Aku memandangi keringatnya yang menetes-netes. Bersinergi dengan mulutnya yang tak henti mengunyah. Diselingi huh hah huh hah kepedasan. Nasi di piringnya masih cukup banyak. Itu berarti aku masih bisa memandanginya cukup lama. Makananku? Sudah kuhabiskan. Aku sengaja menghabiskannya cepat-cepat. Lagian, separuh porsi nasiku kualihkan ke piringnya. Tentu saja agar aku bisa melakukan ini: memandanginya selagi makan. Kesempatan ini, sedetik pun, tak boleh kusia-siakan.
Perlu kau tahu, kami menjalani hari-hari dengan serangkaian perdebatan.
Aku bilang dia terlalu serius menghadapi hidup. Dia bilang aku harus sesekali baca buku filsafat. Biar gak baca komik terus. Buang-buang waktu, katanya. Aku hendak membantahnya. Dia bilang tak ada gunanya. Dia bilang aku tak peduli derita orang lain. Aku bilang dia menteri urusan orang lain. Dia memaki. Aku ngakak.
Dia bilang sastra Indonesia harus berterima kasih pada Pramoedya Ananta Toer. Aku bilang dunia sastra Indonesia harus berterima kasih berjuta-juta pada Raditya Dika. Dia ngotot itu bukan karya sastra. Aku tidak peduli. Aku tak suka Pram, tulisan-tulisannya terlalu pahit. Dia bilang Pram menulis kehidupan. Kemudian dia menyarankanku membacai novel-novel para pemenang nobel. Penulis-penulis hebat, katanya. Aku malas membacanya. Dia bilang aku pemalas seperti babi. Babik!
Dia suka musik-musik indie macam Sisir Tanah dan Efek Rumah Kaca. Aku suka Peterpan-Noah. Dia mencibir habis-habisan. Dia bilang aku hanya suka tampang vokalisnya. Aku tak membantah. Percuma.
Dia merokok. Aku ingin merokok tapi tak berani. Dia bilang aku pengecut. Sialan. Maka aku hanya memandanginya menghembuskan asap dari mulutnya. Semacam ‘huh’ yang sangat pelan. Kemudian tercipta bulatan-bulan asap itu. Bagus sekali. Aku suka sekaligus iri.
Maka, tempat ini adalah satu-satu yang mampu membuat kami bersepakat: sambalnya mantap. Kami tak menemukan kata-kata untuk mendeskripsikannya. Dia bilang tak usah dideskripsikan, kata-kata tak mampu menampung kenikmatannya. Aku setuju. Dalam hal persambalan, aku dan dia tak pernah beradu pendapat. Kami juga sama-sama menyukai sambal kemasan yang terkenal dari Surabaya itu. Meskipun agak kebanyakan minyak, komposisi sambal itu pas.
Tentu tidak semua urusan lidah kami bersepakat. Dia suka makanan bersantan. Aku ogah. Dia suka gudeg. Aku menolak mentah-mentah. Delapan tahun di kota ini tak membuat lidahku jadi multikultural. Sejak awal lidahku menolak makanan satu itu. Dia bilang lidahku Jawa Timur sentris. Hahaha. Dia suka makan mie, aku juga sangat suka. Tapi dia aktivis anti-mie instan. Aku koki jagoan urusan mie instan. Dia lalu bicara ngalor ngidul tentang hegemoni dan kapitalisme. Aku muak sekali.
Dan ketika aku tahu tempat ini akan tutup buat selamanya, aku sedih luar biasa. Aku tanya kenapa? Si penjual yang tampangnya mirip Aqi Alexa ini bilang ia bosan. Bosan? Aku tak percaya sambal selezat itu dibuat oleh orang yang sedang bosan. Ia akan kembali ke kampung asalnya, sebuah desa di Lamongan (oya, aku sering ngobrol dengan si dia tentang diaspora Lamongan di seantero jagad), ia tak mau bilang apa alasannya. Aku bilang sayang kalau dilepas, toh warung makan ini tak pernah sepi pembeli. Si penjual hanya senyum tak mau menanggapi lagi.
Sebentar, bagaimana bisa orang menutup warung yang laris hanya karena soal bosan? Apa dia tidak memikirkan pelanggan yang akan merindukan masakannya? Lebih jauh, apa dia tidak tahu, di luar sana banyak orang yang usahanya gulung tikar? Sementara ia hanya menutup warung hanya gara-gara bosan? Cih!
Dari bangunannya, warung ini biasa saja. Sedikit kumuh malah. Bungkus krupuk bertebaran di lantainya. Letaknya di pertigaan. Dekat pos ronda. Pos ronda itulah yang seringkali digunakan orang-orang untuk makan kalau kursi panjang yang disediakan telah penuh. Dan kami sedang duduk di pos ronda itu.
Jadi, ini adalah makan terakhir kami di warung yang besok akan tutup selamanya.
“Bukankah si penjual itu sangat egois?” dia melontarkan pertanyaan tiba-tiba, sambil menyedot es tehnya. Nasi di piringnya sudah tandas. Yang tersisa hanya potongan timun di pinggir piring. Seketika aku mengalihkan pandangan ke jalanan. Tak mau kedapatan memandanginya.
“Egois, kan?” dia agak sebal karena aku tak kunjung mengiyakan. Sedikit merengut. Betapa rupawannya. Ah!
“Aku tidak percaya alasannya karena bosan. Pasti ada alasan lain. Pasti!” Dia masih tidak terima warung ini akan tutup.
Keringatnya masih menetes satu dua. Aku tak hendak memberikan tisu. Biar. Begitu lebih enak dipandang.
Lalu, yang terjadi adalah adegan yang kutunggu-tunggu: dia menaruh rokok di bibirnya. Satu tangannya menyalakan korek api. Tangannya yang lain melindungi api dari angin. Satu dua tiga. Dia menghisap rokoknya dalam-dalam. Dan…keluarlah asap rokok yang kusukai itu.
“Iya. Sangat egois. Persis seperti aku, kan?” akhirnya aku bersuara. “Dan sebagai sesama orang egois dan mudah bosan, aku memahami pilihannya.”
Dia menungguku melanjutkan kata-kata.
Orang kan berhak menentukan pilihannya masing-masing, kataku. Jawaban khas orang egois, dia bilang. Lalu kami bersikukuh pada pendapat masing-masing.
Sudah kubilang, hanya sambal lezat itu yang mampu membungkam mulutku dan dia. Bagaimana kalau warung pemilik sambal lezat ini tutup?
“Jadi kamu rela warung ini tutup selamanya? Kamu rela kehilangan sambal terlezat di dunia?” dia menggugat. Aku diam saja.
Lebih dari dia, lebih dari dari siapapun, aku adalah orang yang paling sedih mengetahui warung ini akan tutup selamanya. Ini bukan perkara sambal terlezat sedunia. Bukan. Kau jelas tahu ini perkara apa.
Ah!
Monday, November 9, 2015
Saturday, October 17, 2015
pohon-pohon talok
Awalnya adalah rekomendasi dari seseorang yang sangat mengagumi Arswendo Atmowiloto. Saya menanyakan buku apa yang kira-kira bisa dibaca sambil santai-santai. Dia bilang, 3 Cinta 1 Pria. Tanpa pikir panjang, saya langsung memburu buku itu. Dan, di sana saya menemukan pohon ini disebut. Tak hanya sekali. Berkali-kali. Berulang-ulang. Hingga sangat intens.
Dalam buku 3 Cinta 1 Pria itu, sang tokoh utama adalah seorang yang tergila-gila dengan pohon talok. Ia pun membudidayakan. Memeliharanya. Mencintainya.
Saya sendiri menyebutnya ‘pohon keres’. Dalam bahasa Indonesia biasa disebut ‘kersen’, sedangkan nama latinnya adalah Muntingia calabura. Saya rasa, pohon ini tumbuh dengan sendirinya, di sembarang tempat. Mungkin 'bibit'nya disemai burung-burung. Jika muncul ke permukaan tanah, ia tak dimusnahkan, tapi juga tak dirawat. Hingga tau-tau tumbuh menjulang dengan daun hijau lebat. Tidak ada orang yang dengan sengaja menanamnya. Setidaknya, sampai sejauh ini saya belum berjumpa atau mendengar cerita ada orang yang dengan sengaja membudidayakan pohon ini. Ya, terkecuali Bong tentu saja, tokoh dalam 3 Cinta 1 Pria.
Bagi saya pohon ini adalah pohon yang istimewa. Ia tak butuh perawatan khusus untuk bisa menghasilkan buah yang menggiurkan itu: hijau kala masih mentah, hijau kekuningan kala beranjak matang, merah kalau matang, dan merah gelap kalau terlalu matang. Dulu, buahnya yang masih mentah biasa saya gunakan untuk pasaran, masak-masakan.
Tak hanya memakan buahnya, bagi saya, memainkan daunnya adalah kegembiraan tersendiri. Dulu, waktu masih di sekolah dasar, daun-daun keres yang muda biasa saya letakkan di sela-sela buku tulis putih bergaris-garis itu. Lalu ditekan kuat-kuat. Dalam beberapa hari akan membentuk pola daun yang indah. Daun yang masih muda akan memberi warna terang, hijau kekuningan. Kalau mau bermain gradasi bisa ambil yang agak tua, tapi biasanya sulit meninggalkan jejak di kertas.
