Saya benar-benar merindukan teman-teman saya. Merindukan orang-orang yang pernah saya temui di Jogja. Semuanya. Rindu yang tak hanya sesekali, tapi selalu. Andai tangan saya bisa memanjang seperti tangan Monkey D. Luffy, rasanya saya ingin merengkuh mereka semua dalam satu pelukan hangat.
Hmm, sepertinya saya sedang melankolis. Mungkin pengaruh hormon menstruasi. Mungkin juga pengaruh mendung yang menggantung sore ini.
Ada seorang teman yang bilang bahwa dirinya merindukan seseorang sampai rasanya ingin mati. Saya bilang itu mungkin pengaruh drama korea menye-menye yang sering ditontonnya. Saya merasa sangat jahat pernah bilang seperti itu. Meski tak sampai ingin mati, sepertinya saya bisa merasakan apa yang dikatakan teman saya dulu. Saya benar-benar merindukan teman-teman saya. Mungkin mereka tak merindukan saya. Tak mengapa. Tak masalah.
Semoga, di luar sana, mereka semua sedang berbahagia.
Thursday, June 2, 2016
Monday, May 16, 2016
kantong ajaib doraemon #1: dari fotografi sampai kacang hijau
Saya masih mengingat dengan jelas siang itu. Di lorong lantai satu gedung Poerbatjaraka, dia berkemeja kotak-kotak dengan tas selempang hijau, sedang duduk menunggu sambil membawa lembaran kertas. Saya menuju sisi lain, juga duduk menunggu. Hingga akhirnya dia duduk di sebelah saya karena orang yang kami tunggu adalah orang yang sama: Prof. Dr. Faruk. Kami hendak meminta tanda tangan beliau untuk keperluan KRS.
Waktu itu, Prof Faruk sedang ada rapat di salah satu ruangan. Dalam suasana menunggu itu, kami berkenalan dan mengobrol. Dia menanyakan penelitian saya. Kebetulan waktu itu saya membawa satu bendel kertas yang berisi beberapa bab tesis. Singkat cerita, kami kemudian tergabung dalam penelitian dengan objek formal yang sama dan mengerjakannya di ruangan yang sama pula.
Semenjak saat itu, keberuntungan seperti mengikuti saya. Kursinya berada di samping saya sehingga dia adalah orang pertama yang saya ajak diskusi ketika ada persoalan. Mulai dari persoalan penelitian hingga persoalan laptop yang tiba-tiba error. Karena dia dulu sekolah di SMK jurusan perkomputeran, persoalan komputer bisa ditanganinya dengan mudah. Saya juga belajar banyak darinya tentang beberapa program dan aplikasi.
Keberuntungan saya tak hanya sampai di situ. Sebagai seorang yang menggilai Arswendo, dia mencekoki saya karya-karya penulis keren itu, membuat saya mengenal Bong dan Keka. Dan saya menyesal mengapa dari dulu tak membaca karya-karya Arswendo, tentu saja selain Canting.
Dia adalah seorang fotografer handal. Saya doakan semoga dia segera berhasil membuat pameran tunggal. Dari dialah saya jadi mengenal Sebastiano Salgado dengan karyanya yang monumental itu: Genesis. Juga fotografer-fotografer dunia yang lain. Dia juga teman bertualang yang menyenangkan. Kegemarannya menjelajahi tempat-tempat asing pernah membuatnya mencicipi death experience. Kegemarannya yang lain adalah mengoleksi barang-barang kuno (kalau tak boleh disebut rongsokan). Itulah sebabnya klitikan adalah tempat favoritnya. Saat di Australia pun, yang dicarinya adalah tempat semacam klitikan.
Saya benar-benar beruntung punya teman yang baik seperti dia. Dia memberi saya banyak hal, tapi saya tak pernah memberinya apa-apa. Di situlah saya sering merasa sedih. Oh ya, di antara sekian banyak hal yang diberikan kepada saya, saya paling senang ketika dia memberitahu cara cepat memasak kacang hijau di magic-com. Hahaha.
Fyi, namanya Arif Furqan. Cari aja instagramnya kalo mau tau (sebagian) karya-karya fotonya.
Waktu itu, Prof Faruk sedang ada rapat di salah satu ruangan. Dalam suasana menunggu itu, kami berkenalan dan mengobrol. Dia menanyakan penelitian saya. Kebetulan waktu itu saya membawa satu bendel kertas yang berisi beberapa bab tesis. Singkat cerita, kami kemudian tergabung dalam penelitian dengan objek formal yang sama dan mengerjakannya di ruangan yang sama pula.
Semenjak saat itu, keberuntungan seperti mengikuti saya. Kursinya berada di samping saya sehingga dia adalah orang pertama yang saya ajak diskusi ketika ada persoalan. Mulai dari persoalan penelitian hingga persoalan laptop yang tiba-tiba error. Karena dia dulu sekolah di SMK jurusan perkomputeran, persoalan komputer bisa ditanganinya dengan mudah. Saya juga belajar banyak darinya tentang beberapa program dan aplikasi.
Keberuntungan saya tak hanya sampai di situ. Sebagai seorang yang menggilai Arswendo, dia mencekoki saya karya-karya penulis keren itu, membuat saya mengenal Bong dan Keka. Dan saya menyesal mengapa dari dulu tak membaca karya-karya Arswendo, tentu saja selain Canting.
