Monday, July 13, 2026

Aktor Bermata Ngantuk Itu

 Dia aktor Korea. Dulu saya menyebutnya sebagai aktor bermata ngantuk. Tapi saya tidak membuat saya sepenasaran itu untuk mencarinya di google. Saya lupa apakah dulu internet sudah secanggih apa. Saya juga lupa itu tahun berapa dan di film apa saat saya mengaguminya. Sepuluh tahun lalu? Mungkin. 

Baru sekarang saya tahu siapa namanya. So Ji-Sub. Awalnya saya iseng nonton drama Korea yang sedang tayang di Netfix. Judulnya Agent Kim Reactivated. Saya menyadari oh itu dia si aktor yang matanya ngantuk itu. Gembiralah saya. Awalnya itu drama santai, lalu banyak perkelahian berdarah-darah. Hati mungil saya tidak kuat menyaksikan itu (ini terjadi sejak pandemi). Adegan perkelahian saya cepetin. Tapi sumpah! So Ji-Sub keren banget >_<

Sayangnya ini drama belum kelar, masih on going. jadinya saya masih harus menunggu empat episode lagi sampai akhir bulan ini. Saya orang yang nggak bisa gituin. Kalau suka salah satu aktor atau sutradara, saya akan nonton semua filmnya tak peduli halang rintang. Ahaha.

Nah, karena itulah saya akhirnya nonton Mercy for None. Ini film sama juga berdarah-darah. Brutal. Tapi jalan 2 episode saya melihat pola yang sama antara film ini dan Agent Kim. So Ji-Sub sama-sama berperan sebagai "macan tidur dibangunin". Sang Legenda turun gunung karena keluarganya disakiti. Nggak punya takut dengan siapa pun. Benar-benar siapa pun. Dingin. Ekpresinya kalem, tidak seram kayak begal. Tapi dia bisa membunuh hanya dengan sorot matanya. 

Saya pun menyelidik. Mengapa saya menganggap sosok (pembunuh, bagaimana pun) itu keren? Apakah itu hasrat purba terhadap sosok laki-laki jagoan kuat yang mampu melindungi? Dia memang terlihat "cowok banget" di kedua film itu. Apakah itu bias maskulinitas? Apakah saya masih akan menganggapnya keren kalau sang aktor bukan So Ji-Sub (yang sejak awal sudah saya kagumi)? Fyi, saya jarang sekali mengagumi aktor Korea. 

Entahlah. Saya belum kelar nonton Mercy for None dan Agent Kim. Mudah-mudahan kalau ingat dan sempat, dan saya mendapatkan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan saya itu, saya akan kembali membahasnya di sini.  

Sekarang saya mau lanjut nonton Mercy for None lagi. 

Saturday, June 27, 2026

Idola Masa Muda

Dua puluh tahun lalu saya mengidolakannya. Saat ini saya semakin mengidolakannya. 

Saat saya dalam masa-masa gelap, entah kenapa tiba-tiba yang terpikir oleh saya adalah dia. Jujur saya beberapa lama saya mengabaikannya. Ingat sih, tapi nggak ingat banget. Biasa saja. Tapi masa-masa gelap itu menuntun saya sekali lagi ke arahnya. 

Dia semakin matang dan bijaksana sebagai manusia. Dia membukakan pintu-pintu di kepala saya yang selama ini tertutup. Memperjelas pandangan saya yang berkabut. Dia menawarkan perspektif baru dalam memandang segala sesuatu sehingga tidak hitam putih. Bukankah tidak ada yang benar-benar buruk atau baik? Saya belajar untuk meluaskan sudut pandang dan memperlebar jarak pandang, kadang juga mendekatkan jarak pandang jika itu diperlukan. Cara ini menurut saya penting agar bisa menghindarkan diri dari fatatisme buta, tidak hanya untuk memandang peristiwa atau orang lain, tetapi juga dalam memandang diri sendiri. 

Saya bersyukur karena saat muda saya mengidolakan orang yang tepat. 



Friday, June 12, 2026

Dan Embuskanlah Api ke Dalam Jiwaku

Kapan kamu menyadari bahwa kamu mencintai apa yang kamu kerjakan? 

Kalau saya, semalam. 

Pukul sebelas malam ketika saya sudah berselimut dan scrolling video-video lucu, ada notifikasi promotor saya mengirim artikel melalui chat WA. Tidak hanya satu, tapi delapan artikel sekaligus. 

Awalnya saya berniat membalas chat itu besok pagi saja. Toh saya tahu beliau mengirim chat itu pada jam itu kemungkinan besar karena baru bangun dan sedang segar-segarnya. Saya pun meletakkan hp dan mengubahnya ke airplane mode. 

Seperti yang bisa diduga, saya gelisah. Saya langsung bangun dan membuka laptop. Saya membuka chat WA lewat laptop. Saya mengucapkan terima kasih dulu kepada beliau. Lalu saya buka satu artikel. 

Mata saya langsung menyala. Ini nih yang saya butuhkan. Ngantuk saya hilang total dan otak rasanya langsung menyala. Saya tidak merasa jengkel sama sekali karena merasa "diganggu" tengah malam dan harus bangun dari kasur. Saya senang sekali. Saya tahu saya mulai mencintai penelitian saya. Tidak sekadar harus menyelesaikannya, tapi juga ingin dan senang melakukannya. 

