Wednesday, August 29, 2012
kriiiing..kriiiing..
halo, mata kecil.
gimana hari-harimu? apa kamu masih sering menghabiskan waktu dengan melamun? aku masih. sebelum kehilangan selo yang sungguh lezat ini. hehe. udah lama banget rasanya kita nggak ngobrol. ngobrolin apa aja. tentang harga cabe setan, tentang Ahmad Dani yang semakin keren, atau tentang hari depan yang sering berujung pada klausa “dijalani aja”.
hari-hari menjelang kuliah (lagi). ada perasaan yang sulit dijelaskan. ragu bercampur takut. ketakutan konyol yang dulu pernah kuceritakan. ah tidak tidak..aku merasa menghianati Guru Brahm kalau masih lekat dengan ketakutan :p. eh, jadi ikut kelasnya Gede Prama kah? bulan depan kan? ikut sana. kalo pulang tularin ilmunya. suatu saat aku pun ingin kesana.
aku sedang membaca Pram yang Sang Pemula. juga menyelesaikan seri-seri kho ping hoo. sering juga ngobrol sama si ikan kuning yang ternyata sangat tangguh. 13 hari tak tinggal tanpa makanan ternyata dia masih baik-baik aja. dijaga Tuhan :). eh, Pram-mu udah selesai? belum mesti. haha. entahlah, aku merasa akan kehilangan waktu membaca buku-buku yang kusukai, komik, nonton film, tenggelam di kamar. dijalani aja. ah!
semoga hari-harimu menyenangkan. mumpung masih syawal jangan lupa sungkeman sama Mas Kobis :’)
hari-hari ke depan aku bakalan sering ketemu sama meneer ganteng lhoo. asiiiiikk. eh iya, Malam Minggu Miko-nya Raditya Dika keren. koplak lebih tepatnya :D
*ditulis dengan nyruput teh hitam dan ngemil nastar :9
Tuesday, August 7, 2012
selamat malam, kamu. sedang apa?
selamat malam, kamu. sedang apa?
sebelum malam cepat habis,
kemarilah, tidur di pangkuanku.
tidur, tidurlah lelap. biar kubelai-belai rambutmu.
biar kuarungi mimpi di laut kecil matamu.
sebelum malam cepat habis,
kemarilah, tidur di pangkuanku.
tidur, tidurlah lelap. biar kubelai-belai rambutmu.
biar kuarungi mimpi di laut kecil matamu.
Thursday, August 2, 2012
kepada: skripsi poskolonialisme
skrip, ada kegembiraan membuncah tapi juga terselip duka yang panjang ketika aku telah selesai mengerjakan kamu. gembira, karena aku telah berhasil melewati masa-masa menegangkan tapi seru itu. berduka, karena diskusi-diskusi tentangmu pun harus sudah usai. terlebih lagi ketika teman-teman sesama poskolonialisme pun sudah tuntas menyelesaikan kamu. barangkali tidak akan ada lagi diskusi di bawah pohon atau di beranda kost. namun, aku berterima kasih padamu. untuk semuanya. kamu telah mengajariku banyak sekali hal. terima kasih, yes. *peluk erat*
Puji syukur kehadirat Tuhan semesta alam, atas nikmat dan kekuatan yang diberikan sehingga saya bisa terus-menerus belajar dan menghayati proses dalam penelitian ini dengan gembira.
Pada Oktober 2010 saya berdiskusi dengan Dr. Aprinus Salam, M.Hum. terkait penelitian yang akan saya kerjakan. Beliau memberikan saran untuk tidak menganalisis karya sastra, tetapi buku yang justru membahas teori. Waktu itu, pilihannya adalah sosiologi sastra dan poskolonialisme. Tanpa berpikir panjang dan didorong oleh semangat yang menggebu, saya pun menyetujui usul tersebut dan memilih poskolonialisme sebagai ladang penelitian, meskipun tidak dapat saya pungkiri adanya keraguan untuk dapat mengerjakan penelitian tersebut.
Pada April 2011 saya menyelesaikan proposal awal saya dengan judul “Poskolonialisme dan Sastra Indonesia” dan menjalani penelitian sesuai draf yang saya buat. Saya membahas bagaimana arah penelitian poskolonialisme dalam sastra Indonesia, awal kemunculannya, aspek-aspek apa saja yang sering mendapat perhatian. Tiap bab saya diskusikan dengan pembimbing dan tentunya mengalami perbaikan sana-sini. Sepanjang tahun 2011 itulah saya melakukan penelitian, mengalami kebingungan, kemalasan, dan keterputusasaan.
Dalam perkembangannya, judul penelitian saya ubah karena saya anggap terlalu luas. Saya tidak membahas persoalan sastra Indonesia secara umum, tetapi sastra Indonesia yang ada dalam buku kajian. Kemudian, sebelum melakukan seminar proposal pada Oktober 2011 saya mengganti judul penelitian menjadi “Membaca (Ulang) Tiga Buku Poskolonialisme dan Sastra Indonesia” karena objek material yang saya gunakan berjumlah tiga buku.
Pada 28 Maret 2012 pukul 09.00 WIB saya ujian. Dalam ujian inilah judul penelitian saya mendapatkan masukan yang berharga. Kata “membaca” yang merupakan kata kerja diubah menjadi kata benda sehingga menjadi “Pembacaan (Ulang) Tiga Buku Poskolonialisme dan Sastra Indonesia”. Judul inilah yang kemudian saya gunakan.
