Tuesday, January 5, 2021

Seperti Julie dan Julia

Semalam saya menonton ulang Julie & Julia yang dibintangi Meryl Streep dan Amy Adams, sebuah film tentang dua perempuan beda zaman yang gemar memasak. Julia, pada beberapa dekade yang telah lalu, membuat buku resep masakan Prancis untuk orang Amerika yang kemudian diaplikasikan oleh Julie. Julie membuat menargetkan dirinya memasak semua resep yang ada di buku itu selama satu tahun sambil menuliskan prosesnya di blog pribadi. Oya, film ini didasarkan pada kisah nyata.

Saya tidak berambisi untuk melakukan apa yang telah dikerjakan dengan begitu antusias oleh Julie. Saya cukup bahagia melihat orang-orang yang melakukan pekerjaannya dengan sepenuh hati dan antusias. Apa pun jenis kegiatan atau pekerjaannya. Sesepele apa pun orang lain menilainya, ia tak peduli. Hal-hal semacam itulah yang sering membuat hati saya hangat.

Julie dan Julia beruntung sekali punya pasangan hidup yang mendukung kegemarannya memasak. Para suami itu menganggap masakan istrinya adalah sebuh karya dan apa yang istrinya perbuat sangatlah berarti. Mereka sangat bangga.

Di Youtube, saya menemui yang seperti itu juga. Cek saja akun Dapur Dina. Ini adalah akun yang saya andalkan saat saya bingung mau masak apa. Resep Ibu Dina rata-rata mudah dibuat. Saya belum pernah gagal saat mencoba resepnya. Ketika Ibu Dina memasak, suaminya merekam. Mereka sering mengobrol tentang masakan itu. Setelahnya, mereka makan bareng.

Saya tadi mencoba satu resep Bu Dina, soto sayuran. Ya ampun bumbunya sederhana banget dan rasanya enaaaaaaak. Saya biasanya gak suka buncis, tapi dimasak seperti itu jadi doyan banget. Itu membuat saya bahagia dan memberi energi untuk mengerjakan koreksian yang oh wow banyak sekali!

Friday, January 1, 2021

Mengawali 2021 dengan Sayur Asem dan Cumi Asin

2021 pagi agak mendung. Saya bangun kesiangan. Cepat-cepat saya menjemur pakaian yang semalaman sudah saya rendam dengan softener soklin. Musim hujan begini mencuci pakaian tak cukup dengan deterjen. Softener soklin akan mengamankannya dari bau apek karena pakaian tak cepat kering. 

Hari ini rencananya saya mau bersih-bersih rumah dan menyingkirkan barang-barang tak terpakai. Untuk itu, saya harus memasak dulu agar nanti bisa langsung makan kalau lapar sehabis capek beres-beres. 

Saya mau masak sayur asem dan cumi asin. Mantap. 

Saya beli sepaket sayur asem di warung. Sayur asem di Jogja beda dengan sayur asem jawa timuran. Perbedaannya pada bahan paling dasar, asam jawa. Jatim pakai asam jawa mentah, jogja pakai asam matang. Di jogja gak ada yang jualan asam mentah. Hiks. Sebenarnya bisa juga diganti belimbing wuluh, tapi di tempat saya tinggal jarang sekali ketemu si belimbing kecut itu. Huh. 

Tapi gak papa, saya suka juga dengan sayur asem ini. Oya, satu lagi, sayur asem jogja juga isian sayurnya lebih beragam, ada daun dan kulit mlinjo, kacang tanah, terong, labu siam, kacang panjang, dan jagung. Kalau ibu saya tahu bisa diketawain karena itu aneh banget (awal-awal ke jogja saya juga ketawa kok jagung dibikin sayur asem). Sayur asem jatim biasanya hanya satu atau dua jenis sayuran. Kalau saya pulang kampung, saya pasti minta dimasakin sayur asem. Kesukaan saya sayur asem daun ubi. Surgawi betul. 

Nah, sekarang saya akan membuat sayur asem versi lain ini. Bumbunya sederhana saja. Duo bawang, lengkuas, cabe, kunyit, daun salam, asam, garam. Udah gitu aja. Bisa ditambahi penyedap rasa kalau suka. Saya gak pakai. 

Lalu saya bikin cumi asin. Bumbunya gak jauh beda dengan sayur asem, minus kunyit tapi ditambahin jahe. Plus irisan tomat hijau dan cabai hijau keriting yang banyak. 

(Harusnya di sini disisipi foto, ya. Tapi saya lupa motret tadi 😁)

Dan ternyata saya makan dulu sebelum bersih-bersih rumah. Hehe. Udah gak kuat mau nyendok cumi asinnya barengan nasi anget. 