Di Jogja, saya heran mengapa banyak buah keres/talok yang dibiarkan jatuh berserakan. Apalagi kalau musim hujan. Buahnya yang matang begitu gemuk-gemuk. Saya tidak pernah mendapati anak-anak yang antusias bermain atau memanjat pohon ini. Saya curiga, jangan-jangan orang Jogja tidak tahu kalau buah ini bisa dimakan dan rasanya manis. Atau, mereka tahu kalau buah ini bisa dimakan, tetapi sengaja membiarkannya untuk makanan burung. Ah, sial. Boleh saja sih buat makanan burung, tapi, sebagai penggemar buah talok, saya begitu sakit hati melihat buah-buah ini bertebaran tanpa ada yang memungutnya :(
Di sekolah vokasi UGM, ada setidaknya tiga pohon talok yang—subhanallah—buahnya banyak banget! Tapi, saya bersedih untuk ketiga pohon itu. Buahnya yang merah gemuk itu merana. Bertebaran di tanah, tak ada yang berhasrat mencaploknya. Saya juga bersedih untuk diri saya sendiri, yang hanya bisa memandang dengan gemetar. Ingin memanjatnya tapi dihadang rasa malu dilihatin mahasiswa saya. :(
Pohon ini begitu kuat menyimpan memori masa kecil saya. Tapi ia tak sendiri. Ia punya teman yang lain, pohon murbei, pohon juet, cerme, kecacil, ciplukan (kalau bisa dikatakan pohon).
Mungkin saya tak seperti Bong yang memperlakukan pohon talok bagai seorang kekasih. Menghayatinya sampai ke kedalaman. Tapi, saya cukup senang, momen-momen berharga dalam hidup saya pernah hinggap di pohon ini. :)
Dalam buku 3 Cinta 1 Pria itu, sang tokoh utama adalah seorang yang tergila-gila dengan pohon talok. Ia pun membudidayakan. Memeliharanya. Mencintainya.
Saya sendiri menyebutnya ‘pohon keres’. Dalam bahasa Indonesia biasa disebut ‘kersen’, sedangkan nama latinnya adalah Muntingia calabura. Saya rasa, pohon ini tumbuh dengan sendirinya, di sembarang tempat. Mungkin 'bibit'nya disemai burung-burung. Jika muncul ke permukaan tanah, ia tak dimusnahkan, tapi juga tak dirawat. Hingga tau-tau tumbuh menjulang dengan daun hijau lebat. Tidak ada orang yang dengan sengaja menanamnya. Setidaknya, sampai sejauh ini saya belum berjumpa atau mendengar cerita ada orang yang dengan sengaja membudidayakan pohon ini. Ya, terkecuali Bong tentu saja, tokoh dalam 3 Cinta 1 Pria.
Bagi saya pohon ini adalah pohon yang istimewa. Ia tak butuh perawatan khusus untuk bisa menghasilkan buah yang menggiurkan itu: hijau kala masih mentah, hijau kekuningan kala beranjak matang, merah kalau matang, dan merah gelap kalau terlalu matang. Dulu, buahnya yang masih mentah biasa saya gunakan untuk pasaran, masak-masakan.
Tak hanya memakan buahnya, bagi saya, memainkan daunnya adalah kegembiraan tersendiri. Dulu, waktu masih di sekolah dasar, daun-daun keres yang muda biasa saya letakkan di sela-sela buku tulis putih bergaris-garis itu. Lalu ditekan kuat-kuat. Dalam beberapa hari akan membentuk pola daun yang indah. Daun yang masih muda akan memberi warna terang, hijau kekuningan. Kalau mau bermain gradasi bisa ambil yang agak tua, tapi biasanya sulit meninggalkan jejak di kertas.
Di Jogja, saya heran mengapa banyak buah keres/talok yang dibiarkan jatuh berserakan. Apalagi kalau musim hujan. Buahnya yang matang begitu gemuk-gemuk. Saya tidak pernah mendapati anak-anak yang antusias bermain atau memanjat pohon ini. Saya curiga, jangan-jangan orang Jogja tidak tahu kalau buah ini bisa dimakan dan rasanya manis. Atau, mereka tahu kalau buah ini bisa dimakan, tetapi sengaja membiarkannya untuk makanan burung. Ah, sial. Boleh saja sih buat makanan burung, tapi, sebagai penggemar buah talok, saya begitu sakit hati melihat buah-buah ini bertebaran tanpa ada yang memungutnya :(
Di sekolah vokasi UGM, ada setidaknya tiga pohon talok yang—subhanallah—buahnya banyak banget! Tapi, saya bersedih untuk ketiga pohon itu. Buahnya yang merah gemuk itu merana. Bertebaran di tanah, tak ada yang berhasrat mencaploknya. Saya juga bersedih untuk diri saya sendiri, yang hanya bisa memandang dengan gemetar. Ingin memanjatnya tapi dihadang rasa malu dilihatin mahasiswa saya. :(
Pohon ini begitu kuat menyimpan memori masa kecil saya. Tapi ia tak sendiri. Ia punya teman yang lain, pohon murbei, pohon juet, cerme, kecacil, ciplukan (kalau bisa dikatakan pohon).
Mungkin saya tak seperti Bong yang memperlakukan pohon talok bagai seorang kekasih. Menghayatinya sampai ke kedalaman. Tapi, saya cukup senang, momen-momen berharga dalam hidup saya pernah hinggap di pohon ini. :)
sepuluh bulan merindu
Halo,
Sudah sepuluh bulan aku mengabaikanmu. Sebenarnya gak mengabaikan banget sih. Kamu sesekali kukunjungi. Jelas aku gak kuat menahan rindu. Tapi ya itu, aku gak pernah ngirim tulisan di sini. Hehe. Maap.
Seumpama bayi dalam kandungan, dalam tempo sepuluh bulan itu kamu sekarang sudah mbrojol. Tapi kamu kan bukan bayi. Kalaupun bayi, kamu adalah bayi yang kurang nutrisi. Maap sekali lagi, ada bayi lain yang sedang menguras perhatianku. Kamu tau lah itu. Dan alhamdulillah, sudah mbrojol dengan sehat dan bahagia.
Oke, banyak hal yang terjadi selama sepuluh bulan aku merinduimu. Perjalanan, pelajaran, peristiwa-peristiwa yang rasanya tak masuk akal, berbagai kejutan, gelombang-gelombang perasaan, dan lain sebagainya, dan lain sebagainya. Semuanya kucecap, kuserap. Dan aku, tentu saja, akan membaginya denganmu. Nanti, pelan-pelan.
:)
Sudah sepuluh bulan aku mengabaikanmu. Sebenarnya gak mengabaikan banget sih. Kamu sesekali kukunjungi. Jelas aku gak kuat menahan rindu. Tapi ya itu, aku gak pernah ngirim tulisan di sini. Hehe. Maap.
Seumpama bayi dalam kandungan, dalam tempo sepuluh bulan itu kamu sekarang sudah mbrojol. Tapi kamu kan bukan bayi. Kalaupun bayi, kamu adalah bayi yang kurang nutrisi. Maap sekali lagi, ada bayi lain yang sedang menguras perhatianku. Kamu tau lah itu. Dan alhamdulillah, sudah mbrojol dengan sehat dan bahagia.
Oke, banyak hal yang terjadi selama sepuluh bulan aku merinduimu. Perjalanan, pelajaran, peristiwa-peristiwa yang rasanya tak masuk akal, berbagai kejutan, gelombang-gelombang perasaan, dan lain sebagainya, dan lain sebagainya. Semuanya kucecap, kuserap. Dan aku, tentu saja, akan membaginya denganmu. Nanti, pelan-pelan.
:)
Monday, December 1, 2014
meja
Dulu ada sisa sebuah meja, di mana kita berjaga*
Adalah Park Gae In, seorang desainer furniture dalam film Personal Taste. Dalam sebuah pameran furniture, Gae In memamerkan beberapa hasil karyanya, salah satunya adalah sebuah meja yang diberi nama "personal table". Salah satu sisi meja ini memiliki cermin, dengan asumsi bahwa cermin akan menggandakan bayangan.
Bagi Jeon Jin Ho, seorang arsitek dalam film yang sama, meja itu sangat egois. Pembuatnya adalah orang yang tidak pernah memasak untuk orang lain, juga tidak paham berkomunikasi dengan orang lain. Meja yang dikenal oleh Jin Ho adalah meja yang digunakan oleh sebuah keluarga untuk melepas keletihannya. Meja untuk berkomunikasi.
Kemudian Gae In menanggapi dengan ucapan yang membuat saya tertegun: di dunia ini ada banyak orang yang tak memiliki siapapun untuk diajak makan bersama.
Gae In memang membuat karya itu berdasarkan serpihan dirinya sendiri.
Dalam film The Heirs, Choi Yung Do, seorang anak muda dari keluarga kaya raya, sering makan ramen sendirian di sebuah toko (mirip indomaret di Indonesia). Alasan dia melakukan hal itu karena orang yang makan di sana sendirian tidak terlihat aneh. Berbeda jika orang makan sendirian di tempat lain.
Apa yang dilakukan oleh Choi Yung Do adalah gambaran konkret seperti yang dikatakan oleh Gae In.
Kim Na Na, dalam film City Hunter, punya memori yang kuat tentang meja. Ia tidak memindahkan meja di depan sofa karena ayahnya sering menggunakan meja itu untuk bekerja. Ia juga tidak mengganti alas meja makan karena itu adalah peninggalan ibunya.
Begitu banyak orang (meskipun hanya tokoh dalam film) yang mempunyai keterhubungan dengan sebuah meja.
***
Di keluarga saya, tidak ada yang spesial dengan meja (makan). Kami hampir tidak pernah memperlakukan meja makan sebagaimana fungsinya. Artinya, kami tidak pernah makan bersama di meja makan karena tindakan itu terasa aneh. Lagi pula, jadwal makan kami berbeda-beda. Jika pun kebetulan kami makan pada saat yang bersamaan, kami akan memilih tempat yang berbeda saat menyantap makanan: di depan tv, di ruang tamu, bahkan di dapur.