Untuk segala proses penelitian saya tersebut, secara khusus ucapan terima kasih saya sampaikan kepada Dr. Aprinus Salam, M.Hum. sebagai dosen pembimbing yang kritis, yang selalu bersabar dengan kelambanan dan kebodohan saya. Beliau adalah sumber energi saya dalam menulis. Di samping itu, saya juga mengucapkan terima kasih kepada Drs. Sudibyo, M.Hum. sebagai ketua penguji yang dengan kekayaan pengetahuannya telah banyak memberikan masukan serta wacana tandingan dalam penelitian yang saya lakukan, telah mengizinkan saya mengikuti dua kali kuliah teori poskolonialisme, juga atas pemberian buku yang bermanfaat bagi penelitian ini. Tidak lupa, terima kasih saya sampaikan kepada Dra. Sugihastuti, M.S. yang telah membaca penelitian saya dengan teliti lantaran diksi dan tata bahasa yang kacau balau. Saya tidak tahu bagaimana membalas budi baik ini.
Ucapan terima kasih juga saya sampaikan kepada Dr. Suhandano, M.A., ketua Jurusan Sastra Indonesia, yang menoleransi keterlambatan saya dalam mengajukan dosen pembimbing; Drs. Ridha Mashudi Wibowo, M.Hum. sebagai dosen pembimbing akademik yang tidak pernah lelah memberikan motivasi; Cahyaningrum Dewojati, S.S., M, Hum., dan Drs. Rudi Ekasiswanto, M.Hum. yang memberikan kesempatan kepada saya untuk melakukan penelitian. Beliau-beliau inilah yang sering menanyakan kemajuan penelitian saya. Kepada Prof. Dr. Faruk saya mengucapkan terima kasih karena secara tidak langsung menjadi motivator tersendiri dalam penelitian ini sekaligus saya mohon maaf karena telah lancang mencacah-cacah karyanya. Tidak lupa ucapan terima kasih juga saya sampaikan kepada Dyah Ayu Retnowati, A.Md. yang banyak membantu dalam persoalan-persoalan administrasi.
Saya juga harus mengucapkan terima kasih kepada segenap karyawan Perpustakaan Fakultas Ilmu Budaya, Perpustakaan Jurusan Antropologi, Perpustakaan UPT I dan II UGM; juga kepada Bapak dan Ibu petugas akademik yang memberikan banyak kemudahan. Kepada pengelola Beasiswa PPA saya mengucapkan terima kasih karena telah memberikan beasiswa itu selama saya berkuliah.
Kepada kedua orang tua saya, Bapak Kholil Rosyid dan Ibu Siti Rodliyah, terima kasih telah memberikan kepercayaan dan dukungan yang luar biasa kepada saya. Juga adik Nuuruddin Kholid yang darinya saya belajar banyak hal. Terima kasih atas cinta kasih yang tulus dan terus-menerus.
Terima kasih yang istimewa saya tujukan kepada Rinandi Dinanta Praja, kawan berbagi dan berdiskusi yang seringkali menemani saat-saat lembur melalui Yahoo! Messenger. Terima kasih atas obrolan-obrolan yang selalu menakjubkan, energi positif, dan telinga yang tak pernah lelah mendengar curhatan saya yang nggak penting. Berbahagia bisa berproses dan bertumbuh bersamamu, di sini dan saat ini.
Terima kasih sangat kepada Harum Munazharoh yang dengan tulus membantu dan mengenalkan saya dalam berbagai hal, dan seringkali mengingatkan saya untuk selalu bekerja keras dan menikmati segala denyut penelitian ini. Juga kepada Zuddi Ichwan Priyana atas CD One Piece di siang bolong waktu itu, sungguh hiburan yang sangat menyenangkan di tengah kepenatan saya saat mengerjakan penelitian ini. Terima kasih.
Terima kasih tak terhingga kepada sahabat-sahabat saya yang oke, segitiga sembarang: Susi Nuryanti dan Mustika Sari Cahyaningtyas yang selalu ada ketika yang lain menjauh, melewati duka dan tawa bersama-sama, tetapi terkadang lama tak bersua karena kesibukan masing-masing. Juga kepada Saeful Anwar, Ramayda Akmal, dan Fitriawan Nur Indrianto yang selalu memberikan doa dan dukungan. Terima kasih, kakak seperguruan.
Terima kasih juga saya sampaikan kepada teman-teman di Sanggar Lincak yang menjadikan hidup saya lebih puitis. Terlontar juga terima kasih kepada teman-teman Asrama Putri Ratna Ningsih, Kost 857 (terutama Ayu Yunita yang seringkali menyelamatkan kelaparan saya), dan Kost 809 yang selalu memberikan ruang yang nyaman layaknya rumah sendiri. Juga teman-teman ber-chat conference: Pipiet Ambar, Windi, Elok, Fani, Rio, Ari. Terima kasih kepada mereka yang telah mengajarkan bahwa bahagia itu sederhana adanya.
