May, aku menyapamu kemarin sore. Ngelangut dan sakitnya masih kurasakan sampai hari ini. Kemarin itu, di deretan kursi paling belakang, aku sesenggukan. Orang-orang di sebelahku rasanya tidak seketerlaluan aku.
Aku mungkin tidak mengalami apa yang menimpamu, May. Tapi tak sulit bagiku untuk turut merasakan hal-hal traumatik itu. Sakit itu. Kau akan menolak apa pun, warna juga nuansa, yang mengingatkanmu pada kejadiaan itu. Kau akan menolak manusia untuk terlibat dalam zona nyaman yang semakin kau persempit. Kau akan berlindung dalam diam. Memutus komunikasi sama sekali. Karena bercerita adalah siksaan sekali lagi. Kau, mungkin, akan menyalahkan dirimu sendiri dan rasanya ingin mati saja. Orang-orang yang menyayangimu akan menyalahkan dirinya sendiri juga, karena tak mampu melindungimu.
May, konon katanya, melawan rasa sakit hanya akan menyakiti batin. Yang bisa kita lakukan adalah menerima rasa sakit itu. Aku bukan ingin sok menasihati, May. Tentang rasa sakit itu kaulah yang paling tahu. Aku mungkin tak bisa setabah dan sekuat kau. Aku ingin mendekapmu. Mendekap rasa sakit yang kau simpan sendiri bertahun-tahun.
May, yang sedang berjihad melawan trauma, seluka dan sesakit apa pun, jangan berhenti percaya pada kebaikan hati manusia. Maafkan dirimu. Beri ampun pada masa lalu.
*Frasa “berjihad melawan trauma” diambil dari baris puisi Joko Pinurbo, “Kita adalah cinta yang berjihad melawan trauma”.
Tuesday, April 30, 2019
Monday, April 29, 2019
Aku Ingin Menyapamu Lebih Sering
Aku ingin menyapamu lebih sering. Menceritakan hal-hal yang tidak selalu menakjubkan. Yang mungkin justru remeh-temeh dan tidak mengesankan. Potongan-potongan kecil dari kegiatan sehari-hari. Pertanyaan-pertanyaan klise.
Meski tak menyenangkan, harus kuakui, ruang sebelah lebih menyita waktuku karena yaa..memperlihatkan (terlalu banyak) gambarReino Barack warna-warni, juga video-video Reino Barack dalam durasi lima puluh sembilan detik. Dan, sialnya itu membuatku malas membikin paragraf-paragraf panjang. Barangkali sebentar lagi aku akan menonaktifkannya saja. Dengan begitu, masukan yang tiap hari menyerbu otakku akan berkurang. Barangkali hari-hari akan jadi lebih ringan.
Aku ingin menyapamu lebih sering, dengan tulisan yang sederhana dan enteng-enteng saja. Seperti dulu saat kita awal-awal berkenalan.
Meski tak menyenangkan, harus kuakui, ruang sebelah lebih menyita waktuku karena yaa..memperlihatkan (terlalu banyak) gambar
Aku ingin menyapamu lebih sering, dengan tulisan yang sederhana dan enteng-enteng saja. Seperti dulu saat kita awal-awal berkenalan.