***
Di perpustakaan kampus saya, setidaknya ada dua jenis meja. Ada meja yang digunakan berbarengan, kolektif. Ada juga meja individual, ada sekat yang memisahkan dengan orang di meja sebelahnya. Pada meja yang kolektif, orang-orang berada pada satu meja yang sama, tetapi tidak saling berkomunikasi. Mereka sibuk dengan dunianya masing-masing.
Di salah satu meja itu, saya pernah membuat bermacam coretan. Ada pesan yang saya buat untuk seseorang. Tapi mungkin seseorang itu tidak akan pernah menemukannya. Saya senang dengan meja yang riuh coretan. Ini menandakan meja itu disinggahi banyak orang. Orang-orang yang berbeda. Saya suka tersenyum geli melihat coretan-coretan di meja itu. Tapi itu dulu. Kini, di perpustakaan, hampir tidak ada meja yang penuh coretan. Bagaimana proses memudarnya coretan-coretan itu saya tidak tahu.
Ketika menulis ini, kebetulan saya berada di salah satu meja kolektif di perpustakaan. Saya tidak mengenal orang di depan saya. Sebelum saya datang, ia sudah duduk di kursi itu. Dengan tumpukan catatan di sebelah laptopnya. Orang di samping saya baru saja meninggalkan meja, tak lama kemudian digantikan oleh orang lain.
hmmm..saya tidak tahu apakah saya membutuhkan meja seperti yang dibuat oleh Park Gae In. Yang jelas, saya ingin segera duduk di balik meja ujian tesis :p
*digubah dari salah satu baris dalam sajak “Afterword” karya Goenawan Mohammad: Dulu ada sisa sebuah taman, di mana kita berdekapan.
**FYI>> dalam Affair, ada salah satu tulisan Seno Gumira Ajidarma yang menarik, yang berkaitan dengan meja, judulnya “Setengah Meja dan Kursi untuk Satu Orang”. Tulisan ini adalah pengamatan Seno tentang beberapa fungsi sosial dan individual meja, baik di restoran cepat saji maupun di warteg.
Adalah Park Gae In, seorang desainer furniture dalam film Personal Taste. Dalam sebuah pameran furniture, Gae In memamerkan beberapa hasil karyanya, salah satunya adalah sebuah meja yang diberi nama "personal table". Salah satu sisi meja ini memiliki cermin, dengan asumsi bahwa cermin akan menggandakan bayangan.
Bagi Jeon Jin Ho, seorang arsitek dalam film yang sama, meja itu sangat egois. Pembuatnya adalah orang yang tidak pernah memasak untuk orang lain, juga tidak paham berkomunikasi dengan orang lain. Meja yang dikenal oleh Jin Ho adalah meja yang digunakan oleh sebuah keluarga untuk melepas keletihannya. Meja untuk berkomunikasi.
Kemudian Gae In menanggapi dengan ucapan yang membuat saya tertegun: di dunia ini ada banyak orang yang tak memiliki siapapun untuk diajak makan bersama.
Gae In memang membuat karya itu berdasarkan serpihan dirinya sendiri.
Dalam film The Heirs, Choi Yung Do, seorang anak muda dari keluarga kaya raya, sering makan ramen sendirian di sebuah toko (mirip indomaret di Indonesia). Alasan dia melakukan hal itu karena orang yang makan di sana sendirian tidak terlihat aneh. Berbeda jika orang makan sendirian di tempat lain.
Apa yang dilakukan oleh Choi Yung Do adalah gambaran konkret seperti yang dikatakan oleh Gae In.
Kim Na Na, dalam film City Hunter, punya memori yang kuat tentang meja. Ia tidak memindahkan meja di depan sofa karena ayahnya sering menggunakan meja itu untuk bekerja. Ia juga tidak mengganti alas meja makan karena itu adalah peninggalan ibunya.
Begitu banyak orang (meskipun hanya tokoh dalam film) yang mempunyai keterhubungan dengan sebuah meja.
***
Di keluarga saya, tidak ada yang spesial dengan meja (makan). Kami hampir tidak pernah memperlakukan meja makan sebagaimana fungsinya. Artinya, kami tidak pernah makan bersama di meja makan karena tindakan itu terasa aneh. Lagi pula, jadwal makan kami berbeda-beda. Jika pun kebetulan kami makan pada saat yang bersamaan, kami akan memilih tempat yang berbeda saat menyantap makanan: di depan tv, di ruang tamu, bahkan di dapur.
***
Di perpustakaan kampus saya, setidaknya ada dua jenis meja. Ada meja yang digunakan berbarengan, kolektif. Ada juga meja individual, ada sekat yang memisahkan dengan orang di meja sebelahnya. Pada meja yang kolektif, orang-orang berada pada satu meja yang sama, tetapi tidak saling berkomunikasi. Mereka sibuk dengan dunianya masing-masing.
Di salah satu meja itu, saya pernah membuat bermacam coretan. Ada pesan yang saya buat untuk seseorang. Tapi mungkin seseorang itu tidak akan pernah menemukannya. Saya senang dengan meja yang riuh coretan. Ini menandakan meja itu disinggahi banyak orang. Orang-orang yang berbeda. Saya suka tersenyum geli melihat coretan-coretan di meja itu. Tapi itu dulu. Kini, di perpustakaan, hampir tidak ada meja yang penuh coretan. Bagaimana proses memudarnya coretan-coretan itu saya tidak tahu.
Ketika menulis ini, kebetulan saya berada di salah satu meja kolektif di perpustakaan. Saya tidak mengenal orang di depan saya. Sebelum saya datang, ia sudah duduk di kursi itu. Dengan tumpukan catatan di sebelah laptopnya. Orang di samping saya baru saja meninggalkan meja, tak lama kemudian digantikan oleh orang lain.
hmmm..saya tidak tahu apakah saya membutuhkan meja seperti yang dibuat oleh Park Gae In. Yang jelas, saya ingin segera duduk di balik meja ujian tesis :p
*digubah dari salah satu baris dalam sajak “Afterword” karya Goenawan Mohammad: Dulu ada sisa sebuah taman, di mana kita berdekapan.
**FYI>> dalam Affair, ada salah satu tulisan Seno Gumira Ajidarma yang menarik, yang berkaitan dengan meja, judulnya “Setengah Meja dan Kursi untuk Satu Orang”. Tulisan ini adalah pengamatan Seno tentang beberapa fungsi sosial dan individual meja, baik di restoran cepat saji maupun di warteg.
Monday, October 27, 2014
hai, kawan perpus(ku)
hai,
Rak-rak buku perpustakaan ini mau tidak mau mengingatkanku padamu. Ya..ya..buku-buku di perpustakaan ini membikinku malas cepat-cepat merampungkan studi. Kau tahu, salah satu kekhawatiranku ketika lulus adalah tidak lagi bisa membaca buku “sesukanya” seperti sekarang ini.
Aku sedang mendaftar buku-buku yang ingin kubaca (dan kubeli). Karena aku belum bisa membeli buku-buku itu, sebagian kucari di perpustakaan. Ada lebih dari sepuluh buku. (betapa aku sangat tamak). Kali ini bukan buku-buku yang berhubungan dengan sastra. Akhir-akhir ini aku sedikit kehilangan mood tentang sastra. Sastra, saat ini, tidak cukup menggairahkanku. Hahaha. Coba bayangkan, gimana rasanya kehilangan mood (sastra) saat sedang dikejar-kejar deadline tesis.
Sebenarnya, ada buku sastra yang ingin kubaca. Tapi buku itu sekarang sedang digemari banyak orang. Media sosial riuh membicarakannya, dan memujinya. Melihat fenomena itu, aku justru enggan membacanya. Entahlah, dalam berbagai hal, aku punya kecenderungan menghindari sesuatu yang sedang digemari banyak orang. Justru ketika sesuatu itu ditinggalkan, aku baru mendekatinya.
Aku sedang tertarik pada pemikiran Islam progresif. Hari-hari ini aku membaca beberapa buku dan mencermati kuliah-kuliah umum di youtube. Objek material tesisku memandang Islam dengan begitu “lugu”. Ini betul-betul membuatku bosan. Aku berhasrat untuk mendobraknya. Dan tidak ada orang lain yang lebih ingin kuajak diskusi selain kamu.
Sepulangmu ke kampung halaman, perpustakaan ini terasa hampa :p
Rak-rak buku perpustakaan ini mau tidak mau mengingatkanku padamu. Ya..ya..buku-buku di perpustakaan ini membikinku malas cepat-cepat merampungkan studi. Kau tahu, salah satu kekhawatiranku ketika lulus adalah tidak lagi bisa membaca buku “sesukanya” seperti sekarang ini.
Aku sedang mendaftar buku-buku yang ingin kubaca (dan kubeli). Karena aku belum bisa membeli buku-buku itu, sebagian kucari di perpustakaan. Ada lebih dari sepuluh buku. (betapa aku sangat tamak). Kali ini bukan buku-buku yang berhubungan dengan sastra. Akhir-akhir ini aku sedikit kehilangan mood tentang sastra. Sastra, saat ini, tidak cukup menggairahkanku. Hahaha. Coba bayangkan, gimana rasanya kehilangan mood (sastra) saat sedang dikejar-kejar deadline tesis.
Sebenarnya, ada buku sastra yang ingin kubaca. Tapi buku itu sekarang sedang digemari banyak orang. Media sosial riuh membicarakannya, dan memujinya. Melihat fenomena itu, aku justru enggan membacanya. Entahlah, dalam berbagai hal, aku punya kecenderungan menghindari sesuatu yang sedang digemari banyak orang. Justru ketika sesuatu itu ditinggalkan, aku baru mendekatinya.