Kepada teman-teman Sastra Indonesia Angkatan 2007: Fawaid (terima kasih atas pinjaman bukunya dan diskusi-diskusi singkat melalui sms), Dani, Danar, Ridho, Naylul, Mia, Rahmi, Septi, Ari 1, Ari 2, Ayi, Santi, Asti, Titis, Amak, Fulan, Arini, Irsyad, Bayu, Hanifan, Indah, Icha, Badrun, Oky, Rifqi, Rara, Desti, Larit, Fiki, Srikandi, Dino, Faqih, Firdaus, dan Rosyidah, terima kasih atas persahabatan yang hangat, senang sekali saya bisa mengenal dan belajar bersama kalian. Kepada teman-teman di poskolonialisme.wordpress.com. yang meskipun jarang up date, semoga blog ini bisa menjadi tempat kita untuk sekadar bertegur sapa.
Tidak lupa saya ucapkan terima kasih kepada guru saya, Mas Alvein Damardanto Yudaputra, atas petuah-petuah, berbagai cerita hidupnya yang hebat, dan nasihat yang selalu saya ingat: jangan jadi orang biasa. Juga kepada Mas Luqman al-Hakim, beliau layaknya hujan yang membasuh ranting-ranting kemarau jiwa. Terima kasih, Guru.
Terima kasih saya kurang lengkap tanpa menyebut Subul Chaqi, sahabat baik, yang sekian lamanya tidak bertatap muka. Terima kasih juga kepada Deleilah, laptop saya, yang tanpa kesetiaannya, penelitian ini tidak akan hadir di hadapan pembaca yang budiman. Sekali lagi, terima kasih atas bantuan teman-teman. Penelitian ini masih terlalu dangkal, yang menunjukkan kurangnya pengetahuan dan kemampuan yang saya miliki. Namun, apa pun kualitas penelitian ini, semoga penelitian sederhana ini bermanfaat dan saya bersedia menerima saran serta kritik yang membangun.
Yogyakarta, Maret 2012
Anis Mashlihatin
Puji syukur kehadirat Tuhan semesta alam, atas nikmat dan kekuatan yang diberikan sehingga saya bisa terus-menerus belajar dan menghayati proses dalam penelitian ini dengan gembira.
Pada Oktober 2010 saya berdiskusi dengan Dr. Aprinus Salam, M.Hum. terkait penelitian yang akan saya kerjakan. Beliau memberikan saran untuk tidak menganalisis karya sastra, tetapi buku yang justru membahas teori. Waktu itu, pilihannya adalah sosiologi sastra dan poskolonialisme. Tanpa berpikir panjang dan didorong oleh semangat yang menggebu, saya pun menyetujui usul tersebut dan memilih poskolonialisme sebagai ladang penelitian, meskipun tidak dapat saya pungkiri adanya keraguan untuk dapat mengerjakan penelitian tersebut.
Pada April 2011 saya menyelesaikan proposal awal saya dengan judul “Poskolonialisme dan Sastra Indonesia” dan menjalani penelitian sesuai draf yang saya buat. Saya membahas bagaimana arah penelitian poskolonialisme dalam sastra Indonesia, awal kemunculannya, aspek-aspek apa saja yang sering mendapat perhatian. Tiap bab saya diskusikan dengan pembimbing dan tentunya mengalami perbaikan sana-sini. Sepanjang tahun 2011 itulah saya melakukan penelitian, mengalami kebingungan, kemalasan, dan keterputusasaan.
Dalam perkembangannya, judul penelitian saya ubah karena saya anggap terlalu luas. Saya tidak membahas persoalan sastra Indonesia secara umum, tetapi sastra Indonesia yang ada dalam buku kajian. Kemudian, sebelum melakukan seminar proposal pada Oktober 2011 saya mengganti judul penelitian menjadi “Membaca (Ulang) Tiga Buku Poskolonialisme dan Sastra Indonesia” karena objek material yang saya gunakan berjumlah tiga buku.
Pada 28 Maret 2012 pukul 09.00 WIB saya ujian. Dalam ujian inilah judul penelitian saya mendapatkan masukan yang berharga. Kata “membaca” yang merupakan kata kerja diubah menjadi kata benda sehingga menjadi “Pembacaan (Ulang) Tiga Buku Poskolonialisme dan Sastra Indonesia”. Judul inilah yang kemudian saya gunakan.
Untuk segala proses penelitian saya tersebut, secara khusus ucapan terima kasih saya sampaikan kepada Dr. Aprinus Salam, M.Hum. sebagai dosen pembimbing yang kritis, yang selalu bersabar dengan kelambanan dan kebodohan saya. Beliau adalah sumber energi saya dalam menulis. Di samping itu, saya juga mengucapkan terima kasih kepada Drs. Sudibyo, M.Hum. sebagai ketua penguji yang dengan kekayaan pengetahuannya telah banyak memberikan masukan serta wacana tandingan dalam penelitian yang saya lakukan, telah mengizinkan saya mengikuti dua kali kuliah teori poskolonialisme, juga atas pemberian buku yang bermanfaat bagi penelitian ini. Tidak lupa, terima kasih saya sampaikan kepada Dra. Sugihastuti, M.S. yang telah membaca penelitian saya dengan teliti lantaran diksi dan tata bahasa yang kacau balau. Saya tidak tahu bagaimana membalas budi baik ini.
