dan ternyata kelapa mudanya emang sueger tenan, rek… Emang pas bgt kalo minum kelapa muda di pantai dengan angin sepoi-sepoi gini.. Habis satu buah masih pengen nambah lagi, tapi sayang perut kayaknya udah gak muat. Hehe..

Senja telah lewat. Kami pun beranjak dari pantai setelah cukup puas bermain dan berfoto2…

Kira2 pukul 19.00, setelah mandi dan sholat maghrib, kami pun berkumpul lagi untuk makan malam. Sembari menunggu makanan, waktu dimanfaatkan untuk perkenalan biar lebih karab. Hmm, cukup seru juga. Setelah beberapa saat, makanan pun datang. Kami pun makan bersam-sama dengan lahapnya. Nyam, nyam, nyam. Kemudian acara dilanjutkan dengan pementasan masing-masing kelompok. Sebelum pentas, tiap kelompok pun memperkenalkan diri dengan yel-yelnya. Eh, ada mbak Dewi (angkatan 2006) dan beberapa angkatan 2008 (Nesa, Elita, Astri, Arifin, dan Yudi) yang datang.

Yang pertama tampil adalah kelompok “ubur-ubur”. (Ari-Putri-Ayi-Rifqi-Ayu-Danil). Yel-yelnya singkat dan padat. Pementasannya juga cukup menarik dengan mengusung drama musikal yg disutradarai Ari. Selanjutnya adalah kelompok “tahu tek”. (Anis- Aza- Hani-Wita-Lilis-Mustika-Nay-Rahmi). Dengan tarian ceria kelompok ini membawakan yel-yelnya. Pementasannya berjudul “tek-tek-tek out” yg mirip bgt ama acara “Take Me Out”. Yang terakhir adalah kelompok “makhluk tuhan paling seksi” (semoga namanya benar,hehe). (Asti-Nina-Fredi-Icha-Danar-Dino-yg lainnya lupa). Seperti nama kelompoknya, yel-yelnya juga memakai lagu “makhluk tuhan paling seksi” Mulan Jamila. Pementasannya juga drama musikal yg sangat menarik, ditambah lagi dengan genjrengan gitar yg cihuy.

Setelah pementasan, acara selanjutnya adalah game. Game kali ini adalah komunikata. Tiap orang harus melanjutkan kata-kata yg diucapkan oleh teman disebelahnya. Kata yg diucapkan harus nyambung atau berterima. Kalo gak bisa akan dikenakan hukuman pertanyaan. Ternyata banyak juga yg gak nyambung dan kadang terlalu lama mikirnya. Hahaha. Setelah komunikata, selanjutnya adalah komuniangka dan komunihuruf. Angka atau bilangan yg diucapkan harus sesuai dengan EYD (emang dasar anak Sasindo.hehe). Banyak yg terjebak pada bilangan delapan (8), yg diucapkan “hlapan”. Sayangnya, komunimorfem dan komunifrasa gak ada, hahahaha.

Selanjutnya adalah sesi curhat. Mengenai apa saja. Semuanya bebas. Ada yg berbicara tentang gab tiap angkatan. Ada yg berbicara tentang kekompakan. Ada yg berbicara tentang masa depan KMSI. Dan lain sebagainya. Sesi curhat ini dimaksudkan untuk mengetahui masalah-masalah yg terjadi dan menambah keakraban semua anak Sasindo. Tak ada lagi senioritas. Kemudian ada mas Kobe, mas Nao, dan beberapa orang yg datang. Dan acara pun dilanjutkan dengan api unggun..

Beberapa orang berusaha membuat api unggun. Setelah beberapa menit, api pun sudah menyala. Suasana menjadi sangat hangat. Ditambah dengan beberapa nyanyian dan genjrengan gitar. Yang jelas asyik bgt… Acara ini pun semakin lengkap ketika ada seorang cowok yang melakukan “katakan cinta” pada gadis pujaannya, cuit..cuit.., Sang pangeran cinta pun membacakan puisi untuk si gadis, dan dibalas pula dengan puisi. Prikitiuw... (tentang siapa orangnya, teman2 yg gak ikut out bond boleh penasaran,hehe).
14 Maret 2010
Kira2 pukul 00.30 acara malam (eh pagi, nding) ini usai. Ada teman2 yg langsung menenggelamkan diri di kasur, ada yg masih genjang-genjeng pake gitar, ada yg malah pergi ke pantai. Ternyata pantai pada malam hari tu keren bgt, dan cukup ramai. Buih yg ada di laut membentuk satu garis putih lurus di sepanjang bibir pantai. Indah tak terperi. Angin yg dingin semakin memperkuat suasana. Lampu2 tower pun bertarung dengan bintang di langit.