Lebih dari sekadar bahan penting dari artikel itu, saya juga menyadari sesuatu yang lain. Yang membuat saya menyala adalah saya merasa sangat didukung oleh beliau, bahkan ketika saya amat pesimistis. Saya  terharu betul. Kelak kalau saya membimbing mahasiswa, saya akan melakukan dukungan itu juga. 

Kedelapan artike tadi membuat saya begitu penasaran. Tapi tubuh 35+ ini sudah tidak kuat lagi diajak begadang wkwkwkwk. Kalau begadang, besoknya pasti kliyengan dan otak sama sekali tidak bisa fokus. Kaki rasanya tidak napak tanah. Jadi, saya tetap memutuskan tidur, tapi kali ini tidur yang tidak sabar untuk bangun keesokan harinya. 

:*


Wednesday, June 10, 2026

Kangen dan Rasa Aman

 Tiba-tiba saya kangen nulis di sini. Kangen nulis jujur apa adanya. Tidak takut dengan penilaian dan penghakiman orang lain. Tidak takut apa yang saya tulis dibilang dangkal dan omong kosong. 

Setidaknya dua tahun belakangan saya jarang sekali posting tulisan ataupun foto atau sekadar unek-unek di media sosial. Persoalannya satu: saya merasa tidak aman. Rasa tidak aman ini bisa jadi hanya ada dalam pikiran saya atau bisa jadi terbentuk dari akumulasi kejadian-kejadian yang ada di media sosial. Atau mungkin juga karena saya kebanyakan nonton film-film kriminal.  

Kepribadian introvert saya yang akut merasa tidak aman kalau dilihat banyak orang. Atau kalau ada orang yang mengorek-ngorek masa lalu saya, keseharian, atau sekadar pendapat saya. Mengerikan sekali. Saya ingin tulisan saya dibaca orang lain, tapi jangan banyak orang, sedikit orang saja hahahaha. Saya tidak suka kerumunan. Saya tidak suka diskusi yang dihadiri banyak orang. Saya lebih nyaman di kelompok yang kecil saja, dan intim. Dan media sosial tidak memberi saya ruang seperti itu, meskipun yang mengikuti saya toh tidak banyak. 

Saya kangen blog ini. Saya sempat bikin akun lain di wordpress dan medium dan menulis di sana, tapi rasanya tidak seperti di blogspot ini. Mungkin karena blong ini membawa serta masa muda saya. Masa-masa yang saya rindukan (meskipun saya juga ogah kalau disuruh ngulang lagi). Masa-masa saya merasa bebas menulis apa saja. 

Dari dulu yang membaca blog ini tidak banyak. Dan karenanya, saya merasa nyaman. Saya mau nulis yang remeh-temeh ajalah. Yang curhat-curhat gitu. Yang hahahihi. Yang nggak peduli koherensi atau struktur. 

Nah, kalau kamu tersesat di blog ini, jangan bilang-bilang ke orang lain, ya. Jangan di-spill link blog ini. Simpan untuk dirimu sendiri saja, ya. hehe. 



Monday, July 29, 2024

Ucapan Terima Kasih

Saya menulis ucapan terima kasih yang cukup panjang di skripsi saya, di bagian kata pengantar. Ucapan sepanjang lima halaman itu saya tujukan kepada semua orang yang berjasa tidak hanya dalam penyusunan skripsi, tetapi juga sepanjang saya kuliah. Tentu itu tidak sesuai “aturan”. Seharusnya ucapan hanya ditujukan kepada orang-orang yang terlibat dalam penyusunan si skripsi. 


Jujur saja, menulis skripsi bukan kegiatan menyenangkan. Lebih banyak menyakitkannya malah. Itu adalah periode saya bergulat dengan kemalasan. Periode itu saya harus menahan diri membaca komik dan buku-buku yang tidak berkaitan dengan topik penelitian dengan tujuan agar lebih fokus. 


Pada masa-masa jenuh menulis itu, saya menulis ucapan terima kasih di kata pengantar. Hehe. Itu sangat menyenangkan. 


Ketika kini saya membaca lagi kata pengantar skripsi saya itu, terasa betul keluguan dan kekonyolan saya. Keluguan dan kekonyolan yang saat ini bisa saya tertawakan. Rasanya saat itu beban yang paling berat adalah skripsi. Dan betapa hidup masih tampak sederhana. 


Saya tidak menyesal menulis ucapan terima kasih yang panjang dan lugu itu. Itu adalah ucapan terima kasih yang tulus. Dan kenangan-kenangan baik di dalamnya seringkali menolong saya di masa-masa yang gelap. 


Namun, belakangan saya menyadari satu hal yang bolong dalam ucapa terima kasih itu. Itu saya sadari ketika saya menjadi penguji skripsi (yang tentu saja mengharuskan saya membaca skripsi mereka).


Apa yang tidak ada di skripsi saya tapi ada di skripsi mereka adalah ucapan terima kasih pada diri sendiri. Mungkin karena pengaruh media sosial yang belakangan begitu gencar membahas kesehatan mental, mereka punya kesadaran untuk berterima kasih kepada dirinya sendiri yang telah berjuang keras menyelesaikan skripsi. Biasanya mereka meletakkannya di bagian paling akhir (tentu mereka tidak meletakkan di bagian awal karena itu tempatnya pembimbing skripsi dan dosen pembimbing akademik). 