Sunday, April 7, 2019
Sekelebatan
Beberapa lama tidak menulis di buku harian. Beberapa lama tidak sempat nonton film. Tapi sempat membaca buku-buku bagus yang dibeli dengan murah. Tapi juga sempat kecewa—mungkin lebih tepat menaruh harapan terlalu tinggi—pada sebuah buku agak mahal yang ditulis oleh orang terkenal. Sempat ingin ngechat seseorang ketika membaca sebuah buku yang mengingatkan pada masa silam tapi lalu diurungkan dan lanjut baca sampai tuntas. Masih sempat megganti air akuarium dan ikan-ikan pun senang. Membersihkan cangkir-cangkir dari noda bekas teh dan kopi yang mengerak dengan baking soda yang sungguh ajaib cangkirnya jadi cling lagi. Beberapa kali membuat es kopi susu hasil nyontek resep di instagram yang ternyata rasanya juara dan jika ditotal harganya hanya sepertiga dari harga kopi susu di warkop langganan. Ingin menghapus semua postingan di instagram tapi jempolnya capek juga. Beberapa tanaman mati dan harus diganti media tanam. Mulai memikirkan bagaimana agar tanaman tetap terkucupi kebutuhan airnya karena bakal ditinggal mudik selama lebaran. Sempat memetiki tanaman kering yang indah dalam perjalanan pulang dari kampus lalu menempelnya di dinding bersama tanaman kering lainnya. Sempat menggambar dengan water color lalu menempelnya di dinding. Masih sempat rekaman podcast meski ogah-ogahan. Nemu lagu bagus di spotify lalu diputar berulang-ulang. Ngrekam latihan gitar tidak disiplin dan hasilnya sungguh ambyar~
Friday, February 8, 2019
Surat untuk Parang Jati
Judul : Bilangan Fu
Penulis : Ayu Utami
Penerbit : Kepustakaan Populer Gramedia
Tahun terbit : 2018 (Cet. 2)
Parang Jati,
Kutulis surat ini untuk menghibur diriku sendiri, sebenarnya. Sebab aku kerap membayangkan kau masih ada di sini dan aku bisa sesekali berbincang denganmu di Goa Hu. Betapa akan menyenangkan. Aku bisa bercerita apa pun padamu kan? Meski aku tak terlalu suka banyak bicara. Aku lebih suka mendengarkan. Tapi, baiklah. Biar kini giliranku bercerita padamu.
Jati, banyak yang terjadi setelah kepergianmu. Bilangan Fu—ruang pertama aku berkenalan dengan pemikiran-pemikiranmu—dicetak ulang setelah sepuluh tahun. Mengapa sepuluh dan bukan dua belas atau tiga belas? Aku tak tahu. Mungkin tak penting juga kita memikirkan itu dan tidak semua hal harus kita tahu. Aku sudah cukup senang bahwa terbuka kemungkinan pembaca-pembaca baru akan mengenal dan mengagumi pemikiranmu.
Jati, Sandi Yuda dan Marja masih bersedih atas kepergianmu. Marja tak bisa tak menyalahkan Yuda yang dianggapnya membuka pintu bagi kepergianmu: militer. Militer, Jati, kau yang tak bisa kompromi dengan segala hal yang berbau militer akan punya banyak kesempatan menambah daftar panjang dosa-dosanya. Biar kuceritakan sedikit.
Belum lama ini mereka menyita referensi-referensi kiri karena dianggap sebagai “hantu” yang menakutkan, lebih menakutkan daripada hantu Kabur bin Sasus. Perbuatan yang hanya mencerminkan ketakutan penguasa sekaligus mengekang hak politik warga negaranya. Jati, negeri yang minat bacanya belum tinggi ini harus dikerdilkan dan dimiskinkan pemikirannya. Lagi dan lagi.
Di hari-hari ketika agama dijadikan sebagai alat politik ini, barangkali kau akan semakin yakin bahwa ajaran-ajaranmu, aliran kepercayaanmu, sangat sangat relevan untuk dijalani. Laku kritis. Laku spiritual yang selalu kritis pada kebenaran yang dipanggulnya. Kritis, bukan skeptis. Kritis, bukan anti.
Jati, pemuda Kupu-Kupu seperti berkembang biak tak terkendali. Sama seperti pemuda Kupu, mereka mengatasnamakan agama dan menganggap diri dan kelompoknya sebagai yang paling benar. Mereka begitu kukuh memperjuangkan kebenarannya, bukan memanggul kebenaran agar tak jatuh hari ini. “Kebenaran yang jatuh hari ini akan menjelma kekuasaan”. Itu yang selalu kau tekankan, bukan?
Oh ya, seperti si Kupu-Kupu, mereka juga berkostum. Tapi sayangnya bukan harajuku seperti si Kupu. Oplosan kostum Samurai X dan Pangeran Diponegoro, menurut deskripsi Yuda. Aku selalu tak bisa menahan tawa atas gambaran itu di kepalaku. Andai mereka mengenakan kostum itu, pasti akan semakin lucu.
