halo! kangen?
iya sama.
Monday, February 26, 2018
Wednesday, August 2, 2017
Di Bawah Pohon Kenitu
Meski aku tahu di matamu langit tak pernah buruk rupa, aku memahami mengapa kau kecewa karena sore ini langit tak meremang jingga. Kau ingin mengirim potongan langit jingga pada kekasihmu, bukan? Asal kau tahu, itu sudah dilakukan banyak orang sejak awal tahun 90-an. Jadi, menurutku, itu sudah usang. Ia tak akan terkesan.
Sebagai gantinya, kau boleh mengirimkan dedaunku yang sewarna senja. Tapi aku kok yakin ia tak akan suka. Lagi pula, aku belum ingin mati mengenaskan di keranjang sampahnya.
Mari, sini, nona. Berbaring saja di bawah dedaunku. Lipat tanganmu di bawah kepala. Pandangi aku sepuasmu. Lupakan kekasihmu yang sering tak mengingatmu. Untukmu, aku akan menjadi jingga selamanya.
Pohon Angsana di Pertigaan Dekat Rumahmu
Pohon angsana yang tumbuh di pertigaan dekat rumahmu itu telah lama memperhatikan dirimu, sebenarnya. Diam-diam ia juga merasakan sakitmu. Tapi daun-daunnya yang hijau rimbun tak cukup mampu membuatmu berhenti sebentar, ternyata.
Ia pun berupaya sekuat tenaga menumbuhkan bunga-bunganya hanya agar kau memelankan langkah ketika melintasinya. Ia tahu kau mencintai bunga-bunga. Maka pada jarak beberapa ratus meter ketika bayangmu samar-samar terlihat, ia gugup memanggil-manggil angin agar menggugurkan kuning bunganya di rambutmu. Berharap kepalamu mendongak menyadari keberadaannya.
Ia memang tak cukup punya kepercayaan diri untuk bisa meringankan sakitmu. Ia hanya berharap bibirmu bisa melengkungkan senyum. Tapi jika itu harapan yang terlalu tingggi, ia hanya ingin, satu kali saja, kau duduk sebentar di bawahnya. Merasakan teduhnya.
Lalu ia akan rela menggugurkan seluruh bunganya hanya agar kau pernah merasakan gerimis paling indah di dunia.
Thursday, July 20, 2017
Percakapan Dua Pohon
Aku iri pada mereka yang sampai tua bisa menjalani apa yang mereka sukai, katamu. Aku iri pada mereka yang bisa hidup bersama, meski tak sampai tua, dengan yang mereka cintai, kataku.
Hai, kamu. Meski tubuhku dan tubuhmu tak bisa lebih mendekat, aku berterima kasih pada angin yang menautkan reranting kita barang sejenak, yang memungkinkan kita untuk bercakap seperti ini.
Tapi barangkali daun-daunku akan lebih dulu menguning dan gugur. Ranting-rantingku akan jatuh satu per satu. Lalu kita tak bisa bercakap lagi.
Sampai saat itu tiba, aku akan senantiasa berdoa. Kelak kamu bisa menjalani apa yang kamu sukai bersama yang kamu cintai. Sampai tua. Sampai daun-daun tak mau tumbuh lagi di kulitmu. Hingga tiba saatnya seseorang menumbangkan tubuhmu yang lebih jangkung dariku. Semoga dengan cara yang tidak menyakitkan. Tidak pula dengan alat yang menakutkan.
Setelahnya mungkin kamu akan jadi kayu bakar di perapian sebuah rumah mungil di dekat gunung. Atau kayu dalam api unggun perkemahan anak pramuka. Lalu menjadi abu.
Aku, dalam jarak tertentu, menanti angin menerbangkanmu ke arahku.
Tuesday, July 18, 2017
Pamit
Butuh menempuh ratusan kilo meter,
untuk mengungkap apa yang selama ini tersimpan di jantung
Butuh dini hari yang sepi dan dingin,
untuk mengucap maaf dan terima kasih pada ribuan detik
yang pernah terlalui bersama
Setelah sekian lama terlunta
Akhirnya semua selesai sudah
Nyeri merambat jauh di dalam dada
Aku menahan gigil dan tangis
Waktu akan membawamu pergi
Kamu memang ingin pergi, aku tahu
Tapi aku tak pernah rela kau mengabur dari pikiran
Tidak setelah sekian banyak tahun
Tapi tanganku tak mampu meraihmu
Maka, dekap
Karena ini mungkin yang terakhir.