Aku sedang tertarik pada pemikiran Islam progresif. Hari-hari ini aku membaca beberapa buku dan mencermati kuliah-kuliah umum di youtube. Objek material tesisku memandang Islam dengan begitu “lugu”. Ini betul-betul membuatku bosan. Aku berhasrat untuk mendobraknya. Dan tidak ada orang lain yang lebih ingin kuajak diskusi selain kamu.
Sepulangmu ke kampung halaman, perpustakaan ini terasa hampa :p
Saturday, August 30, 2014
Surat untuk Nilam
Nilam yang baik,
Pertengahan Agustus saat tahu Oeyab akan melangsungkan resepsi pernikahan, aku langsung menyusun rencana. Aku akan datang ke acara resepsi itu. Aku pun mencari agen travel Jogja-Bojonegoro, mencari tahu berapa lama perjalanannya, dll. Tentu aku tidak akan berangkat pada hari H, tapi pada H-1 dan menginap di rumahmu. Jika rencana itu terlaksana dengan baik, hari itu jatuh pada 30 Agustus, hari ini, hari ulang tahunmu. Aku akan mengucapkan selamat ulang tahun langsung dari mulutku. Tidak dari telpon, sms, atau media sosial yg lain. Tapi, seperti yang sudah-sudah, aku hanya pandai berencana. Dan hanya tulisan ini sebagai hadiah ulang tahunmu. Apa boleh buat.
Nilam yang baik dan akan selalu baik,
Dari dulu aku tidak terlalu punya banyak teman. Aku sulit sekali mempercayai orang. Ada yang bilang, aku gunung rahasia. Ya, tidak mudah berteman dengan orang yang sukan main rahasia dan jarang bicara. Hingga akhirnya aku memutuskan untuk sedikit demi sedikit menggerus sikapku itu. Selain pada Tuhan dan buku harian, aku mencoba untuk bercerita ke orang lain, ke beberapa teman. Tentang apa saja. Dan aku menyesal.
Aku mengalami apa yang disebut pengkhianatan. Tentang sesuatu yang baginya mungkin sepele, tapi bagiku sangat prinsipil. Rasanya sakit. Apa yang lebih menyakitkan daripada dihianati teman yang paling kamu percaya? Dalam waktu yang cukup lama, aku merawat dendam di hatiku. Aku tahu, aku sedang membuka pintu neraka dalam diriku sendiri. Ternyata aku adalah pendendam yang keras kepala. Keluarga Corleone dalam Godfather mengajarkan: tak ada ampun bagi penghianatan. Tapi kemudian aku diingatkan Parang Jati, salah satu tokoh novel favoritku: mungkin kita tidak punya kemampuan untuk mengampuni. Yang bisa kita lakukan adalah berdamai dengan sisi lain manusia yang tak kita mengerti.
Kini, dendam itu memang tak ada lagi, tapi aku kembali sulit mempercayai orang.
Nilam yang suka ngepoin timelineku,
Si penghianat itu jelas bukan kamu. Kamu adalah temanku yang baik, sangat baik. Aku tahu kmau punya rasa keingintahuan yang besar terhadap segala sesuatu. Tapi, Nil, jika ada hal-hal yang tidak kuceritakan padamu, bukan berarti aku tidak mempercayaimu. Mungkin aku berbeda dengan temanmu yang lain. Aku bukan orang yang jika sudah bercerita akan merasa lebih lega, aku justru sebaliknya. Makanya aku lebih sering memilih diam daripada merangkai berbagai alasan. Aku belum bisa jadi pembohong yang handal dan elegan seperti Shinichi Kudo. Hei, kamu pasti menangkap maksudku kenapa aku membicarakan ini.
Nilam yang punya bakat jadi detektif,
Ini adalah hari spesialmu. Kuberitahu satu rahasia. Di buku harianku yang tak berhasil kau temukan itu, (HAHAHAHAHA!) ada satu cerita. Ada momen dalam hidupku yang ingin kuulang. Suatu malam, saat mengantarku pulang, seorang kawan pernah mengucap hal yang begitu tulus padaku. Pada momen yang singkat itu, pada ketulusan itu, aku lupa bilang “terima kasih”. Momen itu tidak akan pernah terulang lagi dalam bentuk apapun karena dunia kami yang sudah berbeda. Hingga saat ini aku menanggung beban penyesalan. Nah, Nilam, aku tidak ingin penyesalan itu terulang lagi. Maka, sekarang, aku berterima kasih padamu karena sudah mau jadi temanku. Teman baikku.
Aku berterima kasih lebaran kemarin kamu nyempetin dateng ke rumahku, meski aku belum pernah ke rumahmu. Aku berterima kasih kamu udah nyempetin nengokin aku ke Jogja. Meski waktu aku ke Surabaya cuma bilang doang dan gak mampir. Hehe. Aku menyadari sepenuhnya aku bukan teman yang baik. Jarang pulang dan silaturrahmi ke kalian. Monkey D. Luffy, Winnetou-Old Shatterhand, semuanya mengajarkan tentang betapa berharganya persahabatan. Aku beruntung punya sahabat baik sepertimu. Sekali lagi terima kasih.
Aku senang kita kembali intens berkomunikasi. Bisa ngobrol sesukanya meski hanya lewat telpon dan media sosial. Mungkin kelak, ada saatnya ketika kamu butuh teman bicara atau pendengar, kamu harus bertanya dulu aku sibuk atau gak. Dan mungkin masing-masing dari kita lebih sibuk lagi, kamu dengan pekerjaaan muliamu sebagai guru dan aku entah sibuk dengan apa. Kelak, kita punya kehidupan masing-masing. Jika saat itu datang, tetaplah luangkan waktu untuk nelpon, gak usah ragu-ragu. Gak perlu khawatir aku lagi sibuk atau gak.
Aku berbahagia nasib melemparku jauh ke kota ini. Aku menikmati setiap detik prosesku, suka dukanya. Kuharap kamu juga demikian. Kotamu adalah kotanya para pekerja keras, manusia-manusia yang penuh daya hidup. semoga kamu mendapatkan jodohmu di kota ini :))))))))
Nil, tadinya aku mau bikin video. Tapi aku gak bisaaaaa. Dan dengan kata-kata yang panjang lebar ini sebenarnya aku cuma mau bilang: wes tambah tuwek Nil, ndang rabi. Ojo egois. Wkwkwkwkwkwk
P.S. sorry, kalau tulisan ini lebih banyak kata “aku”nya daripada “kamu”nya. Hmmm
Pertengahan Agustus saat tahu Oeyab akan melangsungkan resepsi pernikahan, aku langsung menyusun rencana. Aku akan datang ke acara resepsi itu. Aku pun mencari agen travel Jogja-Bojonegoro, mencari tahu berapa lama perjalanannya, dll. Tentu aku tidak akan berangkat pada hari H, tapi pada H-1 dan menginap di rumahmu. Jika rencana itu terlaksana dengan baik, hari itu jatuh pada 30 Agustus, hari ini, hari ulang tahunmu. Aku akan mengucapkan selamat ulang tahun langsung dari mulutku. Tidak dari telpon, sms, atau media sosial yg lain. Tapi, seperti yang sudah-sudah, aku hanya pandai berencana. Dan hanya tulisan ini sebagai hadiah ulang tahunmu. Apa boleh buat.
Nilam yang baik dan akan selalu baik,
Dari dulu aku tidak terlalu punya banyak teman. Aku sulit sekali mempercayai orang. Ada yang bilang, aku gunung rahasia. Ya, tidak mudah berteman dengan orang yang sukan main rahasia dan jarang bicara. Hingga akhirnya aku memutuskan untuk sedikit demi sedikit menggerus sikapku itu. Selain pada Tuhan dan buku harian, aku mencoba untuk bercerita ke orang lain, ke beberapa teman. Tentang apa saja. Dan aku menyesal.
Aku mengalami apa yang disebut pengkhianatan. Tentang sesuatu yang baginya mungkin sepele, tapi bagiku sangat prinsipil. Rasanya sakit. Apa yang lebih menyakitkan daripada dihianati teman yang paling kamu percaya? Dalam waktu yang cukup lama, aku merawat dendam di hatiku. Aku tahu, aku sedang membuka pintu neraka dalam diriku sendiri. Ternyata aku adalah pendendam yang keras kepala. Keluarga Corleone dalam Godfather mengajarkan: tak ada ampun bagi penghianatan. Tapi kemudian aku diingatkan Parang Jati, salah satu tokoh novel favoritku: mungkin kita tidak punya kemampuan untuk mengampuni. Yang bisa kita lakukan adalah berdamai dengan sisi lain manusia yang tak kita mengerti.
Kini, dendam itu memang tak ada lagi, tapi aku kembali sulit mempercayai orang.
Nilam yang suka ngepoin timelineku,
Si penghianat itu jelas bukan kamu. Kamu adalah temanku yang baik, sangat baik. Aku tahu kmau punya rasa keingintahuan yang besar terhadap segala sesuatu. Tapi, Nil, jika ada hal-hal yang tidak kuceritakan padamu, bukan berarti aku tidak mempercayaimu. Mungkin aku berbeda dengan temanmu yang lain. Aku bukan orang yang jika sudah bercerita akan merasa lebih lega, aku justru sebaliknya. Makanya aku lebih sering memilih diam daripada merangkai berbagai alasan. Aku belum bisa jadi pembohong yang handal dan elegan seperti Shinichi Kudo. Hei, kamu pasti menangkap maksudku kenapa aku membicarakan ini.