Tahu kau apa yang lebih buruk, Jati? Mereka menolak segala penghormatan pada bumi. Sedekah laut pun dilarang. Laku orang-orang yang ingin berterima kasih pada alam dicap sebagai musyrik. Di sinilah, Jati, orang perlu diajari pentingnya hormat pada pohon, laut, tebing, gunung, alam raya. Semata-mata mencintai alam tanpa takut dan menguasai. Jika kita menghormati alam, niscaya kita tak akan menghancurkannya, bukan?
Jati, apakah kau baik-baik saja di sana? Yang entah di mana? Atau kau masih di sini? Meski kau bersemayam di lautan, aku kerap membayangkan kau kembali hidup sebagai sebatang pohon yang kukuh dan teduh.
Kau yang begitu menghormati ibu bumi barangkali akan berang jika melihat banyak sekali persoalan alam. Tak jauh beda dengan di Sewugunung, daerah di sekitar Pegunungan Kendeng hendak dibangun pabrik semen, Jati. Akibatnya pun akan sama seperti di Sewugunung. Cadangan air akan semakin susut dan keruh, juga rusaknya ekosistem. Jika kau masih ada di sini, aku yakin kau akan berada paling depan dalam usaha perlawanan itu.
Tapi, kabar baiknya, Jat, perlawanan terus dilakukan. Bahkan perempuan-perempuanlah yang tampil ke depan. Kau sering mengibaratkan alam adalah perempuan, adalah ibu. Bukankah kau selalu takjub pada sifat-sifat feminin? Pada kekuatan perempuan? Perempuan-perempuan ini mempertahankan bumi, mempertahankan dirinya, demi kehidupan yang akan dilahirkannya. Aku pun takjub, Jati.
Sialnya, dalam kasus-kasus seperti itu, selalu saja ada Pontiman Sutalip-Pontiman Sutalip dalam berbagai wujud, yang selalu akan menjawab persoalan-persoalan itu dengan berbelit-belit. Padahal hanya tak mau mengambil risiko. Pun dalam kasus-kasus itu, militer tak pernah absen.
Parang Jati, matamu yang nyaris bidadari itu mungkin akan murung melihat orang-orang yang tersenyum tertawa-tawa di depan kamera dengan latar belakang batu-batu putih yang dibentuk oleh penambangan karst. Mungkin prosesorku yang lamban karena tak kunjung bisa mengerti mengapa ada orang-orang yang bisa menikmati tempat seperti itu.
Ya, daerah bekas penambangan itu memang mencoba memanfaatkan apa yang sudah telanjur rusak karena penambangan memang tak terelakkan, dengan cara memberikan sentuhan seni. Tapi ada dampak lain yang menyerang secara langsung, bahwa penambangan besar-besaran itu adalah suatu hal yang wajar (dan indah). Pikirku, harusnya dihijaukan kembali, bukan dijadikan objek wisata.
Atau mungkin kau tak akan murung. Kau akan maklum sebagaimana kau maklum mengapa orang-orang masih saja menonton program-program di televisi, benda persegi yang paling dibenci Sandi Yuda.
Jati, apakah kau masih menyimak ceritaku?
Maafkan aku, Jati, karena melulu mengabarkan kemuraman. Biar kuberi kabar yang menenangkan. Semoga bisa sedikit menghibur hatimu. Ada secercah senyum di wajah ibu bumi. Ada sesosok penyelamat lautan tempat abumu dilarung. Ia seperti muncul dari lampu ajaib Aladin. Ia perempuan juga, Jati. Begitu pemberani. Tanpa ampun pada setiap pelanggaran yang dilakukan kapal-kapal asing di lautan kita. Tenggelamkan, katanya.
Jati, terima kasih engkau telah mewariskan ajaran yang begitu berharga. Sama seperti yang terjadi pada Yuda, kehadiranmu membawa perubahan cara pandang dan lakuku pada dunia, pada alam raya. Aku sedang belajar menjalani laku kritik. Semoga aku mampu.
Demikianlah ceritaku, Jati. Lain kali giliranmu bercerita, ya. Tentang apa saja. Aku akan senang hati menyimaknya.
Terima kasih, Parang Jati. Beristirahatlah, dalam kalbuku.