Ucapan terima kasih juga saya sampaikan kepada Dr. Suhandano, M.A., ketua Jurusan Sastra Indonesia, yang menoleransi keterlambatan saya dalam mengajukan dosen pembimbing; Drs. Ridha Mashudi Wibowo, M.Hum. sebagai dosen pembimbing akademik yang tidak pernah lelah memberikan motivasi; Cahyaningrum Dewojati, S.S., M, Hum., dan Drs. Rudi Ekasiswanto, M.Hum. yang memberikan kesempatan kepada saya untuk melakukan penelitian. Beliau-beliau inilah yang sering menanyakan kemajuan penelitian saya. Kepada Prof. Dr. Faruk saya mengucapkan terima kasih karena secara tidak langsung menjadi motivator tersendiri dalam penelitian ini sekaligus saya mohon maaf karena telah lancang mencacah-cacah karyanya. Tidak lupa ucapan terima kasih juga saya sampaikan kepada Dyah Ayu Retnowati, A.Md. yang banyak membantu dalam persoalan-persoalan administrasi.
Saya juga harus mengucapkan terima kasih kepada segenap karyawan Perpustakaan Fakultas Ilmu Budaya, Perpustakaan Jurusan Antropologi, Perpustakaan UPT I dan II UGM; juga kepada Bapak dan Ibu petugas akademik yang memberikan banyak kemudahan. Kepada pengelola Beasiswa PPA saya mengucapkan terima kasih karena telah memberikan beasiswa itu selama saya berkuliah.
Kepada kedua orang tua saya, Bapak Kholil Rosyid dan Ibu Siti Rodliyah, terima kasih telah memberikan kepercayaan dan dukungan yang luar biasa kepada saya. Juga adik Nuuruddin Kholid yang darinya saya belajar banyak hal. Terima kasih atas cinta kasih yang tulus dan terus-menerus.
Terima kasih yang istimewa saya tujukan kepada Rinandi Dinanta Praja, kawan berbagi dan berdiskusi yang seringkali menemani saat-saat lembur melalui Yahoo! Messenger. Terima kasih atas obrolan-obrolan yang selalu menakjubkan, energi positif, dan telinga yang tak pernah lelah mendengar curhatan saya yang nggak penting. Berbahagia bisa berproses dan bertumbuh bersamamu, di sini dan saat ini.
Terima kasih sangat kepada Harum Munazharoh yang dengan tulus membantu dan mengenalkan saya dalam berbagai hal, dan seringkali mengingatkan saya untuk selalu bekerja keras dan menikmati segala denyut penelitian ini. Juga kepada Zuddi Ichwan Priyana atas CD One Piece di siang bolong waktu itu, sungguh hiburan yang sangat menyenangkan di tengah kepenatan saya saat mengerjakan penelitian ini. Terima kasih.
Terima kasih tak terhingga kepada sahabat-sahabat saya yang oke, segitiga sembarang: Susi Nuryanti dan Mustika Sari Cahyaningtyas yang selalu ada ketika yang lain menjauh, melewati duka dan tawa bersama-sama, tetapi terkadang lama tak bersua karena kesibukan masing-masing. Juga kepada Saeful Anwar, Ramayda Akmal, dan Fitriawan Nur Indrianto yang selalu memberikan doa dan dukungan. Terima kasih, kakak seperguruan.
Terima kasih juga saya sampaikan kepada teman-teman di Sanggar Lincak yang menjadikan hidup saya lebih puitis. Terlontar juga terima kasih kepada teman-teman Asrama Putri Ratna Ningsih, Kost 857 (terutama Ayu Yunita yang seringkali menyelamatkan kelaparan saya), dan Kost 809 yang selalu memberikan ruang yang nyaman layaknya rumah sendiri. Juga teman-teman ber-chat conference: Pipiet Ambar, Windi, Elok, Fani, Rio, Ari. Terima kasih kepada mereka yang telah mengajarkan bahwa bahagia itu sederhana adanya.
Kepada teman-teman Sastra Indonesia Angkatan 2007: Fawaid (terima kasih atas pinjaman bukunya dan diskusi-diskusi singkat melalui sms), Dani, Danar, Ridho, Naylul, Mia, Rahmi, Septi, Ari 1, Ari 2, Ayi, Santi, Asti, Titis, Amak, Fulan, Arini, Irsyad, Bayu, Hanifan, Indah, Icha, Badrun, Oky, Rifqi, Rara, Desti, Larit, Fiki, Srikandi, Dino, Faqih, Firdaus, dan Rosyidah, terima kasih atas persahabatan yang hangat, senang sekali saya bisa mengenal dan belajar bersama kalian. Kepada teman-teman di poskolonialisme.wordpress.com. yang meskipun jarang up date, semoga blog ini bisa menjadi tempat kita untuk sekadar bertegur sapa.
Tidak lupa saya ucapkan terima kasih kepada guru saya, Mas Alvein Damardanto Yudaputra, atas petuah-petuah, berbagai cerita hidupnya yang hebat, dan nasihat yang selalu saya ingat: jangan jadi orang biasa. Juga kepada Mas Luqman al-Hakim, beliau layaknya hujan yang membasuh ranting-ranting kemarau jiwa. Terima kasih, Guru.