Surabaya, 18 Juli 2017
untuk mengungkap apa yang selama ini tersimpan di jantung
Butuh dini hari yang sepi dan dingin,
untuk mengucap maaf dan terima kasih pada ribuan detik
yang pernah terlalui bersama
Setelah sekian lama terlunta
Akhirnya semua selesai sudah
Nyeri merambat jauh di dalam dada
Aku menahan gigil dan tangis
Waktu akan membawamu pergi
Kamu memang ingin pergi, aku tahu
Tapi aku tak pernah rela kau mengabur dari pikiran
Tidak setelah sekian banyak tahun
Tapi tanganku tak mampu meraihmu
Maka, dekap
Karena ini mungkin yang terakhir.
Surabaya, 18 Juli 2017
kartu pos bergambar matahari
Salah satu scene dalam film Lucy memperlihatkan Lucy, dengan matanya yang berkaca-kaca, sedang meminta maaf dan bilang “I love you” kepada ibunya. Tindakan Lucy itu bukan tanpa alasan. Ia mendapat kekuatan tertentu sehinga bisa melihat masa lalu, termasuk ketika ia masih balita. Dan ia melihat bahwa kasih sayang ibunya kepada dirinya ketika masih balita (dan untuk selamanya) begitu besar.
Saya senang melihat bayi-bayi lucu yang seliweran di timeline. Saya senang melihat ibu-ibu muda yang terlihat begitu menyayangi dan membanggakan bayi-bayinya itu. Dikit-dikit difoto, lalu diunggah ke media sosial. Mereka begitu senang untuk hal-hal sederhana seperti melihat anaknya tersenyum, tertidur pulas, belajar berjalan, atau sekadar berhasil menghabiskan makanannya.
Saya sering berpikir, begitu jugakah ibu saya dulu? Sesayang itukah beliau pada saya? Mengingat beliau adalah jenis makhluk yang mampu membaca pikiran saya hanya dengan mendengar suara saya diujung telpon, saya yakin beliau amat menyayangi saya.
Mengapa kita tak bisa menjangkau ingatan saat masih balita? Mengapa yang memiliki ingatan itu hanya para orang tua? Andai, andai saja, kita bisa mengingat saat-saat kita disuapi bubur dan diayun dalam gendongan, atau saat tahu bagaimana orang tua kita berupaya sekreatif mungkin agar kita mau makan, apa yang akan terjadi?
Saya senang melihat bayi-bayi lucu yang seliweran di timeline. Saya senang melihat ibu-ibu muda yang terlihat begitu menyayangi dan membanggakan bayi-bayinya itu. Dikit-dikit difoto, lalu diunggah ke media sosial. Mereka begitu senang untuk hal-hal sederhana seperti melihat anaknya tersenyum, tertidur pulas, belajar berjalan, atau sekadar berhasil menghabiskan makanannya.
Saya sering berpikir, begitu jugakah ibu saya dulu? Sesayang itukah beliau pada saya? Mengingat beliau adalah jenis makhluk yang mampu membaca pikiran saya hanya dengan mendengar suara saya diujung telpon, saya yakin beliau amat menyayangi saya.
Mengapa kita tak bisa menjangkau ingatan saat masih balita? Mengapa yang memiliki ingatan itu hanya para orang tua? Andai, andai saja, kita bisa mengingat saat-saat kita disuapi bubur dan diayun dalam gendongan, atau saat tahu bagaimana orang tua kita berupaya sekreatif mungkin agar kita mau makan, apa yang akan terjadi?
Saturday, June 17, 2017
seprai bermotif cangkir kopi
Bunga, nama sebenarnya. Sekarang ia tengah berada di sebuah toko seprai. Sedari tadi ia tekun mencermati motif-motif seprai yang dipajang di sana. Setelah beberapa lama mengaduk-mengaduk keranjang dan membolak-balik katalog seprai, ia hanya bisa menghela nafas dalam-dalam. Ia meminta maaf pada pelayan toko karena tidak jadi membeli seprai. Ternyata, seprai yang ia cari tidak ada juga di toko ini.
Perhatikan, ada kata juga di sana. Artinya, itu bukan toko pertama yang dikunjungi Bunga. Itu adalah toko yang entah ke berapa. Bunga tak pernah menghitungnya. Sudah hampir semua toko seprai di kota itu dikunjungi Bunga. Tapi seprai yang ia inginkan tak juga ia dapatkan. Maka, setiap kali keluar toko seprai, Bunga selalu sedih. Tapi ia tidak menangis. Hanya merasakan sesak di dada.
Sudah lima tahun berlalu, tapi Bunga belum juga menemukan seprai yang dicarinya. Bunga tak pernah letih mencari seprai dambaannya itu. Jika sedang pergi ke luar kota, Bunga tidak mampir ke pusat jajanan atau oleh-oleh. Tapi dirinya sibuk menjelajahi toko seprai yang ada di kota itu. Dan selalu berakhir dengan helaan nafas panjang karena kecewa.