Monday, January 21, 2019
Batin yang Tenang
03.00 waktu indonesia bagian kamar saya di lantai tiga. Saya belum tidur. Masih seger banget ini mata. Padahal seingat saya, saya nggak minum kopi seharian ini. Tadi pagi cuma minum segelas teh anget campur daun mint. Trus jam sembilan malem tadi minum segelas teh lagi sambil ngemil roti bakar. Semalaman ini saya banyak ngelamun. Ngelihatin tetumbuhan hijau di depan kamar. Ngelihatin ikan-ikan di akuarium. Damai aja rasanya. Suasana sepi. Tenang. Beberapa saat saya memperhatikan langit-langit kamar. Lalu sambil rebahan saya memutuskan menangkap momen ini dalam tulisan. Dan sambil ngetik ini saya lagi ndengerin suaranya Bu Ella Fitzgerald dan Pak Louis Armstrong. Syahdu.
Sudah. Itu saja. Saya mau lanjut nulis di buku harian. Tentang hal-hal yang tak bisa saya tulis di sini.
Semoga hari-harimu menyenangkan, ya :’)
Sudah. Itu saja. Saya mau lanjut nulis di buku harian. Tentang hal-hal yang tak bisa saya tulis di sini.
Semoga hari-harimu menyenangkan, ya :’)