Aduhai rasanya mantap coy. Pedes asin asem seger! Lidah dan perut saya bahagia 😋

Sementara itu, suami saya masih tidur nyenyak dan saya nggak mau mengganggu ketenteramannya 😊

Hai, halo 2021! 

Wednesday, December 30, 2020

Memasak untuk Berdua

Semenjak pandemi, kemampuan saya dalam memasak meningkat tajam. Awalnya memang dipaksa keadaan yang tidak memungkinkan atau was-was keluar rumah demi sebungkus makanan. Gofood sesekali sih gak papa. Tapi kalau tiga kali sehari kan ya boros. Apalagi sampah bungkus makanannya. Hadeeeh. 

Daripada repot, lebih mudah kalau memasak sendiri. Belanja bumbu, lauk, dan sayuran seminggu sekali. Taruh lauk dan sayuran itu di food container, lalu masukkan kulkas. Bahan makanan akan tahan lebih dari seminggu. Aman. 

Dua minggu pertama memasak, saya sering sekali mantengin resep masakan di youtube. Kebanyakan masakan rumahan dan gak ribet. Selebihnya, saya eksplorasi sendiri, baik bahan maupun bumbu. Sering berhasil. Pernah gagal meski gak gagal banget. Hehe. 

Lama-lama, saya menikmati kegiatan memasak ini. Rasanya sangat ajaib mengolah bahan yang mentah menjadi matang. Apalagi kalau masakan kita dimakan dengan lahap oleh orang yang kita sayangi. Sampai sekarang jawara masakan saya masih dipegang oleh mie ayam. Bayangin, saya bisa bikin mie ayam enak (versi lidah saya)ala abang-abang gerobakan. Mantaplah pokoknya. 

Sekarang, setelah berumah tangga, saya jadi juru masak. Karena suami tidak bisa memasak, dia memilih mencuci piring dan peralatan dapur yang kotor. Sip. Adil. 

Kok saya merasa memasak untuk diri sendiri agak berbeda dengan memasak untuk orang lain, ya. Ada perasaan khawatir kalau-kalau masakan saya tak cocok untuk lidahnya. Lidah saya Jawa Timur sentris, sedangkan suami sih lebih adaptif. Seharusnya, tidak ada masalah. Awal-awal, saya agak nggak pede. Untungnya, suami selalu makan dengan lahap apa pun yang saya sajikan. Entah beneran enak, entah sekadar melapangkan hati saya. 

Tentu, ada makanan kesukaan saya yang ia tak suka. Begitu juga sebaliknya. Sayur asem dan asem-asem bandeng, misalnya. Saya sukaaaaaaa bangeet sayur asem jenis apa pun. Sedang suami kurang suka makanan yang rasanya asem. Padahal kan seger banget! Biasanya, kalau gak banyak kerjaan, saya akan masak dua menu. Sayur asem untuk saya dan cah kangkung untuknya. Dia suka sekali cah kangkung. Ada juga makanan yang awalnya saya gak suka, tapi karena suami ingin dan saya memasaknya, saya jadi ikutan suka. Jangan Lombok Ijo, misalnya. 

Selesai memasak, begitu saya bilang makanan siap, suami langsung menyiapkan nasi di piring dan menatanya di meja makan. Itu kebiasaannya. Terlebih dulu ia akan bertanya, “sedikit, lumayan, banyak?” Saya hampir selalu menjawab, “Lumayan banyak.” Saya senang melihatnya makan. Sambil makan, kami biasa mengobrol ringan. Tentang apa saja. Kadang saya juga minta komentar dan penilaian untuk masakan saya. 

“Besok mau dimasakin apa, Sayang?”

Sunday, December 27, 2020

Halo!

Lama sekali gak nulis di sini. Saya mengelola blog baru sih, jadinya jarang main ke sini. Hehe. Mau nulis di sini lagi ah! Yang ringan-ringan aja, seputar keseharian dan rumah tangga yang ada bahagianya, ada juga sedih-sedihnya. Seimbang. Well, semoga bisa nulis minimal sebulan sekali. Sampai jumpa lagi, ya 😊

Friday, July 3, 2020

Setelah Makan Malam dan Membaca Blog Teman


Saya baru saja makan malam dengan sambal terasi, lalapan kemangi, ikan tengiri goreng, kerupuk, dan sepiring nasi (tapi nambah lagi agak banyak). Sambil makan, saya nyambi membaca (oh kebiasaan buruk yang sulit dihilangkan) blog teman lama. Saya senang membaca blog orang lain. Beberapa minggu lalu saya membaca hampir semua postingan di blog seorang pelukis hebat Indonesia. Lukisannya keren, tulisannya juga mengalir lancar. Bikin iri saja.