Memangnya apa yang diharapkan dari selembar seprai?
Buat orang lain, mungkin seprai hanyalah kain pembungkus kasur. Tapi bagi Bunga, seprai itu adalah segalanya. Seprai itulah satu-satunya benda yang bisa membungkus kenangannya.
Seprai yang dicari Bunga memang bukan seprai biasa. Ia tak sedang mencari seprai yang bermotif seperti namanya, bunga-bunga. Tidak. Ia tengah mencari seprai bermotif cangkir kopi. Selembar seprai yang menyimpan kenangan-kenangan paling manis yang pernah dimiliki Bunga.
Itu adalah seprai yang menjadi kusut karena percintaan yang penuh gairah. Meninggalkan aroma keringat bercampur parfum dan tembakau. Seprai tempat ia menghafalkan percakapan Jeanne dan Paul dalam film Last Tango in Paris bersama kekasihnya. Seprai tempat ia membaca sajak sementara sang kekasih tiduran di pangkuannya.
Ketika melakukan aktivitas-aktivitas itu, Bunga merasa seprai itu memperhatikan dirinya. Dia merasa seprai itu berbincang dengannya. Seprai itu senang Bunga ada di sana. Seprai itu juga memberitahu Bunga apa-apa yang tidak diketahuinya tentang sang kekasih, si pemilik seprai.
Lima tahun telah berlalu. Bagaimana wujud seprai itu sekarang? Apakah warnanya sudah memudar tidak karuan? Apakah pemiliknya masih menyimpannya?
Ngomong-ngomong soal si pemilik seprai, Bunga tahu persis, lantaran memiliki seprai bermotif cangkir kopi, bukan berarti si pemilik adalah orang yang suka minum kopi. Si pemilik seprai itu akan mual jika minum kopi. Si pemilik seprai lebih suka minum teh.
Suatu kali, Bunga sempat kepikiran untuk mencari seprai itu di laundry-laundry yang tersebar di kota itu. Bunga ingin bertanya pada satu per satu pegawai di laundry apakah pernah ada orang yang menaruh seprai bermoif cangkir kopi? Tapi untungnya hayalan itu hanya berakhir jadi khayalan. Bunga merasa terselamatkan dari pikirannya yang embuh.
Petualangan Bunga mencari seprai bermotif cangkir kopi seperti tak ada ujungnya. Pencarian itu juga telah membawanya berkeliling dalam dan luar negri. Apakah seprai bermotif cangkir kopi sudah tidak diproduksi lagi di buka bumi? Bunga nyaris putus asa.
Bukankah lebih mudah buat Bunga untuk menghubungi si pemilik seprai dan meminta seprai itu untuknya? Atau, Bunga sengaja memesan seprai motif cangkir kopi pada agen pembuat seprai? Daripada berkelana seperti itu? Ah, bukan Bunga namanya jika melakukan tindakan gampangan seperti itu. Lagian, si pemilik seprai sudah tak tentu di mana rimbanya.
Meski sering melakukan hal-hal konyol, Bunga tidak bodoh. Bunga paham betul, suatu saat nanti ketika ia menemukan seprai bermotif cangkir kopi, seprai itu bukanlah seprai yang sama. Itu bukan seprai yang membungkus kenangannya. Tapi..selalu ada tapi ketika Bunga hendak menghentikan pencariannya. Ada sesuatu di luar dirinya yang membuat Bunga tetap ingin menemukan seprai bermotif cangkir kopi itu. Sesuatu yang tak mampu dipahami oleh akal sehatnya sendiri.
Nah, siapa pun kalian yang menemukan seprai bermotif cangkir kopi, tolong kasih tahu Bunga, ya. Dia pasti senang dan sangat berterima kasih.
Perhatikan, ada kata juga di sana. Artinya, itu bukan toko pertama yang dikunjungi Bunga. Itu adalah toko yang entah ke berapa. Bunga tak pernah menghitungnya. Sudah hampir semua toko seprai di kota itu dikunjungi Bunga. Tapi seprai yang ia inginkan tak juga ia dapatkan. Maka, setiap kali keluar toko seprai, Bunga selalu sedih. Tapi ia tidak menangis. Hanya merasakan sesak di dada.
Sudah lima tahun berlalu, tapi Bunga belum juga menemukan seprai yang dicarinya. Bunga tak pernah letih mencari seprai dambaannya itu. Jika sedang pergi ke luar kota, Bunga tidak mampir ke pusat jajanan atau oleh-oleh. Tapi dirinya sibuk menjelajahi toko seprai yang ada di kota itu. Dan selalu berakhir dengan helaan nafas panjang karena kecewa.