Wednesday, January 2, 2019
Buku yang Kubaca 2018
1. Konstruksi Tubuh Joko Pinurbo: Ruang Pascakolonial di Balik Celana dan di Bawah Kibaran Sarung (Dwi Rahariyoso)
2. Pak Tua yang Membaca Kisah Cinta (Luis Sepulveda)
3. Friedrich Silaban (Setiadi Sopandi)
4. Arsitektur Yang Lain, Edisi Revisi (Avianti Armand)
5. Istriku Seribu ( Emha Ainun Nadjib)
6. Orang Maiyah (Emha Ainun Nadjib)
7. Hidup itu Harus Pintar Ngegas dan Ngerem (Emha Ainun Nadjib)
8. Ubur-Ubur Lembur (Raditya Dika)
9. Gelombang (Dee Lestari)
10. Atlas Wali Songo (Agus Sunyoto)
11. Spiritual Journey Emha Ainun Nadjib
12. Winnetou IV (Karl May)
13. Dalang Edan (Sujiwo Tedjo)
14. Cala Ibi (Nukila Amal)
15. Surabaya Punya Cerita
16. Ksatria, Putri, dan Bintang Jatuh (Dee Lestari) baca ulang
17. Akar (Dee Lestari) baca ulang
18. Tujuh Pelajaran Singkat Fisika (Carlo Rovelli)
19. Suta Naya Dhadap waru (Iman Budi Santoso)
20. Negeri Kabut (Seno Gumira Ajidarma)
21. Manifesto Flora (Cyntha Hariadi)
22. Drupadi (Seno Gumira Ajidarma)
23. Mitologi dan Toleransi Orang Jawa (Benedict O’Anderson)
24. Hamba Sebut Paduka Ramadewa (Herman Pratikno)
25. Semangat Baru: Kolonialisme, Budaya Cetak, dan Kesastraan Sunda Abad ke-19 (Mikihiro Moriyama)
26. Centhini: Nafsu Terakhir (Elizabeth D. Inandiak)
27. Ken Sa Faak: Benih-Benih Perdamaian dari Pulau Kei (P.M. Laksono, Roem Topatimasang [ed.])
28. Tujuh Puluh Puisi (Goenawan Mohammad)
29. Sarapan Pagi Penuh Dusta (Puthut EA) baca ulang
30. Isyarat Cinta yang Keras Kepala (Putuhut EA) baca ulang
31. Si Cacing dan Kotoran Kesayangannya 3 (Ajahn Brahmn) baca ulang
32. Aku dan Film India Melawan Dunia I (Mahfud Ikhwan)
33. Pure Saturday, Based on True Story (Idhar Resmadi)
34. Memasak Nasi Goreng Tanpa Nasi
35. 24 Jam Bersama Gaspar (Sabda Armandio)
36. Muslihat Musang Emas (Yusi Avianto Pareanom)
37. Aku dan Film India Melawan Dunia II (Mahfud Ihwan)
38. Kisah Perempuan yang Membalurkan Kotoran Sapi Pada Kemaluannya Seumur Hidup (Antologi Cerpen dan Puisi Pilihan Kibul 2017)
39. Rumah Kaca (Pramoedya Ananta Toer) baca ulang
40. Asal-Usul, Catatan-Catatan Pilihan (Mahbub DJunaidi)
41. Jemput Terbawa (Pinto Anugrah)
42. Mendengar di Bali (Gardika Gigih)
43. Monte Carlo dan Satu Babak Kisah Cinta (Fitriawan Nur Indrianto)
44. Searah Jalan Pulang (Asef Saeful Anwar)
45. Pengakuan Eks Parasit Lajang (Ayu Utami)
46. Melipat Agustus (Muhammad Qadhafi)
47. Kabar dari Timur (Fatris MF)
48. Kastagila (Muhammad Qadhafi)
49. Semesta Manusia (Nirwan Ahmad Arsuka)
50. Konferensi Asia-Afrika 1955: Asal-Usul Intelektual dan Warisannya bagi Gerakan Global Antiimperialisme (Wildan Sena Utama)