Saya tak sengaja mencari blog si teman lama. Awalnya dari caption instagramnya yang menautkan blognya. Iseng, saya mengklik. Jadilah saya membaca beberapa tulisan di sana. Sambil melalap sambal terasi kemangi. Nikmat di lidah bertambah-tambah ketika tulisan-tulisan yang saya baca cukup menghanyutkan. Dan karena tulisan-tulisannya itulah saya jadi ingin menulis di sini (setelah sekian lama tidak).

Blog itu ringan saja isinya: kisah hidup sehari-hari, sambatan, dan mimpi-mimpi yang berlalu. saya paling suka saat dia bercerita tentang pergulatannya sebagai single mom dengan tiga anak. Yang saya sukai, ia tidak menampilkan diri sebagai sosok yang harus selalu bersemangat dan bersyukur. Nein. Ia menulis apa adanya, ia sambat, ia merenung. Ia menceritakan kehidupannya sebagai ibu yang tidak sempurna, sebagai manusia yang selalu bertumbuh. Kadang bijak, kadang liar. Hehe.

Sebenarnya saya baru sekali bertemu dengannya. Kalau tidak salah, itu Sabtu sore di bonbin karena dulu saya punya rutinitas menghabiskan Sabtu di bonbin. Saya sudah agak lupa kami ngobrol apa saja. Yang masih saya ingat, waktu itu bercerita akan kembali ke Malang. Berat tapi harus. Apa sebabnya, saya tak tahu.

Setelah obrolan sore di bonbin itu, kami tak pernah bertemu lagi. Selanjutnya kami sesekali saling menyapa melalui media sosial. Saya tahu dia punya tiga anak pun dari akun media sosialnya.

Beberapa tulisannya sering membuat saya melongok relasi saya dengan ibu. Saya sering berbeda pendapat dengan ibu saya. Tapi sekuat tenaga saya tidak mendebat dengan sengak. Lebih sering saya mendebat dalam batin atau menjalankan aksi diam karena beliau penganut paham “membantah orang tua adalah durhaka dan durhaka jelas dosa besar”. Itu membuat saya berkukuh: kelak, jika punya anak, saya tidak ingin menjadi ibu seperti itu.

Dalam kebodohan dan pikiran gelap saya, saya sering menyalahkan ibu saya atas sifat-sifat yang berdiam dalam diri saya sampai saat ini. Sejak kecil saya pasti melihat, menyerap, dan mencontoh sikapnya dalam menghadapi berbagai hal. Apa yang terekam oleh indera saya itu pada akhirnya sedikit banyak membentuk karakter saya. Iya, setelah saya amat-amati, saya merasa beberapa karakter saya (yang saya benci) diturunkan oleh ibu saya. Atau, didikan beliaulah yang membuat luka masa kecil saya sulit hilang dan ketakutan-ketakutan masa lalu masih sering menghantui.
Membaca tulisan teman saya itu, saya jadi berpikir bolak-balik.

Saya paham bahwa menjadi ibu itu berat. Di luar percekcokan saya dengan ibu saya, saya bersyukur sekali punya ibu seperti ibu saya. Saya tahu, beliau sangat menyayangi saya. Beliau memperjuangkan dengan sungguh-sungguh pendidikan saya. Saya tidak menuntutnya menjadi ibu yang sempurna versi saya. Tidak. Apa-apa yang menjadi keputusannya pasti dilatarbelakangi juga oleh sejarah hidupnya. Beliau berhak mengambil sikap sesuai prinsip hidupnya.

Saya jarang sekali menceritakan keluarga dan relasi saya dengan mereka. Entah mengapa saya ingin menulis ini. Mungkin saya sekarang sedang merindukan ibu saya. Yang pasti, saya merindukan masakannya. Hehehe. Saya kerap membuat masakan yang beliau masak, tapi sial sekali rasanya tak pernah bisa sama. Mendekati pun tidak.






Wednesday, April 8, 2020

E.S. Ito


Sudah lama saya menunggu karya terbarunya. Dulu saya mendengar kabar kalau dia akan menulis novel tentang Nusantara awal abad 19 (?). Pasti menarik dan mendebarkan jika ia yang menuliskannya. Biasanya, saya tertarik pada sebuah cerita karena gaya bercerita si penulis, cara ia menuturkan kisah. Namun tak demikian pada E.S Ito. Jika dilihat dari gayanya bercerita, masih banyak penulis lain yang lebih bagus, meski Ito juga sering menyisipkan dialog-dialog cerdas.