Pagi pun datang. Beberapa mata yg masih mengantukdan belum mandi berkumpul di lapangan untuk senam pagi. Instruktur senam adalah mas Kobe. Gerakan ini itu pun dilakukan guna melemaskan otot-otot. Yang kelak baru diketahui bahwa senam ini sangat bermanfaat ketika out bond. Setelah senam, dilanjutkan dengan sarapan, sebuah arem-arem dan kucur hangat. Hmmm, lezat. Sarapan kali ini agak beda karena ada semacam “renungan” untuk menghayati makanan sebelum dimakan.

Pukul 08.00. Nah, acara yg ditunggu2 akhirnya datang juga. Out bond asyik ala Sasindo. Permainan pertama adalah melayang (sebenarnya saya tidak tahu namanya,hehe). Ada seseorang yg melayang dari suatu ketinggian dan teman2nya harus bisa menangkapnya. Kepercayaan pada teman sangat diperlukan pada permainan ini. Siapa yg tidak percaya bisa jadi akan jatuh. Saya pun mencoba. Awalnya, agak gemetar saat memutuskan untuk melayang. Ada perasaan takut, tapi justru itulah yg harus dilawan. Harus percaya pada teman2 yg akan menolong. Dan ternyata: saya bisa. Tapi ada beberapa yg takut juga. Yg membanggakan adalah Nina. Beberapa saat lamanya dia benar2 takut untuk melayang, sampai2 teman2 yg ada di bawah menjadi gemes. Tapi akhirnya dia bisa juga.

Permainan selanjutnya adalah loncat tali. Tali diikat pada pohon dengan ketinggian tertentu. Masing2 orang harus bisa melewatinya tanpa menggunakan alat. Kemudian kelompok dibagi menjadi dua. Berbagai carapun dilakukan agar satu per satu teman bisa melewati tali. Ada yg diangkat. Ada yang naik punggung. Yg jelas, kerjasama tim sangat diperlukan. Ternyata teman2 belum juga capek. Permainan pun dilanjutkan dengan komuniangka (lagi). Tapi kali ini agak beda karena menggunakan arah tangan.

Ada satu lagi permainan, yaitu kereta batu (sebenarnya saya juga tidak tahu nama sebebnarnya). Batu harus diberikan kepada teman kelompoknya dengan menggunakan kaki posisi salto, tidak boleh tangan. Lahan yg berbatu merupakan tantangan pada permainan kali ini. Kelompok yg berhasil mengumpulkan batu terbanyak, dialah yg menang.

Kira2 pukul 11.00, permainan pun usai sudah. Sembari menunggu makan siang, kami pun beristirahat. ada juga yg mandi karena dari pagi belum mandi. Dasar. Beberapa saat kemudian makanan pun datang. Kami pun makan bersama-sama di bawah pohon kelapa yg rindang. Sangat menyenangkan. Kemudian dilanjutkan dengan istirahat dan packing. Bersiap-siap sembari menunggu bus yg belum datang.

Kira2 pukul 13.00, bus berwarna biru pun datang. Kami semua masuk dan mencari tempat yg nyaman. Bersiap meluncur. Dan sampai di kampus kira2 pukul 14.00…

Out bond yg amat sangat menyenangkan. Sebenarnya masih banyak hal indah lainnya yg tidak bisa dituliskan dengan kata-kata.

Salam,
-Ann-

Friday, January 29, 2010

Pagi Bening dan Segelas Teh Manis di Hall Teater Gadjah Mada

Kali ini saya kembali mengumpulkan sisa-sisa ingatan. Laptop yg sempat ngambek membuat semua data saya hilang. Termasuk beberapa catatan. Amat sayang rasanya jika apa yg saya alami tidak saya abadikan dalam sebuah catatan, meskipun singkat. Entah, sejak kapan saya jadi kecanduan membuat catatan semacam ini. Sangat mengasyikkan rasanya. Jika teman2 saya gemar mengabadikan perjalanannya dalam gambar digital, untuk saat ini saya lebih memilih kata-kata untuk mengabadikan setiap mozaik perjalanan saya. Kok jadi curhat.. ^_^

Setelah sekian lama gak nonton teater, saya dibuat tersenyum lebar oleh ajakan mbak Ima (kakak angkatan) untuk menyaksikan pertunjukan teater di TGM. Malam itu, 16 Desember 2009 kira2 pukul 19.45 kami tiba di lokasi. Kami disambut oleh beberapa lilin yg dinyalankan di sepanjang jalan menuju panggung. Hmm, romantis. Ternyata banyak juga teman saya yg datang. Karena belum membeli tiket, kami pun membelinya. Tiket berwarna hijau dengan gambar seorang wanita berbaju merah itu tampak sangat cantik, dan dijual dengan harga lima ribu rupiah saja.