Terima kasih saya kurang lengkap tanpa menyebut Subul Chaqi, sahabat baik, yang sekian lamanya tidak bertatap muka. Terima kasih juga kepada Deleilah, laptop saya, yang tanpa kesetiaannya, penelitian ini tidak akan hadir di hadapan pembaca yang budiman. Sekali lagi, terima kasih atas bantuan teman-teman. Penelitian ini masih terlalu dangkal, yang menunjukkan kurangnya pengetahuan dan kemampuan yang saya miliki. Namun, apa pun kualitas penelitian ini, semoga penelitian sederhana ini bermanfaat dan saya bersedia menerima saran serta kritik yang membangun.
Yogyakarta, Maret 2012
Anis Mashlihatin
Tuesday, July 10, 2012
Friday, June 15, 2012
Thursday, June 14, 2012
kota yang gagal dikenang
Membaca keempat sajak Indrian Koto tentang kota, saya tidak ingin menganalisisnya dari teori puisi yang rumit, yang tentu saja sudah saya lupakan. Saya ingin melihatnya justru dari sisi arsitektur. Karena, membaca sajak-sajak Koto seperti membaca pengalaman dan kegelisahan Avianti Armand yang ditulis dalam buku Arsitektur yang Lain.
Jika dibagi dalam tataran waktu, keempat sajak Koto bisa dirangkum dalam masa lalu, masa kini, dan masa depan. Masa lalu dalam sajak-sajak ini terkesan begitu harmoni. Dalam sajak “Yogyakarta: Kelahiran Kedua”, awalnya kota menjadi tempat yang nyaman dengan bermacam grafiti di tembok-temboknya. Perasaan-perasaan akan keindahan muncul layaknya remaja yang jatuh cinta. Betapa jatuh cinta saat remaja adalah hal yang sulit dijelaskan keindahan serta kegembiraannya.
Namun, masa kini dalam sajak ini diwakili oleh gempa yang telah mengubah suasana harmoni tersebut menjadi konflik. Barangkali karena banyaknya jalan yang retak dan rumah yang ambruk, bangunan-bangunan baru pun menjamur. Kebangkitan dari ‘keretakan’ dan ‘keambrukan’ itu ternyata over dosis. Kota yang sunyi tiba-tiba berubah menjadi padat. Berbanding lurus dengan kegelisahan. Si aku menjadi diri yang asing, yang lain. Bangunan-bangunan tersebut gusar dan saling bersaing. Tidak saling melengkapi.
Si aku berhadapan dengan ruang yang semakin menyempit. Berdesakan. Jalan yang sunyi dan daun gugur hanya tinggal kenangan yang dirindukan. Namun, kenangan itu gagal dihidupkan karena terdesak oleh bangunan-bangunan baru yang mengepung. Bangunan-bangunan lama hanya tinggal nama. Seperti bioskop tua yang terpaksa gulung layar. Hanya romantisisme tentangnya yang masih bergaung.
Namun seperti kekasih aku pun enggan melepasmu. Ia mencintai kota dengan segala kecintaan yang nanar. Meskipun Ia lahir kembali bukan di sebuah tempat yang sunyi. Tetapi penuh teror kecemasan. Awalnya ia memandang kota dengan mata yang takjub. Namun, masa kini tidak mengizinkan ketakjuban itu berulang. Sehingga pertanyaan-pertanyaan tentang kota pun bermunculan. Kegelisahan yang menggebu.
Masa kini menjadi semakin sesak. Jalan-jalan sempit/ kendaraan penuh dan saling menjepit/. Di mana kepadatan kuantitas sebuah kota tidak diimbangi dengan kualitatifnya. Sehingga di sini aku nyaris tak mengenal kami lagi. Sehingga hari depan menjadi begitu meresahkan.
Gedung baru dan lampu yang berpijar tidak mampu memberikan kenyamanan awal yang dirasakan oleh si aku. Justru hal-hal tersebutlah yang menggusur kenyamanannya. Kota yang diimpikan oleh si aku adalah kota yang sunyi dengan daun gugur di jalanan yang sepi. Juga sungai Code yang alami seperti perawan yang sedang tumbuh ketika subuh.Hal ini mengingatkan saya pada lagu “Resah”nya Payung Teduh. Aku ingin berdua denganmu, di antara daun gugur. Aku ingin berdua denganmu, tapi aku hanya melihat keresahanmu.
Ketika berada dalam kondisi kota yang terbelenggu dalam politik identitas, yang bergerak untuk menuju yang lebih 'megah', si aku hanya bisa mengutuk sambil menghidupkan lagi kenangan. Namun, sayangnya, kenangan tak mampu dihidupkan kembali. Ia terdesak oleh lahan parkir dan kampus yang berdiri angkuh. Kegelisahan-kegelisan tersebut berlanjut ketika si aku dihadapkan pada rumah-rumah susun, pinggiran kali, dan kecemasan para penganggur. Yang paradoks dengan mini market 24 jam dan kedai makan impor. Kedai dengan kaca-kaca transparan tempat bersarangnya modal. Bangunan-bangunan tersebut tersuguhkan dalam suasana kota yang hiruk pikuk.
Sapen, yang dulu adalah kampung penyamun, yang masih sunyi, kini pun telah berubah. Menjadi lain. Menjadi asing. Hutan dan belukar berubah kampung dan kamar-kamar/ kegelapan berubah kampus, berubah hotel, berubah pusat perbelanjaan/ masa depan ditanam, kampung digusur, orang-orang berebut datang/ siapa peduli masa lalu kampung ini/ mereka membutuhkan warung makan, laundry, kios pulsa dan sewa murah/.