Saya suka cerita-cerita E.S Ito karena tokoh-tokoh yang dihadirkan. Sejak buku pertama, Negara Kelima, dilanjut buku kedua, Rahasia Meede, selalu ada tokoh ideal yang saya rasa mewakili suara-suara dan idealisme Ito. Bukan tokoh tampan nan baik hati, tentu saja. Tapi rebel, jenius, dan prinsipil idealis. Dari dua novelnya itu, ia selalu terkonsentrasi pada persoalan militer, kebobrokan dan keruwetannya. Mungkin ini dipengaruhi oleh latar belakang pendidikannya. Kalau tidak salah, Ito lulusan Taruna Nusantara.

Maka, saya berbahagia sekali karena beberapa hari lalu tahu dari cuitan seseorang kalau Ito membuat sebuah film seri! Sebagai penggemar yang menunggu-nunggu karya terbarunya, saya menyesal karena baru tahu. Padahal film seri itu sudah sejak tahun lalu. Sebelumnya Ito juga pernah menulis skenario untuk film Republik Twitter. Dialog-dialognya asyik sekali.

Di filmnya kali ini, Brata, Ito kembali mengulik dunia yang tak jauh-jauh dari militer: kepolisian Republik Indonesia. Tentu saja ia memunculkan tokoh ideal seperti yang saya singgung. Rebel, jenius, prinsipil idealis. Bayangkan, polisi rebel sedikit arogan, nggak kenal kompromi. Apalagi diperankan Oka Antara. Sumpah bikin meleleh wkwkwkwkwkwk. Saya nggak suka polisi sih, tapi saya suka polisi yang diperankan Oka Antara itu. Kalau penonton film ini adalah juga pembaca novel-novel Ito, mereka tidak akan asing dengan sosok Brata. Ia mirip sekali dengan tokoh Timur Mangkuto dalam novel Negara Kelima.

Film ini punya bangunan cerita yang kukuh dan matang. Didukung juga oleh pemain-pemain yang mumpuni. Saya senang ada serial dengan mutu yang bagus seperti ini. Cukup mengurangi tekanan mental pada saat-saat seperti ini. Kalau lagi badmood tinggal mantengin sosok Brata. Dijamin senyum-senyum aja bawaannya hahahahaha.

Tuesday, April 7, 2020

Waras


Saat menulis ini, saya sedang duduk di belakang meja kerja saya yang nyaman. Petikan piano Yiruma menjadi latar belakang yang merdu. Seharusnya ini menjadi pagi yang sempurna. Pikiran masih fresh untuk diajak bekerja. Kebetulan banyak tugas mahasiswa yang belum saya periksa. Tapi, beberapa hari ini rasanya otak saya tidak mau diajak berpikir. Bahkan untuk menuliskan hal-hal sederhana pun rasanya malas sekali.

Hampir empat minggu sejak pihak kampus memberi kebijakan bekerja dari rumah, praktis saya nggak ke mana-mana dan memang tidak boleh ke mana-mana. Sebagai orang rumahan yang betah ngendon di kamar berhari-hari, bahkan sering malas bertemu manusia, saya menyambut kebijakan itu sebagai anugerah. Saya merasa lebih fokus dan produktif bekerja dari rumah. Tidak banyak distraksi seperti di kantor. Kuliah pun lancar. Saya menggunakan video conference zoom, webex, dan aplikasi google classroom. Nggak ada masalah. Saya juga jadi punya lebih banyak waktu untuk melamun dan merawat tanaman-tanaman saya.

Namun, musuh besar umat manusia adalah kebosanan.

Saya tidak tahu persis, mungkin karena disuruh, ada tekanan, atau entah apa, berdiam di rumah (lama-lama) tidak seindah yang saya bayangkan. Atau saya hanya butuh variasi? Sesekali pergi ke warung kopi? Mungkin tidak juga. Ini adalah hari-hari ketika pertanyaan "apa kabar" bukan sekadar basa-basi. Rasanya setiap hari adalah pms. Saya mudah murung dan pikiran-pikiran buruk mudah sekali menerobos. Saya mengkhawatirkan kondisi keluarga saya. Saya mencemaskan banyak hal.

Seharusnya sejak kemarin saya sudah memanggil tukang kunci. Saya lupa membawa kunci kamar kos yang saya taruh di saku jaket yang saya tinggal di rumah kekasih. Untuk bilang padanya kalau saya lupa membawa kunci dan memintanya mengantarkan pun rasanya malas. Saya lebih memilih keluar masuk kamar lewat jendela yang tidak saya kunci. Apakah saya hanya butuh variasi?

Semoga kita semua masih waras. Inhale-exhale~

Aktor Bermata Ngantuk Itu

 Dia aktor Korea. Dulu saya menyebutnya sebagai aktor bermata ngantuk. Tapi saya tidak membuat saya sepenasaran itu untuk mencarinya di goog...