Dia adalah seorang fotografer handal. Saya doakan semoga dia segera berhasil membuat pameran tunggal. Dari dialah saya jadi mengenal Sebastiano Salgado dengan karyanya yang monumental itu: Genesis. Juga fotografer-fotografer dunia yang lain. Dia juga teman bertualang yang menyenangkan. Kegemarannya menjelajahi tempat-tempat asing pernah membuatnya mencicipi death experience. Kegemarannya yang lain adalah mengoleksi barang-barang kuno (kalau tak boleh disebut rongsokan). Itulah sebabnya klitikan adalah tempat favoritnya. Saat di Australia pun, yang dicarinya adalah tempat semacam klitikan.
Saya benar-benar beruntung punya teman yang baik seperti dia. Dia memberi saya banyak hal, tapi saya tak pernah memberinya apa-apa. Di situlah saya sering merasa sedih. Oh ya, di antara sekian banyak hal yang diberikan kepada saya, saya paling senang ketika dia memberitahu cara cepat memasak kacang hijau di magic-com. Hahaha.
Fyi, namanya Arif Furqan. Cari aja instagramnya kalo mau tau (sebagian) karya-karya fotonya.
Monday, April 25, 2016
di kedai yang lampunya terang, pada malam yang tak panjang
untuk Jogja yang kusayangi
Sepanjang ingatanku, tak pernah aku mendapati pandangan mata seperti malam ini. Pandangan mata yang aku sendiri tak sanggup menantangnya.
Beberapa saat lamanya kami hanya saling diam. Aku membolak-balik daftar menu. Dia bertanya, minuman apa yang sering kupesan di kedai ini. Aku menunjuk salah satu jenis minuman. Dia pun memesan itu. Aku memilih minuman dan makanan yang belum pernah kupesan.
Kemudian kesenyapan yang panjang. Lagi. Aku memalingkan muka. Masih belum sanggup menantang pandangan matanya. Di sebelah kami, ada seorang anak muda, sendirian, sedang sibuk dengan laptop dan tumpukan kertas. Headset terpasang di telinganya. Segelas jus dan sepiring kentang goreng juga ada di mejanya. Barangkali ia sedang mengerjakan tugas kuliah.
Dia yang di sampingku masih terus menatap. Hingga akhirnya…
Kenapa begitu mendadak? dengan nada yang terlalu rumit untuk dideskripsikan.
Maaf, ya. Jawabku kemudian.
Aku tahu aku harus mengakhiri suasana yang mendadak sentimentil ini. Aku lalu mengingatkannya kembali pada hal-hal gila yang pernah kami lakukan. Dulu sekali. Dia tersenyum. Aku sedikit lega.
Kamu memang gila!
Hahaha..
Minuman dan makanan yang kami pesan datang. Anak muda tadi beranjak dari duduknya. Mengemasi barang-barangnya. Pergi. Aku yakin sekali dia tadi mendengarkan obrolan kami.
Yang kemudian keluar dari mulutnya adalah hal-hal yang selama ini tak pernah kusangka. Beberapa hal yang diungkapkannya membuatku tercekat. Dia tahu riwayatku. Tanpa aku harus memberitahunya. Tanpa ada celah untukku membantahnya.
Aku paham kenapa dia memilih malam ini untuk mengungkap itu semua. Tak akan ada kesempatan lagi seperti malam ini. Kupertegas: tak akan ada lagi. Malam-malam panjang sepekan sekali selama lebih dari delapan tahun harus berakhir malam ini.
Aku masih beruntung bisa bertemu dengannya. Sejak sore hujan turun deras sekali dan baru reda beberapa saat yang lalu. Tapi, jikapun hujan tak reda, malam ini aku harus bertemu dengannya. Jadi, kesempatan ini harus kugunakan sebaik-baiknya. Akan kukatakan apa yang selama ini hanya tersimpan di benak.
Terima kasih, ya.
Akhirnya aku mengucapkannya. Aku tidak tahu kata lain selain terima kasih. Aku tidak tahu apa jadinya aku jika tak dipertemukan dengannya. Aku juga ragu perjalananku ada maknanya jika tak bertemu dengannya. Maka, terima kasih adalah satu-satunya kata yang sanggup kuberikan padanya. Aku jelas tak sanggup memberikan seperti apa yang sudah diberikannya padaku.
Dia tersenyum. Aku pun.
Beberapa saat lamanya kami tenggelam dalam pikiran masing-masing. Dalam pikiranku berkecamuk serangkaian kemungkinan, harapan, juga kecemasan. Aku tak tahu apa yang ada dalam pikirannya.
Lalu dia menanyakan sesuatu yang kujawab hanya dengan helaan nafas panjang. Dan pandangan mata itu terbit lagi. Deg!
Waktu berlari begitu cepat. Secepat detak jantungku. Tiba-tiba saja sudah lewat tengah malam. Satu-satunya mukjizat yang kuinginkan saat ini adalah kemampuan menghentikan waktu. Malam ini saja. Tolong!
Dia memberi isyarat agar kami segera beranjak. Aku bilang, sebentar. Aku ingin memenuhi ingatanku dengan warna bola matanya (ya, akhirnya aku berani menatapnya), alisnya yang bagus, tulisan-tulisan di kaosnya, potongan rambutnya, jumlah puntung rokok di asbak, makanan dan minuman yang belum tandas, meja berkaki pendek, juga lampu-lampu. Aku ingin menghirup dalam-dalam campuran parfum, asap rokok, dan bau tanah sisa hujan ini hingga paru-paruku penuh. Lalu membungkus dan menaruhnya di 2046 ciptaan sutradara genius Wong Kar Wai.
