Friday, February 10, 2012

sebuah malam warung kopi di tengah sawah itu



hujan rokok

kopi surrealis buku

oreo


susucoklat langit angin

dongeng gitar tawa sastra

aku kamu

dia
mereka


,dan Tuhan

Tuesday, February 7, 2012

selamat ulang tahun, Pramoedya Ananta Toer

6 Februari 1925 -- 6 Februari 2012


photocredit: http://justsandandsand.blogspot.com/2011/01/pramoedya-ananta-toer.html

Saturday, February 4, 2012

sebuah buku harian

--Suminto A. Sayuti--

akan tereja kembali di sini
sebuah riwayat paling purba
tentang adam yang terusir
tentang usia yang semakin menggigil

diam–diam aku mencintaimu
tidurlah kekasih dalam kalbuku barang sejenak
sementara angin berkesiur membuat siklus
diantara hari–hari meranggas

perjalanan tak berujung
akan bermula kembali disini
sementara resah datang menghardik
sementara hati serasa cabik–cabik

Sunday, January 15, 2012

kotak gulali

ternyata, ada hal-hal tertentu yang terpaksa harus dimasukkan dalam sebuah kotak bernama kenangan. dan tidak dibuka-buka lagi. meskipun warna-warni dan manis seperti gulali.

selamat tinggal, kotak gulaliku..

Thursday, January 12, 2012

segitiga sembarang...



pada mulanya adalah sebuah komunitas. dan seiring berjalannya waktu kami semakin dekat. bersahabat.

semester-semester awal kuliah, kami banyak melewatkan waktu bersama. nonton teater sampe malem, nongkrong sampe pagi di sebuah warung kopi dekat stasiun, nekat ke borobudur saat hujan deras, menikmati liburan dengan nonton film seharian, dan juga ke pantai. kami pernah saling menguatkan ketika salah satu di antara kami sedang patah hati, ada masalah keluarga, masalah dengan dosen, pacar, dan lain sebagainya..

ya, kami bertiga. jika ada segitiga sama sisi, sama kaki, dan siku-siku, kami adalah segitiga sembarang. tak beraturan. karena sisi-sisi kami berbeda, tapi tetap membentuk sudut 180°. entah bagaimana saya juga heran, tiga perempuan yang sangat berbeda ini bisa-bisanya nyambung. kami adalah perpaduan sifat keras kepala, nekat, ragu, ngeyel, rendah diri, sabar, dan pekerja keras. hahaha

hingga akhirnya, pada sabtu yang cerah, salah satu di antara kami menikah.

saya tidak bisa mendefinisikan perasaan saya waktu itu. melihat sahabat saya duduk di pelaminan penuh bunga warna-warni itu rasanya seperti ada sesuatu yang hilang. apa yang pernah kami lewati bersama tiba-tiba seperti sebuah film yang diputar kembali. adegan-adegan flashback semakin lama semakin banyak. saya ingat ketika dia patah hati, dan bagaimana dia memperjuangkan cintanya. saya ingat semua cita-citanya. saya ingat banyak sekali hal-hal konyol tentang dia. dan sekarang kami tidak bisa melakukan hal-hal “gila” itu lagi. saat ini, salah satu di antara kami harus meminta “izin” terlebih dahulu. nggak bisa seenaknya. keadaanya sudah beda.

saya sangat tahu bahwa kami masih akan bersahabat, masih bisa sering bertemu. tapi tetep aja, rasanya beda. iya nggak sih? nggak rela aja gitu..

barangkali Raditya Dika benar, bahwa esensi hidup kita adalah pindah. bahwa segala sesuatu mengalami perpindahan. melakukan pergerakan. dan sahabat saya itu juga telah melakukan perpindahan. pindah status, pindah tanggung jawab.