Ketika saya menulis ini, pembahasan tentang joki skripsi dan tugas kuliah sedang panas sekali di media sosial. Saya bertanya-tanya, kalau toh si joki mengerjakan seluruh isi skripsi, apakah bagian ucapan terima kasih di lembar skripsi itu juga dikerjakan si joki? 

Friday, July 26, 2024

Apakah kamu masih mau mendengarkanku?

Mendengar dan mendengarkan itu berbeda, bukan?

Didengar dan didengarkan juga berbeda, bukan?


Masihkah kamu mendengarkanku?

Masih maukah kamu mendengarkanku?

Sunday, December 3, 2023

Jatuh Cinta Seperti di Film-Film

 Halo! Apa kabar? Semoga kamu baik, ya. 

Kamu sudah nonton Jatuh Cinta Seperti di Film-Film?

Aku sudah. Dua kali di bioskop. 

Setelah nonton film ini, aku ngebayangin bisa ngobrol-ngobrol sama kamu. Ngobrolin film ini. 

Kalau kamu belum nonton, gih nonton dulu. Keburu hilang dari bioskop. 

Kalau udah nonton tapi nggak mau ngobrol juga nggak papa kok. 

Aku masih mau nonton film ini lagi kalau nanti udah muncul di platform streaming. 

:') 

Monday, January 18, 2021

Senin, Kunyit Asem, dan Ubi Cilembu

 Saya sedang di meja kerja saya, ditemani secangkir kunyit asem hangat dan ubi cilembu kukus. Awal-awal pandemi saya rajin minum jamu, bikin sendiri. Belakangan agak jarang karena malas bikinnya. Mau beli online malas sampah-sampah botolnya. 

Biasanya, pagi-pagi saya minum kopi bikinan suami, tapi karena kopi lagi habis dan saya butuh asupan minuman hangat, jadilah bikin kunyit asem saja. Kunyit, asem, sereh, dan gula jawa saya rebus sampai mendidih. Lalu disaring. Saya bikin agak banyak sekalian nyetok, diminum dingin enak juga soalnya. 

Ubi cilembu kukus tadinya sebagian mau saya bikin bola-bola kopong yang enak itu, tapi ini sudah tinggal beberapa potong. Haha. Saya dan suami doyan banget si ubi ini. 

Oke, semoga kerjaan hari ini beres! 

Oya, saya sudah mandi setelah kemarin nggak mandi. Hehe. 

Thursday, January 14, 2021

Dimsum Ala-ala

 

Ceritanya kemarin saya agak sukses bikin dimsum. Ini percobaan kedua. Beberapa bulan lalu saya sempat bikin, tapi rasanya gak sip. Kulitnya agak keras dan entah mengapa rasanya agak pahit. Mungkin karena kulitnya bukan khusus untuk yang dikukus atau direbus, tapi buat yang digoreng.

Beberapa minggu lalu, saya nemu tuh kulit yang khusus buat direbus. Langsung masuk keranjang deh. Tapi saya tak kunjung bikin dimsum juga. Masih agak kebayang kegagalan dimsum pertama. Tapi sayang juga kalau si kulit tak segera diberdayakan, khawatir kadaluarsa juga sih. Nah, kebetulan kemarin agak malas masak, tapi kelaparan. Yasudah, bikin dimsum aja, mumpung ada stok ayam di kulkas. Btw, saya jarang banget nyetok ayam, lebih sering ikan.

Ayam saya potong-potong (dagingnya saja, hilangkan kulit) lalu saya blend bareng dua siung bawang putih. (Hasilnya lebih bagus giling sendiri gini ternyata dari pada beli yang udah gilingan). Masih di blendernya (pakai blender daging, bukan blender bumbu atau buah), saya masukin tapioka, telur ayam kampung (karena saya alergi telur yang biasa), saus tiram, minyak wijen, sejumput garam, sedikit lada bubuk, daun bawang cincang, dan seperdelapan labu siam yang sudah diparut halus. Labu siam ini berfungsi mengempukkan adonan, tapi jangan kebanyakan biar rasanya gak dominan. Aduk sampai rata. Untuk bahan-bahannya, saya gak pakai takaran, cukup pakai perasaan aja. Udah terlatih. Hehe.

(Oya, ini blender yang versi pisau mengulirnya bisa dicopot. Saya ngaduk adonan di situ biar gak banyak tempat kotor aja)

Nah, setelah adonan tercampur dengan baik, baru saya taruh di kulit si dimsum. Ini bagian yang paling nyebelin. Saya gak bisa rapi. Hasilnya meleot-meleot gak jelas. Agar terlihat agak indah, atasnya saya beri parutan wortel dikit. Setelah selesai, kukus.

Kira-kira tiga puluh menit kemudian, dimsum sudah siap disantap.


Dan gak ada sepuluh menit, sudah tandas tak bersisa hahaha. Komentar suami: enak banget!