Dia masih di sampingku, tapi rasanya aku sudah sangat merindukannya. Sialan! Aku dikepung perasaan-perasaan sentimentil semacam ini.
Di luar, aku bisa melihat angin menggoyangkan daun-daun mangga. Kami pun beranjak meninggalkan kedai yang lampunya terang ini.
Tuban-Surabaya, Februari-April 2016
Sepanjang ingatanku, tak pernah aku mendapati pandangan mata seperti malam ini. Pandangan mata yang aku sendiri tak sanggup menantangnya.
Beberapa saat lamanya kami hanya saling diam. Aku membolak-balik daftar menu. Dia bertanya, minuman apa yang sering kupesan di kedai ini. Aku menunjuk salah satu jenis minuman. Dia pun memesan itu. Aku memilih minuman dan makanan yang belum pernah kupesan.
Kemudian kesenyapan yang panjang. Lagi. Aku memalingkan muka. Masih belum sanggup menantang pandangan matanya. Di sebelah kami, ada seorang anak muda, sendirian, sedang sibuk dengan laptop dan tumpukan kertas. Headset terpasang di telinganya. Segelas jus dan sepiring kentang goreng juga ada di mejanya. Barangkali ia sedang mengerjakan tugas kuliah.
Dia yang di sampingku masih terus menatap. Hingga akhirnya…
Kenapa begitu mendadak? dengan nada yang terlalu rumit untuk dideskripsikan.
Maaf, ya. Jawabku kemudian.
Aku tahu aku harus mengakhiri suasana yang mendadak sentimentil ini. Aku lalu mengingatkannya kembali pada hal-hal gila yang pernah kami lakukan. Dulu sekali. Dia tersenyum. Aku sedikit lega.
Kamu memang gila!
Hahaha..
Minuman dan makanan yang kami pesan datang. Anak muda tadi beranjak dari duduknya. Mengemasi barang-barangnya. Pergi. Aku yakin sekali dia tadi mendengarkan obrolan kami.
Yang kemudian keluar dari mulutnya adalah hal-hal yang selama ini tak pernah kusangka. Beberapa hal yang diungkapkannya membuatku tercekat. Dia tahu riwayatku. Tanpa aku harus memberitahunya. Tanpa ada celah untukku membantahnya.
Aku paham kenapa dia memilih malam ini untuk mengungkap itu semua. Tak akan ada kesempatan lagi seperti malam ini. Kupertegas: tak akan ada lagi. Malam-malam panjang sepekan sekali selama lebih dari delapan tahun harus berakhir malam ini.
Aku masih beruntung bisa bertemu dengannya. Sejak sore hujan turun deras sekali dan baru reda beberapa saat yang lalu. Tapi, jikapun hujan tak reda, malam ini aku harus bertemu dengannya. Jadi, kesempatan ini harus kugunakan sebaik-baiknya. Akan kukatakan apa yang selama ini hanya tersimpan di benak.
Terima kasih, ya.
Akhirnya aku mengucapkannya. Aku tidak tahu kata lain selain terima kasih. Aku tidak tahu apa jadinya aku jika tak dipertemukan dengannya. Aku juga ragu perjalananku ada maknanya jika tak bertemu dengannya. Maka, terima kasih adalah satu-satunya kata yang sanggup kuberikan padanya. Aku jelas tak sanggup memberikan seperti apa yang sudah diberikannya padaku.
Dia tersenyum. Aku pun.
Beberapa saat lamanya kami tenggelam dalam pikiran masing-masing. Dalam pikiranku berkecamuk serangkaian kemungkinan, harapan, juga kecemasan. Aku tak tahu apa yang ada dalam pikirannya.
Lalu dia menanyakan sesuatu yang kujawab hanya dengan helaan nafas panjang. Dan pandangan mata itu terbit lagi. Deg!
Waktu berlari begitu cepat. Secepat detak jantungku. Tiba-tiba saja sudah lewat tengah malam. Satu-satunya mukjizat yang kuinginkan saat ini adalah kemampuan menghentikan waktu. Malam ini saja. Tolong!
Dia memberi isyarat agar kami segera beranjak. Aku bilang, sebentar. Aku ingin memenuhi ingatanku dengan warna bola matanya (ya, akhirnya aku berani menatapnya), alisnya yang bagus, tulisan-tulisan di kaosnya, potongan rambutnya, jumlah puntung rokok di asbak, makanan dan minuman yang belum tandas, meja berkaki pendek, juga lampu-lampu. Aku ingin menghirup dalam-dalam campuran parfum, asap rokok, dan bau tanah sisa hujan ini hingga paru-paruku penuh. Lalu membungkus dan menaruhnya di 2046 ciptaan sutradara genius Wong Kar Wai.
Dia masih di sampingku, tapi rasanya aku sudah sangat merindukannya. Sialan! Aku dikepung perasaan-perasaan sentimentil semacam ini.
Di luar, aku bisa melihat angin menggoyangkan daun-daun mangga. Kami pun beranjak meninggalkan kedai yang lampunya terang ini.