selamat atas pernikahanmu, kawan. dua sahabatmu yang unyu-unyu ini bahagia. semoga kamu juga selalu bahagia dengan orang yang kamu cintai dan kamu perjuangkan itu ^____^

dedicated to: MSC, SN

Wednesday, December 14, 2011

wonderland itu bernama Tutup Ngisor


Lilin-lilin berjajar, wangi dupa, dan bertaburan mawar merah adalah semacam ucapan selamat datang di padepokan Tjipta Boedaja. Malam itu. Padepokan/pendopo ini bukanlah gedung yang berdiri sendirian, mewah megah, tetapi menyatu dengan sawah, ladang, serta rumah warga. Gamelan ditabuh. Orang-orang berjubel di luar maupun di dalam pendopo. Orang-orang ini akan menjalankan malam tirakatan dalam rangkaian acara suran, atau memperingati bulan sura. Tepat pada tanggal 15. Saat bulan sepenuh lingkaran.

Saya beruntung dan bersyukur ketika seorang kawan menculik saya ke tempat yang kemudian saya juluki sebagai wonderland ini. Adalah Dusun Tutup Ngisor, Desa Sumber, Kecamatan Dukun, Kabupaten Magelang. Sebuah dusun yang terletak di lereng gunung Merapi Merbabu. Sebuah dusun dengan kesenian sebagai nafas hidup. Bukan sekadar pertunjukan. Kesenian tidak dijadikan sebagai lahan untuk mencari penghasilan, cukup sebagai hiburan dan sikap. Sikap terhadap Tuhan, sesama manusia, alam, dan kehidupan. Dilakukan dengan biasa saja namun penuh penghayatan, menyatu dengan kehidupan itu sendiri. Sehingga antara kehidupan dan kesenian berjalan beriringan. Seimbang.

***
Kira-kira pukul 20.00 acara dibuka oleh seorang mc yang memakai pakaian ala Jawa. Bahasa yang digunakan pun bahasa jawa, inggil banget. Dan saya nggak begitu mudeng apa yang dibicarakan. Ada juga puji-pujian yang ditembangkan dengan bahasa jawa kuno. Saya pun mengikuti meskipun tak mengerti.

Setelah itu, ada sembilan perempuan luwes berbaju dan berselendang hijau menarikan “kembar mayang”. Gamelan kembali ditabuh. Suara sinden melengking merdu. Saya takjub. Keren banget. Salah satu penari yang bernama Sinta adalah anak smp, masih kecil, tapi saat dipanggung terlihat seperti gadis yang sedang mekar-mekarnya. Kok bisa? Saya setengah nggak percaya. Betapa ini sangat menakjubkan.

Kemudian panggung kembali hidup dengan pagelaran wayang orang lakon “lumbung tugu mas” dengan dalang Bapak Sitras Anjilin. Lakon ini menceritakan perjuangan pandawa dalam membangun lumbung dan peranan dewi sri sebagai dewi kesuburan. Ini merupakan salah satu wujud syukur warga akan kelimpahan hasil pertanian. Sebagian besar warga Tutup Ngisor adalah petani. Sayang, saya nontonnya agak ketinggalan. Ternyata lumayan banyak yang nonton. Nggak cuma bapak-bapak atau mbah-mbah, tapi anak-anak sampai bayi pun ada. Melek. Meski sesekali menguap menahan kantuk.

Saya yang pertama kali menyaksikan wayang orang ini jelas gumun. Gerak tubuh yang luar biasa indah dipadu dengan kostum yang wah, serta dialog-dialog yang saya nggak ngerti. Tapi saya suka. Saya juga sempat melihat salah satu pemain merias dirinya sendiri. Mulai dari alis sampai kumis. Dan pertunjukan pun mengalir. Saya hanyut.

Kira-kira pukul 02.00 sang dalang mengakhiri pertunjukan. Dan mata saya sudah kriyep-kriyep. Saya harus menyimpan energi untuk acara besok pagi yang masih sangat panjang.

