Monday, February 26, 2018

Pembaca dan Penulis Sama-Sama (harus) Bertumbuh

Beberapa jam yang lalu saya baru saja selesai membaca Ubur-Ubur Lembur, buku kesekiannya Raditya Dika. Meski banyak yang bilang tulisan-tulisan Radit receh remeh, saya gak peduli. Saya masih tetap membacanya. Wahai, cintaku, bukankah kebijaksanaan seringkali menyelinap dalam keremehan? Sejak berkenalan dengan buku pertamanya, sampai sekarang saya selalu mengikuti “pertumbuhan” tulisan-tulisan Raditya Dika.

Yang saya suka, dia gak ngikutin apa maunya pembaca yang sebagian besar mungkin berharap bakal ketawa ngakak setelah mbaca tulisan-tulisannya. Tapi, dia mau pembacanya ikut bertumbuh bersamanya.

Radit gak memaksakan diri untuk menjadi penulis seperti waktu dia nulis Kambing Jantan. Yang humornya memang kentel banget. Konyolnya parah banget.

Sejak Manusia Setengah Salmon, porsi kontemplatifnya lebih banyak daripada humornya. Atau gini, dia lebih bisa menertawakan kepahitan hidup dengan cara yang lebih elegan. Lebih dewasa. Bukan berarti semakin dewasa jadi kehilangan sense humor sih. Enggak gitu juga. Masih ada sisi-sisi konyolnya juga kok. Cuma..apa ya? Lebih bijak aja sih ngerasanya~

Gak niat muluk-muluk. Tapi setidaknya, tulisan-tulisan Raditya Dika mencoba mengingatkan: pembaca dan penulis sama-sama (harus) bertumbuh.

Hibernasi

halo! kangen?

iya sama.

Wednesday, August 2, 2017

Di Bawah Pohon Kenitu


Meski aku tahu di matamu langit tak pernah buruk rupa, aku memahami mengapa kau kecewa karena sore ini langit tak meremang jingga. Kau ingin mengirim potongan langit jingga pada kekasihmu, bukan? Asal kau tahu, itu sudah dilakukan banyak orang sejak awal tahun 90-an. Jadi, menurutku, itu sudah usang. Ia tak akan terkesan.

Sebagai gantinya, kau boleh mengirimkan dedaunku yang sewarna senja. Tapi aku kok yakin ia tak akan suka. Lagi pula, aku belum ingin mati mengenaskan di keranjang sampahnya.

Mari, sini, nona. Berbaring saja di bawah dedaunku. Lipat tanganmu di bawah kepala. Pandangi aku sepuasmu. Lupakan kekasihmu yang sering tak mengingatmu. Untukmu, aku akan menjadi jingga selamanya.

Pohon Angsana di Pertigaan Dekat Rumahmu


Pohon angsana yang tumbuh di pertigaan dekat rumahmu itu telah lama memperhatikan dirimu, sebenarnya. Diam-diam ia juga merasakan sakitmu. Tapi daun-daunnya yang hijau rimbun tak cukup mampu membuatmu berhenti sebentar, ternyata.

Ia pun berupaya sekuat tenaga menumbuhkan bunga-bunganya hanya agar kau memelankan langkah ketika melintasinya. Ia tahu kau mencintai bunga-bunga. Maka pada jarak beberapa ratus meter ketika bayangmu samar-samar terlihat, ia gugup memanggil-manggil angin agar menggugurkan kuning bunganya di rambutmu. Berharap kepalamu mendongak menyadari keberadaannya.

Ia memang tak cukup punya kepercayaan diri untuk bisa meringankan sakitmu. Ia hanya berharap bibirmu bisa melengkungkan senyum. Tapi jika itu harapan yang terlalu tingggi, ia hanya ingin, satu kali saja, kau duduk sebentar di bawahnya. Merasakan teduhnya.

Lalu ia akan rela menggugurkan seluruh bunganya hanya agar kau pernah merasakan gerimis paling indah di dunia.