Nilam yang punya bakat jadi detektif,
Ini adalah hari spesialmu. Kuberitahu satu rahasia. Di buku harianku yang tak berhasil kau temukan itu, (HAHAHAHAHA!) ada satu cerita. Ada momen dalam hidupku yang ingin kuulang. Suatu malam, saat mengantarku pulang, seorang kawan pernah mengucap hal yang begitu tulus padaku. Pada momen yang singkat itu, pada ketulusan itu, aku lupa bilang “terima kasih”. Momen itu tidak akan pernah terulang lagi dalam bentuk apapun karena dunia kami yang sudah berbeda. Hingga saat ini aku menanggung beban penyesalan. Nah, Nilam, aku tidak ingin penyesalan itu terulang lagi. Maka, sekarang, aku berterima kasih padamu karena sudah mau jadi temanku. Teman baikku.
Aku berterima kasih lebaran kemarin kamu nyempetin dateng ke rumahku, meski aku belum pernah ke rumahmu. Aku berterima kasih kamu udah nyempetin nengokin aku ke Jogja. Meski waktu aku ke Surabaya cuma bilang doang dan gak mampir. Hehe. Aku menyadari sepenuhnya aku bukan teman yang baik. Jarang pulang dan silaturrahmi ke kalian. Monkey D. Luffy, Winnetou-Old Shatterhand, semuanya mengajarkan tentang betapa berharganya persahabatan. Aku beruntung punya sahabat baik sepertimu. Sekali lagi terima kasih.
Aku senang kita kembali intens berkomunikasi. Bisa ngobrol sesukanya meski hanya lewat telpon dan media sosial. Mungkin kelak, ada saatnya ketika kamu butuh teman bicara atau pendengar, kamu harus bertanya dulu aku sibuk atau gak. Dan mungkin masing-masing dari kita lebih sibuk lagi, kamu dengan pekerjaaan muliamu sebagai guru dan aku entah sibuk dengan apa. Kelak, kita punya kehidupan masing-masing. Jika saat itu datang, tetaplah luangkan waktu untuk nelpon, gak usah ragu-ragu. Gak perlu khawatir aku lagi sibuk atau gak.
Aku berbahagia nasib melemparku jauh ke kota ini. Aku menikmati setiap detik prosesku, suka dukanya. Kuharap kamu juga demikian. Kotamu adalah kotanya para pekerja keras, manusia-manusia yang penuh daya hidup. semoga kamu mendapatkan jodohmu di kota ini :))))))))
Nil, tadinya aku mau bikin video. Tapi aku gak bisaaaaa. Dan dengan kata-kata yang panjang lebar ini sebenarnya aku cuma mau bilang: wes tambah tuwek Nil, ndang rabi. Ojo egois. Wkwkwkwkwkwk
P.S. sorry, kalau tulisan ini lebih banyak kata “aku”nya daripada “kamu”nya. Hmmm
Wednesday, August 27, 2014
Antara Lepas dan Lebur: tentang Cerpen “Otak” Karya Achmad Munjid*
oleh Anis Mashlihatin
Tulisan ini berusaha untuk menyelidiki perangkat literer yang digunakan pengarang, gagasan-gagasan yang dibangun, sekaligus kelemahan-kelemahan yang mungkin dimiliki oleh cerpen ini.
***
Cerpen “Otak” dibuka dengan keterkejutan Ben yang mendapati cairan putih amis yang berceceran ketika ia baru bangun dari tidurnya. Ternyata cairan itu adalah otaknya sendiri. Keterkejutan kemudian dialami oleh pembaca ketika menyadari bahwa Ben yang sudah kehilangan separuh otaknya itu masih bisa bergerak dan berpikir, masih bisa merasakan organ-organ tubuhnya yang sakit, bahkan Ben juga bisa menyadari bahwa cairan itu adalah otaknya sendiri. Luar biasa! Sejak paragraf pertama itu, kita tahu, pengarang telah menanamkan benih-benih surealis.
Cerpen-cerpen bergaya surealis seperti itu pernah marak dalam sastra Indonesia pada era 1990-an, seperti dapat dilihat pada beberapa cerpen Seno Gumira Ajidarma, kumpulan cerpen Danarto dalam Godlob dan kumpulan cerpen Memorabilia (1999) karya Agus Noor. Gaya surealisme biasanya dipilih oleh pengarang karena realisme seolah tak memberikan ruang yang cukup cair untuk menuangkan gagasan-gagasannya. Surealisme mengeksplorasi hal-hal yang irasional dan psikologis. Dalam hal ini, pengarang berusaha mencapai “super-realisme”, tempat antara batas-batas mimpi dan kenyataan melebur.
Arief Budiman, dalam pengantarnya untuk cerpen pilihan Kompas 2002, mengatakan bahwa gaya surealis dipilih oleh pengarang dimungkinkan karena realitas yang terjadi begitu mengerikan sehingga jika diceritakan ulang akan menimbulkan rasa sakit. Oleh karena itu, lanjut Budiman, konflik-konflik sosial diceritakan dalam bungkus yang surealistis sehingga pesan ketidakadilan yang mau diucapkan bisa disamai, tapi kejadiannya tidak dibaca secara telanjang karena bisa menimbulkan kepedihan.
Peristiwa yang dialami Ben muskil terjadi di dunia nyata. Peristiwa keluarnya otak dari tempurung kepala sementara si empunya masih bisa berjalan kesana-kemari hanya mungkin terjadi dalam dunia angan-angan. Kemudian kita tahu bahwa cara ini digunakan oleh pengarang untuk menimbulkan kesan satir yang bertebaran di sekujur cerpen ini. Selain, menimbulkan kesan satir, pengarang juga menyuguhkan kritik sarkastik terhadap realitas sosial. Surealisme adalah perangkat yang tepat digunakan untuk mewujudkan hal itu.
***
Tidak hanya Ben yang mengalami persoalan dengan otak. Ben menemui banyak sekali orang yang memiliki masalah yang sama dengan dirinya; tua-muda, miskin-kaya, laki-laki dan perempuan. Mereka semua berjubel mengadukan persoalannya itu ke rumah sakit. Namun, tidak seperti Ben yang merasakan kekhawatiran dan kesakitan yang amat sangat, orang-orang yang ditemuinya justru sebaliknya. Orang-orang itu terlihat biasa-biasa saja. Seolah-olah tidak terjadi suatu masalah serius atas diri mereka. Alih-alih khawatir, mereka justru gembira jika otaknya tak lagi bersarang di kepalanya.
Sikap orang-orang tersebut juga didukung oleh dokter. Dokter menganggap masalah otak yang dialami oleh orang-orang bukanlah masalah yang serius, bahkan lumrah. Diceritakan pula bahwa dokter lebih menyarankan pembuangan otak daripada mempertahankannya. Rumah sakit juga telah menyedikan seperangkat alat dan bahan untuk mengganti otak tersebut. Ini menunjukkan bahwa kejadian yang dialami oleh Ben bukanlah kejadian yang baru dan dahsyat, tetapi sudah banyak kasus serupa sehingga rumah sakit telah memiliki “solusi” untuk menanganinya. Operasi pembuangan otak telah disepakati oleh banyak orang.
Ketika masuk dalam kondisi ini, terjadi pergulatan dalam diri Ben. Persoalan yang dihadapi oleh Ben memang persoalan kolektif, tetapi kegelisahannya individual. Ini mengharuskannya untuk berkompromi dengan banyak hal. Namun, Ben ternyata memilih untuk tidak berkompromi. Ia dengan segala cara berusaha mempertahankan otaknya. Ketika berperan sebagai subjek yang bertahan seorang diri, Ben seolah menjadi orang asing di lingkungannya sendiri. Ben menjadi diri yang terasing. Lantas, apakah dengan demikian Ben menjadi subjek yang kalah?
Masyarakat dengan gaya modernis, menurut cerpen ini, tidak memerlukan otak untuk hidup karena fungsi otak telah digantikan oleh beragam teknologi yang canggih. Akibatnya, masyarakat semacam ini dimanjakan oleh teknologi yang menjadikan beban pikiran menjadi lebih ringan. Jika dulu kehidupan tak bisa berjalan tanpa otak, maka kini kehidupan tak bisa berjalan tanpa teknologi.
Jika bagi sebagian besar orang teknologi begitu membantu, lain halnya dengan Ben. Teknologi justru membuat kehidupan yang dijalani oleh Ben menjadi bising dan mengerikan. Televisi dan radio mengabarkan berita-berita yang menyakitkan. Berita-berita tentang kebahagiaan orang-orang yang memutuskan hidup tanpa otak membuatnya semakin tersiksa. Dengan demikian, bagi Ben, teknologi adalah musuh karena mengancam akal sehat. Teknologi hanya membahagiakan bagi orang yang hidup tanpa otak.
***
Ben mengalami keterguncangan karena terdapat paksaan untuk memahami keadaan yang tidak logis, yang tidak dapat diterima oleh akal sehat Ben. Ia tiba-tiba dihadapkan pada dunia yang ganjil yang tak dipahaminya. Sulit bagi Ben, yang dibesarkan dalam keluarga yang menjunjung tinggi nilai otak, untuk menerima dunia yang justru meremehkan otak dan menganggapnya sebagai beban. Karena bagi Ben, kebudayaan yang tinggi dan peradaban besar hanya mungkin dibangun oleh manusia-manusia yang mengedepankan nalar.
Di sinilah letak sinisme pengarang terhadap persoalan yang tengah berlangsung dalam masyarakat. Suara pengarang, yang diwakili oleh Ben, mencibir apa yang dilakukan oleh masyarakat yang punya otak tapi tak menggunakan otaknya, tak mau berpikir. Bagi mereka, tindakan berpikir adalah tindakan yang membebani dan tak ada gunanya. Itulah mengapa mereka ingin menanggalkan otak itu dari kepalanya. Selain itu, terdapat sinisme pada produk-produk luar negri yang berjejalan di otak sebagain besar orang. Produk-produk yang digemari. Produk-produk itu ditanamkan dengan sengaja, dengan kesadaran penuh.
