Thursday, June 7, 2012

perbincangan diri #3

Ada lubang dalam dirimu. Entah di bagian mana. Tapi kamu memilih untuk membuta dan menuli. Hingga akhirnya lubang itu semakin dalam. Semakin lebar. Dan kamu tidak mampu menutupnya kembali.

Maka, sejatinya yang kamu butuhkan hanyalah hening. Tafakkur. Sesungguhnya apa-apa yang terjadi adalah pertanda. Dan hanya mata hati yang mampu membuka tabirnya. Membangkitkan sadarmu yang telah lama lumpuh.

Sesakit apapun yang kamu rasakan dalam hidupmu, semoga tak membuatmu kehilangan jernih jiwamu.

Wednesday, June 6, 2012

teruntuk kamu yang telah pergi


Oh ternyata ini jawaban ketawa ngakak seharian tadi. Ternyata ini jawaban perasaan nggak menentu beberapa hari terakhir. Ternyata ini.

Kamu pergi

Sungguh tidak menyangka akan secepat ini. Semendadak ini.

Selamat bertemu sang Kekasih sejati. Selamat berbahagia di sana. Aku tahu ini yang kamu tunggu-tunggu. Semoga kamu sedang tertawa-tawa saat ini. Semoga kamu sedang makan kacang koro.

Terima kasih dan mohon maaf untuk semuanya.

Hoooaaaaaaaaa T___T

*Aku janji nggak akan lupa pake jaket kalo keluar malam.

Tuesday, June 5, 2012

pulang

*Maap yak, lagi gak ada ide buat nulis nih. Ini tulisan zaman dahulu kala banget. Tapi gak semuanya tak posting sih. Tak ‘bersambungin’ ajah. Hehe. Oh ya, ini dimaksudkan sebagai cerpen. Tapi kok ya seperti ini ya..ah mbuh lah..


Empat tahun, berlalu begitu saja. Sudah banyak yang berubah. Jalanan semakin lebar dan halus. Tidak seperti dulu waktu aku masih SD. Hujan menjadi musibah besar karena kami harus bertelanjang kaki dan baru memakai sepatu ketika tiba di sekolah. Takut sepatu kami kotor karena lumpur. Tapi sekarang aku yakin tak ada anak-anak yang bertelanjang kaki ketika pergi ke sekolah. Dan tak ada kolong meja penuh rontokan tanah yang menempel di sepatu.


Pohon-pohon besar di pinggir jalan itu sudah musnah. Banyak bangunan baru. Ada warung baru. Ada rumah baru. Rumah-rumah yang dulu mau ambruk sekarang sudah berdiri menjulang. Rumah yang dulu paling megah sekarang tidak ada apa-apanya, kalah dimakan usia. Mushola bercat hijau itu kini masih berdiri tegak. Meskipun dindingnya mulai retak. Masih ada bahkan semakin banyak coretan di dinding itu. Coretan tangan kreatif anak-anak yang mengaji. Ada gambar hati, panah, juga tidak jarang coretan dengan huruf arab. Entah apa artinya.


Samar-samar terdengar nadhoman imriti dilagukan, aku hanya bisa tersenyum. Dulu aku dan kawan-kawanku belajar mati-matian menghafal tiap nadhoman. Was-was kalau ditanya dan tidak bisa menjawab. Imbasnya akan fatal, ustadz kami tidak akan berhenti menasihati, mengoceh lebih tepatnya. Beberapa umpatan ringan akan singgah di telinga kami. Sekarang, hafalan-hafalan itu lenyap, tak berbekas.


Aku pulang.


Jika pulang selalu dikaitkan dengan rumah, maka aku tidak masuk dalam kategori itu. Karena aku tidak punya rumah. Jika pulang juga selalu dikaitkan dengan ayah ibu yang menunggu, maka aku sudah lama tidak melaksanakan ritual itu.


Aku masih tertunduk. Aku tidak ingin berlama-lama menjadi pemandangan yang asing. Meskipun hanya ada beberapa lampu di jalan, tapi kupikir orang masih bisa mengenali wajahku. Maka kututup sebagian wajahku dengan ujung kerudung. Aku membiarkan sekian mata yang bertanya-tanya. Dan kadang kudengar orang menyebut-nyebut namaku. Tapi aku diam saja. Langkah kupercepat.


Aku sudah tahu kemana harus pergi. Paling ujung jalan ini ada sebuah bangunan berbentuk kotak yang semoga saja masih bisa kukenali. Tiba-tiba langkahku gemetaran. Aku ingin berbelok dan berlari menjauh dari sini. Mungkin harusnya aku memang tidak pernah kembali lagi. Tapi nyatanya aku tidak bisa. Ada perasaan yang mendesak-desak untuk sekadar melihat masa lalu.