Berhubung adonannya masih agak banyak dan kulitnya habis (saya nyesel kenapa cuma beli sebungkus), saya tambahin tapioka, sedikit terigu, dan garam. Saya bentuk bulet-bulet, lalu direbus. Jadilah bakso ayam ala-ala. Ludes juga dalam sekejap. Enak dan lapar 😁

 

Thursday, January 7, 2021

Ruang yang Lain

 

Sejak tadi pikiran saya berkelana ke perpustakaan UGM. Saat ini saya ingin sekali berada di sana. Seharian di sana. Pulang malam saat sudah mulai sepi dan lampu-lapu taman menyala kuning. Saya sedang banyak pekerjaan dan bosan dengan meja kerja saya ☹

Tuesday, January 5, 2021

Seperti Julie dan Julia

Semalam saya menonton ulang Julie & Julia yang dibintangi Meryl Streep dan Amy Adams, sebuah film tentang dua perempuan beda zaman yang gemar memasak. Julia, pada beberapa dekade yang telah lalu, membuat buku resep masakan Prancis untuk orang Amerika yang kemudian diaplikasikan oleh Julie. Julie membuat menargetkan dirinya memasak semua resep yang ada di buku itu selama satu tahun sambil menuliskan prosesnya di blog pribadi. Oya, film ini didasarkan pada kisah nyata.

Saya tidak berambisi untuk melakukan apa yang telah dikerjakan dengan begitu antusias oleh Julie. Saya cukup bahagia melihat orang-orang yang melakukan pekerjaannya dengan sepenuh hati dan antusias. Apa pun jenis kegiatan atau pekerjaannya. Sesepele apa pun orang lain menilainya, ia tak peduli. Hal-hal semacam itulah yang sering membuat hati saya hangat.

Julie dan Julia beruntung sekali punya pasangan hidup yang mendukung kegemarannya memasak. Para suami itu menganggap masakan istrinya adalah sebuh karya dan apa yang istrinya perbuat sangatlah berarti. Mereka sangat bangga.

Di Youtube, saya menemui yang seperti itu juga. Cek saja akun Dapur Dina. Ini adalah akun yang saya andalkan saat saya bingung mau masak apa. Resep Ibu Dina rata-rata mudah dibuat. Saya belum pernah gagal saat mencoba resepnya. Ketika Ibu Dina memasak, suaminya merekam. Mereka sering mengobrol tentang masakan itu. Setelahnya, mereka makan bareng.

Saya tadi mencoba satu resep Bu Dina, soto sayuran. Ya ampun bumbunya sederhana banget dan rasanya enaaaaaaak. Saya biasanya gak suka buncis, tapi dimasak seperti itu jadi doyan banget. Itu membuat saya bahagia dan memberi energi untuk mengerjakan koreksian yang oh wow banyak sekali!

Friday, January 1, 2021

Mengawali 2021 dengan Sayur Asem dan Cumi Asin

2021 pagi agak mendung. Saya bangun kesiangan. Cepat-cepat saya menjemur pakaian yang semalaman sudah saya rendam dengan softener soklin. Musim hujan begini mencuci pakaian tak cukup dengan deterjen. Softener soklin akan mengamankannya dari bau apek karena pakaian tak cepat kering. 

Hari ini rencananya saya mau bersih-bersih rumah dan menyingkirkan barang-barang tak terpakai. Untuk itu, saya harus memasak dulu agar nanti bisa langsung makan kalau lapar sehabis capek beres-beres. 

Saya mau masak sayur asem dan cumi asin. Mantap. 

Saya beli sepaket sayur asem di warung. Sayur asem di Jogja beda dengan sayur asem jawa timuran. Perbedaannya pada bahan paling dasar, asam jawa. Jatim pakai asam jawa mentah, jogja pakai asam matang. Di jogja gak ada yang jualan asam mentah. Hiks. Sebenarnya bisa juga diganti belimbing wuluh, tapi di tempat saya tinggal jarang sekali ketemu si belimbing kecut itu. Huh. 

Tapi gak papa, saya suka juga dengan sayur asem ini. Oya, satu lagi, sayur asem jogja juga isian sayurnya lebih beragam, ada daun dan kulit mlinjo, kacang tanah, terong, labu siam, kacang panjang, dan jagung. Kalau ibu saya tahu bisa diketawain karena itu aneh banget (awal-awal ke jogja saya juga ketawa kok jagung dibikin sayur asem). Sayur asem jatim biasanya hanya satu atau dua jenis sayuran. Kalau saya pulang kampung, saya pasti minta dimasakin sayur asem. Kesukaan saya sayur asem daun ubi. Surgawi betul. 

Nah, sekarang saya akan membuat sayur asem versi lain ini. Bumbunya sederhana saja. Duo bawang, lengkuas, cabe, kunyit, daun salam, asam, garam. Udah gitu aja. Bisa ditambahi penyedap rasa kalau suka. Saya gak pakai. 

Lalu saya bikin cumi asin. Bumbunya gak jauh beda dengan sayur asem, minus kunyit tapi ditambahin jahe. Plus irisan tomat hijau dan cabai hijau keriting yang banyak. 

(Harusnya di sini disisipi foto, ya. Tapi saya lupa motret tadi 😁)

Dan ternyata saya makan dulu sebelum bersih-bersih rumah. Hehe. Udah gak kuat mau nyendok cumi asinnya barengan nasi anget. 

Aduhai rasanya mantap coy. Pedes asin asem seger! Lidah dan perut saya bahagia 😋

Sementara itu, suami saya masih tidur nyenyak dan saya nggak mau mengganggu ketenteramannya 😊

Hai, halo 2021! 