Tuban-Surabaya, Februari-April 2016
Wednesday, April 20, 2016
senin sore di kepalamu yang ditopang tangan kanan
pada satu Senin di meja kerjamu yang penuh
tumpukan kertas, beberapa alat tulis, kalender duduk, foto, dan setangkai bunga plastik,
tak ada yang lebih kau damba tinimbang tubuhmu
tenggelam dalam busa sabun yang melimpah dan beraroma jeruk juga
aroma shampo yang mengingatkanmu pada kekasih
yang jauh
kalut dan amarah berterbangan dan menclok
di langit-langit kamar mandimu
menempel tak terlalu kuat dan dalam hitungan menit bermetamorfosis
jadi kupu-kupu yang tampak lucu
setelahnya, perlahan kau rebahkan
kantuk pada kasur dengan seprai bermotif daun teh
membawamu melayang-layang sebentar di sebuah perkebunan yang berkabut
hmmm,
di meja kecil itu, lagulagu sendu—yang menyala 24 jam—membantumu mengatupkan pelupuk.
Surabaya, April 2016
tumpukan kertas, beberapa alat tulis, kalender duduk, foto, dan setangkai bunga plastik,
tak ada yang lebih kau damba tinimbang tubuhmu
tenggelam dalam busa sabun yang melimpah dan beraroma jeruk juga
aroma shampo yang mengingatkanmu pada kekasih
yang jauh
kalut dan amarah berterbangan dan menclok
di langit-langit kamar mandimu
menempel tak terlalu kuat dan dalam hitungan menit bermetamorfosis
jadi kupu-kupu yang tampak lucu
setelahnya, perlahan kau rebahkan
kantuk pada kasur dengan seprai bermotif daun teh
membawamu melayang-layang sebentar di sebuah perkebunan yang berkabut
hmmm,
di meja kecil itu, lagulagu sendu—yang menyala 24 jam—membantumu mengatupkan pelupuk.
Surabaya, April 2016
Wednesday, March 2, 2016
hujan deras dan jubah ajaib
Di sini, hampir setiap hari hujan turun. Sangat deras. Seringkali diiringi angin dan petir. Jika demikian, aku buru-buru menuju jendela. Menyaksikan sepotong peristiwa itu dari sana. Aku melihat bambu-bambu yang doyong dan meliuk-liuk diterpa angin. Juga pohon-pohon pisang yang daun-daunnya koyak. Pohon trembesi yang kokoh hanya melambaikan ranting-rantingnya. Sementara rumput-rumput dan bunga liar hanya bisa menerima dengan tabah serbuan pasukan air itu.
Tak jauh dari bambu-bambu, beberapa orang duduk berteduh di sebuah pondokan yang atapnya terbuat dari asbes (aku tak tahu persis ada apa di dalam pondokan itu). Mereka termangu-mangu menyaksikan gabahnya yang ditutupi terpal karena tak keburu mengangkatnya. Betapa susah mengeringkan gabah di musim penghujan seperti ini. Aku mengira, meski ditutupi terpal, gabah itu lebih basah dari sebelum dijemur tadi pagi.
Hujan di sini memang sering datang tanpa diantarkan mendung. Beberapa kali hujan datang saat sedang terik-teriknya. Deras sekali. Lalu berhenti tiba-tiba. Dan tak ada pelangi setelahnya.
Ketika hujan sedikit reda—sementara para penunggu gabah entah kemana—burung-burung kecil, burung merpati, dan ayam-ayam berbondong-bondong menuju tempat penjemuran gabah itu. Mereka berpesta. Makan sekenyang-kenyangnya. Bagian diriku yang berjubah gaib seperti milik Harry Potter kubiarkan mendekati kawanan burung itu. Berada di tengah-tengah mereka. Melambaikan tangan pada diriku yang lain, yang ada di balik jendela.
Aku suka melihat burung-burung kecil itu terbang serentak, seperti ada yang mengomando. Lalu berbaris berjejeran di atap pondokan. Aku juga suka memerhatikan gerak leher dan kepala burung merpati yang mematuki gabah. Lalu setelah kenyang mereka terbang ke sarangnya yang tak jauh dari pondokan. Kepak sayapnya begitu menggetarkan. Sementara itu, ayam-ayam seperti tak pernah kenyang.
Jika sedang hujan dan tak ada gabah yang dijemur, beberapa anak laki-laki sering main bola atau bersepeda di sana. Pemandangan yang lebih sering kulihat di film-film itu kini bisa kusaksikan di depan mataku. Ada gejolak aneh setiap kali melihat mereka. Ada dorongan yang sangat kuat untuk bergabung dengan mereka. Dan aku tak kuasa menepis godaan itu. Teriakan-teriakan, ciptaran-cipratan air. Aku melebur bersama mereka. Aku yang berjubah ajaib.
Tak jauh dari bambu-bambu, beberapa orang duduk berteduh di sebuah pondokan yang atapnya terbuat dari asbes (aku tak tahu persis ada apa di dalam pondokan itu). Mereka termangu-mangu menyaksikan gabahnya yang ditutupi terpal karena tak keburu mengangkatnya. Betapa susah mengeringkan gabah di musim penghujan seperti ini. Aku mengira, meski ditutupi terpal, gabah itu lebih basah dari sebelum dijemur tadi pagi.
Hujan di sini memang sering datang tanpa diantarkan mendung. Beberapa kali hujan datang saat sedang terik-teriknya. Deras sekali. Lalu berhenti tiba-tiba. Dan tak ada pelangi setelahnya.