Memangnya apa yang diharapkan dari selembar seprai?
Buat orang lain, mungkin seprai hanyalah kain pembungkus kasur. Tapi bagi Bunga, seprai itu adalah segalanya. Seprai itulah satu-satunya benda yang bisa membungkus kenangannya.
Seprai yang dicari Bunga memang bukan seprai biasa. Ia tak sedang mencari seprai yang bermotif seperti namanya, bunga-bunga. Tidak. Ia tengah mencari seprai bermotif cangkir kopi. Selembar seprai yang menyimpan kenangan-kenangan paling manis yang pernah dimiliki Bunga.
Itu adalah seprai yang menjadi kusut karena percintaan yang penuh gairah. Meninggalkan aroma keringat bercampur parfum dan tembakau. Seprai tempat ia menghafalkan percakapan Jeanne dan Paul dalam film Last Tango in Paris bersama kekasihnya. Seprai tempat ia membaca sajak sementara sang kekasih tiduran di pangkuannya.
Ketika melakukan aktivitas-aktivitas itu, Bunga merasa seprai itu memperhatikan dirinya. Dia merasa seprai itu berbincang dengannya. Seprai itu senang Bunga ada di sana. Seprai itu juga memberitahu Bunga apa-apa yang tidak diketahuinya tentang sang kekasih, si pemilik seprai.
Lima tahun telah berlalu. Bagaimana wujud seprai itu sekarang? Apakah warnanya sudah memudar tidak karuan? Apakah pemiliknya masih menyimpannya?
Ngomong-ngomong soal si pemilik seprai, Bunga tahu persis, lantaran memiliki seprai bermotif cangkir kopi, bukan berarti si pemilik adalah orang yang suka minum kopi. Si pemilik seprai itu akan mual jika minum kopi. Si pemilik seprai lebih suka minum teh.
Suatu kali, Bunga sempat kepikiran untuk mencari seprai itu di laundry-laundry yang tersebar di kota itu. Bunga ingin bertanya pada satu per satu pegawai di laundry apakah pernah ada orang yang menaruh seprai bermoif cangkir kopi? Tapi untungnya hayalan itu hanya berakhir jadi khayalan. Bunga merasa terselamatkan dari pikirannya yang embuh.
Petualangan Bunga mencari seprai bermotif cangkir kopi seperti tak ada ujungnya. Pencarian itu juga telah membawanya berkeliling dalam dan luar negri. Apakah seprai bermotif cangkir kopi sudah tidak diproduksi lagi di buka bumi? Bunga nyaris putus asa.
Bukankah lebih mudah buat Bunga untuk menghubungi si pemilik seprai dan meminta seprai itu untuknya? Atau, Bunga sengaja memesan seprai motif cangkir kopi pada agen pembuat seprai? Daripada berkelana seperti itu? Ah, bukan Bunga namanya jika melakukan tindakan gampangan seperti itu. Lagian, si pemilik seprai sudah tak tentu di mana rimbanya.
Meski sering melakukan hal-hal konyol, Bunga tidak bodoh. Bunga paham betul, suatu saat nanti ketika ia menemukan seprai bermotif cangkir kopi, seprai itu bukanlah seprai yang sama. Itu bukan seprai yang membungkus kenangannya. Tapi..selalu ada tapi ketika Bunga hendak menghentikan pencariannya. Ada sesuatu di luar dirinya yang membuat Bunga tetap ingin menemukan seprai bermotif cangkir kopi itu. Sesuatu yang tak mampu dipahami oleh akal sehatnya sendiri.
Nah, siapa pun kalian yang menemukan seprai bermotif cangkir kopi, tolong kasih tahu Bunga, ya. Dia pasti senang dan sangat berterima kasih.
Subscribe to:
Posts (Atom)
Aktor Bermata Ngantuk Itu
Dia aktor Korea. Dulu saya menyebutnya sebagai aktor bermata ngantuk. Tapi saya tidak membuat saya sepenasaran itu untuk mencarinya di goog...
-
: sebuah penjelajahan awal Kajian Homi K. Bhabha selain banyak dipengaruhi oleh teoretisi pascastrukturalis seperti Jacques Derrida, Miche...
-
Judul : Bilangan Fu Penulis : Ayu Utami Penerbit : Kepustakaan Populer Gramedia Tahun terbit : 2018 (Cet. 2) Parang Jati, K...
-
Saya sedang duduk-duduk di bonbin menghabiskan sore sambil nyedot es coffeemix. Di depan saya duduk seorang mahasiswi yang kalau dilihat dar...