Bangunan-banguna baru, apa pun bentuknya itu, menjadikan diri semakin asing, bahkan di tanah sendiri. Warnet, rental komputer, dan fotokopi telah menjadi kebutuhan primer orang-orang yang berebut datang itu. Tak ada lagi ruang sosial yang hangat. Semua bertekuk lutut pada modal. Dan jejak masa lalu terabaikan. Ya, siapa yang mau ambil pusing. Harusnya, diantara bangunan yang ramai tersebut, diri menjadi riang, namun sayangnya sepi justru mengoyak. Dan Chairil mencibir, “mampus kau dikoyak-koyak sepi”.
Namun, apa pun itu, ia merasa dilahirkan kembali. Dilahirkan dengan segala kondisi yang melingkupi kota “yang baru”. Dilahirkan untuk mengakrabi dan bergelut dengan kota “baru tersebut”. Berebut tempat dengan kecemasan. Bukan kota “yang dulu” yang membuatnya seperti remaja yang jatuh cinta. Kini Ia telah dewasa dan merasakan patah hati.
Kembali ke masa lalu pun, ke Langgai, ia terkejut oleh keadaan yang sudah berubah. Tak lagi lengang. Si aku menjadi semakin asing. Sebab masa depan terpancang pada antena para bola dan seragam sekolah. Si aku kembali ditempatkan pada ruang ‘realitas’ yang membuatnya gusar.
Dalam “Sosrodipuran” si aku berhadapan dengan rumah dan pintu yang terbuka. Rumah semacam simbol tempat diri berpulang. Namun, ia pun kembali dihadapkan pada kenangan dan kegelisahan. Mengenang yang singkat, mengabaikan yang telah/ dan akan terus berjalan. Seperti tubuhmu, pohon/ kecil yang merangkak jadi remaja/.
Namun, rumah memang tak selamanya mampu menjaga. Ini seperti yang dikatakan oleh Avinati Armand, bahwa rumah telah menjadi semacam ruang transit. “Rumah, juga kota, telah jadi sangat cair, di mana ruang-ruang antah-berantah mengambil bentuk yang spontan, sebuah kepulauan urban dalam mana “ruang-ruang tinggal” adalah pulau-pulau dalam lautan luas yang dibentuk oleh “ruang-ruang pergi” (Armand, 2011: 12).
Kegelisahan akan kota yang telah menjadi hiruk pikuk dan berdesakan tersebut juga dapat dilihat dalam tulisan Avianti yang berjudul “Sembarang Kota”. Adalah tentang pertahanan kota terhadap kapitalisme. Ya, tak satu kotapun yang mampu bertahan. Satu demi satu kota terperangkap pada jaring-jaring kapitalisme. Bandung, yang dulu sempat punya satu mal dan wisatawannya masih senang makan batagor, kini sudah banjir mal, restoran, juga distro. Masjid tua Banten pun mengalami nasib yang sama, sekeliling masjid telah dipenuhi orang berjualan ini itu. Tak ada lagi keagungan masa lalu dan juga kesakralannya. Begitu pula Cirebon dan Palembang.
Dan Yogyakarta, persis seperti yang disajakkan oleh Koto, juga mulai ikut tergerus dalam jaring-jaring tersebut. Di daerah kos saya, baru-baru ini sudah lebih dari tiga restoran dan satu hotel berbintang muncul. Pusat perbelanjaan di seberang jalan itu juga ujug-ujug ada di sana. Sampai-sampai saya lupa bangunan sebelumnya itu apa.
Namun, berbeda dengan Koto, Avianti melihat (atau menemukan?) resistensi di antara keterbatasan ruang yang dikuasai modal. Homo Jakartensis, merujuk pada istilah Seno Gumira Ajidarma, mampu mengisi ruang kosong yang memungkinkan untuk menghirup udara. Sedangkan si aku dalam sajak-sajak Koto larut kedalamnya. Ia tidak sempat (atau tidak bisa?) melakukan apa pun terhadap keadaan kota yang semakin menekan mendesak tersebut.
Entahlah, barangkali si aku memang lebih memilih untuk terus mengenang. Meskipun akan sangat panjang jalannya setelah ini. Meskipun kota itu tak lagi sunyi. Ah, seberapa sunyi kah kamu?
Jika dibagi dalam tataran waktu, keempat sajak Koto bisa dirangkum dalam masa lalu, masa kini, dan masa depan. Masa lalu dalam sajak-sajak ini terkesan begitu harmoni. Dalam sajak “Yogyakarta: Kelahiran Kedua”, awalnya kota menjadi tempat yang nyaman dengan bermacam grafiti di tembok-temboknya. Perasaan-perasaan akan keindahan muncul layaknya remaja yang jatuh cinta. Betapa jatuh cinta saat remaja adalah hal yang sulit dijelaskan keindahan serta kegembiraannya.