Wednesday, December 30, 2020

Memasak untuk Berdua

Semenjak pandemi, kemampuan saya dalam memasak meningkat tajam. Awalnya memang dipaksa keadaan yang tidak memungkinkan atau was-was keluar rumah demi sebungkus makanan. Gofood sesekali sih gak papa. Tapi kalau tiga kali sehari kan ya boros. Apalagi sampah bungkus makanannya. Hadeeeh. 

Daripada repot, lebih mudah kalau memasak sendiri. Belanja bumbu, lauk, dan sayuran seminggu sekali. Taruh lauk dan sayuran itu di food container, lalu masukkan kulkas. Bahan makanan akan tahan lebih dari seminggu. Aman. 

Dua minggu pertama memasak, saya sering sekali mantengin resep masakan di youtube. Kebanyakan masakan rumahan dan gak ribet. Selebihnya, saya eksplorasi sendiri, baik bahan maupun bumbu. Sering berhasil. Pernah gagal meski gak gagal banget. Hehe. 

Lama-lama, saya menikmati kegiatan memasak ini. Rasanya sangat ajaib mengolah bahan yang mentah menjadi matang. Apalagi kalau masakan kita dimakan dengan lahap oleh orang yang kita sayangi. Sampai sekarang jawara masakan saya masih dipegang oleh mie ayam. Bayangin, saya bisa bikin mie ayam enak (versi lidah saya)ala abang-abang gerobakan. Mantaplah pokoknya. 

Sekarang, setelah berumah tangga, saya jadi juru masak. Karena suami tidak bisa memasak, dia memilih mencuci piring dan peralatan dapur yang kotor. Sip. Adil. 

Kok saya merasa memasak untuk diri sendiri agak berbeda dengan memasak untuk orang lain, ya. Ada perasaan khawatir kalau-kalau masakan saya tak cocok untuk lidahnya. Lidah saya Jawa Timur sentris, sedangkan suami sih lebih adaptif. Seharusnya, tidak ada masalah. Awal-awal, saya agak nggak pede. Untungnya, suami selalu makan dengan lahap apa pun yang saya sajikan. Entah beneran enak, entah sekadar melapangkan hati saya. 

Tentu, ada makanan kesukaan saya yang ia tak suka. Begitu juga sebaliknya. Sayur asem dan asem-asem bandeng, misalnya. Saya sukaaaaaaa bangeet sayur asem jenis apa pun. Sedang suami kurang suka makanan yang rasanya asem. Padahal kan seger banget! Biasanya, kalau gak banyak kerjaan, saya akan masak dua menu. Sayur asem untuk saya dan cah kangkung untuknya. Dia suka sekali cah kangkung. Ada juga makanan yang awalnya saya gak suka, tapi karena suami ingin dan saya memasaknya, saya jadi ikutan suka. Jangan Lombok Ijo, misalnya. 

Selesai memasak, begitu saya bilang makanan siap, suami langsung menyiapkan nasi di piring dan menatanya di meja makan. Itu kebiasaannya. Terlebih dulu ia akan bertanya, “sedikit, lumayan, banyak?” Saya hampir selalu menjawab, “Lumayan banyak.” Saya senang melihatnya makan. Sambil makan, kami biasa mengobrol ringan. Tentang apa saja. Kadang saya juga minta komentar dan penilaian untuk masakan saya. 

“Besok mau dimasakin apa, Sayang?”

Sunday, December 27, 2020

Halo!

Lama sekali gak nulis di sini. Saya mengelola blog baru sih, jadinya jarang main ke sini. Hehe. Mau nulis di sini lagi ah! Yang ringan-ringan aja, seputar keseharian dan rumah tangga yang ada bahagianya, ada juga sedih-sedihnya. Seimbang. Well, semoga bisa nulis minimal sebulan sekali. Sampai jumpa lagi, ya 😊

Friday, July 3, 2020

Setelah Makan Malam dan Membaca Blog Teman


Saya baru saja makan malam dengan sambal terasi, lalapan kemangi, ikan tengiri goreng, kerupuk, dan sepiring nasi (tapi nambah lagi agak banyak). Sambil makan, saya nyambi membaca (oh kebiasaan buruk yang sulit dihilangkan) blog teman lama. Saya senang membaca blog orang lain. Beberapa minggu lalu saya membaca hampir semua postingan di blog seorang pelukis hebat Indonesia. Lukisannya keren, tulisannya juga mengalir lancar. Bikin iri saja.

Saya tak sengaja mencari blog si teman lama. Awalnya dari caption instagramnya yang menautkan blognya. Iseng, saya mengklik. Jadilah saya membaca beberapa tulisan di sana. Sambil melalap sambal terasi kemangi. Nikmat di lidah bertambah-tambah ketika tulisan-tulisan yang saya baca cukup menghanyutkan. Dan karena tulisan-tulisannya itulah saya jadi ingin menulis di sini (setelah sekian lama tidak).

Blog itu ringan saja isinya: kisah hidup sehari-hari, sambatan, dan mimpi-mimpi yang berlalu. saya paling suka saat dia bercerita tentang pergulatannya sebagai single mom dengan tiga anak. Yang saya sukai, ia tidak menampilkan diri sebagai sosok yang harus selalu bersemangat dan bersyukur. Nein. Ia menulis apa adanya, ia sambat, ia merenung. Ia menceritakan kehidupannya sebagai ibu yang tidak sempurna, sebagai manusia yang selalu bertumbuh. Kadang bijak, kadang liar. Hehe.