Ketika hujan sedikit reda—sementara para penunggu gabah entah kemana—burung-burung kecil, burung merpati, dan ayam-ayam berbondong-bondong menuju tempat penjemuran gabah itu. Mereka berpesta. Makan sekenyang-kenyangnya. Bagian diriku yang berjubah gaib seperti milik Harry Potter kubiarkan mendekati kawanan burung itu. Berada di tengah-tengah mereka. Melambaikan tangan pada diriku yang lain, yang ada di balik jendela.
Aku suka melihat burung-burung kecil itu terbang serentak, seperti ada yang mengomando. Lalu berbaris berjejeran di atap pondokan. Aku juga suka memerhatikan gerak leher dan kepala burung merpati yang mematuki gabah. Lalu setelah kenyang mereka terbang ke sarangnya yang tak jauh dari pondokan. Kepak sayapnya begitu menggetarkan. Sementara itu, ayam-ayam seperti tak pernah kenyang.
Jika sedang hujan dan tak ada gabah yang dijemur, beberapa anak laki-laki sering main bola atau bersepeda di sana. Pemandangan yang lebih sering kulihat di film-film itu kini bisa kusaksikan di depan mataku. Ada gejolak aneh setiap kali melihat mereka. Ada dorongan yang sangat kuat untuk bergabung dengan mereka. Dan aku tak kuasa menepis godaan itu. Teriakan-teriakan, ciptaran-cipratan air. Aku melebur bersama mereka. Aku yang berjubah ajaib.
Friday, January 15, 2016
langit
Saat menulis ini, saya sedang berada di perpustakaan. Dinding perpustakaan yang terbuat dari kaca memungkinkan saya untuk melihat situasi di luar ruangan. Orang-orang yang berjalan, orang-orang duduk melingkar, rerumputan, pohon-pohon cemara, pohon-pohon talok, pohon bunga kenanga, pohon alpukat yang ditebang, gedung Grha Sabha Pramana,mobil-mobil yang diparkir, juga langit yang menaunginya.
Langit.
Saya sangat suka memandangi langit. Sudah nonton Boyhood? Ya, adegan yang paling saya sukai adalah ketika sang tokoh utama (saat masih kecil) berbaring di atas rerumputan, salah satu tangannya dilipat di bawah kepala, dan Ia memandangi langit.
Dari tempat saya duduk sekarang, langit siang ini terlihat cerah, biru lembut. Ada awan-awan tipis di bawahnya, bukan awan yang bergumpal-gumpal.
Memandangi langit selalu mengingatkan saya pada salah satu ajaran Gede Prama. Guru Gede sering menganalogikan batin yang mendalam dengan langit dan awan. “Hitam atau putihnya awan, tidak akan mempengaruhi langit yang biru”, begitu katanya. Langit akan tetap di sana, tetap biru, ia hanya menyaksikan pergerakan awan putih atau awan hitam. Begitulah batin yang mendalam. Good mood atau bad mood hanyalah pergerakan awan putih dan awan hitam. Baik awan putih atau awan hitam, ia akan berlalu. Awan putih atau awan hitam, semuanya indah apa adanya.
Nah, jika kamu sekarang sedang berada di ruangan tertutup dan mood-mu sedang tidak bagus entah karena apa, coba buka jendela, atau keluar ruangan sebentar. Pandanglah ke atas. Langit terbuka luas, juga pikiranku, pikiranmu.*
*diambil dari judul lagu “Langit Terbuka Luas, Mengapa tidak pikiranku..pikiranmu”, Pure Saturday.
Langit.
Saya sangat suka memandangi langit. Sudah nonton Boyhood? Ya, adegan yang paling saya sukai adalah ketika sang tokoh utama (saat masih kecil) berbaring di atas rerumputan, salah satu tangannya dilipat di bawah kepala, dan Ia memandangi langit.
Dari tempat saya duduk sekarang, langit siang ini terlihat cerah, biru lembut. Ada awan-awan tipis di bawahnya, bukan awan yang bergumpal-gumpal.
Memandangi langit selalu mengingatkan saya pada salah satu ajaran Gede Prama. Guru Gede sering menganalogikan batin yang mendalam dengan langit dan awan. “Hitam atau putihnya awan, tidak akan mempengaruhi langit yang biru”, begitu katanya. Langit akan tetap di sana, tetap biru, ia hanya menyaksikan pergerakan awan putih atau awan hitam. Begitulah batin yang mendalam. Good mood atau bad mood hanyalah pergerakan awan putih dan awan hitam. Baik awan putih atau awan hitam, ia akan berlalu. Awan putih atau awan hitam, semuanya indah apa adanya.
Nah, jika kamu sekarang sedang berada di ruangan tertutup dan mood-mu sedang tidak bagus entah karena apa, coba buka jendela, atau keluar ruangan sebentar. Pandanglah ke atas. Langit terbuka luas, juga pikiranku, pikiranmu.*
*diambil dari judul lagu “Langit Terbuka Luas, Mengapa tidak pikiranku..pikiranmu”, Pure Saturday.