51. Sekolah itu Candu (Roem Topatimasang)
52. Arsitektur Tradisional Tionghoa dan Perkembangan Kota (Pratiwo)
53. Bilangan Fu (Ayu Utami) baca ulang
54. Tuhan Tidak Makan Ikan dan Cerita Lainnya (Gunawan Tri Atmodjo)
2. Pak Tua yang Membaca Kisah Cinta (Luis Sepulveda)
3. Friedrich Silaban (Setiadi Sopandi)
4. Arsitektur Yang Lain, Edisi Revisi (Avianti Armand)
5. Istriku Seribu ( Emha Ainun Nadjib)
6. Orang Maiyah (Emha Ainun Nadjib)
7. Hidup itu Harus Pintar Ngegas dan Ngerem (Emha Ainun Nadjib)
8. Ubur-Ubur Lembur (Raditya Dika)
9. Gelombang (Dee Lestari)
10. Atlas Wali Songo (Agus Sunyoto)
11. Spiritual Journey Emha Ainun Nadjib
12. Winnetou IV (Karl May)
13. Dalang Edan (Sujiwo Tedjo)
14. Cala Ibi (Nukila Amal)
15. Surabaya Punya Cerita
16. Ksatria, Putri, dan Bintang Jatuh (Dee Lestari) baca ulang
17. Akar (Dee Lestari) baca ulang
18. Tujuh Pelajaran Singkat Fisika (Carlo Rovelli)
19. Suta Naya Dhadap waru (Iman Budi Santoso)
20. Negeri Kabut (Seno Gumira Ajidarma)
21. Manifesto Flora (Cyntha Hariadi)
22. Drupadi (Seno Gumira Ajidarma)
23. Mitologi dan Toleransi Orang Jawa (Benedict O’Anderson)
24. Hamba Sebut Paduka Ramadewa (Herman Pratikno)
25. Semangat Baru: Kolonialisme, Budaya Cetak, dan Kesastraan Sunda Abad ke-19 (Mikihiro Moriyama)
26. Centhini: Nafsu Terakhir (Elizabeth D. Inandiak)
27. Ken Sa Faak: Benih-Benih Perdamaian dari Pulau Kei (P.M. Laksono, Roem Topatimasang [ed.])
28. Tujuh Puluh Puisi (Goenawan Mohammad)
29. Sarapan Pagi Penuh Dusta (Puthut EA) baca ulang
30. Isyarat Cinta yang Keras Kepala (Putuhut EA) baca ulang
31. Si Cacing dan Kotoran Kesayangannya 3 (Ajahn Brahmn) baca ulang
32. Aku dan Film India Melawan Dunia I (Mahfud Ikhwan)
33. Pure Saturday, Based on True Story (Idhar Resmadi)
34. Memasak Nasi Goreng Tanpa Nasi
35. 24 Jam Bersama Gaspar (Sabda Armandio)
36. Muslihat Musang Emas (Yusi Avianto Pareanom)
37. Aku dan Film India Melawan Dunia II (Mahfud Ihwan)
38. Kisah Perempuan yang Membalurkan Kotoran Sapi Pada Kemaluannya Seumur Hidup (Antologi Cerpen dan Puisi Pilihan Kibul 2017)
39. Rumah Kaca (Pramoedya Ananta Toer) baca ulang
40. Asal-Usul, Catatan-Catatan Pilihan (Mahbub DJunaidi)
41. Jemput Terbawa (Pinto Anugrah)
42. Mendengar di Bali (Gardika Gigih)
43. Monte Carlo dan Satu Babak Kisah Cinta (Fitriawan Nur Indrianto)
44. Searah Jalan Pulang (Asef Saeful Anwar)
45. Pengakuan Eks Parasit Lajang (Ayu Utami)
46. Melipat Agustus (Muhammad Qadhafi)
47. Kabar dari Timur (Fatris MF)
48. Kastagila (Muhammad Qadhafi)
49. Semesta Manusia (Nirwan Ahmad Arsuka)
50. Konferensi Asia-Afrika 1955: Asal-Usul Intelektual dan Warisannya bagi Gerakan Global Antiimperialisme (Wildan Sena Utama)
51. Sekolah itu Candu (Roem Topatimasang)
52. Arsitektur Tradisional Tionghoa dan Perkembangan Kota (Pratiwo)
53. Bilangan Fu (Ayu Utami) baca ulang
54. Tuhan Tidak Makan Ikan dan Cerita Lainnya (Gunawan Tri Atmodjo)
Friday, December 21, 2018
Sa!
Dia memanggil saya sa. Saya pun bertanya-tanya mengapa dipanggil demikian. Nama saya bukan Sasi, Sari, apalagi Saru.
Sa juga merujuk pada banyak kata. Untuk menyebut sedikit saja, ada kata Sayang, Sapi, Sakit. Sayang? Terlalu mesra dan nggak banget. Sapi? Tubuh saya terlalu kecil bahkan untuk ukuran anak sapi yang paling kurang gizi. Sakit? Mungkin. Mungkin saya terlihat sakit-sakitan atau sering disakiti. Tapi saya rasa dia tak setega itu.
Dari sekian banyak kemungkinan, sa paling masuk akal merujuk pada Nisa. Yang dia tahu, nama saya Nisa, bukan Anis. Jadi wajar jika dia memanggil saya sa. Suku kata kedua. Setelah dua tahun lebih saya tidak bertemu dengannya, pertama bertemu dia langsung memanggil saya sa, balik Jogja lagi?
Saya mulai mengenalnya sejak bonbin kedua. Tempat semi permanen di dekat parkiran FIB yang lama (kira-kira 2008?). Dia menjual aneka minuman. Semenjak di bonbin ketiga dia menjual jus dan salad buah. Saya biasanya memesan es jeruk. Siapa pun akan setuju bahwa es jeruk buatannya paling enak sebonbin raya. Dan biasanya dia sudah hafal pesanan saya.
“Mas, kayak biasanya, ya”
“Siap!”
Dia selalu mengucapkan “siap” dengan mengacungkan jempol dan tersenyum.
Selama kira-kira sepuluh tahun mengenalnya, sejak dia masih jomlo sampai punya tiga anak, yang tak berubah darinya adalah semangatnya bekerja. Saya tidak tahu apakah dia mencintai pekerjaannya atau tidak, tapi yang bisa saya lihat dia sangat antusias dengan apa yang dilakukannya. Saya senang sekali melihat orang yang seperti itu.
Dan, tadi pagi, saya mendapat kabar bahwa dia meninggal.
Deg.
Setiap mendapat kabar mendadak semacam itu, reaksi pertama saya adalah tak percaya. Saya pun kroscek ke beberapa teman. Saya mendapat kiriman foto screenshoot sebuah akun yang membenarkan bahwa dia telah berpulang.
Ya Allah, baru kemarin kami papasan dan dia menyapa saya. Sa!
Rasanya ada gerowong.