Sebenarnya saya baru sekali bertemu dengannya. Kalau tidak salah, itu Sabtu sore di bonbin karena dulu saya punya rutinitas menghabiskan Sabtu di bonbin. Saya sudah agak lupa kami ngobrol apa saja. Yang masih saya ingat, waktu itu bercerita akan kembali ke Malang. Berat tapi harus. Apa sebabnya, saya tak tahu.

Setelah obrolan sore di bonbin itu, kami tak pernah bertemu lagi. Selanjutnya kami sesekali saling menyapa melalui media sosial. Saya tahu dia punya tiga anak pun dari akun media sosialnya.

Beberapa tulisannya sering membuat saya melongok relasi saya dengan ibu. Saya sering berbeda pendapat dengan ibu saya. Tapi sekuat tenaga saya tidak mendebat dengan sengak. Lebih sering saya mendebat dalam batin atau menjalankan aksi diam karena beliau penganut paham “membantah orang tua adalah durhaka dan durhaka jelas dosa besar”. Itu membuat saya berkukuh: kelak, jika punya anak, saya tidak ingin menjadi ibu seperti itu.

Dalam kebodohan dan pikiran gelap saya, saya sering menyalahkan ibu saya atas sifat-sifat yang berdiam dalam diri saya sampai saat ini. Sejak kecil saya pasti melihat, menyerap, dan mencontoh sikapnya dalam menghadapi berbagai hal. Apa yang terekam oleh indera saya itu pada akhirnya sedikit banyak membentuk karakter saya. Iya, setelah saya amat-amati, saya merasa beberapa karakter saya (yang saya benci) diturunkan oleh ibu saya. Atau, didikan beliaulah yang membuat luka masa kecil saya sulit hilang dan ketakutan-ketakutan masa lalu masih sering menghantui.
Membaca tulisan teman saya itu, saya jadi berpikir bolak-balik.

Saya paham bahwa menjadi ibu itu berat. Di luar percekcokan saya dengan ibu saya, saya bersyukur sekali punya ibu seperti ibu saya. Saya tahu, beliau sangat menyayangi saya. Beliau memperjuangkan dengan sungguh-sungguh pendidikan saya. Saya tidak menuntutnya menjadi ibu yang sempurna versi saya. Tidak. Apa-apa yang menjadi keputusannya pasti dilatarbelakangi juga oleh sejarah hidupnya. Beliau berhak mengambil sikap sesuai prinsip hidupnya.

Saya jarang sekali menceritakan keluarga dan relasi saya dengan mereka. Entah mengapa saya ingin menulis ini. Mungkin saya sekarang sedang merindukan ibu saya. Yang pasti, saya merindukan masakannya. Hehehe. Saya kerap membuat masakan yang beliau masak, tapi sial sekali rasanya tak pernah bisa sama. Mendekati pun tidak.






Wednesday, April 8, 2020

E.S. Ito


Sudah lama saya menunggu karya terbarunya. Dulu saya mendengar kabar kalau dia akan menulis novel tentang Nusantara awal abad 19 (?). Pasti menarik dan mendebarkan jika ia yang menuliskannya. Biasanya, saya tertarik pada sebuah cerita karena gaya bercerita si penulis, cara ia menuturkan kisah. Namun tak demikian pada E.S Ito. Jika dilihat dari gayanya bercerita, masih banyak penulis lain yang lebih bagus, meski Ito juga sering menyisipkan dialog-dialog cerdas.

Saya suka cerita-cerita E.S Ito karena tokoh-tokoh yang dihadirkan. Sejak buku pertama, Negara Kelima, dilanjut buku kedua, Rahasia Meede, selalu ada tokoh ideal yang saya rasa mewakili suara-suara dan idealisme Ito. Bukan tokoh tampan nan baik hati, tentu saja. Tapi rebel, jenius, dan prinsipil idealis. Dari dua novelnya itu, ia selalu terkonsentrasi pada persoalan militer, kebobrokan dan keruwetannya. Mungkin ini dipengaruhi oleh latar belakang pendidikannya. Kalau tidak salah, Ito lulusan Taruna Nusantara.

Maka, saya berbahagia sekali karena beberapa hari lalu tahu dari cuitan seseorang kalau Ito membuat sebuah film seri! Sebagai penggemar yang menunggu-nunggu karya terbarunya, saya menyesal karena baru tahu. Padahal film seri itu sudah sejak tahun lalu. Sebelumnya Ito juga pernah menulis skenario untuk film Republik Twitter. Dialog-dialognya asyik sekali.

Di filmnya kali ini, Brata, Ito kembali mengulik dunia yang tak jauh-jauh dari militer: kepolisian Republik Indonesia. Tentu saja ia memunculkan tokoh ideal seperti yang saya singgung. Rebel, jenius, prinsipil idealis. Bayangkan, polisi rebel sedikit arogan, nggak kenal kompromi. Apalagi diperankan Oka Antara. Sumpah bikin meleleh wkwkwkwkwkwk. Saya nggak suka polisi sih, tapi saya suka polisi yang diperankan Oka Antara itu. Kalau penonton film ini adalah juga pembaca novel-novel Ito, mereka tidak akan asing dengan sosok Brata. Ia mirip sekali dengan tokoh Timur Mangkuto dalam novel Negara Kelima.