Saturday, December 26, 2015
catatan di tepi buku #2
Suatu hari, di kamar saya, saya memberi tebakan pada seorang teman, “di antara semua buku-buku saya, mana yang paling sering saya baca?”. Si teman mengamati buku-buku yang terpajang di rak. Agak bingung menentukan dan akhirnya menyerah karena banyak buku berpotensi untuk dibaca berkali-kali. Lalu saya memberi tahu, buku itu adalah Kisah Lainnya yang ditulis oleh Ariel, Uki, Lukman, Reza, dan David. Para personel band Noah. Tak terhitung berapa kali saya membacanya. Dalam buku ini, meskipun masing-masing personel diberikan ruang, porsi Ariel lebih banyak dibanding yang lain. Saya banyak sekali belajar dari dan berdialog dengan buku ini, terutama dari tulisan-tulisan Ariel. Dalam buku ini, apa yang dikatakan oleh Sherina tentang “lihatlah lebih dekat maka kau akan mengerti” terejawantah. Tidak hanya itu, apa yang dituturkan oleh guru-guru saya, entah mengapa, banyak saya temukan contohnya di buku ini. Saya mengidolakan Ariel sebagaimana saya mengidolakan Ahmad Dhani. Tak peduli apa yang disangkakan orang terhadap keduanya. Buku ini, membuat saya jauh lebih mengidolakan Ariel.
Kelas Menengah Bukan Ratu Adil, Identitas dan Kenikmatan, dan Politik Kelas Menengah di Indonesia saya baca untuk keperluan penelitian. Aksara Amananunna menemani perjalanan saya dari Jogja-Malang-Jogja beberapa waktu lalu. Rio Johan tidak hanya unggul dalam cara bercerita, tapi tema ceritanya juga segar. Saya sependapat jika ada yang mengatakan bahwa Agustinus Wibowo begitu piawai meramu perjalanannya ke berbagai belahan dunia menjadi sebuah cerita menarik. Itu saya temukan di Titik Nol. Agustinus, seperti yang dikatakan oleh V.S Naipaul, sepenuhnya paham apa yang paling penting dari sebuah cerita perjalanan, yaitu cerita tentang manusia. Ia tidak terjebak pada pemujaan berlebihan atau sinisme yang tidak perlu pada tempat-tempat yang dikunjungi.
Dilan 1&2, adalah jenis buku untuk bersenang-senang. Membaca buku ini saya seolah terlepas dari beban teori. Ya, sejak kuliah di jurusan sastra, setiap kali membaca novel saya selalu dibayang-bayangi teori (sastra). Sangat menyebalkan. Buku ini, dalam ke-ringan-annya, ia kontemplatif. Yang lebih kontemplatif lagi, dan memang tujuannya agar pembaca bisa berkontemplasi, adalah buku Tiada Sufi Tanpa Humor. Buku ini menuturkan kebijaksanaan dalam kejenakaan.
***
Menurut saya, lebih menyenangkan menyelami pemikiran Seno Gumira Ajidarma dari tulisan-tulisannya daripada dari omongannya. Saya memang terlalu cepat mengambil kesimpulan karena hal ini saya dasarkan hanya pada salah satu pertemuan dengannya dalam sebuah diskusi di kampus. Tapi, entahlah saya lebih suka berdialog dengan tulisannya. Tiada Ojek di Paris adalah jenis tulisan non-fiksi Seno yang saya suka. Tulisan-tulisan semacam itu juga ada di buku Seno yang lain, Affair. Seperti bermain-main, tapi nyentil. Yang semacam itu juga saya temukan dalam Out of the Truck Box. Gaya tulisan Iqbal Aji Daryono jelas beda dengan Seno. Kekuatan buku ini ada dalam perspektif yang digunakan Iqbal dalam memandang suatu perkara. Perspektif seorang sopir truk yang cerdas.
Selama bertahun-tahun, saya mengenal Reda Gaudiamo hanya dari suaranya ketika ia melantunkan puisi-puisi Sapardi Djoko Damono. Saya baru tahu kalau dia juga menulis fiksi di beberapa majalah. Na Willa adalah jenis cerita anak yang dapat dinikmati oleh anak-anak sekaligus orang dewasa. Saking asyiknya, saya sering membatin, “kok bisa gitu, ya”. Saya pribadi menganggap bahwa buku ini adalah buku fiksi terbaik yang saya baca tahun ini. Tentang Kita juga kumpulan cerpen yang menarik. Reda mencoba berbagai sudut pandang yang tak terduga dalam menuturkan cerita. Animal Farm yang saya baca versi terjemahan Prof. Soebakdi Soemanto. Tidak usah diragukan lagi bagaimana Prof. Bakdi menerjemahkan. Meskipun hasil terjemahan, rasanya seperti tidak membaca teks terjemahan. Mungkin inilah jenis terjemahan yang bagus: tidak terasa terjemahannya.
Kereta Tidur adalah cerita yang didominasi suasana mendung. Buku ini sudah lama saya cari karena penasaran bagaimana Avianti menulis cerita fiksi. Saya terlebih dahulu mengenal Avianti sebagai arsitek daripada sebagai seorang cerpenis dan penyair. Mendung sekaligus pahit saya rasakan ketika membaca Bukan Pasar Malam. Perasaan itu selalu berulang ketika saya membaca novel Pram yang satu itu. Novel itu saya baca lagi lantaran kangen pada Pram. Sementara Ajaran Marx atau Kepintaran Sang Murid Membeo adalah buku tipis hasil tanggapan Bung Hatta atas tanggapan seseorang mengenai tulisannya. Kritik atas kritik. Bung Hatta begitu tajam dalam menulis kritik-kritiknya. Saya sampe mak wow!