Di samping itu, terdapat kemungkinan lain. Kondisi yang terjadi dalam masyarakat tak lagi mampu dicerna oleh akal sehat sehingga tokoh-tokoh dalam cerpen ini memutuskan untuk mengeluarkan otaknya. Perhatikan kutipan berikut.
Tapi, kenapa hampir semua hal yang ditemuinya kini tampak menjadi bukti telanjang bagi kemustahilan yang tetap tak bisa dicerna pikirannya? Setiap hari, para politisi berebut upeti untuk kantong sendiri di layar televisi dengan mengatasnamakan agama dan moralitas sambil menginjak-injak prinsip-prinsip yang disucikannya. Para intelektual meneriakkan kepalsuan sebagai kebenaran dalam istilah-istilah serba ganjil dan memberondongkannya kepada telinga siapa saja. Para seniman, rohaniawan, budayawan, lalu-lalang dalam kegaduhan seperti tukang-tukang jamu berjualan di pinggir-pinggir jalan. Anak-anak remaja dan orang-orang miskin saling bantai seperti kawanan binatang. Ayah memperkosa anak gadisnya, anak laki-laki menikam ibu kandungnya. Orang bicara, asal njeplak. Orang tertawa sambil menganiaya sesama. Orang berkelahi asal mereka suka. Segala peristiwa berjumpalitan tanpa logika.
Berbeda dengan yang dikatakan oleh Arief Budiman di muka, tampaknya pengarang memilih untuk mengungkapkan kepedihan secara gamblang pada apa yang tengah berlangsung. Kutipan di atas seolah menjadi jawaban mengapa banyak orang mengalami masalah otak. Selama ini, otak dipaksa untuk berpikir telalu keras mencerna hal-hal yang tak masuk akal. Barangkali karena tak sanggup menahan beban berat itu, otak akhirnya muncrat keluar. Ada banyak hal yang menurut Ben mustahil, tetapi toh terjadi juga. Para politisi yang seharusnya bekerja untuk kepentingan rakyat justru sibuk mengumpulkan upeti untuk kantongnya sendiri, bahkan sambil menginjak prinsip yang disucikannya. Begitu juga yang dilakukan oleh para intelektual.
Namun, ada yang membingungkan saya, seniman-rohaniawan-budayawan yang gaduh dianggap sama dengan tukang-tukang jamu. Menurut cerpen ini, tukang jamu yang gaduh adalah kewajaran, sedangkan seniman yang gaduh adalah sesuatu yang tidak dapat diterima. “Tidak logis” dalam istilah cerpen ini. Demikian juga anggapan cerpen ini terhadap anak-anak remaja dan orang-orang miskin yang saling membantai. Itu adalah tindakan tak logis. Apakah orang dewasa/anak-anak dan orang kaya yang saling membantai itu logis? Barangkali bukan siapa pelakunya yang menjadi perhatian/fokus cerpen ini, tetapi tindakan biadab itulah yang dikritisinya.
Tidak hanya pengarang yang menggunakan surealisme sebagai perangkat literer, tetapi si tokoh juga mengalami kondisi yang surealis. Ia pun mengalami pergulatan yang dahsyat dalam dirinya.
Dari hari ke hari ia terus berharap, bahwa apa yang sedang dialaminya sekarang hanyalah sebuah mimpi. Ia yakin, pada suatu hari nanti dirinya akan terbangun kembali ke dalam dunia yang sebenarnya. Dunia di mana otak dan kesadaran pikiran adalah harta paling berharga yang dimiliki manusia. Tapi dari hari ke hari pula ia kian kecewa. Sampai-sampai ia mulai berpikir bahwa, dunia yang menghargai otak dan pikiran yang dulu dialaminya barangkali bukanlah dunia yang nyata. Mungkin justru dunia seperti itulah yang merupakan mimpi, bukan kenyataan yang ia kira.
Bagi Ben, dengan segala peristiwa ynag telah dialaminya, batas antara mimpi dan kenyataan menjadi kabur sehingga ia merasa dirinya menjadi gila. Ia tak dapat membedakan mana yang “nyata” dan mana yang mimpi. Ia pun mulai meragukan apa yang dipercayainya selama ini.
Jika demikian, masihkah perlu mempertahankan otak? Ben, sebagai orang yang mempertahankan otak, digambarkan sebagai laki-laki yang malang dan tampak usang, rapuh, dan tak berdaya. Ia merasa sia-sia karena digerogoti waktu dan keterasingan. Selain itu, ia juga hidup dalam lingkungan yang tidak nyaman. Kondisi yang terik sangat menyengat. Aspal jalanan panas terbakar. Jalan-jalan raya di kota yang seakan ular-ular hitam yang hendak mengibas-ngibaskan kawanan manusia yang saling tak peduli berlarian di atas kendaraan, melintas cepat di atas punggung sang ular seperti diburu setan. Sebaliknya, setidaknya menurut cerpen ini, orang yang menanggalkan otaknya justru “berbahagia”.
Ben menyadari sesuatu yang berbeda ketika semua otaknya (akhirnya) terlepas dari tempurung kepalanya. Ia semacam merasakan “kebebasan”, meskipun muncul keraguan. Dalam ketidakberdayaan menghadapi keadaan yang menekan dan mencengkeram, Ben terombang-ambing dalam kebingungannya: memilih lepas atau lebur. Lepas berarti lepas dari masyarakat yang melingkupinya, yaitu masyarakat yang lebih memilih untuk menanggalkan otaknya dan memanjakan diri dengan teknologi. Jika lepas, Ben akan selalu menjadi subjek yang asing dan resah. Ben harus siap dengan segala konskuensi itu. Akan tetapi, jika memutuskan untuk lebur di dalamnya, yaitu turut menanggalkan otak, itu berarti ia telah melanggar prinsip-prinsip yang telah dipegangnya, yang sangat dijunjung tinggi. Ini jelas bukan hal yang mudah bagi Ben. Sampai akhir cerita kita pun belum mendapat kepastian akan pilihan Ben. Ben belum dapat dikatakan lepas dari atau lebur dengan masyarakatnya karena ia masih memperlihatkan kebingungannya: apakah akan bisa hidup tanpa otak seperti orang-orang?
Di sini dapat diketahui bahwa ternyata Ben tidak berdaya dalam hal apapun, meskipun ia punya kehendak untuk mempertahankan sesuatu. Pertama, Ben tidak berdaya menghadapi kekuatan masyarakat, menghadapi sesuatu yang telah menjadi tren, life style. Kedua, Ben tidak berdaya menghadapi lingkungannya yang tidak nyaman, termasuk perkembangan teknologi seperti yang telah diurai di muka. Ketiga, ia bahkan tak berdaya menghadapi seekor anjing dan lalat. Anjing hanya menyeringai sambil memamerkan lidah dan gigi-giginya ketika Ben mencoba untuk memukulnya. Anjing itu kemudian berhasil menjilati otak Ben yang tercecer. Keempat, dan ini yang paling penting, Ben tak berdaya menghadapi dirinya sendiri. Ben menjadi orang yang resah dan ragu. Bukannya bertahan, Ben justru goyah. Keluarnya otak dari tempurung kepalanya juga mempertegas bahwa Ben tidak berdaya menghadapi apapun, termasuk bagian dalam dirinya.
***
Biasanya, cerita-cerita yang dibungkus dengan gaya suralisme mempunyai kecenderungan untuk menimbulkan perasaan “mual/enek” dan sarkas yang bertujuan untuk memberikan teror. Barangkali kemualan inilah yang justru menarik dan layak diberi perhatian. Di awal cerita pembaca sudah disuguhi sajian yang memualkan, yaitu otak Ben yang tercecer dan menimbulkan bau amis. Di akhir cerita, hal itu pun kembali disajikan. Perhatikan kutipan berikut.
Tapi, kian sering dilihatnya benda itu, perutnya jadi kian terasa mual. Gumpalan itu rupanya mulai meleleh dan menebarkan bau anyir yang menusuk-nusuk lubang hidung hingga ke dasar lambungnya. Ratusan lalat-lalat hijau terbang-hinggap mengikuti langkah Ben. Dari jengkal ke jengkal lalat itu kian bertambah banyak dan terus mendengung-dengung bising. Sebagian lalat itu berputar-putar di atas kepala, bahkan beberapa ekor mulai menggerumut bagian ubun-ubunnya yang mungkin kini kembali terbuka.
Bau benda itu bertambah menusuk. Ribuan lalat-lalat hijau kini tampak berkerumun dan dengan ganas menghisapnya begitu ada kesempatan. Warna benda itu telah berubah amat pekat. Perut Ben kembali bergeronjal, seakan seluruh isinya terpompa hendak keluar.
Sebagai cerpen surealis, efek kemualan yang disajikan oleh cerpen ini masih “nanggung”. Cerpen ini masih memunculkan kata ‘mual’ untuk menciptakan efek mual. Yang terjadi memang bukan kegagalan, tetapi sesuatu yang dipaksakan.