Film ini punya bangunan cerita yang kukuh dan matang. Didukung juga oleh pemain-pemain yang mumpuni. Saya senang ada serial dengan mutu yang bagus seperti ini. Cukup mengurangi tekanan mental pada saat-saat seperti ini. Kalau lagi badmood tinggal mantengin sosok Brata. Dijamin senyum-senyum aja bawaannya hahahahaha.

Tuesday, April 7, 2020

Waras


Saat menulis ini, saya sedang duduk di belakang meja kerja saya yang nyaman. Petikan piano Yiruma menjadi latar belakang yang merdu. Seharusnya ini menjadi pagi yang sempurna. Pikiran masih fresh untuk diajak bekerja. Kebetulan banyak tugas mahasiswa yang belum saya periksa. Tapi, beberapa hari ini rasanya otak saya tidak mau diajak berpikir. Bahkan untuk menuliskan hal-hal sederhana pun rasanya malas sekali.

Hampir empat minggu sejak pihak kampus memberi kebijakan bekerja dari rumah, praktis saya nggak ke mana-mana dan memang tidak boleh ke mana-mana. Sebagai orang rumahan yang betah ngendon di kamar berhari-hari, bahkan sering malas bertemu manusia, saya menyambut kebijakan itu sebagai anugerah. Saya merasa lebih fokus dan produktif bekerja dari rumah. Tidak banyak distraksi seperti di kantor. Kuliah pun lancar. Saya menggunakan video conference zoom, webex, dan aplikasi google classroom. Nggak ada masalah. Saya juga jadi punya lebih banyak waktu untuk melamun dan merawat tanaman-tanaman saya.

Namun, musuh besar umat manusia adalah kebosanan.

Saya tidak tahu persis, mungkin karena disuruh, ada tekanan, atau entah apa, berdiam di rumah (lama-lama) tidak seindah yang saya bayangkan. Atau saya hanya butuh variasi? Sesekali pergi ke warung kopi? Mungkin tidak juga. Ini adalah hari-hari ketika pertanyaan "apa kabar" bukan sekadar basa-basi. Rasanya setiap hari adalah pms. Saya mudah murung dan pikiran-pikiran buruk mudah sekali menerobos. Saya mengkhawatirkan kondisi keluarga saya. Saya mencemaskan banyak hal.

Seharusnya sejak kemarin saya sudah memanggil tukang kunci. Saya lupa membawa kunci kamar kos yang saya taruh di saku jaket yang saya tinggal di rumah kekasih. Untuk bilang padanya kalau saya lupa membawa kunci dan memintanya mengantarkan pun rasanya malas. Saya lebih memilih keluar masuk kamar lewat jendela yang tidak saya kunci. Apakah saya hanya butuh variasi?

Semoga kita semua masih waras. Inhale-exhale~

Monday, January 13, 2020

Nenek Honiden

Saya sedang duduk-duduk di bonbin menghabiskan sore sambil nyedot es coffeemix. Di depan saya duduk seorang mahasiswi yang kalau dilihat dari tampangnya, ia seperti sedang bertarung dengan hormon menstruasi. Daripada mengajaknya ngobrol, saya rasa lebih aman kalau mendiamkannya saja.

Di belakang gadis itu, duduk seorang nenek. Sebotol minuman dan sebuah tas kecil merah jambu di mejanya. Pandangan matanya menyuntuki sebuah lagu india dari layar ponselnya. Mulutnya menggumam mengikuti lirik lagu yang diputar cukup keras itu.

Si nenek ini, jika kamu pernah menjadi mahasiswa FIB UGM tahun-tahun 2000-an awal, kamu pasti mengenalnya. Sejak awal saya memperhatikannya, rambutnya sudah putih semua. Dulu ia membawa serta cucunya. Ngapain? Ngambilin sampah di sekitar kampus.

Sampai 2020 ini, ia masih melakukan hal yang sama. Bedanya, ia tak lagi mengajak serta cucunya. Bedanya lagi, sekarang ia sudah memegang ponsel yang jauh lebih bagus dari ponsel saya. Bedanya lagi dan lagi, dia bisa mengendarai motor dengan seabrek sampah di depan belakang samping kiri kanannya. Saya? Boro-boro!

Saya sering mengimajinasikan ia sebagai jelmaan nenek Honiden, ibunya Matahachi, salah satu tokoh paling ngeyelan di novel Musashi karya Eiji Yoshikawa. Nenek yang satu ini memang ngeyelan sih. Tapi sudahlah..saya malas menceritakan apa sebabnya ia saya lekati label itu.

Awalnya saya juga tidak ingin menulis tentangnya. Tapi karena terpampang nyata di depan mata saya, ya mau gimana lagi.

Sampai sekarang ia masih asyik sekali menyimak tontonan di layar ponselnya. Masih lagu-lagu india. Ia sama sekali tak terganggu keadaan sekelilingnya. Orang-orang di sekitarnya juga sepertinya (pura-pura) tak begitu peduli apa yang dilakukannya. Kecuali saya, tentu saja.

Sunday, January 12, 2020

Membaca dan Mengulas Lagi

Sesibuk apa pun, selama ini saya selalu bisa membaca setidaknya lima puluh buku setiap tahunnya. Tidak ada keterpaksaan atau alasan demi konten. Saya cukup berbangga dengan habit itu. Saya membaca apa saja, buku yang super tebal atau yang tipis, buku yang memang saya ingin membacanya atau karena berhubungan dengan pekerjaan.