***
Saya pertama kali mengenal James Redfield lewat bukunya The Celestine Prophecy. Saya membaca The Celestine Vision karena tak ingin ketinggalan dengan pemikiran dan “wawasan” yang disuguhkan Redfield. Bagi yang suka psikologi dan spiritual, buku-buku Redfield menarik. Tanah Tabu adalah buku yang direkomendasikan seorang teman waktu buku ini pertama kali terbit, kira-kira tahun 2009. Saya baru membacanya tahun ini karena dihadiahi teman. Meskipun kalimat-kalimat yang dibangun masih banyak yang kedodoran, saya menganggap persoalan yang disampaikan penulis amat penting. Iksaka Banu juga menyampaikan hal yang tak kalah penting dan menarik dalam Semua untuk Hindia. Kumpulan cerita ini dapat dijadikan sebagai rujukan bagi mahasiswa yang mencari teks-teks poskolonial. Jarang sekali ada kumpulan cerpen yang begitu suntuk mengulik persoalan kolonialisme Belanda di Indonesia seperti yang ada dalam buku itu.
Saat hendak membaca Mengantar dari Luar, saya dibayangi perasaan enggan. Enggan karena ketebalan bukunya. Apalagi ini kumpulan tulisan non-fiksi. Tapi untungnya keengganan itu dikalahkan oleh rasa penasaran saya pada tulisan-tulisan Puthut EA terdahulu. Seperti biasa, saya begitu menikmati tulisan-tulisan Puthut. Sayangnya, kenikmatan itu sedikit terganggu karena banyaknya salah ketik yang luput dari pengamatan penyunting, mengingat tidak adanya pemeriksa aksara.
Saya mengakhiri tahun ini dengan menyelesaikan membaca Muhammad karya Martin Lings, seorang cendekiawan-sejarawan Inggris. Buku ini sudah saya beli beberapa bulan lalu tapi baru bisa saya selesaikan belakangan. Membaca buku ini, saya hanyutdan tak jarang menangis. Narasi Lings begitu mengagumkan dan detail. Banyak hal yang awalnya bagi saya masih kabur, terjelaskan dalam buku ini. Ketika membacanya, ada semacam perasaan tak ingin buru-buru menyelesaikan.
Ehm, kenapa buku How the World Works belum selesai dibaca? Karena saya butuh waktu lebih untuk mencerna tulisan Chomsky. Hehe.
***
Mendaftar buku-buku yang saya baca, bagi saya sangat penting. Tentu ini untuk kepentingan pribadi. Apa yang penting bagi saya, belum tentu penting buat Anda. Begitu juga sebaliknya. Dengan mendaftar bacaan, setidaknya saya jadi tahu, tahun ini saya mengalami kemerosotan luar biasa dalam aktivitas membaca. Apalagi menulis. Buku-buku yang masih menumpuk, yang belum sempat dibaca, juga menegaskan bahwa uang bisa membeli buku-buku, tapi uang tak bisa membeli waktu untuk membaca dan merenungkannya. Semoga tahun-tahun berikutnya bisa lebih banyak membaca dan merenung. Amiin.
Kelas Menengah Bukan Ratu Adil, Identitas dan Kenikmatan, dan Politik Kelas Menengah di Indonesia saya baca untuk keperluan penelitian. Aksara Amananunna menemani perjalanan saya dari Jogja-Malang-Jogja beberapa waktu lalu. Rio Johan tidak hanya unggul dalam cara bercerita, tapi tema ceritanya juga segar. Saya sependapat jika ada yang mengatakan bahwa Agustinus Wibowo begitu piawai meramu perjalanannya ke berbagai belahan dunia menjadi sebuah cerita menarik. Itu saya temukan di Titik Nol. Agustinus, seperti yang dikatakan oleh V.S Naipaul, sepenuhnya paham apa yang paling penting dari sebuah cerita perjalanan, yaitu cerita tentang manusia. Ia tidak terjebak pada pemujaan berlebihan atau sinisme yang tidak perlu pada tempat-tempat yang dikunjungi.
Dilan 1&2, adalah jenis buku untuk bersenang-senang. Membaca buku ini saya seolah terlepas dari beban teori. Ya, sejak kuliah di jurusan sastra, setiap kali membaca novel saya selalu dibayang-bayangi teori (sastra). Sangat menyebalkan. Buku ini, dalam ke-ringan-annya, ia kontemplatif. Yang lebih kontemplatif lagi, dan memang tujuannya agar pembaca bisa berkontemplasi, adalah buku Tiada Sufi Tanpa Humor. Buku ini menuturkan kebijaksanaan dalam kejenakaan.
***
Menurut saya, lebih menyenangkan menyelami pemikiran Seno Gumira Ajidarma dari tulisan-tulisannya daripada dari omongannya. Saya memang terlalu cepat mengambil kesimpulan karena hal ini saya dasarkan hanya pada salah satu pertemuan dengannya dalam sebuah diskusi di kampus. Tapi, entahlah saya lebih suka berdialog dengan tulisannya. Tiada Ojek di Paris adalah jenis tulisan non-fiksi Seno yang saya suka. Tulisan-tulisan semacam itu juga ada di buku Seno yang lain, Affair. Seperti bermain-main, tapi nyentil. Yang semacam itu juga saya temukan dalam Out of the Truck Box. Gaya tulisan Iqbal Aji Daryono jelas beda dengan Seno. Kekuatan buku ini ada dalam perspektif yang digunakan Iqbal dalam memandang suatu perkara. Perspektif seorang sopir truk yang cerdas.