***
Saat membuka mata dan telinga yang terdengar pertama kali adalah bunyi gamelan. Pagi ini, akan dilaksanakan kirab. Saya pun menyempatkan diri untuk jalan-jalan sebentar menikmati keindahan Merapi dan Merbabu. Tapi ternyata juga bisa melihat Sindoro Sumbing. Indah.

Kira-kira pulul 05.45 kirab dimulai. Para pemain/penari (mata mereka merah karena kurang tidur) berkumpul di depan pendopo. Setelah itu “sowan” ke makam Romo Yoso Sudarmo, pendiri padepokan Tjipta Boedaja. Iring-iringan pun beberapa kali berjalan mengitari pendopo sebelum jathilan dilaksanakan. Bertabur bunga. Semerbak dupa.

Saya tidak tahu apa yang terjadi, salah satu penari ada yang kesurupan (maaf saya tidak tahu istilah lainnya). Tapi iring-iringan tetap dilanjutkan. Dan berkumpul lagi di pendopo. Setelah itu jatilan pun dimulai. Gendang ditabuh. Musik menghentak. Gemerincing kaki para penari berpadu gerakan yang rancak. Penonton berjubel. Beberapa kamera siap mengabadikan segala gerak. Kira-kira jatilan ini berlangsung selama satu jam. Lagi-lagi saya dibuat takjub. Jatilan yang saya lihat kali ini berbeda dengan yang sebelum-sebelumnya. Lebih bernyawa.

Acara tidak berhenti sampai di sini. Tepat pukul sepuluh kembali terdengar musik menghentak dari lapangan. Kali ini ada berbagai tarian. Penyumbang acara datang dari berbagai daerah. Lagi-lagi penonton berjubel. Ada jatilan, ada juga tari topeng ireng. Semuanya indah. Semuanya mengagumkan. Walaupun hujan deras, acara tetap berlangsung lancar. Tak ada penonton yang beranjak. Para penjual jajanan dan mainan pun semakin banyak.

Di sela-sela riuh pertunjukan saya sempat ngobrol dengan seorang pemuda, alias Mas Genter. Dalam satu tahun, penduduk Tutup Ngisor setidaknya membuat empat acara, yaitu maulid nabi, idul fitri, tujuh belas agustus, dan suran. Tapi yang paling meriah adalah acara suran yang kali ini bertema "dharmaning urip ngudi pepadhang" dan dilaksanakan tiga hari. Dan makanan tak henti-hentinya mengalir. Tak ada piring dan gelas yang kosong. Hebatnya, dalam menyelenggarakan acara-acara tersebut mereka tak pernah mencari sponsor.

(oh ya, saya menyempatkan diri bermain di kali dekat sawah. Tapi cuma sebentar karena hujan)

Setelah maghrib, di pendopo, gamelan kembali ditabuh. Kali ini adalah acara kesenian dari berbagai kota. Ada dari berbagai SMA dan universitas. Ramai dan meriah. Ada teater, ada tari banyuwangi, ada tari topeng dari abbal (atas bumi bawah langit), dan lainlain. Sungguh menakjubkan melihat berbagai tubuh gemulai itu meliuk-meliuk. Magis.

Sementara itu, acara penutupan adalah wayang orang kolaborasi dari berbagai kota. Saya pun nggak mau melewatkan pertunjukan ini. Pertunjukan wayang orang kali ini nggak pake latihan. Jadinya lucu karena mengarah pada dagelan. Tawa serentak. Saya bertahan meski kantuk menyerang.

Kira-kira pukul setengah dua pagi sang dalang pun mengucap: cekap semanten..

***
Dan selesai menulis ini, kangenku padamu sungguh menggebu, wonderland. Kapan bertemu lagi? Segeralah.



fotografer: Yasinta Dewi

Aktor Bermata Ngantuk Itu

 Dia aktor Korea. Dulu saya menyebutnya sebagai aktor bermata ngantuk. Tapi saya tidak membuat saya sepenasaran itu untuk mencarinya di goog...