Namun, masa kini dalam sajak ini diwakili oleh gempa yang telah mengubah suasana harmoni tersebut menjadi konflik. Barangkali karena banyaknya jalan yang retak dan rumah yang ambruk, bangunan-bangunan baru pun menjamur. Kebangkitan dari ‘keretakan’ dan ‘keambrukan’ itu ternyata over dosis. Kota yang sunyi tiba-tiba berubah menjadi padat. Berbanding lurus dengan kegelisahan. Si aku menjadi diri yang asing, yang lain. Bangunan-bangunan tersebut gusar dan saling bersaing. Tidak saling melengkapi.
Si aku berhadapan dengan ruang yang semakin menyempit. Berdesakan. Jalan yang sunyi dan daun gugur hanya tinggal kenangan yang dirindukan. Namun, kenangan itu gagal dihidupkan karena terdesak oleh bangunan-bangunan baru yang mengepung. Bangunan-bangunan lama hanya tinggal nama. Seperti bioskop tua yang terpaksa gulung layar. Hanya romantisisme tentangnya yang masih bergaung.
Namun seperti kekasih aku pun enggan melepasmu. Ia mencintai kota dengan segala kecintaan yang nanar. Meskipun Ia lahir kembali bukan di sebuah tempat yang sunyi. Tetapi penuh teror kecemasan. Awalnya ia memandang kota dengan mata yang takjub. Namun, masa kini tidak mengizinkan ketakjuban itu berulang. Sehingga pertanyaan-pertanyaan tentang kota pun bermunculan. Kegelisahan yang menggebu.
Masa kini menjadi semakin sesak. Jalan-jalan sempit/ kendaraan penuh dan saling menjepit/. Di mana kepadatan kuantitas sebuah kota tidak diimbangi dengan kualitatifnya. Sehingga di sini aku nyaris tak mengenal kami lagi. Sehingga hari depan menjadi begitu meresahkan.
Gedung baru dan lampu yang berpijar tidak mampu memberikan kenyamanan awal yang dirasakan oleh si aku. Justru hal-hal tersebutlah yang menggusur kenyamanannya. Kota yang diimpikan oleh si aku adalah kota yang sunyi dengan daun gugur di jalanan yang sepi. Juga sungai Code yang alami seperti perawan yang sedang tumbuh ketika subuh.Hal ini mengingatkan saya pada lagu “Resah”nya Payung Teduh. Aku ingin berdua denganmu, di antara daun gugur. Aku ingin berdua denganmu, tapi aku hanya melihat keresahanmu.
Ketika berada dalam kondisi kota yang terbelenggu dalam politik identitas, yang bergerak untuk menuju yang lebih 'megah', si aku hanya bisa mengutuk sambil menghidupkan lagi kenangan. Namun, sayangnya, kenangan tak mampu dihidupkan kembali. Ia terdesak oleh lahan parkir dan kampus yang berdiri angkuh. Kegelisahan-kegelisan tersebut berlanjut ketika si aku dihadapkan pada rumah-rumah susun, pinggiran kali, dan kecemasan para penganggur. Yang paradoks dengan mini market 24 jam dan kedai makan impor. Kedai dengan kaca-kaca transparan tempat bersarangnya modal. Bangunan-bangunan tersebut tersuguhkan dalam suasana kota yang hiruk pikuk.
Sapen, yang dulu adalah kampung penyamun, yang masih sunyi, kini pun telah berubah. Menjadi lain. Menjadi asing. Hutan dan belukar berubah kampung dan kamar-kamar/ kegelapan berubah kampus, berubah hotel, berubah pusat perbelanjaan/ masa depan ditanam, kampung digusur, orang-orang berebut datang/ siapa peduli masa lalu kampung ini/ mereka membutuhkan warung makan, laundry, kios pulsa dan sewa murah/.
Bangunan-banguna baru, apa pun bentuknya itu, menjadikan diri semakin asing, bahkan di tanah sendiri. Warnet, rental komputer, dan fotokopi telah menjadi kebutuhan primer orang-orang yang berebut datang itu. Tak ada lagi ruang sosial yang hangat. Semua bertekuk lutut pada modal. Dan jejak masa lalu terabaikan. Ya, siapa yang mau ambil pusing. Harusnya, diantara bangunan yang ramai tersebut, diri menjadi riang, namun sayangnya sepi justru mengoyak. Dan Chairil mencibir, “mampus kau dikoyak-koyak sepi”.
Namun, apa pun itu, ia merasa dilahirkan kembali. Dilahirkan dengan segala kondisi yang melingkupi kota “yang baru”. Dilahirkan untuk mengakrabi dan bergelut dengan kota “baru tersebut”. Berebut tempat dengan kecemasan. Bukan kota “yang dulu” yang membuatnya seperti remaja yang jatuh cinta. Kini Ia telah dewasa dan merasakan patah hati.
Kembali ke masa lalu pun, ke Langgai, ia terkejut oleh keadaan yang sudah berubah. Tak lagi lengang. Si aku menjadi semakin asing. Sebab masa depan terpancang pada antena para bola dan seragam sekolah. Si aku kembali ditempatkan pada ruang ‘realitas’ yang membuatnya gusar.
Dalam “Sosrodipuran” si aku berhadapan dengan rumah dan pintu yang terbuka. Rumah semacam simbol tempat diri berpulang. Namun, ia pun kembali dihadapkan pada kenangan dan kegelisahan. Mengenang yang singkat, mengabaikan yang telah/ dan akan terus berjalan. Seperti tubuhmu, pohon/ kecil yang merangkak jadi remaja/.