Namun, yang saya sayangkan, saya tidak bisa mengulas semua buku yang saya baca itu. maksud saya, ulasan yang serius dan mendalam. Padahal, menurut saya, itu adalah cara yang cukup ampuh untuk mengingat isi buku. Alhasil, saya memang membaca banyak buku, tapi hanya sebagian yang betul-betul saya ingat dan kuasai.

Nah, tahun ini, saya ingin membaca dengan pelan. Kalau bisa, satu bulan satu buku saja. Tapi saya ingin membacanya dengan serius dan teliti, juga mengulasnya dengan kritis. Saya juga tidak ingin banyak membeli buku. Tahun lalu, di Jogja, banyak sekali pameran buku, diskonnya lumayan. Buku-buku yang saya beli dari pameran itu belum semua saya baca. Membuat saya merasa bersalah.

Tahun ini saya ingin membaca buku-buku itu saja. Juga buku-buku di rak buku si pacar, sebagian besar hasil terjemahannya. Terjemahannya enak. Dia punya kepekaan bahasa di atas rata-rata. Dulu, sebelum pacaran dan sebelum kenal, saya pernah menyunting terjemahannya. Waktu itu, rasanya saya rela tidak digaji lantaran sudah bergembira membaca terjemahan yang bagus. Hehe hehe. Menurut saya, di Indonesia, dia nomor dua setelah Ronny Agustinus.

Friday, January 3, 2020

Buku yang Kubaca 2019

1. Kura-Kura Berjanggut (Azhari Aiyub)
2. Manjali dan Cakrabirawa (Ayu Utami)
3. A Guide To Health (Mahatma Gandhi)
4. Sebuah Seni Untuk Bersikap Bodo Amat (Mark Manson)
5. Kota-Kota Kecil yang Diangan dan Kujumpai (Raudal Tanung Banua)
6. Museum Masa Kecil (Avianti Armand)
7. Tempat paling Liar di Muka Bumi (Theresia Rumthe dan Willy Johannes)
8. Sapiens (Yuval Noah Harari)
9. Kenang-Kenangan Mengejutkan si Beruang Kutub (Claudio Orrego Vicana)
10. Bagaimana Aku Menulis (Gabriel Garcia Marquez)
11. Tango dan Sadimin (Ramayda Akmal)
12. Estetika Banal- Spiritualisme Kritis (Ayu Utami-Eric Prasetya)
13. Dalam Kobaran Api (Tahar Ben Jelloun)
14. 9 dari 10 Kata dalam Bahasa Indonesia Adalah Asing (Alif Danya Munsyi)
15. Kata-Kata Arab dalam Bahasa Indonesia (Syamsul Hadi)
16. Pelik-Pelik Bahasa Indonesia (J.S. Badudu)
17. Anatomi Rasa (Ayu Utami)
18. Xenoglosofilia (Ivan Lanin)
19. Bidadari yang Mengembara (A.S. Laksana)
20. Hidup Begitu Indah dan Hanya itu yang Kita Punya (Dea Anugrah)
21. Masa Lampau Bahasa Indonesia (Harimurti Kridalaksana)
22. The Silk Worm (Robert Galbraith)
23. Career of Evil (Robert Galbraith)
24. O (Eka Kurniawan)
25. Senyap yang Lebih Nyaring (Eka Kurniawan)
26. Mata Angin dan Seekor Anjing (Faruk)
27. Lelaki dan Ilusi (Mohammad Qadafi)
28. 1Q84 Jilid I (Haruki Murakami)
29. 1Q84 Jilid II (Haruki Murakami)
30. 1Q84 Jilid III (Haruki Murakami)
31. Kisah-Kisah Kebebasan (Ben Okri)
32. Matinya Burung-Burung (Ronny Agustinus [Penerjemah])
33. Berguru pada Pesohor (Muhidin M. Dahlan dan Diana A.V Sasa)
34. Srimenanti (Joko Pinurbo)
35. Hikayat Kebo (Linda Christanty)
36. Seekor Burung Kecil Biru di Naha (Linda Christanty)
37. Bakat Menggonggong (Dea Anugrah)
38. Para Raja dan Revolusi (Linda Christanty)
39. Sapi, Babi, Perang, dan Tukang Sihir (Marvin Harris)
40. Lethal White (Robert Galbraith)
41. Percakapan dengan Kafka (Gustav Janouch)
42. Vegetarian (Han Kang)
43. Sejumlah Masalah Sastra (Satyagraha Hoerip [Ed.])
44. Berbahasa Indonesia dengan Logis dan Gembira (Iqbal Aji Daryono)
45. Aku Ini Binatang Jalang (Chairil Anwar)
46. Duka-Mu Abadi (Sapardi Djoko Damono)
47. Lelucon-Lelucon Ganjil Kiamat Kesusastraan (Roberto Bolano)
48. Orang-Orang Oetimu (Felix K. Nessi)
49. Tigris, Kumpulan Sajak (Goenawan Mohamad)
50. Kawan Lama Ayahmu (Henry Lawson)

Aktor Bermata Ngantuk Itu

 Dia aktor Korea. Dulu saya menyebutnya sebagai aktor bermata ngantuk. Tapi saya tidak membuat saya sepenasaran itu untuk mencarinya di goog...