Dan, ya, kini aku telah sampai di sebuah bangunan yang dulu kusebut sebagai rumah. Yang kini lebih mirip kuburan. Muram. Aku menghela nafas panjang. Aku mengucap beberapa kali kalimat salam, tapi tidak ada jawaban. Aku masuk ke dalam. Tidak ada suara. Aku masuk semakin dalam. Dan kutemukan kakek. Lelaki tua itu. Masih seperti dulu. Aku menghampirinya. Mencium tangannya.


Mataku terasa panas.


Bersambung..


Monday, June 4, 2012

Suhuchi, selamat ulang tahun

Aku gak tahu, Hu, ini ulang tahunmu yang ke berapa. Ah gak penting juga lah ya. Semoga kamu selalu menjadi yang bijak, yang tulus, yang penuh kasih, yang selalu bermanfaat buat banyak orang. Semoga segera menikah. Segera punya kambing dan sawah. Hidup di desa seperti keinginanmu. Ah dasar manusia posmo. Tapi semoga kamu tidak meninggalkan Jogja dulu. Paling nggak dua tahun ini lah, Hu. Ah tapi siapa juga yang bisa melarangmu. Ah!

Terima kasih sudah menjadi kakak sekaligus guru yang selalu bijak. Terima kasih atas obrolan semalam suntuk yang selalu menakjubkan. Terima kasih atas semua ilmu dan nasihat yang Suhu berikan. Maaf, aku masih selalu jadi murid yang bandel. Masih suka menjajah singgasanamu. Masih manja. Masih belum bisa naek motor jugak. Masih suka begadang di warung kopi. Ah kamu sih Hu yang nularin.

Salam keharmonian sejagat untukmu, Hu.

*Nah, kalau pulang kampung dengan buku sebanyak di kamarmu itu kan ngerepotin, Hu. Gimana kalau diwariskan ke aku. Hehehe.
*Hu, kali ini aku mau ditraktir. Yok ayok.

Sunday, June 3, 2012

KOLONIALISME DALAM BEBERAPA WAJAH

Judul Asli: Dalam Bayang-Bayang Kolonialisme, Filologi dan Studi Sastra
Penulis : Sudibyo
Penerbit : Unit Penerbitan Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta
Tebal : 301 Halaman


Sejatinya, kolonialisme di Indonesia belumlah berakhir, hanya berganti wajah. Masyarakat pascakolonial di negara-negara bekas jajahan dihadapkan pada kondisi yang serba ambigu. Di satu sisi mereka hidup dalam warisan sistem kolonial yang terlanjur mengakar, tetapi di sisi lain mereka ingin resisten.

Hal ini pulalah yang ingin dikemukakan oleh Sudibyo dalam bukunya yang dibagi menjadi dua belas bab dalam enam bagian besar ini. Kedua belas bab ini sebenarnya adalah mozaik terpisah, tetapi kemudian disatukan oleh satu tema pokok, yaitu kolonialisme. Adapun yang menjadi konsentrasi Sudibyo dalam pembahasan kolonialisme tersebut adalah persoalan-persoalan dalam bidang filologi dan sastra.

Ideologi Kolonialisme dan Pertemuan Kolonial
Kita tahu, filologi di Indonesia tumbuh dan berkembang dalam tradisi orientalisme. Pada masa itu, para filolog membuat batasan yang tegas antara Barat dan Timur sehingga filologi seringkali digunakan sebagai mesin hasrat kolonial. Menghadapi hal tersebut, menurut Sudibyo, diperlukan adanya upaya kartografi hasil kajian filologi serta mempertimbangkan ulang tradisi suntingan teks atau kritik teks. Dengan kata lain, dekolonisasi metode penelitian filologi mendesak untuk dilakukan.


Selanjutnya, pertemuan-pertmuan antara pihak penjajah dan terjajah mememunculkan berbagai wacana kolonial. Dalam hal i, Sudibyo melihatnya dalam beberapa tokoh yang terlibat dengan “tuan-tuan” kolonial, misalnya, Abdullah bin Abdul Kadir Munsyi dan Rafles; Ranggawarsita dan C.F. Winter; dan beberapa Raja Nusantara pada penguasa Eropa yang kesemuanya menggambarkan hubungan antara “diri” dan “liyan”.