Selama bertahun-tahun, saya mengenal Reda Gaudiamo hanya dari suaranya ketika ia melantunkan puisi-puisi Sapardi Djoko Damono. Saya baru tahu kalau dia juga menulis fiksi di beberapa majalah. Na Willa adalah jenis cerita anak yang dapat dinikmati oleh anak-anak sekaligus orang dewasa. Saking asyiknya, saya sering membatin, “kok bisa gitu, ya”. Saya pribadi menganggap bahwa buku ini adalah buku fiksi terbaik yang saya baca tahun ini. Tentang Kita juga kumpulan cerpen yang menarik. Reda mencoba berbagai sudut pandang yang tak terduga dalam menuturkan cerita. Animal Farm yang saya baca versi terjemahan Prof. Soebakdi Soemanto. Tidak usah diragukan lagi bagaimana Prof. Bakdi menerjemahkan. Meskipun hasil terjemahan, rasanya seperti tidak membaca teks terjemahan. Mungkin inilah jenis terjemahan yang bagus: tidak terasa terjemahannya.
Kereta Tidur adalah cerita yang didominasi suasana mendung. Buku ini sudah lama saya cari karena penasaran bagaimana Avianti menulis cerita fiksi. Saya terlebih dahulu mengenal Avianti sebagai arsitek daripada sebagai seorang cerpenis dan penyair. Mendung sekaligus pahit saya rasakan ketika membaca Bukan Pasar Malam. Perasaan itu selalu berulang ketika saya membaca novel Pram yang satu itu. Novel itu saya baca lagi lantaran kangen pada Pram. Sementara Ajaran Marx atau Kepintaran Sang Murid Membeo adalah buku tipis hasil tanggapan Bung Hatta atas tanggapan seseorang mengenai tulisannya. Kritik atas kritik. Bung Hatta begitu tajam dalam menulis kritik-kritiknya. Saya sampe mak wow!
***
Saya pertama kali mengenal James Redfield lewat bukunya The Celestine Prophecy. Saya membaca The Celestine Vision karena tak ingin ketinggalan dengan pemikiran dan “wawasan” yang disuguhkan Redfield. Bagi yang suka psikologi dan spiritual, buku-buku Redfield menarik. Tanah Tabu adalah buku yang direkomendasikan seorang teman waktu buku ini pertama kali terbit, kira-kira tahun 2009. Saya baru membacanya tahun ini karena dihadiahi teman. Meskipun kalimat-kalimat yang dibangun masih banyak yang kedodoran, saya menganggap persoalan yang disampaikan penulis amat penting. Iksaka Banu juga menyampaikan hal yang tak kalah penting dan menarik dalam Semua untuk Hindia. Kumpulan cerita ini dapat dijadikan sebagai rujukan bagi mahasiswa yang mencari teks-teks poskolonial. Jarang sekali ada kumpulan cerpen yang begitu suntuk mengulik persoalan kolonialisme Belanda di Indonesia seperti yang ada dalam buku itu.
Saat hendak membaca Mengantar dari Luar, saya dibayangi perasaan enggan. Enggan karena ketebalan bukunya. Apalagi ini kumpulan tulisan non-fiksi. Tapi untungnya keengganan itu dikalahkan oleh rasa penasaran saya pada tulisan-tulisan Puthut EA terdahulu. Seperti biasa, saya begitu menikmati tulisan-tulisan Puthut. Sayangnya, kenikmatan itu sedikit terganggu karena banyaknya salah ketik yang luput dari pengamatan penyunting, mengingat tidak adanya pemeriksa aksara.
Saya mengakhiri tahun ini dengan menyelesaikan membaca Muhammad karya Martin Lings, seorang cendekiawan-sejarawan Inggris. Buku ini sudah saya beli beberapa bulan lalu tapi baru bisa saya selesaikan belakangan. Membaca buku ini, saya hanyut
Ehm, kenapa buku How the World Works belum selesai dibaca? Karena saya butuh waktu lebih untuk mencerna tulisan Chomsky. Hehe.
***
Mendaftar buku-buku yang saya baca, bagi saya sangat penting. Tentu ini untuk kepentingan pribadi. Apa yang penting bagi saya, belum tentu penting buat Anda. Begitu juga sebaliknya. Dengan mendaftar bacaan, setidaknya saya jadi tahu, tahun ini saya mengalami kemerosotan luar biasa dalam aktivitas membaca.
Subscribe to:
Posts (Atom)
Aktor Bermata Ngantuk Itu
Dia aktor Korea. Dulu saya menyebutnya sebagai aktor bermata ngantuk. Tapi saya tidak membuat saya sepenasaran itu untuk mencarinya di goog...
-
: sebuah penjelajahan awal Kajian Homi K. Bhabha selain banyak dipengaruhi oleh teoretisi pascastrukturalis seperti Jacques Derrida, Miche...
-
Judul : Bilangan Fu Penulis : Ayu Utami Penerbit : Kepustakaan Populer Gramedia Tahun terbit : 2018 (Cet. 2) Parang Jati, K...
-
Saya sedang duduk-duduk di bonbin menghabiskan sore sambil nyedot es coffeemix. Di depan saya duduk seorang mahasiswi yang kalau dilihat dar...