Agak siang saya ke bonbin. Agak sepi. Kiosnya kosong. Penjual yang lain masih berjualan. Mereka tampak biasa. Tapi saya yakin mereka sedang tidak biasa-biasa saja. Beberapa penjual dan teman-teman cowok hendak takziah. Saya memilih tidak ikut. Saya sedang rentan. Saya khawatir tidak bisa mengendalikan diri.
Mas Bodong, matur nuwun ya, mas. Sugeng tindak. Kami semua kehilangan. Sangat kehilangan. Akan kangen. Sangat kangen.
Kok aku rasane kelangan banget ya :’(
Sa juga merujuk pada banyak kata. Untuk menyebut sedikit saja, ada kata Sayang, Sapi, Sakit. Sayang? Terlalu mesra dan nggak banget. Sapi? Tubuh saya terlalu kecil bahkan untuk ukuran anak sapi yang paling kurang gizi. Sakit? Mungkin. Mungkin saya terlihat sakit-sakitan atau sering disakiti. Tapi saya rasa dia tak setega itu.
Dari sekian banyak kemungkinan, sa paling masuk akal merujuk pada Nisa. Yang dia tahu, nama saya Nisa, bukan Anis. Jadi wajar jika dia memanggil saya sa. Suku kata kedua. Setelah dua tahun lebih saya tidak bertemu dengannya, pertama bertemu dia langsung memanggil saya sa, balik Jogja lagi?
Saya mulai mengenalnya sejak bonbin kedua. Tempat semi permanen di dekat parkiran FIB yang lama (kira-kira 2008?). Dia menjual aneka minuman. Semenjak di bonbin ketiga dia menjual jus dan salad buah. Saya biasanya memesan es jeruk. Siapa pun akan setuju bahwa es jeruk buatannya paling enak sebonbin raya. Dan biasanya dia sudah hafal pesanan saya.
“Mas, kayak biasanya, ya”
“Siap!”
Dia selalu mengucapkan “siap” dengan mengacungkan jempol dan tersenyum.
Selama kira-kira sepuluh tahun mengenalnya, sejak dia masih jomlo sampai punya tiga anak, yang tak berubah darinya adalah semangatnya bekerja. Saya tidak tahu apakah dia mencintai pekerjaannya atau tidak, tapi yang bisa saya lihat dia sangat antusias dengan apa yang dilakukannya. Saya senang sekali melihat orang yang seperti itu.
Dan, tadi pagi, saya mendapat kabar bahwa dia meninggal.
Deg.
Setiap mendapat kabar mendadak semacam itu, reaksi pertama saya adalah tak percaya. Saya pun kroscek ke beberapa teman. Saya mendapat kiriman foto screenshoot sebuah akun yang membenarkan bahwa dia telah berpulang.
Ya Allah, baru kemarin kami papasan dan dia menyapa saya. Sa!
Rasanya ada gerowong.
Agak siang saya ke bonbin. Agak sepi. Kiosnya kosong. Penjual yang lain masih berjualan. Mereka tampak biasa. Tapi saya yakin mereka sedang tidak biasa-biasa saja. Beberapa penjual dan teman-teman cowok hendak takziah. Saya memilih tidak ikut. Saya sedang rentan. Saya khawatir tidak bisa mengendalikan diri.
Mas Bodong, matur nuwun ya, mas. Sugeng tindak. Kami semua kehilangan. Sangat kehilangan. Akan kangen. Sangat kangen.
Kok aku rasane kelangan banget ya :’(
Subscribe to:
Posts (Atom)
Aktor Bermata Ngantuk Itu
Dia aktor Korea. Dulu saya menyebutnya sebagai aktor bermata ngantuk. Tapi saya tidak membuat saya sepenasaran itu untuk mencarinya di goog...
-
: sebuah penjelajahan awal Kajian Homi K. Bhabha selain banyak dipengaruhi oleh teoretisi pascastrukturalis seperti Jacques Derrida, Miche...
-
Judul : Bilangan Fu Penulis : Ayu Utami Penerbit : Kepustakaan Populer Gramedia Tahun terbit : 2018 (Cet. 2) Parang Jati, K...
-
Saya sedang duduk-duduk di bonbin menghabiskan sore sambil nyedot es coffeemix. Di depan saya duduk seorang mahasiswi yang kalau dilihat dar...