Selain itu, Sudibyo juga memaparkan wacana kekuasaan dan negara yang diambil dari Babad Tanah Jawi, Hkayat Raja-Raja Pasai, dan Hikayat Hang Tuah yang ketiganya membentuk wacana tunggal, yaitu, Raja sebagai penguasa yang memiliki kesaktian luar biasa. Baik di Jawa maupun Melayu.

Masih dalam bidang filologi, Sudibyo kemudian menjelaskan fenomena pernaskahan dan perteksan dalam tradisi sastra Melayu klasik. Naskah-naskah tersebut antara lain Hikayat Banjar, Hikayat Muhammad Hanafiyah, Hikayat Sri Rama, Hikayat Indraputra, dan Hikayat Iskandar Zulkarnaen. Dalam naskah-naskah tersebut dapat dilihat bahwa proses transmisi mutlak diperlukan guna memahami fenomena pernaskahan dan perteksan itu sendiri.

Wacana Kolonial dalam Sastra
Wacana kolonial hampir selalu bersinggungan dengan subjek terjajah. Dalam hal ini, kaum bumiputra selalu dihadapkan pada posisi itu. Di bagian ini ada laporan perjalanan Van Goens yang dinilai berat sebelah karena terlahir dari prasangka-prasangka stereotipe. Dalam banyak hal, laporan-laporan perjalanan inilah yang seringkali menjadi acuan Barat untuk mendeskripsikan Timur. Bahkan, laporan perjalanan merupakan cikal bakal munculnya cerita-cerita perjalanan yang bertumbuh dari tradisi sastra Eropa.

Selain laporan perjalanan tersebut, karya sastra juga memegang kendali. Bab Citra Kuli di Deli dalam Novel Berpacu Nasib di Kebun Karet, Kuli, dan Doekoen Karya Madelon Szekely-Lulofs menghadirkan analisis yang tajam mengenai komunitas diaspora kulit putih yang disandingkan dengan nasib para kuli atau orang-orang yang terpinggirkan. Ketiga novel ini menambah daftar panjang karya sastra Hindia-Belanda yang menjustifikasi eksploitasi dan kekuasaan.

Yang juga tak luput dari pandangan Sudibyo adalah Tetralogi Buru (Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, dan Rumah Kaca) karya Pramoedya Ananta Toer. Dalam tetralogi ini, Sudibyo menitikberatkan pada persoalan nasionalisme. Tetralogi Buru dianggap sebagai novel bildungsroman. Selain itu, Tetralogi Buru pun berhasil mengungkap persoalan bangsa dan antarbangsa secara kuat.

Selain novel, salah satu cerpen Y.B Mangunwijaya juga menjadi perhatian Sudibyo. Cerpen Saran “Groot Mayor” Prakoso mengungkap pola hubungan hegemoni dan resistensi masyarakat pascakolonial. Melalui cerpen tersebut terlihat bagaimana Mangunwijaya secara konsisten melakukan asketisme intelektual. Menurut Sudibyo, Mangunwijaya mampu menciptakan distansi dan bersikap kritis terhadap situasi. Ia mampu keluar dari segala keterikatan serta segala dominasi sosial terhadap dirinya.

Buku ini merupakan salah satu referensi yang bagus dalam studi-studi kolonialisme dan poskolonialisme. Sudibyo menggali secara mendalam dan memberikan cara pandang yang berbeda terhadap persoalan-persoalan sastra dan filologi. Menariknya, dalam buku ini daftar pustaka dihadirkan per bab. Namun, sayangnya, dalam buku ini masih begitu banyak kata maupun tanda baca yang luput dari perhatian editor sehingga cukup mengganggu. Sayangnya lagi, buku ini hanya dicetak terbatas sehingga kekayaan pengetahuan Sudibyo mengenai persoalan kolonialisme dan poskolonialisme pun agak sulit dijangkau.

Saturday, June 2, 2012

mie instan, episode kenangan


Dalam jagat per-mie instan-an saya berani diadu. Haha. Lima tahun menjadi mahasiswa adalah waktu yang cukup bagi saya untuk malang melintang di dunia instan2an ini. Baiklah, berikut ini adalah beberapa mie instan favorit, yang menurut saya bisa bikin lidah joget-joget.

Indomie Goreng. Siapa yang gak tahu makanan ajaib satu ini. Sungguh laknat dia. Dalam jarak 10 meter aromanya saja bisa bikin laper tiba-tiba. Menurut saya dia punya aroma yang khas. Paduan mie yang kenyal dan bumbu yang pas menjadikan mie ini menjadi alternatif utama saat kelapan datang menghardik. Kalau sebungkus masih terasa laper tapi dua bungkus nggak habis, sekarang udah tersedia yang ukuran jumbo. Itu sama kayak ukuran satu setengah.