Kemudian kami pun dipersilakan menuju tempat yg sudah disiapkan. Karena tempat duduk yg disediakan adalah lesehan, panitia menyiapkan semacam rak, agar sepatu dan sandal tidak berantakan. Hmm, mengagumkan. Sebelumnya saya belum pernah melihat pementasan lesehan yg ada rak sepatunya. Akibatnya sandal2 pun berantakan dan merusak pemandangan. Kami juga dipersilakan untuk mengambil minuman yg disediakan. Soft drink ala TGM. Teh dan jahe manis. Ada air mineral juga. Saya pun memilih teh manis.

Tampilan panggung cukup sederhana tapi memikat. Ada sebuah kursi taman berwarna putih dan sejumlah tanaman didalam pot. Yup! Latar yg ingin ditampilkan adalah sebuah taman di pagi hari. Oya, pementasan kali ini berjudul Pagi Bening karya Serafin dan Joaquin Alvarez Quintero yg diterjemahkan oleh Sapardi Djoko Damono.

Kira2 pukul 20.15 pementasan pun dimulai. Sebelumnya, ada pembawa acara yg bercas-cis-cus sebentar. Kemudian musik dibunyikan. Lighting menyala. Tampak seorang wanita tua bersama pembantunya memasuki panggung (taman). Wanita tua ini bernama Laura dan pembantunya adalah Petra. Kemudian Petra meninggalkan Laura yg tengah asyik bercakap dengan merpati-merpati yg memakan remahan roti. Kemudian masuklah seorang lelaki tua yg bernama Gonzalo dan pembantunya yg bernama Juantino yg mencari kursi kosong di taman. Juantino pun meninggalkan Gonzalo di taman. Kostum yg digunakan oleh para tokoh memperlihatkan bahwa settingnya adalah sebuah daerah di Spanyol.

Laura dan Gonzalo kemudian terlibat dalam sebuah pertengkaran kecil. Laura mengejek Gonzalo karena memakai kaca pembesar saat membaca sebuah syair. Percakapan pun mengalir hingga pada akhirnya mereka menceritakan kisah masing-masing. Tentang pertemuan pertama mereka di sebuah villa. Tentang wanita bagai perak. Padahal sebenarnya mereka menceritakan dirinya masing2. Permainan lighting mengantarkan penonton untuk mengetahui isi hati tokoh yg sebenarnya. Maklum, kedua tokoh diceritakan menutupi identitas masing2.

Mereka tidak mau jujur tentang keadaan yg sebenarnya. Dan memilih untuk membiarkan semua berlalu dalam kenangan tentang masa muda yg penuh gelora. Setelah sekian tahun lamanya terpisah, akhirnya mereka bertemu kembali di sebuah taman pada pagi yg bening. Mereka sangat menikmati pertemuan tersebut. Mereka pun berjanji setiap pagi akan datang ke taman untuk bertemu. Hmm, so sweet. Sebenarnya Laura dan Gonzalo tidak sadar bahwa mereka mengalami kisah dalam syair yg mereka bacakan. Pertemuan bahkan ucapan-ucapan mereka juga sama persis seperti dalam syair.

Drama komedi ini cukup menarik. Penonton pun terhanyut dalam humor segar yg dibawakan. Tapi sayang, pertujukan ini cuma sebentar. Dan berakhir dengan tepuk tangan riuh dari penonton. Kemudian MC memperkenalkan satu persatu para tokoh dan kru. Sayang sekali saya tidak ingat nama2 mereka. Sebelum para penonton pulang, diharuskan juga untuk mengisi semacam questioner tentang pementasan tadi. Sebagai dokumentasi, ada beberapa orang yg diminta pendapatnya untuk direkam.

Saya cukup senang dengan pementasan kali ini. Cukup menggigit. Saya pun tak sabar menunggu pementasan2 TGM selanjutnya.

Salam,
-Ann-

Aktor Bermata Ngantuk Itu

 Dia aktor Korea. Dulu saya menyebutnya sebagai aktor bermata ngantuk. Tapi saya tidak membuat saya sepenasaran itu untuk mencarinya di goog...