Biasanya, tokoh-tokoh seperti Ben memilih untuk “bermain-main” dengan kondisinya. Namun, dalam cerpen ini, si tokoh sangat khawatir ketika otaknya hilang, padahal ia terbukti tidak terlalu menggunakannya. Cerpen ini akan terasa lebih “asyik” ketika si tokoh justru bermain-main dengan kondisinya itu. Misalnya, teror yang dihasilkan akan berbeda ketika si tokoh melihat takjub otaknya yang muncat dengan si tokoh yang ketakutan. Hal itu juga akan membuat nuansa satir dalam cerpen ini lebih kuat. Selain itu, karena tidak memilih untuk bermain-main, dalam cerpen ini si tokoh seolah tidak dapat bergerak bebas dan terlalu terbebani oleh gagasan pengarang.
***
Berdasarkan uraian di atas, cerpen ini menunjukkan bahwa realitas seringkali tak dapat diterima akal sehat. Secara keseluruhan, cerpen ini memotret kebiadaban yang tak dapat diterima akal sehat, meledek realitas yang tak masuk akal, dan melihat kenyataan-kenyataan yang jungkir balik. Karena jungkir balik, maka tidak dapat menggunakan logika biasa. Oleh karena itu, surealis adalah salah satu perangkat yang cocok untuk digunakan, dan cerpen ini (cukup) berhasil menggunakannya.[]
*tulisan singkat untuk diskusi sastra PKKH UGM, 25 Agustus 2014
Tulisan ini berusaha untuk menyelidiki perangkat literer yang digunakan pengarang, gagasan-gagasan yang dibangun, sekaligus kelemahan-kelemahan yang mungkin dimiliki oleh cerpen ini.
***
Cerpen “Otak” dibuka dengan keterkejutan Ben yang mendapati cairan putih amis yang berceceran ketika ia baru bangun dari tidurnya. Ternyata cairan itu adalah otaknya sendiri. Keterkejutan kemudian dialami oleh pembaca ketika menyadari bahwa Ben yang sudah kehilangan separuh otaknya itu masih bisa bergerak dan berpikir, masih bisa merasakan organ-organ tubuhnya yang sakit, bahkan Ben juga bisa menyadari bahwa cairan itu adalah otaknya sendiri. Luar biasa! Sejak paragraf pertama itu, kita tahu, pengarang telah menanamkan benih-benih surealis.
Cerpen-cerpen bergaya surealis seperti itu pernah marak dalam sastra Indonesia pada era 1990-an, seperti dapat dilihat pada beberapa cerpen Seno Gumira Ajidarma, kumpulan cerpen Danarto dalam Godlob dan kumpulan cerpen Memorabilia (1999) karya Agus Noor. Gaya surealisme biasanya dipilih oleh pengarang karena realisme seolah tak memberikan ruang yang cukup cair untuk menuangkan gagasan-gagasannya. Surealisme mengeksplorasi hal-hal yang irasional dan psikologis. Dalam hal ini, pengarang berusaha mencapai “super-realisme”, tempat antara batas-batas mimpi dan kenyataan melebur.
Arief Budiman, dalam pengantarnya untuk cerpen pilihan Kompas 2002, mengatakan bahwa gaya surealis dipilih oleh pengarang dimungkinkan karena realitas yang terjadi begitu mengerikan sehingga jika diceritakan ulang akan menimbulkan rasa sakit. Oleh karena itu, lanjut Budiman, konflik-konflik sosial diceritakan dalam bungkus yang surealistis sehingga pesan ketidakadilan yang mau diucapkan bisa disamai, tapi kejadiannya tidak dibaca secara telanjang karena bisa menimbulkan kepedihan.
Peristiwa yang dialami Ben muskil terjadi di dunia nyata. Peristiwa keluarnya otak dari tempurung kepala sementara si empunya masih bisa berjalan kesana-kemari hanya mungkin terjadi dalam dunia angan-angan. Kemudian kita tahu bahwa cara ini digunakan oleh pengarang untuk menimbulkan kesan satir yang bertebaran di sekujur cerpen ini. Selain, menimbulkan kesan satir, pengarang juga menyuguhkan kritik sarkastik terhadap realitas sosial. Surealisme adalah perangkat yang tepat digunakan untuk mewujudkan hal itu.
***
Tidak hanya Ben yang mengalami persoalan dengan otak. Ben menemui banyak sekali orang yang memiliki masalah yang sama dengan dirinya; tua-muda, miskin-kaya, laki-laki dan perempuan. Mereka semua berjubel mengadukan persoalannya itu ke rumah sakit. Namun, tidak seperti Ben yang merasakan kekhawatiran dan kesakitan yang amat sangat, orang-orang yang ditemuinya justru sebaliknya. Orang-orang itu terlihat biasa-biasa saja. Seolah-olah tidak terjadi suatu masalah serius atas diri mereka. Alih-alih khawatir, mereka justru gembira jika otaknya tak lagi bersarang di kepalanya.
Sikap orang-orang tersebut juga didukung oleh dokter. Dokter menganggap masalah otak yang dialami oleh orang-orang bukanlah masalah yang serius, bahkan lumrah. Diceritakan pula bahwa dokter lebih menyarankan pembuangan otak daripada mempertahankannya. Rumah sakit juga telah menyedikan seperangkat alat dan bahan untuk mengganti otak tersebut. Ini menunjukkan bahwa kejadian yang dialami oleh Ben bukanlah kejadian yang baru dan dahsyat, tetapi sudah banyak kasus serupa sehingga rumah sakit telah memiliki “solusi” untuk menanganinya. Operasi pembuangan otak telah disepakati oleh banyak orang.
Ketika masuk dalam kondisi ini, terjadi pergulatan dalam diri Ben. Persoalan yang dihadapi oleh Ben memang persoalan kolektif, tetapi kegelisahannya individual. Ini mengharuskannya untuk berkompromi dengan banyak hal. Namun, Ben ternyata memilih untuk tidak berkompromi. Ia dengan segala cara berusaha mempertahankan otaknya. Ketika berperan sebagai subjek yang bertahan seorang diri, Ben seolah menjadi orang asing di lingkungannya sendiri. Ben menjadi diri yang terasing. Lantas, apakah dengan demikian Ben menjadi subjek yang kalah?
Masyarakat dengan gaya modernis, menurut cerpen ini, tidak memerlukan otak untuk hidup karena fungsi otak telah digantikan oleh beragam teknologi yang canggih. Akibatnya, masyarakat semacam ini dimanjakan oleh teknologi yang menjadikan beban pikiran menjadi lebih ringan. Jika dulu kehidupan tak bisa berjalan tanpa otak, maka kini kehidupan tak bisa berjalan tanpa teknologi.
Jika bagi sebagian besar orang teknologi begitu membantu, lain halnya dengan Ben. Teknologi justru membuat kehidupan yang dijalani oleh Ben menjadi bising dan mengerikan. Televisi dan radio mengabarkan berita-berita yang menyakitkan. Berita-berita tentang kebahagiaan orang-orang yang memutuskan hidup tanpa otak membuatnya semakin tersiksa. Dengan demikian, bagi Ben, teknologi adalah musuh karena mengancam akal sehat. Teknologi hanya membahagiakan bagi orang yang hidup tanpa otak.
***
Ben mengalami keterguncangan karena terdapat paksaan untuk memahami keadaan yang tidak logis, yang tidak dapat diterima oleh akal sehat Ben. Ia tiba-tiba dihadapkan pada dunia yang ganjil yang tak dipahaminya. Sulit bagi Ben, yang dibesarkan dalam keluarga yang menjunjung tinggi nilai otak, untuk menerima dunia yang justru meremehkan otak dan menganggapnya sebagai beban. Karena bagi Ben, kebudayaan yang tinggi dan peradaban besar hanya mungkin dibangun oleh manusia-manusia yang mengedepankan nalar.
Di sinilah letak sinisme pengarang terhadap persoalan yang tengah berlangsung dalam masyarakat. Suara pengarang, yang diwakili oleh Ben, mencibir apa yang dilakukan oleh masyarakat yang punya otak tapi tak menggunakan otaknya, tak mau berpikir. Bagi mereka, tindakan berpikir adalah tindakan yang membebani dan tak ada gunanya. Itulah mengapa mereka ingin menanggalkan otak itu dari kepalanya. Selain itu, terdapat sinisme pada produk-produk luar negri yang berjejalan di otak sebagain besar orang. Produk-produk yang digemari. Produk-produk itu ditanamkan dengan sengaja, dengan kesadaran penuh.
Di samping itu, terdapat kemungkinan lain. Kondisi yang terjadi dalam masyarakat tak lagi mampu dicerna oleh akal sehat sehingga tokoh-tokoh dalam cerpen ini memutuskan untuk mengeluarkan otaknya. Perhatikan kutipan berikut.
Tapi, kenapa hampir semua hal yang ditemuinya kini tampak menjadi bukti telanjang bagi kemustahilan yang tetap tak bisa dicerna pikirannya? Setiap hari, para politisi berebut upeti untuk kantong sendiri di layar televisi dengan mengatasnamakan agama dan moralitas sambil menginjak-injak prinsip-prinsip yang disucikannya. Para intelektual meneriakkan kepalsuan sebagai kebenaran dalam istilah-istilah serba ganjil dan memberondongkannya kepada telinga siapa saja. Para seniman, rohaniawan, budayawan, lalu-lalang dalam kegaduhan seperti tukang-tukang jamu berjualan di pinggir-pinggir jalan. Anak-anak remaja dan orang-orang miskin saling bantai seperti kawanan binatang. Ayah memperkosa anak gadisnya, anak laki-laki menikam ibu kandungnya. Orang bicara, asal njeplak. Orang tertawa sambil menganiaya sesama. Orang berkelahi asal mereka suka. Segala peristiwa berjumpalitan tanpa logika.