Thursday, July 20, 2017

Percakapan Dua Pohon


Aku iri pada mereka yang sampai tua bisa menjalani apa yang mereka sukai, katamu. Aku iri pada mereka yang bisa hidup bersama, meski tak sampai tua, dengan yang mereka cintai, kataku.

Hai, kamu. Meski tubuhku dan tubuhmu tak bisa lebih mendekat, aku berterima kasih pada angin yang menautkan reranting kita barang sejenak, yang memungkinkan kita untuk bercakap seperti ini.

Tapi barangkali daun-daunku akan lebih dulu menguning dan gugur. Ranting-rantingku akan jatuh satu per satu. Lalu kita tak bisa bercakap lagi.

Sampai saat itu tiba, aku akan senantiasa berdoa. Kelak kamu bisa menjalani apa yang kamu sukai bersama yang kamu cintai. Sampai tua. Sampai daun-daun tak mau tumbuh lagi di kulitmu. Hingga tiba saatnya seseorang menumbangkan tubuhmu yang lebih jangkung dariku. Semoga dengan cara yang tidak menyakitkan. Tidak pula dengan alat yang menakutkan.

Setelahnya mungkin kamu akan jadi kayu bakar di perapian sebuah rumah mungil di dekat gunung. Atau kayu dalam api unggun perkemahan anak pramuka. Lalu menjadi abu.

Aku, dalam jarak tertentu, menanti angin menerbangkanmu ke arahku.

Tuesday, July 18, 2017

Pamit

Butuh menempuh ratusan kilo meter,
untuk mengungkap apa yang selama ini tersimpan di jantung
Butuh dini hari yang sepi dan dingin,
untuk mengucap maaf dan terima kasih pada ribuan detik
yang pernah terlalui bersama

Setelah sekian lama terlunta
Akhirnya semua selesai sudah
Nyeri merambat jauh di dalam dada
Aku menahan gigil dan tangis

Waktu akan membawamu pergi
Kamu memang ingin pergi, aku tahu
Tapi aku tak pernah rela kau mengabur dari pikiran
Tidak setelah sekian banyak tahun
Tapi tanganku tak mampu meraihmu

Maka, dekap
Karena ini mungkin yang terakhir.



Surabaya, 18 Juli 2017

kartu pos bergambar matahari

Salah satu scene dalam film Lucy memperlihatkan Lucy, dengan matanya yang berkaca-kaca, sedang meminta maaf dan bilang “I love you” kepada ibunya. Tindakan Lucy itu bukan tanpa alasan. Ia mendapat kekuatan tertentu sehinga bisa melihat masa lalu, termasuk ketika ia masih balita. Dan ia melihat bahwa kasih sayang ibunya kepada dirinya ketika masih balita (dan untuk selamanya) begitu besar.

Saya senang melihat bayi-bayi lucu yang seliweran di timeline. Saya senang melihat ibu-ibu muda yang terlihat begitu menyayangi dan membanggakan bayi-bayinya itu. Dikit-dikit difoto, lalu diunggah ke media sosial. Mereka begitu senang untuk hal-hal sederhana seperti melihat anaknya tersenyum, tertidur pulas, belajar berjalan, atau sekadar berhasil menghabiskan makanannya.

Saya sering berpikir, begitu jugakah ibu saya dulu? Sesayang itukah beliau pada saya? Mengingat beliau adalah jenis makhluk yang mampu membaca pikiran saya hanya dengan mendengar suara saya diujung telpon, saya yakin beliau amat menyayangi saya.

Mengapa kita tak bisa menjangkau ingatan saat masih balita? Mengapa yang memiliki ingatan itu hanya para orang tua? Andai, andai saja, kita bisa mengingat saat-saat kita disuapi bubur dan diayun dalam gendongan, atau saat tahu bagaimana orang tua kita berupaya sekreatif mungkin agar kita mau makan, apa yang akan terjadi?

Aktor Bermata Ngantuk Itu

 Dia aktor Korea. Dulu saya menyebutnya sebagai aktor bermata ngantuk. Tapi saya tidak membuat saya sepenasaran itu untuk mencarinya di goog...