Indomie Goreng Jumbo Rasa Ayam Panggang. Ini adalah indomie goreng andalan. Tekstur mie-nya mirip mie keriting. (oh mie keriting. Betapa enaknya jenis mie satu itu). Dilengkapi dengan sayuran kering dan bakso. Bumbunya pas. Dikasih potongan cabe lebih mantap. Meskipun ukurannya jumbo, dua porsi pun saya bisa menghabiskan mie satu ini. Hehe.

Nah, kalau mau yang agak pedes tanpa dikasih cabe dan beraroma ikan, ada Indomie Goreng Cakalang. Kalau yang ini bumbunya agak menusuk menurut saya. Tapi enak juga kok. Indomie Goreng Sate juga enak. Apalagi ditambah sate beneran.

Mau yang anget pas hujan-hujan? Mie Sedaap Rasa Kari Spesial cukup bisa jadi teman istimewa. Kuahnya yang kental, meskipun mienya gak begitu kenyal, cukup mampu bikin senyum-senyum sendiri sambil ngeliatin ribuan pasukan air yang turun ke bumi. Sebenernya, mie dengan rasa kari yang enak tuh mie Kare. Kuahnya bisa kentel banget gitu. Tapi sayangnya ini udah nggak diproduksi lagi (atau saya yang gak pernah ketemu?). Padahal sumpah enak banget. Bumbunya nendang!

Ada juga sih kalau mau yang nendang-nendang lagi. Indomie Rasa Empal Gentong. Bumbunya merasuk dengan potongan daging kecil-kecil. Nah, mungkin karena saya suka yang bumbu-bumbu nendang itu, saya pernah muntah pas nyobain yang rasa cakalang tapi versi yang kuah. Itu kuah warnanya pucat dan rasanya hambar. Uh!

Suka soto? Sarimi jagonya. Bumbu sotonya menurut saya lezat, ditambah dengan koya dan rasa mienya yang lembut. Koyanya pun macem-macem, ada yang pedes, gurih, sampe jeruk nipis. Indomie Soto saya rasa masih kalah dengan mie satu ini. Lagian, mie ini mengambil tempat tersendiri dalam masa kanak-kanak saya. Iklan om jinnya itu lho yang bikin senyum-senyum sendiri.

Ada mie yang menurut saya juga enak banget. ABC Selera Pedas Rasa Sup Tomat. Rasanya bisa asem-asem seger gitu. Karena saya emang penggemar tomat, jadinya sering saya tambah dengan potongan tomat juga. Mantap abis! Lagian tekstur mie ABC ini beda dengan mie-mie yang lain. Kenyal tapi juga lembut. Ini kalau dimakan pas hujan-hujan juga enak banget.

Selain makan mie pas hujan-hujan, sensasi makan mie yang cukup menyenangkan adalah makan Pop Mie di kereta. Rasanya ada magnet yang menrik-narik saya untuk selalu membeli mie ini kalo pas lagi di kereta. Yang paling saya suka adalah yang rasa bakso. Harganya bisa tiga kali lipat sih kalo di kereta gini.

Oh ya, mie Nissin dan mie Gaga ada yang enak juga lho. Saya lupa yang rasa apa. Soalnya emang jarang banget beli mie ini. Yang sering saya beli cuma versi bihun. Yang bihun ini sering saya campur sayuran dan bakso. Enak gilak. Eh iya ada Mie Gelas jugak. Enak sih. Tapi jelas ini cemilan doang. Gak nyampe perut. Hehe.

Hemm, baiklah, saatnya saya ngasih tau kenapa saya nulis mie-mie tadi. Lengkap dengan merknya. Saya nggak dibayar sepeserpun kok. Sebenarnya ini hanyalah tulisan untuk mengenang. Mengenang segala rasa mie instan yang ajaib karya anak bangsa yang patut diacungi jempol. Kenapa mengenang? Karena, sekitar satu setengah bulan yang lalu saya berjanji untuk tidak menjamah mie instan lagi. Alasan klisenya adalah demi kesehatan.

Meskipun saya sering mengabaikan rumor zat lilin, pengawet, MSG yang menempel pada si mie instan, sebenernya saya ngerasa ngeri juga sih. Apalagi kesehatan kita berhubungan dengan generasi berikutnya. Apasih jadi ngomong kesehatan gini. Ah.

Saya, yang tau jenis mie apa hanya dari mencium aromanya beberapa meter, ternyata cukup mampu menahan diri untuk tidak makan mie instan lagi. Meskipun godaannya gila-gilaan. Kadang kangen juga kebangetan.