Namun, rumah memang tak selamanya mampu menjaga. Ini seperti yang dikatakan oleh Avinati Armand, bahwa rumah telah menjadi semacam ruang transit. “Rumah, juga kota, telah jadi sangat cair, di mana ruang-ruang antah-berantah mengambil bentuk yang spontan, sebuah kepulauan urban dalam mana “ruang-ruang tinggal” adalah pulau-pulau dalam lautan luas yang dibentuk oleh “ruang-ruang pergi” (Armand, 2011: 12).
Kegelisahan akan kota yang telah menjadi hiruk pikuk dan berdesakan tersebut juga dapat dilihat dalam tulisan Avianti yang berjudul “Sembarang Kota”. Adalah tentang pertahanan kota terhadap kapitalisme. Ya, tak satu kotapun yang mampu bertahan. Satu demi satu kota terperangkap pada jaring-jaring kapitalisme. Bandung, yang dulu sempat punya satu mal dan wisatawannya masih senang makan batagor, kini sudah banjir mal, restoran, juga distro. Masjid tua Banten pun mengalami nasib yang sama, sekeliling masjid telah dipenuhi orang berjualan ini itu. Tak ada lagi keagungan masa lalu dan juga kesakralannya. Begitu pula Cirebon dan Palembang.
Dan Yogyakarta, persis seperti yang disajakkan oleh Koto, juga mulai ikut tergerus dalam jaring-jaring tersebut. Di daerah kos saya, baru-baru ini sudah lebih dari tiga restoran dan satu hotel berbintang muncul. Pusat perbelanjaan di seberang jalan itu juga ujug-ujug ada di sana. Sampai-sampai saya lupa bangunan sebelumnya itu apa.
Namun, berbeda dengan Koto, Avianti melihat (atau menemukan?) resistensi di antara keterbatasan ruang yang dikuasai modal. Homo Jakartensis, merujuk pada istilah Seno Gumira Ajidarma, mampu mengisi ruang kosong yang memungkinkan untuk menghirup udara. Sedangkan si aku dalam sajak-sajak Koto larut kedalamnya. Ia tidak sempat (atau tidak bisa?) melakukan apa pun terhadap keadaan kota yang semakin menekan mendesak tersebut.
Entahlah, barangkali si aku memang lebih memilih untuk terus mengenang. Meskipun akan sangat panjang jalannya setelah ini. Meskipun kota itu tak lagi sunyi. Ah, seberapa sunyi kah kamu?
Wednesday, June 13, 2012
selamat ulang tahun, bumil :)

tulisan ini kubuat 10 hari setelah hari ulang tahunmu.
gimana rasanya 24 tahun? biasa aja? semoga tidak. paling tidak sekarang kamu merayakannya dengan penghuni baru di rahimmu. selamat untuk itu. turut berbahagia, sangat bahagia.
nah, karena kehadiran si baby itu, kamu harus bisa lebih menjaga kesehatan. jangan makan yang pedes-pedes (sial, gak ada partner makan mercon lagi). gak boleh makan mie instan. sering jalan-jalan. ojo malesan. ojo begadang. ojo tangi awan terus. ojo stress, tapi skripsi kudu tetep dikerjakne sih.
banyak hal yang diam-diam kupelajari darimu. meskipun kita sering berbeda pendapat,tapi sebenarnya aku iri padamu yang bisa berpikir praktis. yang masih selalu kuingat adalah semboyan dahsyatmu dalam persoalan cinta segitiga. "daripada sing loro telu, mending sing loro siji wae". pancen gendeng kowe! mungkin sekarang gak ada lagi teman yg bisa diajak 'gendeng2an'. masa-masa itu sudah harus berakhir. masa muda yang bergelora. ah!
kamu yang cerewet. kamu yg tidak mengenal kompromi. kamu yang suka 'bengak-bengok'. kamu yang suka bilang 'gek ndang toh nis'. aku sering kangen sebenarnya. terlebih setelah kamu jarang di jogja.
terima kasih atas persahabatan yang hangat. maaf aku belum bisa jadi teman yang baik.
semoga di 24 ini kamu semakin dekat denganNya. semakin bijak dalam menghadapi segala hal. sudah saatnya menghadapi segalanya dengan kebijaksanaan, tidak melulu ego dan perasaan.
selamat menjadi ibu. aku menyayangimu :)
didedikasikan kepada Mustika Sari Cahyaningtyas
*jebule koe wes tuwo yo ce. 24 ik. haha
Subscribe to:
Posts (Atom)
Aktor Bermata Ngantuk Itu
Dia aktor Korea. Dulu saya menyebutnya sebagai aktor bermata ngantuk. Tapi saya tidak membuat saya sepenasaran itu untuk mencarinya di goog...
-
: sebuah penjelajahan awal Kajian Homi K. Bhabha selain banyak dipengaruhi oleh teoretisi pascastrukturalis seperti Jacques Derrida, Miche...
-
Judul : Bilangan Fu Penulis : Ayu Utami Penerbit : Kepustakaan Populer Gramedia Tahun terbit : 2018 (Cet. 2) Parang Jati, K...
-
Saya sedang duduk-duduk di bonbin menghabiskan sore sambil nyedot es coffeemix. Di depan saya duduk seorang mahasiswi yang kalau dilihat dar...