Berbeda dengan yang dikatakan oleh Arief Budiman di muka, tampaknya pengarang memilih untuk mengungkapkan kepedihan secara gamblang pada apa yang tengah berlangsung. Kutipan di atas seolah menjadi jawaban mengapa banyak orang mengalami masalah otak. Selama ini, otak dipaksa untuk berpikir telalu keras mencerna hal-hal yang tak masuk akal. Barangkali karena tak sanggup menahan beban berat itu, otak akhirnya muncrat keluar. Ada banyak hal yang menurut Ben mustahil, tetapi toh terjadi juga. Para politisi yang seharusnya bekerja untuk kepentingan rakyat justru sibuk mengumpulkan upeti untuk kantongnya sendiri, bahkan sambil menginjak prinsip yang disucikannya. Begitu juga yang dilakukan oleh para intelektual.
Namun, ada yang membingungkan saya, seniman-rohaniawan-budayawan yang gaduh dianggap sama dengan tukang-tukang jamu. Menurut cerpen ini, tukang jamu yang gaduh adalah kewajaran, sedangkan seniman yang gaduh adalah sesuatu yang tidak dapat diterima. “Tidak logis” dalam istilah cerpen ini. Demikian juga anggapan cerpen ini terhadap anak-anak remaja dan orang-orang miskin yang saling membantai. Itu adalah tindakan tak logis. Apakah orang dewasa/anak-anak dan orang kaya yang saling membantai itu logis? Barangkali bukan siapa pelakunya yang menjadi perhatian/fokus cerpen ini, tetapi tindakan biadab itulah yang dikritisinya.
Tidak hanya pengarang yang menggunakan surealisme sebagai perangkat literer, tetapi si tokoh juga mengalami kondisi yang surealis. Ia pun mengalami pergulatan yang dahsyat dalam dirinya.
Dari hari ke hari ia terus berharap, bahwa apa yang sedang dialaminya sekarang hanyalah sebuah mimpi. Ia yakin, pada suatu hari nanti dirinya akan terbangun kembali ke dalam dunia yang sebenarnya. Dunia di mana otak dan kesadaran pikiran adalah harta paling berharga yang dimiliki manusia. Tapi dari hari ke hari pula ia kian kecewa. Sampai-sampai ia mulai berpikir bahwa, dunia yang menghargai otak dan pikiran yang dulu dialaminya barangkali bukanlah dunia yang nyata. Mungkin justru dunia seperti itulah yang merupakan mimpi, bukan kenyataan yang ia kira.
Bagi Ben, dengan segala peristiwa ynag telah dialaminya, batas antara mimpi dan kenyataan menjadi kabur sehingga ia merasa dirinya menjadi gila. Ia tak dapat membedakan mana yang “nyata” dan mana yang mimpi. Ia pun mulai meragukan apa yang dipercayainya selama ini.
Jika demikian, masihkah perlu mempertahankan otak? Ben, sebagai orang yang mempertahankan otak, digambarkan sebagai laki-laki yang malang dan tampak usang, rapuh, dan tak berdaya. Ia merasa sia-sia karena digerogoti waktu dan keterasingan. Selain itu, ia juga hidup dalam lingkungan yang tidak nyaman. Kondisi yang terik sangat menyengat. Aspal jalanan panas terbakar. Jalan-jalan raya di kota yang seakan ular-ular hitam yang hendak mengibas-ngibaskan kawanan manusia yang saling tak peduli berlarian di atas kendaraan, melintas cepat di atas punggung sang ular seperti diburu setan. Sebaliknya, setidaknya menurut cerpen ini, orang yang menanggalkan otaknya justru “berbahagia”.
Ben menyadari sesuatu yang berbeda ketika semua otaknya (akhirnya) terlepas dari tempurung kepalanya. Ia semacam merasakan “kebebasan”, meskipun muncul keraguan. Dalam ketidakberdayaan menghadapi keadaan yang menekan dan mencengkeram, Ben terombang-ambing dalam kebingungannya: memilih lepas atau lebur. Lepas berarti lepas dari masyarakat yang melingkupinya, yaitu masyarakat yang lebih memilih untuk menanggalkan otaknya dan memanjakan diri dengan teknologi. Jika lepas, Ben akan selalu menjadi subjek yang asing dan resah. Ben harus siap dengan segala konskuensi itu. Akan tetapi, jika memutuskan untuk lebur di dalamnya, yaitu turut menanggalkan otak, itu berarti ia telah melanggar prinsip-prinsip yang telah dipegangnya, yang sangat dijunjung tinggi. Ini jelas bukan hal yang mudah bagi Ben. Sampai akhir cerita kita pun belum mendapat kepastian akan pilihan Ben. Ben belum dapat dikatakan lepas dari atau lebur dengan masyarakatnya karena ia masih memperlihatkan kebingungannya: apakah akan bisa hidup tanpa otak seperti orang-orang?
Di sini dapat diketahui bahwa ternyata Ben tidak berdaya dalam hal apapun, meskipun ia punya kehendak untuk mempertahankan sesuatu. Pertama, Ben tidak berdaya menghadapi kekuatan masyarakat, menghadapi sesuatu yang telah menjadi tren, life style. Kedua, Ben tidak berdaya menghadapi lingkungannya yang tidak nyaman, termasuk perkembangan teknologi seperti yang telah diurai di muka. Ketiga, ia bahkan tak berdaya menghadapi seekor anjing dan lalat. Anjing hanya menyeringai sambil memamerkan lidah dan gigi-giginya ketika Ben mencoba untuk memukulnya. Anjing itu kemudian berhasil menjilati otak Ben yang tercecer. Keempat, dan ini yang paling penting, Ben tak berdaya menghadapi dirinya sendiri. Ben menjadi orang yang resah dan ragu. Bukannya bertahan, Ben justru goyah. Keluarnya otak dari tempurung kepalanya juga mempertegas bahwa Ben tidak berdaya menghadapi apapun, termasuk bagian dalam dirinya.
***
Biasanya, cerita-cerita yang dibungkus dengan gaya suralisme mempunyai kecenderungan untuk menimbulkan perasaan “mual/enek” dan sarkas yang bertujuan untuk memberikan teror. Barangkali kemualan inilah yang justru menarik dan layak diberi perhatian. Di awal cerita pembaca sudah disuguhi sajian yang memualkan, yaitu otak Ben yang tercecer dan menimbulkan bau amis. Di akhir cerita, hal itu pun kembali disajikan. Perhatikan kutipan berikut.
Tapi, kian sering dilihatnya benda itu, perutnya jadi kian terasa mual. Gumpalan itu rupanya mulai meleleh dan menebarkan bau anyir yang menusuk-nusuk lubang hidung hingga ke dasar lambungnya. Ratusan lalat-lalat hijau terbang-hinggap mengikuti langkah Ben. Dari jengkal ke jengkal lalat itu kian bertambah banyak dan terus mendengung-dengung bising. Sebagian lalat itu berputar-putar di atas kepala, bahkan beberapa ekor mulai menggerumut bagian ubun-ubunnya yang mungkin kini kembali terbuka.
Bau benda itu bertambah menusuk. Ribuan lalat-lalat hijau kini tampak berkerumun dan dengan ganas menghisapnya begitu ada kesempatan. Warna benda itu telah berubah amat pekat. Perut Ben kembali bergeronjal, seakan seluruh isinya terpompa hendak keluar.
Sebagai cerpen surealis, efek kemualan yang disajikan oleh cerpen ini masih “nanggung”. Cerpen ini masih memunculkan kata ‘mual’ untuk menciptakan efek mual. Yang terjadi memang bukan kegagalan, tetapi sesuatu yang dipaksakan.
Biasanya, tokoh-tokoh seperti Ben memilih untuk “bermain-main” dengan kondisinya. Namun, dalam cerpen ini, si tokoh sangat khawatir ketika otaknya hilang, padahal ia terbukti tidak terlalu menggunakannya. Cerpen ini akan terasa lebih “asyik” ketika si tokoh justru bermain-main dengan kondisinya itu. Misalnya, teror yang dihasilkan akan berbeda ketika si tokoh melihat takjub otaknya yang muncat dengan si tokoh yang ketakutan. Hal itu juga akan membuat nuansa satir dalam cerpen ini lebih kuat. Selain itu, karena tidak memilih untuk bermain-main, dalam cerpen ini si tokoh seolah tidak dapat bergerak bebas dan terlalu terbebani oleh gagasan pengarang.
***
Berdasarkan uraian di atas, cerpen ini menunjukkan bahwa realitas seringkali tak dapat diterima akal sehat. Secara keseluruhan, cerpen ini memotret kebiadaban yang tak dapat diterima akal sehat, meledek realitas yang tak masuk akal, dan melihat kenyataan-kenyataan yang jungkir balik. Karena jungkir balik, maka tidak dapat menggunakan logika biasa. Oleh karena itu, surealis adalah salah satu perangkat yang cocok untuk digunakan, dan cerpen ini (cukup) berhasil menggunakannya.[]
*tulisan singkat untuk diskusi sastra PKKH UGM, 25 Agustus 2014
Subscribe to:
Posts (Atom)
Aktor Bermata Ngantuk Itu
Dia aktor Korea. Dulu saya menyebutnya sebagai aktor bermata ngantuk. Tapi saya tidak membuat saya sepenasaran itu untuk mencarinya di goog...
-
: sebuah penjelajahan awal Kajian Homi K. Bhabha selain banyak dipengaruhi oleh teoretisi pascastrukturalis seperti Jacques Derrida, Miche...
-
Judul : Bilangan Fu Penulis : Ayu Utami Penerbit : Kepustakaan Populer Gramedia Tahun terbit : 2018 (Cet. 2) Parang Jati, K...
-
Saya sedang duduk-duduk di bonbin menghabiskan sore sambil nyedot es coffeemix. Di depan saya duduk seorang mahasiswi yang kalau dilihat dar...