Nah, suatu ketika, seseorang yang tau ikrar saya untuk tidak menjamah mie instan lagi, membelikan saya mie yang tanpa pengawet dan rendah lemak. Healtimie. Warnanya ijo. Sebelumnya kami sempat memperbincangkan mie ini di YM. Waktu itu mie-nya belum ada di Jogja. Dan sekarang udah tersebar dimana-mana. Mie-nya kayak mie gepeng. Ada potongan wortel dan sayur lainnya. Jadi warnanya menarik. Sayangnya belum ada versi kuah.

Tulisan ini saya dedikasikan kepada seseorang yang mengenalkan mie lumut itu, satu-satunya mie yang menyertakan akun faceboook dan twitter di bungkusnya. Makasih ya. Mie-nya cukup enyak kok :)

Friday, June 1, 2012

mbul aku kangen koe mbuuuuul :(



Mbul, aku gak ngurus yo mbuh koe ngomong aku lebay toh alay. Aku encen lebay tur alay. Seng penting aku pengen nules. Wong sak jagat ngerti yo rapopo. Yo ben. Malah apik. Ben dikandakno koe. Aku kangen koe mbul. kangen banget sumpah! Koe neng endi? Di sms gak dibales. Ditelpon malah mbak operator seng ngomong og piye.

Piye kabarmu mbul? Koe ijek nang jeporo po? Po wes nang yogjo? Jangan-jangan koe disekap mbokmu yoh. Astaghfirlloh. Tak dongakno koe sehat wal afiat mbul. Aku sayang karo koe (asemik aku dadi koyo lesbi).

Wes pirang ulan jal ra ketemu? Terakhir ketemu kan pas pendadaranku kae. Tego men koe. Iku wae ra sempet ngobrol2. Jerene pengen crito. Kene mbul, kupingku wes siap. Suwengi yo rapopo. Karo nonton film yo asik. Aku yo ndue crito uakeh. Asoy lo critoku.

Koe ora diciulik alien toh? Nek diculik aku mbok dijak. Kan aku seng pengen diculik alien. Kok malah koe seng ngilang. Ndang cepet mbalek mbuul. Eh, jangan-jangan koe rabi karo kancil yoh? Asemik ra ngomong-ngomong. Asemik aku didisik’i! Ra trimo! Sik sik, koe ora sido dijodohno karo wong tuwek sugeh kae toh? Mugo2 ora ya alloh.

Mbul ayok mangan soto meneh. Referensiku wes tambah akeh tentang dunia persotoan. Ayo tak tantang. Koe wani ra nek rong minggu sarapan soto terus? Berturut-turut. Koe durung tau nyobo soto ngarep asrama andalanku toh? Koe mesti ketagihan. Yakin.

Oh iyo, berita gembira. Awak dewe meh ndue ponakan. Raiso mbayangno aku si mustice meteng. Bocah kurune ngono ndang meteng og. Jal dibayangno jal. mesti lucu. Saiki ra ono seng isok dijak gendeng meneh. Ternyata ngene yo rasane ditinggal konco ki. Dunia rasane berakhir og ra ono koe2 ki. Mustice yo kangen karo koe. Koe sering tak rasani karo dekne.

Koe njaluk tak parani po? Nek aku ngerti posisimu tak parani tenang og. Sayange aku ra ngerti. Aku yo ra ngerti omahmu. Nomere kancil kae ternyata ora kesimpen.

Mustice nek nang yogjo mesti nggarap skripsi. Ndredeg ketemu pinus. Koyo aku mbiyen. Hehe. Si Bayu yo wes mulai nggarap skripsi. Wingi tulisane tak woco. Tapi yo ijek amburadul ra jelas kae. Tapi aku seneng paling gak dekne wes gelem mbukak skripsi. Bobi yo mulai nggarap. Ternyata bocah kae wes dadi juragan iwak. Koe piye? Ndak wes tau ketemu pak faruk? Ayo mbul dimulai sithik-sithik. Ayo tak ewangi sak isoku. Wong liyo iso tak ewangi mati2an ngopo koe kok malah ora? Aku sedih ik nek wisuda dewean ki. Mustice jerene ora wisuda :(

mbul bales smsku mbuuuuul. Angakat telponkuu. Jarang-jarang loh aku nelpon cah wedok ki..koe ra bangga po?

#mbul susi,mugo-mugo koe moco iki, po ono wong liyo seng ngandakno yo ra popo

Aktor Bermata Ngantuk Itu

 Dia aktor Korea. Dulu saya menyebutnya sebagai aktor bermata ngantuk. Tapi saya tidak membuat saya sepenasaran itu untuk mencarinya di goog...